No menu items!
Senin, 13 Juli 20

Diculik Bidadari Gunung Mampu

Pagi itu puncaknya masih diselimuti sutra ungu, sejauh mata memandang, sekujur tubuhnya nampak jelas meski ia masih pucat karena kabut dingin semalaman. Tak pelak bila banyak orang terbuai dan terhipnotis mendekat dan mendakinya.

Masih bugar dalam memoriku yang terjimat di kepalaku, kalau gunung di kampung masa kecilku itu selain karena nilai sejarah dan keindahannya juga memiliki kisah-kisah sosial mistik yang melegenda dan merangsang.

Sepintas bila ditatap dari arah utara timur laut, gunung kesayanganku itu bentuknya seperti gadis sedang tengkurap. Tubuhnya yang molek terletak begitu saja. Tak peduli dengan kedua pahanya menjulur ke selatan menenggara. Sesekali kedua telapak kakinya diangkatnya menengadah langit dan jatuhnya ke selatan barat daya. Begitu kataku sewaktu disuruh oleh guruku menghafal arah mata angin.

Sebab dahulu masa sekolah hanya menggunakan batu tulis. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya saya harus menghafal pelajaran yang diberikan guru karena besoknya catatan di batu tulis itu harus dihapus digantikan pelajaran baru. Begitu terus sampai tahun 70-an barulah ada buku kertas.

Hal itu yang menyebabkan saya masih ingat tentang peristiwa-peristiwa masa lalu, karena sejak kecil sudah terlatih ilmu “memori” kenang mengenang sehingga bisa ditarik kembali kenang-kenangan itu lalu dipatri di lembar kertas putih.

Di puncak Gunung Mampu yang eksotik itu ada “Patok Batu” buatan Belanda yang baik hati. Pada patok bersejarah setinggi 2 meter itu tertulis “250 meter” yang menunjukkan ketinggian gunung dari permukaan laut. Sekitar patok tersebut terdapat kuburan raja Mampu yang dinamai kuburan “Pattanrewara” yang sering dikunjungi masyarakat sekitar termasuk saya.

Saya tahu karena dahulu sering diajak orangtua dan handai taulan ziarah ke makam keramat itu. Para peziarah termasuk saya lalu mengambil sejengkal ranting jambu batu yang tumbuh sekitar itu. Kemudian ranting tersebut kuletakkan tepat di pusara makam. “Masya Allah” kataku. Ternyata ranting itu bertambah panjang 5 menit kemudian. Lalu kumerenung tak habis pikir kok bisa begini?

Para peziarah pada pulang semua dan sudah sampai di kaki gunung setelah menempuh perjalanan menurun. Sebentar lagi matahari terbenam, mereka sudah sampai di depan mulut gua dan bergegas ke rumah masing-masing. Kecuali aku dengan tanpa kusadari masih duduk seorang diri di puncak gunung menghadap pusara yang angker itu.

Aku menoleh kiri kanan dan melihat sekeliling ternyata peziarah lainnya sudah pulang semua. Tinggallah Diriku Sendiri seperti yang dilantunkan Nike Ardilla si cantik itu. Lalu aku pun berteriak histeris indo … indo … indo … begitu teriakku karena sewaktu kecil sampai saat ini ibu yang melahirkanku kusapa dengan indo. Alfatihah Indo, doaku untuk mu Indo … ku tak kuasa membalas jasa-jasa mu, walau kebelikan emas setinggi gunung Mampu belum setara pengorbanan yang engkau berikan padaku.

Dalam ketakutanku … tiba-tiba angin bertiup kencang … Wanua Lalebbata (Watampone sekarang) tak terlihat lagi seperti tadi siang, mataku terhalang kabut yang mulai menghampiriku. Karena kalau kita berada di puncak gunung Mampu nampak jelas kota Watampone dan laut Teluk Bone tempat nelayan mencari ikan untuk menafkahi keluarganya.

Tak lama kemudian, hujan pun turun … baju baru yang kupakai menjadi basah seluruh batangkale. Aku berdiri mencari jalan pulang yang celakanya aku lupa lewat di mana, karena waktu mendaki ada penunjuk jalan, tapi mereka sudah pulang bersama peziarah lainnya.

