No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Falsafah Hidup Bugis Antara Nostalgia Sejarah dan Realitas

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Secara fundamental falsafah hidup dipahami sebagai nilai-nilai sosio-kultural yang dijadikan masyarakat tertentu sebagai pola dalam melakukan aktivitas keseharian. Demikian penting dan berharganya nilai normatif ini, sehingga tidak jarang ia selalu melekat kental pada setiap pendukungnya meski arus modernitas senantiasa menerpa dan menderanya. Bahkan dalam implementasinya menjadi spirit untuk menentukan pola pikir dalam tindakan manusia, termasuk dalam memberi motivasi usaha.

Mengenai nilai-nilai motivatif yang terkandung dalam falsafah hidup, pada dasarnya telah dikenal oleh manusia sejak masa lampau. Tatkala zaman “ajaib” berlangsung yakni lima hingga enam ratus tahun sebelum masehi, di seluruh belahan bumi muncul orang-orang bijak yang mengajari manusia tentang cara hidup.

Orang India memiliki tokoh spiritual bernama Buddha, di Parsi bernama Zarasustra, di Athena ada Socrates, serta dalam masa yang sama Lao-Tse dan Confucius juga mengajar cara hidup di Tiongkok. Entah karena diilhami oleh petunjuk Yang Maha Kuasa atau alam mitologi maupun setting lingkungan tertentu (dominasi alam), tetapi yang pasti bahwa mereka telah menunjukkan buah pikir yang sangat luar biasa di tengah keterbatasan sumber literatur.

Tak terkecuali orang Bugis, di masa lampau juga telah memiliki sederet nama orang bijak yang banyak mengajari masyarakat tentang filsafat etika sebutlah Kajaolalliddong. Hal ini tercermin melalui catatan sejarah bahwa perikehidupan manusia Bugis sejak dahulu, merupakan bagian integral dan tidak dapat dipisahkan secara dikotomik dari pengamalan aplikatif pangadereng. Makna pangaderrang dalam konteks ini adalah keseluruhan norma yang meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesama manusia dan terhadap pranata sosialnya yang membentuk pola tingkah laku serta pandangan hidup.

Demikian melekat-kentalnya nilai ini di kalangan orang Bugis, sehingga dianggap berdosa jika tidak melaksanakan. Dalam konteks ini, inklusif di dalamnya ade’ atau adat istiadat, yang berfungsi sebagai pandangan hidup dalam membentuk pola pikir dan mengatur pola tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Karena itu, dalam sistem sosial masyarakat Bugis, dikenal Ade’ (adat), Rapang (undang-undang), Wari (perbedaan strata) dan Bicara (bicara atau ucapan), serta Sara’ atau hukum berlandaskan ajaran agama.

Pengamalan secara aplikasi implementatif pangadereng sebagai falsafah hidup orang Bugis, memiliki 4 (empat) asas sekaligus pilar yakni:

(1) Asas Mappasilasae, yakni memanifestasikan ade’ bagi keserasian hidup dalam bersikap dan bertingkah laku memperlakukan dirinya dalam pangadereng; (2) Asas Mappasisaue, yakni diwujudkan sebagai manifestasi ade’ untuk menimpahkan deraan pada tiap pelanggaran ade’ yang dinyatakan dalam bicara. Azas ini menyatakan pedoman legalitas dan represi yang dijalankan dengan konsekuen;
(3) Asas Mappasenrupae, yakni mengamalkan ade’ bagi kontinuitas pola-pola terdahulu yang dinyatakan dalam rapang;
(4) Asas Mappallaiseng, yakni manifestasi ade’ dalam memilih dengan jelas batas hubungan antara manusia dengan institusi-institusi sosial, agar terhindar dari masalah (chaos) dan instabilitas lainnya. Hal ini dinyatakan dalam wari untuk setiap variasi perilakunya manusia Bugis.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam falsafah hidup orang Bugis tersebut, menarik dihubungkan dengan etos kerja orang Bugis pada umumnya sebagai salah satu pendukung kebudayaan di jazirah Sulawesi Selatan.

