No menu items!
2 C
Munich
Selasa, 24 November 20

Lirik Lagu Tellumpoccoe

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Kissa marioloe
Lontara Tellumpoccoe
Bisena pincarae
mattullu siparajo

Ulu ada parajoe
Siruntu simellereng
Taro ada taro gau
Kitanreang kalebbireng

Mangkau ri Bone
matteddung worong porong
Arung matoa ri Wajo
mallipa sabbe genggang
Datue ri Soppeng
lipuna temmamala

Mali siparappe risolo walennae
Sitinro ola rilebbana timurung

Ciptaan : Mursalim

Bone, 19/1/2020

Terjemahan bebas:

Adalah kisah masa lampau
tentang sejarah Tellumpoccoe
pengayuh biduk perahu
setali bersatu dalam ikatan

Perjanjian yang kukuh
sehati dalam suka dan duka
Sekata dalam perbuatan
saling meninggikan derajat

Mangkau dari Bone
berlingkup kerumunan bintang
Arung matoa dari Wajo
berlingkup sarung sutra
Datu dari Soppeng
Negera La Temmamala

Bila hanyut saling mendamparkan
dari derasnya arus Walenae
Seiring melangkah di Timurung

Deskripsi:

Tellumpoccoe adalah suatu persekutuan penting antara tiga kerajaan Bugis di Sulawesi Selatan, yaitu Bone, Wajo, dan Soppeng. Persekutuan itu dibentuk dalam menghadapi kekuatan kerajaan Gowa dan Tallo masa itu.

Persekutuan atau aliansi ini dikukuhkan dalam perjanjian pada tahun 1562 di kampung Bunne, Timurung, desa Alamumpatue, kecamatan Ajangale sekarang. Persekutuan itu ditandai upacara sumpah disertai menghancurkan telur dengan batu kemudian menancapkan tiga buah batu.

Di mana dalam persekutuan itu Bone diakui sebagai saudara tua, Wajo saudara tengah, dan Soppeng saudara muda, yang diurutkan berdasarkan luas masing-masing kerajaan. Ketiga kerajaan akan saling melindungi satu sama lain, dan ekspansi hanya akan diadakan ke luar wilayah tiga kerajaan tersebut dengan tidak menyerang satu sama lainnya.

Wajo juga akan dibela apabila Gowa memperlakukannya sebagai budak. Sementara itu, Karaeng Matoaya pemimpin Gowa-Tallo masuk Islam pada tahun 1605, yaitu setahun setelah Datu Luwu La Patiware’ Daeng Parabbung yang telah lebih dahulu masuk Islam.

Hal tersebut membawa warna baru dalam hubungan antara Gowa-Tallo dengan kerajaan-kerajaan Bugis selanjutnya, meskipun persaingan dan peperangan telah lama terjadi sebelum kedatangan Islam di Sulawesi Selatan.

Kekompakkan persekutuan Tellumpoccoe teruji pada tahun 1608 saat terjadi Pertempuran Pakenya antara Gowa-Tallo melawan Soppeng, dan kembali pada tiga bulan setelahnya dalam perang antara Gowa-Tallo melawan Wajo.

Pasukan Gowa-Tallo di bawah pimpinan Karaeng Matoaya berhasil dipukul mundur pada dua peristiwa itu. Namun, persekutuan Tellumpoccoe mulai goyah setelah Datu Soppeng Beowe masuk Islam tahun 1609 mengikuti ajakan Gowa.

Kemudian Gowa dan Soppeng bersama-sama menghadapi kerajaan-kerajaan Bugis lainnya, sehingga Arung Matoa Wajo La Sangkuru Patau antara tahun 1609-1610 juga masuk Islam, dan akhirnya Arumpone Bone La Tenripale juga dapat dikalahkan dan memeluk agama tersebut tahun 1611.

Di saat satu demi satu kerajaan-kerajaan Bugis tersebut menyerah, Karaeng Matoaya dari Gowa-Tallo tidak menuntut denda perang, melainkan hanya meminta agar mereka mengucapkan syahadat saja.

Gowa-Tallo kemudian menyarankan agar Persekutuan Tellumpoccoe dipelihara kembali oleh Bone, Wajo, dan Soppeng untuk menghadapi musuh yang merugikan agama, sedangkan musuh dari seberang lautan akan dihadapi oleh Gowa-Tallo.

Setelah wafatnya Karaeng Matoaya yang alim dalam beragama, perseteruan Bone dan Gowa timbul kembali, yang berujung pada perang yang berlarut-larut di antara kedua kerajaan tersebutnya.

Bone dan Gowa silih berganti berupaya menguasai hagemoni berbagai kerajaan di Sulawesi Selatan, hingga akhirnya pada 1666 Gowa berhasil dikalahkan dan menandatangai Perjanjian Bungaya.

Perjanjian Tellumpoccoe biasa juga disebut “Allamumpatue ri Timurung” artinya perjanjian yang ditandai dengan menenggelamkan/menancapkan tiga buah batu dan prasasti itu masih dapat disaksikan hingga sekarang.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, sebagai generasi sekaligus bentuk apresiasi dan penghargaan serta nilai-nilai semangat kebersamaan, maka saya mencoba menyusun syair dan lirik yang berjudul “Tellumpoccoe” dan semoga bermanfaat.

Maju terus pantung mundur atau maju terus pantang menyerah.

“Tessoro rijekkangnge tessoro ripesonae”
“Tessoro jekkang tessoro pesona”

Serahkan semua pada Tuhan atau serahkan semua pada yang maha kuasa.

“Kitanreang darari paddennuang ri Dewata-E”

Disini aku selalu mendoakanmu atau disini kita selalu mendukungmu.

(Kimai nakutunreng sia sibalireso sibalisumange’)

Oleh:Mursalim

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...