Dalam kepanikan itu hujanpun reda … tiba-tiba sekitarku menjadi berwarna warni, ada merah, kuning, hijau, jingga, biru, nila, violet serta alangkah indahnya. Aku seperti berada di suatu tempat yang sangat asing bagiku. Awe Puang Itai Atam-Mu … begitu darari ku (doaku) kepada Tuhan Yang Mahaesa.

Dalam doaku itu tercium bau wangi dari segala wangi, mengalahkan harumnya merek parfum yang terkenal yang berjuta-juta harganya, mengalahkan pula sepuluh parfum terbaik dari kota Paris-Prancis. Yang pasti aroma misteri ini sedang kunikmati serasa aku tak mau berhenti menarik nafas.

Semakin lama aroma itu makin menusuk menyusul jantungku yang berdebar-debar. Sepenggal kemudian tiba-tiba ada rambut panjang menutup muka ku … lalu aku tak ingat apa-apa lagi… barangkali aku pingsan … tak sadarkan diri. Namun tak lama kemudian aku pun sadar dari mati suriku… akupun sadar namun uniknya aku tak sedikitpun merasa takut.

Bayangkan, aku sudah berada di sebuah rumah panggung. Saya melihat sekeliling tak seorang pun dalam rumah itu kecuali cahaya pajjannangeng (pelita) yang uniknya biasanya kalau pelita seperti itu biasanya mengeluarkan asap. Tapi pajjannangeng yang satu ini lain dari yang lain. Aku semakin penasaran lalu aku berdiri memeriksa setiap bilik namun tidak ada siapa-siapa. Dalam rumah itu ada tiga bilik dan setiap bilik uniknya hanya dibatasi selendang seperti warna tarawu (pelangi).

Saya sadar seperti biasa, namun yang kuingat hanya pada saat masih berada di puncak gunung. Lalu aku mencari pintu keluar dari rumah itu karena badanku sudah mulai terasa berat mungkin kecapaian sewaktu mendaki tadi siang. Aku melihat keluar nampak gelap gulita kecuali kolla-kolla (kunang-kunang) yang kelap kelip. Sedang cahaya pelita tidak mampu menembus gelapnya malam seperti lirik Lagu Cinta dan Permata milik Panbers.

Sudah tiga kali aku menyusuri setiap sudut ruang untuk mencari pintu keluar namun tidak ada tanda-tanda kalau rumah itu punya pintu. Akhirnya saya kembali duduk sambil berusaha menenangkan diri. “Ya Allah siapa yang membawaku ke rumah ini, padahal tadi siang aku ada di puncak gunung? gumamku dalam hati.

Kali ini aku mulai merasa ketakutan, diluar sana terdengar burung kao-kao (gagak) tapi suaranya tidak seperti burung gagak biasa. Yang biasanya bersuara Kao … kao … kao … ketika sedang mencuri jambuku di belakang rumah.

Saya tahu persis kelakuan buruk burung gagak, ia memakan apapun dan menggunakan cara apapun agar bisa mengenyangkan dirinya. Ia suka makan biji-bijian, buah-buahan, telur burung lain, serangga, bangkai hewan besar, dan tumpukan sampah manusia. Bahkan sebulan lalu kepala botak tetatanggaku pernah dijitak kao-kao disangkanya biji jagung.

Tapi aku tidak berpikir sejauh itu karena aku punya kepala ditumbuhi rambut yang runcing seperti tusuk sate. Tentu burung gagak berpikir seribu kali menjitakku.

Selang beberapa saat, tiba-tiba burung gagak itu hinggap di atap rumah. Akupun mendongak ke atas lalu setengah berteriak oh itu pintu. Ternyata pintu rumah terletak di bagian atap rumah.

“Ini pertanda alamat jelek dan ada yang tidak beres” ucapku. Saya mulai curiga kalau rumah ini adalah rumah hantu … dongga … atau kuntilanak? bau kemenyan menusuk hidung …ketika itu muncul sosok tubuh besar hitam berbulu sudah berdiri di depanku. Rupanya ini yang menculikku lalu dibawa ke rumah ke sini.

Tapi kemudian SRET !!! sekelebat cahaya putih menghantam tubuh hantu itu. Seketika itu tubuhnya hancur seperti debu dan menghilang. Kini bau kemenyan berganti menjadi wewangian harum bau si bunga tanjung yang bahkan melebihi harumnya ketika di puncak gunung. Rumah itu berubah menjadi surga wangi yang menyebar di sela-sela bilik dan ruang.