Hal ini sejak lama menjadi prinsip dan kewajiban dalam kontrak sosial antar raja dengan rakyatnya. Eksisnya nilai sosio-kultural yang terkandung dalam pangadereng, sehingga tetap bertahan dan menjadi pandangan hidup manusia Bugis disebabkan dua faktor.

Pertama, bagi manusia Bugis yang telah menerima adat secara total dalam kehidupan sosial budaya atau lainnya, konsisten atau percaya dengan teguh bahwa hanya dengan berpedoman pada adat, ketentraman dan kebahagiaan setiap anggota dapat terjamin.

Kedua, implementasi dengan berpedoman pada adat itulah yang menjadi pola tingkah laku dan pandangan hidup bermasyarakat. Kecenderungan orang Bugis merefleksikan petuah atau nasehat serta wejangan para cerdik pandai sebelumnya, tidak lantas membuat mereka alergi dengan perubahan.

Bahkan sebaliknya, kolaborasi-akumulatif antara nilai pangadereng dengan syara’ (agama) pada gilirannya menjadi benteng pertahanan tangguh terhadap institusi dari dominasi westernisasi dalam paket sekularisme.

Mengenai Pentingnya peran agama dalam memfilter pengaruh sekularisme akibat modernisasi, sebenarnya telah mendapat perhatian serius sejak lama. Sebut saja Donald E. Smith, pernah menguraikan hal ini dalam buah penanya “Agama dan Modernisasi Politik: Suatu Kajian Analitis” (1985).

Masuknya pengaruh Islam secara adaptif dalam sistem nilai pangadereng dan kemampuan merespon perubahan zaman di kalangan orang Bugis, pada gilirannya melahirkan pemaknaan terhadap institusi sosial sebagai warisan leluhur pun berbeda. Mungkin ada yang masih tergolong fanatik mengamalkan nilai-nilai ini, semi percaya, dan ada yang cenderung telah mengabaikannya.

Meskipun demikian, bukan persoalan level pemaknaan yang menjadi inti pada tulisan ini, akan tetapi bagaimana nilai sebuah pesan itu mampu menjadi pandangan hidup dan spirit usaha.

Falsafah orang Bugis yang pada gilirannya menjadi pandangan hidup dan pola perilaku, sebagian dapat kita temukan melalui Lontara’ yang memuat petuah-petuah bijak orang Bugis. Tentang etos kerja orang Bugis disinyalir merupakan bagian makna siri dalam implementasinya. Pentingnya aplikasi makna siri terhadap para penguasa (raja-raja) Bugis tertera dalam pesan sebagai berikut:

“Padecengiwi bicara-e, Parakai ampe-ampe malebbi-e, Gau’-gau’ lalo tengnga-e, Pari tengngai bicara ri tennga-e”

Pesan ini bermakna “perbaiki cara bicara jika berbicara, perbaiki tingkah laku mulia dan terhormat, gerak langkah sederhana atau tidak angkuh dan tidak sombong, tempatkan di tengah untuk pembicaraan di tengah, tidak melebihi, tidak memihak sebelum mengetahui posisi kebenarannya”.

Nilai-nilai filosofis tersebut, sebagian diwariskan dalam bentuk tertulis melalui lontara’, dan ada pula melalui pesan-pesan Pappaseng (petuah) dan Pappangaja (nasihat).

Diketahui bahwa beberapa pendukung kebudayaan di Sulawesi Selatan juga mengenal dan menghargai pesan leluhur, seperti: orang Toraja menyebutnya dengan aluktudolo, orang Kajang mengistilahkan dengan pasang, orang Bugis menamakan pappaseng, dan lain-lain .

Uraian mengenai pesan orang Bugis tersebut, pada gilirannya menjadi pedoman hidup orang Bugis dalam beraktivitas tak terkecuali kegiatan usaha. Hal ini sejalan dengan asumsi bahwa untuk menjalankan aktivitas usaha jenis apapun, tidak hanya dibutuhkan modal finansial. Akan tetapi sejumlah modal sosial, juga mutlak dimiliki terutama dalam menjalin interaksi. Sehingga antara produsen dan pemakai dapat terjalin harmonis.

