Kissa marioloe
Lontara Tellumpoccoe
Bisena pincarae
mattullu siparajo

Ulu ada parajoe
Siruntu simellereng
Taro ada taro gau
Kitanreang alebbina

Mangkau ri Bone
matteddung worong porong
Arung matoa ri Wajo
mallipa sabbe genggang
Datue ri Soppeng
lipuna temmamala

Mali siparappe risolo walennae
Sitinro tinro ola rilebbana timurung

Bone, 19/1/2020

Terjemahan bebas:

Adalah kisah masa lampau
tentang sejarah Tellumpoccoe
pengayuh biduk perahu
setali bersatu dalam ikatan

Perjanjian yang kukuh
sehati dalam suka dan duka
Sekata dalam perbuatan
saling meninggikan derajat

Mangkau dari Bone
berlingkup kerumunan bintang
Arung matoa dari Wajo
berlingkup sarung sutra
Datu dari Soppeng
Negera La Temmamala

Bila hanyut saling mendamparkan
dari derasnya arus Walenae
Seiring melangkah di Timurung

Deskripsi:

Tellumpoccoe adalah suatu persekutuan penting antara tiga kerajaan Bugis di Sulawesi Selatan, yaitu Bone, Wajo, dan Soppeng. Persekutuan itu dibentuk dalam menghadapi kekuatan kerajaan Gowa dan Tallo masa itu.

Persekutuan atau aliansi ini dikukuhkan dalam perjanjian pada tahun 1562 di kampung Bunne, Timurung, desa Alamumpatue, kecamatan Ajangale sekarang. Persekutuan itu ditandai upacara sumpah disertai menghancurkan telur dengan batu kemudian menancapkan tiga buah batu.

Mursalim@telukbone

Di mana dalam persekutuan itu Bone diakui sebagai saudara tua, Wajo saudara tengah, dan Soppeng saudara muda, yang diurutkan berdasarkan luas masing-masing kerajaan. Ketiga kerajaan akan saling melindungi satu sama lain, dan ekspansi hanya akan diadakan ke luar wilayah tiga kerajaan tersebut dengan tidak menyerang satu sama lainnya.

Wajo juga akan dibela apabila Gowa memperlakukannya sebagai budak. Sementara itu, Karaeng Matoaya pemimpin Gowa-Tallo masuk Islam pada tahun 1605, yaitu setahun setelah Datu Luwu La Patiware’ Daeng Parabbung yang telah lebih dahulu masuk Islam.

Hal tersebut membawa warna baru dalam hubungan antara Gowa-Tallo dengan kerajaan-kerajaan Bugis selanjutnya, meskipun persaingan dan peperangan telah lama terjadi sebelum kedatangan Islam di Sulawesi Selatan.

Kekompakkan persekutuan Tellumpoccoe teruji pada tahun 1608 saat terjadi Pertempuran Pakenya antara Gowa-Tallo melawan Soppeng, dan kembali pada tiga bulan setelahnya dalam perang antara Gowa-Tallo melawan Wajo.

Pasukan Gowa-Tallo di bawah pimpinan Karaeng Matoaya berhasil dipukul mundur pada dua peristiwa itu. Namun, persekutuan Tellumpoccoe mulai goyah setelah Datu Soppeng Beowe masuk Islam tahun 1609 mengikuti ajakan Gowa.

Kemudian Gowa dan Soppeng bersama-sama menghadapi kerajaan-kerajaan Bugis lainnya, sehingga Arung Matoa Wajo La Sangkuru Patau antara tahun 1609-1610 juga masuk Islam, dan akhirnya Arumpone Bone La Tenripale juga dapat dikalahkan dan memeluk agama tersebut tahun 1611.

Di saat satu demi satu kerajaan-kerajaan Bugis tersebut menyerah, Karaeng Matoaya dari Gowa-Tallo tidak menuntut denda perang, melainkan hanya meminta agar mereka mengucapkan syahadat saja.

Gowa-Tallo kemudian menyarankan agar Persekutuan Tellumpoccoe dipelihara kembali oleh Bone, Wajo, dan Soppeng untuk menghadapi musuh yang merugikan agama, sedangkan musuh dari seberang lautan akan dihadapi oleh Gowa-Tallo.

Setelah wafatnya Karaeng Matoaya yang alim dalam beragama, perseteruan Bone dan Gowa timbul kembali, yang berujung pada perang yang berlarut-larut di antara kedua kerajaan tersebutnya.

Bone dan Gowa silih berganti berupaya menguasai hagemoni berbagai kerajaan di Sulawesi Selatan, hingga akhirnya pada 1666 Gowa berhasil dikalahkan dan menandatangai Perjanjian Bungaya.

Perjanjian Tellumpoccoe biasa juga disebut “Allamumpatue ri Timurung” artinya perjanjian yang ditandai dengan menenggelamkan/menancapkan tiga buah batu dan prasasti itu masih dapat disaksikan hingga sekarang.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, sebagai generasi sekaligus bentuk apresiasi dan penghargaan serta nilai-nilai semangat kebersamaan, maka saya mencoba menyusun syair dan lirik yang berjudul “Tellumpoccoe” dan semoga bermanfaat.

Maju terus pantung mundur atau maju terus pantang menyerah.

“Tessoro rijekkangnge tessoro ripesonae”
“Tessoro jekkang tessoro pesona”

Serahkan semua pada Tuhan atau serahkan semua pada yang maha kuasa.

“Kitanreang darari paddennuang ri Dewata-E”

Disini aku selalu mendoakanmu atau disini kita selalu mendukungmu.

(Kimai nakutunreng sia sibalireso sibalisumange’)

Oleh:Mursalim