No menu items!
0.7 C
Munich
Senin, 30 November 20

Tradisi Bugis Membuang Telur

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Kebudayaan merupakan salah satu karya yang menunjukkan kemajuan peradaban manusia. Secara sederhana kebudayaan sebagai keseluruhan sistem berupa gagasan, aktivitas, dan menjadi milik bersama melalui proses tertentu suatu daerah. Oleh sebab itu tak heran jika di setiap daerah dapat dijumpai kebudayaan yang beraneka ragam.

Di daerah Bugis, ada tradisi unik yang sampai hari ini masih tetap dipertahankan, yaitu tradisi buang ayam. Tradisi buang ayam ini dilakukan saat ada salah satu anggota keluarga yang menikah.

Membuangnya pun tak boleh sembarangan, ayam hanya akan dibuang saat rombongan pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan, itupun jika rombongan tersebut melewati jembatan yang dibawahnya mengalir sungai yang besar.

Tradisi ini konon telah ada sejak zaman Animisme dan Dinamisme. Berbagai mitos yang banyak beredar di kalangan khalayak memberitahukan bahwa tradisi membuang ayam ini bertujuan agar arwah ataupun penunggu dari sungai tidak mengganggu rombongan yang sedang melewati sungai.

Para orangtua yang masih percaya dengan hal-hal berbau mistis meyakini bahwa jika mereka tidak melaksanakan tradisi ini, maka kesialan akan menimpa keluarga mereka.

Banyak kalangan, khususnya kaum agama menilai bahwa tradisi ini merupakan kegiatan yang mengandung kemusyrikan, karena mereka menganggap ada kekutan lain selain dari Allah yang dapat memberi kemudharatan kepada manusia.

Walaupun mendapat kritikan yang cukup pedas dari kaum agama, tetap saja orang-orang yang teguh pada keyakinan akan hal-hal mistis ini mencoba melestarikannya, dengan alasan bahwa ini telah dilakukan oleh leluhur mereka dan mereka tidak berani untuk menentangnya.

Tradisi buang ayam ini sebenarnya menjadi fenomena yang cukup menarik untuk dicermati, mengingat kultur budaya masyarakat Bugis yang dikenal cukup agamis, hampir di setiap kampung ada ustadz, berbagai majelis ta’lim pun rutin digelar tiap minggunya, tapi mengapa tradisi yang dianggap oleh kaum agama sebagai perbuatan syirik ini masih tetap eksis.

Berbagai argumen pun banyak mengemuka terkait dengan fenomena ini, ada yang mengatakan bahwa meskipun mereka telah memeluk agama Islam, akan tetapi rasa akan memiliki warisan tradisi leluhur tak akan pernah mereka tinggalkan, meskipun itu dianggap melanggar syariat. Ini merupakan salah satu dampak negatif yang berkembang di masyarakat, meskipun dampak positifnya juga ada.

Menjaga warisan leluhur merupakan suatu keharusan, tapi sikap memilah apa-apa saja yang harus dijaga dan dilestarikan juga tak kalah pentingnya, jangan sampai niat baik merusak kegiatan keagamaan kita.

Membuang telur ketika hendak melewati sebuah jembatan sampai sekarang masih sering kita jumpai. Hal itu dilakukan karena anak atau bayinya berharap tidak diusik oleh penunggu jembatan. Ia sudah tahu kalau di bawah jembatan itu ada sungai yang dijaga “Torisalo” atau buaya jadi-jadian.

Mengapa orangtua dahulu membuang telur ke sungai sebelum melintas, untuk mendeteksi apakah ada buaya atau tidak, sebab dahulu belum ada jembatan seperti sekarang. Apabila air bergelembung pertanda ada buayanya, dalam keadaan seperti itu ia berpikir untuk menyeberangi sungai.

Salah satu usaha agar bisa menyeberang dengan aman, mereka membuat “leteng” atau titian yang biasanya terbuat dari batang bambu. Dua atau tiga batang bambu disatukan kemudian diikat. Untuk menjaga keseimbangan mereka membuat pegangan di sisi titian.

Orang dulu, apabila hendak mendirikan rumah terlebih dahulu harus menyiapkan ayam bertujuan untuk melindungi diri dari serangan hewan buas. Sebab dahulu masih hutan belantara tidak seperti sekarang hutan kebanyakan gundul.