Bicara (cara bertutur kata), juga merupakan modal utama dalam kegiatan usaha dan bahkan menjadi faktor penentu terjalin dan terciptanya koneksitas. Batapa tidak, kemampuan (strategi) berkomunikasi memegang peranan penting untuk menarik minat melalui sejumlah kesan bersahabat yang diciptakan secara ekspresif. Demikian pula ampe (tingkah laku; temperamen), memegang peranan signifikan sebab hal ini merupakan penentu lahirnya daya pikat dan ketertarikan orang lain atas seseorang yang membutuhkan.

Karena itu, dalam kehidupan bermasyarakat di kalangan orang Bugis, mengenal konsep sipakatau (memanusiakan sesama), sipakalebbi (saling memuliakan), sipakainge (saling mengingatkan).

Etos Kerja dan Keberhasilan Usaha Demikian penting dan berharganya pengamalan terhadap falsafah hidup, sehingga keberhasilan seseorang diukur berdasarkan beberapa parameter fungsional dalam masyarakat sebagai hasil usahanya.

Dalam pengertian lain, bahwa seseorang baru dikatakan sukses dalam berusaha, jika menempati elit stategik meliputi:

1) To-Mapparenta yakni pemegang kekuasaan atau petugas pemerintahan;
2) To-Panrita, yakni petugas kerohanian (tokoh spiritual) atau keagamaan;
3) To-Acca, yakni orang pandai atau cendekiawan sederhana,
4) To-Sugi, mapanre na saniasa yakni orang kaya, pengusaha yang terampil atau cekatan, dan
5) To-Warani Mapata-e yakni pemberani atau pahlawan yang selalu waspada.

Hal tersebut di atas menunjukkan, bahwa parameter kesuksesan seseorang, ditentukan oleh 5 (lima) hal dan kekayaan (sugi) menempati urutan keempat. Kriteria To Sugi (orang kaya), telah ditetapkan menurut versi Lontara’ sekaligus ukuran keberhasilan seseorang dalam berusaha.

Dalam lontara’ ditetapkan bahwa To Sugi adalah orang yang selain memiliki kecakapan niaga, juga memiliki sendiri faktor yang dipergunakannya seperti: modal, tanah persawahan, tanah perkebunan, empang (tambak), alat pengangkutan, dan lain-lain.

Artinya barulah seseorang dikatakan kaya, kalau sawahnya sendiri yang digarap, kerbaunya sendiri yang dipakai dan anaknya sendiri yang dijadikan gembala.

Dalam konteks kehidupan masyarakat modern seperti sekarang, ukuran keberhasilan usaha seseorang tentu saja ditakar melalui kategori usaha yang lain pula. Sebut saja keberhasilan seseorang sekarang, dilihat dari aspek kepemilihan usaha yang dikelola sendiri.

Demikian pula operasionalnya, melibatkan tenaga anak sendiri atau keluarga dekat. Kecenderungan memilih tenaga kerja yang berasal dari lingkungan keluarga sendiri, tentu tidak hanya refleksi dari falsafah hidup atau pesan pendahulu. Akan tetapi, mereka telah menyadari pentingnya pengkaderan atau pewarisan jiwa usaha kepada keturunan demi kontinuitas jenis usaha yang ditekuni.

Pentingnya usaha dan kerja keras untuk memperoleh hasil (rezeki), telah dikemukakan dalam petuah Bugis, bahwa:

“rezeki berasal dari Tuhan, tetapi rezeki itu haruslah dicari”. Karena itu, tidak heran jika di kalangan orang Bugis, memiliki sebuah motto yang hingga kini masih terus didengungkan yakni: “resopa temmangingi namallomo naletei pammase dewata”. Ungkapan ini bermakna “hanya kerja keras dan sungguh-sungguh yang mendapat rahmat dari dewata/yang maha kuasa”.

Prinsip kerja keras tersebut, juga dikawal oleh pesan leluhur lain berbunyi: “aja mumaelo natunai sekke, naburuki labo” (jangan terhina oleh sifat kikir dan hancur oleh sifat boros).

Karena itu, Orang Bugis pada umumnya memegang pada prinsip Tellu Ampikalena (tiga prinsip hidup) yaitu: Tau-e ri Dewata-E, siri-e ripadata rupatau, siri-e watakkale (Ketakwaan pada Allah SWT, rasa malu pada orang lain dan pada diri sendiri).