Sekonyong-konyong terdengar suara lirih memanggilku ” hai jangan duduk di situ, di situ dingin … yo ke sini ki daeng …” lalu aku pun melihat ke arah datangnya suara. ” Ya Allah Ya Rabbi” begitu kataku setengah berteriak. Betapa tidak, saat ini telah berdiri Tiga Dara Cantik seusia 17-18-dan 19 tahun. “Silakan pilih mana suka Daeng” kata usia 19 tahun.

Sambil kugosok mataku agar lebih jelas, “Ya Allah Benar Adanya”. Gadis 19 kembali bertanya dengan nada agak memaksa di tengah kagumku ” yo cepat Daeng pilih yang mana” dengan spontan saja kujawab ” aku pilih kita Dek” Ia pun tersenyum pada ku. Namun disaat bersamaan kedua gadis 16 dan 17 mengambil selendangnya lalu berjalan gontai lalu terbang menghilang dikegelapan malam.

Kini tinggal aku berdua dengan gadis 19 lalu ia menghampiriku memperkenalkan dirinya ” Namaku We Sanralangi … penguasa di tempat ini, Saya adalah ratu di kerajaan Mampu”. begitu bisiknya lirih.

Bayangkan demikian paripurnanya. Aku sudah berkeliling ke mana-mana tak pernah kudapati perempuan cantik seperti ini, aku seperti bermimpi dalam kenyataan. ” Ya Allah terima kasih atas rezeki-Mu yang melimpah ini” begitu terima kasihku pada-Nya.

Kecantikan dan kemolekan We Sanralangi memang tidak tertandingi. Tubuhnya yang semampai berkuning langsat dengan sekujur tubuhnya yang transparan, bahkan tampak sangat jelas, tidak hanya lekuk-lekuknya, namun lubang mungil di sela kedua pahanya itu, bagai rerumputan yang tumbuh tipis melingkari jalan peranakannya.

Bukan hanya itu, sepasang gunung segar (maaf: payudara) yang bertengger di dadanya seolah berdiri menantang yang pada puncaknya bertengger pula puting-puting yang merona merah. Kesemuanya itu membuatku terperosok dalam pesona.

Sementara itu di luar sana terdengar bunyi gemercik air disertai gesekan daun yang seolah menggiring suasana semakin mesra.

Selang kemudian We Sanralangi kembali berkata” saya sudah perkenalkan nama dan tentang siapa diriku, kini gilirang Daeng untuk memperkenalkan nama, supaya tidak ada keraguan di antara kita berdua”.

Akupun dengan senang hati mengatakan” Namaku GITA”. lalu ia senyum simpul memegang tanganku begitu mesra lalu ia berkata “Daeng Gita adalah seorang Lelaki Jujur dalam setiap tidurku selalu hadir, oleh karena itu, aku memberanikan diri untuk menculikmu ke sini” begitu bisiknya lalu ia membaringkan tubuhnya. Dan ku tak sanggup berkata-kata apa yang sedang terjadi.

Di sela kejadian rahasia itu, ia meyiapkan seguci kopi yang terbuat dari jagung lalu aku minum bersama. Kemudian ia menceritakan dengan panjang lebar peristiwa “Malebboe ri Mampu”.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 Wita, We Sanralangi mengajakku keluar jalan-jalan menuju sungai tempe yang ada di barat daya gunung Mampu. Lalu aku pun mandi bersama. Sesekali ia memercikkan air ke tubuhku yang mulai kedinginan namun suasana tetap berlalu penuh kehangatan.

Usai mandi sesungai bersama, We Sanralangi berkata “Daeng Gita Tolong ambilkan dua biji buah jeruk itu”. Di tepi sungai kebetulan ada pohon jeruk yang berbuah lebat dan tumbuh rendah sehingga mudah memetik buahnya tanpa disodok.

Aku pun bergerak untuk mengambilkan buah jeruk sementara ia tetap berenang di sungai dan nampak sekujur tubuhnya yang kuning langsat itu sangat jelas lekuk-lekuknya mesipun sejauh 50 meter tempatku berdiri.

Dalam hatiku berkata” jangankan dua biji seratus bijipun kalau perlu aku bisa demi perempuan secantik kamu, setinggi gunung pun batang jeruk itu aku tetap berusaha untuk memanjatnya demi membahagiakanmu”. “Aku ini lelaki Bugis yang tak pernah berpantang surut walau menghadapi gelombang setinggi gunung Mampu kecuali bila senjata sudah patah tiga”.