Dengan ayam mereka bisa tahu ada tidaknya binatang buas seperti harimau, babi, dan sejenisnya. Jadi ayam itu bukan untuk sesajen bagi mahluk gaib, melainkan untuk mendeteksi keberadaan hewan buas. Oleh sebab itu rumah orang dahulu tinggi-tinggi tiangnya untuk melindungi diri dari serangan hewan buas. Nah, sekarang apa masih mau potong ayam? Anda yang menentukan kami hanya mengabarkan.

Seperti dijelaskan sebelumnya, buang telur saat hendak menyeberangi sungai atau hendak melewati sebuah jembatan kerap kita jumpa hingga sekarang apalagi pertama kali hendak melintas di jembatan yang dianggap keramat.
Apabila setelah membuang telur satu atau dua biji, kemudian muncul gelembung atau buih maka dipastikan di sungai itu dihuni oleh buaya.

Cerita Bugis turun temurun:

Konon, suatu ketika ada seseorang dalam perjalananya tiba di pinggir sebuah sungai. Dalam perjalanannya itu ia membawa doko (bekal dalam perjalanan seperti nasi, telur, cabe,dll).

Ia bertanya kepada Lamellong, tabe maga iyae saloe, macenne ga iyarega menraleng (maaf, bagaimana ini sungai, apakah airnya dangkal atau dalam)

Lamellong menjawab, aja’ na iyya mutanai, tanai tekkengmu (jangan bertanya sama saya, tanyalah tongkatmu).

Mendengar jawaban seperti itu, orang tersebut hanya berdiri melongo terheran-heran. Dalam hatinya bertanya-tanya mengapa mendapat jawaban seperti itu, barangkali ini orang tidak waras.

Lalu ia bertanya lagi kepada Lamellong, tabe, iyyae saloe engka iyarega dega buajanna (maaf, ini sungai apakah ada buayanya atau tidak ada buayanya)

Lamellong menjawab, aja naiyya mutanai, tanaiwi doko-mu (jangan bertanya sama saya, tanyalah bekalmu).

Lagi-lagi orang itu semakin tidak mengerti mendapat jawaban yang mendongkolkan itu, padahal ia bertanya baik-baik.

Oh, iyye, tarimakasi’ baliadamu (terima kasih atas jawabanmu), jawabnya kepada Lamellong.

Sepeninggal Lamellong, orang itu duduk sendiri di pinggir sungai sambil berpikir dan merenungkan apa sebenarnya makna jawaban atas pertanyaannya kepada Lamellong.

Selanjutnya untuk mengetahui dangkal atau dalam sungai ia mau melakukan dengan caranya sendiri. Lalu Ia menjulurkan kakinya ke sungai, dijulurkannya semakin dalam, ia pun ikut kecebur ke sungai. Ia bergegas naik kembali ke pinggir sungai dengan pakaian basah kuyup.

Ia pun merenung, inilah barangkali maksud jawaban dari Lamellong tanya tongkatmu untuk mengetahui dangkal atau dalamnya air sungai. Tak terasa, jelang rembang petang, perutnya keroncongan, ia membuka bekalnya, lalu makan dengan lahapnya.

Tiba-tiba telur yang hendak ia makan jatuh ke sungai. Ia berdiri bermaksud mengambil telurnya yang simata wayang itu, tiba-tiba ia melihat air sungai bergelembung. Ihh … telurnya keduluan dimakan buaya.

Ia pun kembali berpikir inilah maksud Lamellong kalau hendak menyeberang sungai tanyalah doko-dokomu. Artinya doko itu berisi telur.

Orang itupun dalam hatinya berterima kasih kepada Lamellong. Kemudian ia memutuskan untuk tidak menyeberangi sungai itu.

Nah, sekarang pertanyaannya:

1.Masih adakah di antara kita yang suka membuang telur ke sungai ?
2. Masih adakah yang sering melempar atau membuang telur ketika hendak melewati jembatan?
3. Masih adakah yang mengkultuskan penghuni sungai dan jembatan?
4. Masih adakah yang sering membuang telur di atas jembatan Palakka?
5. Bukankah mahluk yang paling mulia ciptaan Tuhan adalah manusia?
6. Silakan berpikir dan renungkan sendiri

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...