No menu items!
6.2 C
Munich
Senin, 23 November 20

Bedah Lagu : Ongkona Bone

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

ONGKONA BONE

Syair : anonim
Lirik : Mursalim

O … unga warue
ungawaru lebbae
Tuwo mallongi-longi
Alla, tuwo mallongi-longi
Alla, riala pakkawaru

O … tana sumange
tana sumange lipue
riwowo tana bone
alla, riwowo tana bone
alla, mateddung pulaweng

O … taro adae
taro ada lebbae
teppaja baja-baja
alla, teppaja baja-baja
alla, sumange teallara

TERJEMAHAN BEBAS

oh bunga warue
bunga waru mekar di lembah
tumbuh menjulang ke langit
amboi, tumbuh menjulang ke langit
amboi, kan kujadikan pagar teguh

oh tanah yang luhur
tanah air negeriku
atas tanah luhur Bone
amboi, atas tanah luhur Bone
amboi, berpayung emas

oh petuh luhur
tuah luhur di lembah
kan abadi selamanya
amboi, abadi selamanya
amboi, teguh kukuh dalam keyakinan

Sejarah:

Ketika kerajaan Bone berhasil dikuasai Belanda tahun 1905 tidak berarti perlawanan laskar Bone berakhir. Penguasaan Belanda terhadap Bone ditandai dengan gugurnya Abdul Hamid Petta Ponggawae serta ditangkapnya raja Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri.

Pertempuran frontal antara Bone dengan Belanda itu merupakan titik darah penghabisan bagi sang putra mahkota yang sedianya dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya sebagai raja Bone berikutnya.

Dengan gugurnya Petta Ponggawae sebagai panglima perang kerajaan Bone tidak hanya membawa kesedihan bagi raja Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri tetapi juga dirasakan seluruh rakyat Bone. Kesedihan La Pawawoi itu terungkap lewat syair dan lagu “ongkona Arumpone” artinya miliknya Bone di mana syairnya menggambarkan putra mahkota yang dipersiapkan sebagai pemimpin Bone berikutnya itu ternyata tewas dalam peperangan mempertahankan tanah airnya.

Kesedihan raja terbaca oleh rakyat dan laskar Bone. Salah seorang laskar yang masih pengantin baru, dengan rela meninggalkan isterinya berangkat ke medan tempur demi mempertahankan negerinya tana Bone dari serangan kompeni Belanda.

Ia belum sempat mengenyam bulan madunya, apa daya sang suami gugur dalam pertempuran. Kesedihan itu terpatri dalam lagu “Ongkona Arumpone” pada kalimat “mate colli” artinya layu sebelum berkembang. Tapi itu dulu.

Meski demikian, bagi orang Bone tidak biasa larut dalam kesedihan bila mengalami suatu kegagalan. Ia adalah keturunan yang bertahun-tahun telah ditempa menjadi pribadi yang tidak mudah mengalah begitu saja. Keturunan yang harus sanggup menghadapi deburan ombak. Keturunan yang harus bisa melintasi gunung, ngarai, lembah, dan lautan. Keturunan yang harus menahan pedih dan perih dari duri berbagai rintangan. Keturunan yang harus selalu memiliki semangat yang tinggi.

Semangat orang Bone itu tergambar dalam motto sumange’ teallara’ dan terlukis dalam sebuah senandung Ongkona Bone yang artinya sesuatu yang harus dimiliki oleh Orang Bone.

Dalam lagu Ongkona Bone, pohon waru disimbolkan sebagai tumbuhan serbaguna yang hidup di lembah. Meskipun ia berada di dataran rendah namun ia bisa tumbuh menjulang. Dari jauh sudah menampakkan bunganya yang merona yang sanggup memukau siapapun yang memandangnya.

Tak heran dalam sejarah Bone dikenal seorang perempuan Bugis yang bernama We Tenriawaru yang memerintah di kerajaan Bone dalam tahun 1857-1860 (Ratu Bone ke-28). Ia memiliki kepribadian dengan teguh kukuh yang sukar ditembus. Begitu selanjutnya nama ini banyak dipakai perempuan Bugis hingga kini.

Selain itu dapat dijelaskan di sini, bahwa kata Makkawaru bermakna melakukan tindakan cerdas, berani, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Pakkawaru bermakna perisai, tameng, dan bersifat melundungi.

Orang yang bersifat makkawaru baik laki-laki maupun perempuan biasanya berkepribadian setia. Ia memberikan banyak nasihat yang baik dan menjadi pasangan yang dapat diandalkan. Dalam hal hubungan, ia cenderung memberikan segalanya, serta suka membantu.

Nama “Makkawaru” memang tidak mencerminkan kualitas pribadinya, namun memiliki nama yang bagus akan membantu seseorang menjadi lebih percaya diri, dan lebih bersemangat untuk menjadi pribadi yang positif, serta selalu berusaha agar hidupnya dapat bermanfaat untuk banyak orang. Oleh karena itu makkawaru/pakkawaru memiliki makna yang luas.