Selang sepuluh menit akupun berhasil memetik buah jeruk pesanannya. Sementara hujan mulai gerimis nampak di ufuk barat melingkar pelangi. Namun keindahan pelangi itu tidak mampu menghiburku ketika We Sanralangi kini berjalan meniti pelangi itu. Seraya melambaikan tangannya dan berteriak “Sampai Jumpa Daeng Gita Jaga Diri Baik-baik”. Begitulah kisahnya.

Dari cerita yang berkembang turun temurun, terdapat pula cerita rakyat, bahwa di kerajaan Mampu dahulu kala ada sepasang pengantin baru yang belum saling mengenal. Pengantin baru perempuan memiliki kelebihan pandai menenun kain (Mattennung).

Pada suatu ketika salah satu alat tenunnya (anak caropong) jatuh ke bawah rumahnya. Maka dengan demikian pengantin baru perempuan tersebut harus melewati tangga untuk turun mengambil anak caropongnya yang ada di bawah rumah.

Akan tetapi mereka malu untuk turun ke tanah karena ada suaminya (pengantin baru laki-laki) duduk di tangga, maklumlah keduanya belum saling mengenal (belum sikacuang). Sehingga mereka mengurungkan niatnya untuk turun.

Setelah itu mereka kembali ke dalam rumah. Pada saat itu pula ada seekor anjing (asu) lewat di bawah rumah. Dan selanjutnya mereka meminta tolong kepada anjing tersebut agar bisa diambilkan alat tenunnya yang jatuh di bawah rumah.

Lalu mengatakan ” Asu ! Alangekka ana’ Caropokku’ rekko mullei pobaeneka tenrisompa” (wahai anjing! ambilkan anak ceropongku kalau kau bisa peristrikan aku tanpa mahar).

Tiba-tiba anjing itu berbicara layaknya seorang manusia. Sang putri langsung kaget dan seketika itu tubuhnya berubah menjadi batu dari kepala hingga ujung kakinya.

Setelah para dayang serta masyarakat melihat kejadian yang menimpa sang putri, mereka langsung kaget dan menunjuk seraya bertanya apa yang sedang terjadi. Namun yang lebih naasnya lagi, setiap orang yang bertanya, dirinya pun berubah menjadi bongkahan batu. Dan kini peristiwa tersebut, dikenal oleh masyarakat dengan istilah Sijello’ to Mampu (saling menunjuk).

Legenda ini telah menyebar dan berkembang kemasyarakat luas. Dari legenda tersebut, menjadikan goa ini banyak dikunjungi para wisatawan. Baik wisatawan domestik maupun mancanegara (murs)

Must read

Kawasan Peruntukan Pariwisata Kabupaten Bone

Peruntukan pariwisata di Kabupaten Bone terdiri pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan. Hal ini berdasarkan Rancangan Perda Kabupaten Bone Nomor 2 Tahun 2013 Tentang...

Sejumlah Seniman Jadi Juri Lomba Festival Aksara Lontara’ 2020

Sejumlah seniman senior akan mengambil peran sebagai juri dalam kegiatan lomba serangkaian Festival Aksara Lontara' 2020. Lomba ini digelar selain memeriahkan Festival Aksara Lontara', sekaligus...

Cara La Patau Membangun Benteng Cenrana

Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone merupakan peninggalan La Patau Matanna Tikka raja Bone ke-16. La Patau Matanna Tikka lahir pada Tanggal 3 November 1672...

Sejarah Situs Cenrana Kabupaten Bone

Sejak berabad-abad yang lalu wilayah Cenrana memainkan peranan penting dalam pembentukan sejarah budaya di Sulawesi Selatan. Cenrana sebagai kelanjutan sungai Walennae memiliki lembah-lembah sungai yang...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles

Latest article

Siswa SMAN 21 Makassar, Nonton Bareng Sambil Belajar Sejarah

Dalam mata pelajaran sejarah, lebih sering diajarkan tentang sejarah perjalanan agama-agama resmi yang diakui negara seperti Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Jarang ada...

Begini Cara SD Negeri Borong Peduli Sampah

Kata "peduli" itu bukan hanya sekadar jargon yang diucapkan tapi perlu contoh dan tindakan. Bahkan, bukan hanya murid-murid yang perlu diedukasi agar peduli, tapi...