No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Aksara Lontara dari Gulungan yang Mendunia

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Walaupun penggunaan aksara Latin telah menggantikan Lontara, tulisan ini masih dipakai dalam lingkup kecil masyarakat Bugis dan Makassar. Dalam komunitas Bugis, penggunaan Lontara terbatas dalam upacara seperti pernikahan, sementara di Makassar tulisan Lontara kadang dibubuhkan dalam tanda tangan dan dokumen pribadi.

Naskah kuno beraksarakan Lontara biasanya berisi catatan mengenai undang-undang perdagangan, perjanjian, peta dan jurnal. Bentuk naskah kuna Lontar sendiri menarik. Media tulis berbahan lontar berbentuk anjang dan tipis. Cara “melipat” lembar lontar ini dengan digulung ke poros kayu.

Aksara Lontar digunakan untuk menuliskan Bahasa Bugis, Makassar dan Mandar. Kata lontara’ sendiri berasal dari Bahasa Melayu untuk merujuk daun lontar yang digunakan untuk menulis sebelum adanya kertas buatan pabrik lahir sebagai media tulis. Penulisan menggunakan daun lontar dengan cara menggoreskan ujung pisau untuk menuliskan aksara-aksara kuno.

Bentuk naskah kuno Lontara sendiri menarik. Media tulis berbahan lontar berbentuk anjang dan tipis. Cara “melipat” lembar lontar ini dengan digulung ke poros kayu. Cara ini sangat berbeda dengan naskah kuno berbahan lontar lainnya yang biasanya ditumpuk lalu diikat sebagai jilidnya. Lalu disimpan di sebuah wadah seperti peti kayu.

Di masa kini, tradisi menuliskan Aksara Lontara’ masih dipakai untuk keperluan upacara seperti pernikahan di Bugis, sementara di Makassar aksara Lontara digunakan untuk menulis surat dan catatan. Para penulis naskah yang menggunakan aksara Lontara biasanya disebut PALLONTARA’.

Aksara Lontara’ sendiri tidak mengenal tanda baca untuk mematikan suku kata yang memiliki pasangan vokal setiap aksaranya. Aksara Lontara pada umumnya menebak bunyi ketika sedang membaca aksara untuk memahami isi tulisan.

Beberapa jenis Aksara Lontara’ ada yang disebut Aksara Jangang-jangang dan Aksara Bilang-bilang. Aksara lontara’ juga digunakan di luar Sulawesi Selatan, ada jenis Aksara Lontara di daerah NTB hingga NTT. Di Sumbawa dan Flores, aksara Lontara diadaptasi ke bahasa setempat, menjadi memiliki karakter sendiri.
Aksara-aksara tersebut dikenal dengan Aksara Jontal, Aksara Bima, Aksara Humba, Aksara Mbojo dan Aksara Lota Éndé. Berbeda dengan Aksara Lontara, jenis yang berada di wilayah NTB dan NTT ini memiliki tanda baca mati.

Ada sebuah judul naskah yang sangat populer, salah satu kode naskahnya NBG 188 tersimpan di Universitas Leiden, Belanda, berjudul La Galigo. Naskah ini beraksara Lontara dan berbahasa Bugis “Kuno” dan bahasa Melayu yang ditulis pada media tulis berbahan kertas Eropah. Rangkaian naskah kuno ini memiliki beberapa jilid dan isi ceritanya sering dipertunjukkan ke dalam bentuk teater bahkan ditampilkan di luar negeri.

Selain La Galigo, ada beberapa istilah misalnya Sure’ Galigo, Sure’ Selleang, atau Bicaranna Sawerigading. Naskah kuno Sure’ Galigo yang disimpan di Museum Negeri Sulawesi Selatan menggunakan Aksara Lontara dan bahasa Bugis Kuno. Kemudian ada juga naskah-naskah Islam yang ditulis menggunakan Aksara Lontara seperti naskah koleksi Kerajaan Bone ditulis di media kertas Eropah dan berbahasa Bugis.

Ada pun naskah beraksara Lontara yang bergulung berjudul “Lontara Meong Palo Karellae” menggunakan bahasa Bugis. Naskah kuno ini berisi mantera yang dilengkapi gambar-gambar ilustrasi berbentuk manusia dan ukuran naskahnya seperti buku saku.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...