Ada apa Makkawaru?

Kepribadian “Makkawaru” mempunyai jumlah angka 100 yaitu:

M = 13
A = 1
K = 11
K = 11
A = 1
W = 23
A = 1
R = 18
U = 21
Jumlah: 100 angka yang fantastik dan begitu sempurna.

Jadi nama “Makkawaru” mempunyai kepribadian pemrakarsa, pelopor, pemimpin, bebas, pekerja keras, individualis. Sedankan nama “Tenriawaru” biasanya digunakan untuk nama perempuan yang bermakna tak mudah ditembus, teguh dan kukuh, serta prinsipil.

Makkawaru berasal dari kata “waru” dalam bahasa Bugis disebut “kubba” yaitu sejenis pohon yang banyak tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia.

Apa itu Pohon Waru atau Pohon Kubba?

Waru atau kubba telah lama dikenal sebagai pohon peneduh tepi jalan atau tepi sungai dan pematang serta pantai. Walaupun tajuknya tidak terlalu rimbun, waru disukai karena akarnya tidak dalam sehingga tidak merusak jalan dan bangunan di sekitarnya.

Waru dapat diperbanyak dengan distek. Namun, aslinya tumbuhan ini diperbanyak dengan biji. Memakai stek untuk perkembanganbiakan waru agak sulit, karena tunas akan mudah sekali terpotong.

Waru masih semarga dengan kembang sepatu.Tumbuhan ini asli dari daerah tropika di Pasifik barat namun sekarang tersebar luas di seluruh wilayah Pasifik dan dikenal dengan berbagai nama. Di Indonesia tumbuhan ini memiliki banyak nama tapi di Bugis disebut kubba sebagian menyebut waru.

Pohon kecil, tinggi 5–15 m. Di tanah yang subur tumbuh lebih lurus dan dengan tajuk yang lebih sempit daripada di tanah gersang.
Daun bertangkai, bundar atau bundar telur bentuk jantung dengan tepi rata, garis tengah hingga 19 cm; bertulang daun menjari, sebagian tulang daun utama dengan kelenjar pada pangkalnya di sisi bawah daun; sisi bawah berambut abu-abu rapat.

Daun penumpu bundar telur memanjang, 2,5 cm, meninggalkan bekas berupa cincin di ujung ranting. Tangkainya sedikit bergetah di kalangan Bugis tangkai waru biasa digunakan penggulung rambut agar rambutnya bisa keriting.

Bunga berdiri sendiri atau dalam tandan berisi 2–5 kuntum. Daun kelopak tambahan bertaju 8–11, lebih dari separohnya berlekatan. Kelopak sepanjang 2,5 cm, bercangap 5.

Daun mahkota bentuk kipas, berkuku pendek dan lebar, 5–7,5 cm, kuning, jingga, dan akhirnya kemerah-merahan, dengan noda ungu pada pangkalnya. Waru bijinya kecil, dan berwarna coklat muda. Akar waru berbentuk tunggang dan berwarna putih kekuningan.

Kayu terasnya agak ringan, cukup padat, berstruktur cukup halus, dan tak begitu keras; kelabu kebiruan, semu ungu atau coklat keunguan, atau kehijau-hijauan. Liat dan awet bertahan dalam tanah, kayu waru ini biasa juga digunakan sebagai bahan bangunan atau perahu, roda pedati, gagang perkakas, ukiran, serta kayu bakar, dll.

Dari kulit batangnya, setelah direndam dan dipukul-pukul, dapat diperoleh serat yang disebut serat waru. Serat ini sangat baik untuk dijadikan tali. Serat ini juga merupakan bahan yang penting, dan berasal dari pepagan waru dan dipakai untuk membuat tali. Tali ini, selanjutnya dipergunakan sebagai bahan dasar membuat jaring dan tas-tas kasar.

Daunnya dapat dijadikan pakan ternak, atau yang muda, dapat pula dijadikan sayuran. Bisa juga, untuk menggantikan daun jati dalam proses peragian kecap.

Daun yang diremas dan dilayukan digunakan untuk mempercepat pematangan bisul. Daun muda yang diremas digunakan sebagai bahan penyubur rambut. Daun muda yang direbus dengan gula batu dimanfaatkan untuk mengencerkan dahak pada sakit batuk yang agak berat.

Kuncup daunnya digunakan untuk mengobati berak darah dan berlendir pada anak-anak. Akar tanaman waru bisa dipakai untuk obat demam. Daunnya juga digunakan sebagai pembungkus ikan segar oleh pedagang di pasar dan pedagang ikan keliling (palleleang bale).

Bahkan bunga waru dapat dijadikan jam biologi. Bunganya mekar di pagi hari dengan mahkota berwarna kuning. Di siang hari warnanya berubah jingga dan sore hari menjadi merah, sebelum akhirnya gugur. Pokoknya tumbuhan ini serbaguna. Sehingga biasa dijadikan sebagai simbol sebuah legenda.

Baca Juga : Bedah Lagu Ongkona Arumpone

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...