Penghormatan dan komitmen pada falsafah hidup sebagai pesan leluhur, juga tercermin melalui pengakuan seorang perantau bernama Pak Hasyim. Ia merupakan keturunan Pua’ dari Enrekang setelah merantau dan berlayar sebagai Kapten Kapal di Asia Tenggara, rupanya masih menghapal dengan mantap tentang ungkapan yang mengatakan:

“Ri werengngi pole ri dewata-E, alebbireng koi ri Luwu, asugireng koi ri Wajo, awaraniang koi ri Bone, awatangeng koi ri Gowa”. Pernyataan tersebut berarti: “dianegurahkan oleh dewata, kemuliaan pada Luwu, kekayaan pada Wajo, keberanian pada Bone, dan kekuatan pada Gowa”.

Bila menggunakan hampiran teori Sibernetik tentang General System of Action, maka implementasi-aplikatif pesan leluhur sebagai sistem sosial sekaligus falsafah hidup, maka dapat dikatakan bahwa orang Bugis telah menjalankan fungsi sosialnya.

Fungsi sosial yang dimaksudkan adalah:
(1) Fungsi mempertahankan pola (pattern maintenance), yakni bersinggungan dengan hubungan suatu masyarakat sebagai sistem sosial dengan sub-sistem kebudayaan;
(2) Fungsi integrasi, yakni meliputi jaminan ter-hadap koordinasi yang diperlukan antara unit-unit dari suatu sistem sosial, khusus yang berkaitan dengan konstribusinya pada organisasi dan peranannya dalam keseluruhan sistem;
(3) Fungsi pen-capaian tujuan (goal attainment), yakni menyangkut hubungan antara masyarakat sebagai sistem sosial dengan sub-sistem aksi kepribadian untuk mencapai tujuan hidupnya; dan
(4) Fungsi adaptasi, yakni menyangkut hubungan antara masyarakat sebagai suatu sistem sosial dengan sub-sistem organisme perilaku dan dengan dunia fisiko-organik.

Fungsi adaptasi yang dimaksudkan dalam konteks ini, yakni proses penyesuaian masyarakat terhadap kondisi lingkungan tempat mereka melangsungkan kehidupan. Keempat fungsi sosial sebagai karakter orang Bugis tersebut, pada gilirannya membuat terwariskan secara turun temurun sehingga masih tetap dikenal hingga sekarang.

Demikian pula fungsi integrasi berarti sebuah rangkaian proses kehidupan yang dijalani oleh orang Bugis yang senantiasa berusaha semaksimal mungkin mengintegrasikan secara akumulatif nilai-nilai kultural sebagai identitas etnis dalam kehidupan ber-masyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Adapun dua fungsi sosial lainnya yakni fungsi pencapaian tujuan berhubungan dengan cita-cita kolektif masyarakat yang ingin tetap menjadikan nilai-nilai ke-Bugis-an itu eksis di antara dominasi modernitas. Karena itu, cita-cita ingin menjadikan nilai-nilai luhur orang Bugis tetap menjadi pandangan hidup itulah yang menyebabkan sehingga siri tetap dijadikan sumber motivasi dalam keberhasilan usaha.

Demikian pula fungsi adaptasi berkaitan dengan kemampuan dan tanggung jawab kultural orang Bugis untuk tetap menyesuaikan diri secara adaptable dengan jiwa dan tuntutan zaman. Dalam pengertian bahwa pola adaptasi nilai-nilai budaya Bugis dilakukan melalui adopsi kultural yang dianggap relevan dengan kemajuan zaman, sehingga nilai-nilai kelampauan itu masih tetap up to date dan relevan dengan kehidupan dunia modern sekarang.

Tantangan dan Prospek Spirit usaha (jiwa kapitalis) yang dimiliki oleh orang Bugis tidak dengan serta merta steril dari noda dalam wujud pengingkaran. Beberapa image negatif di balik superioritas dan nama besar etnis ini, dalam perkembangannya sempat terbentang di mana-mana.

Orang Bugis memang boleh bangga dengan predikat “Orang Cina-nya” Sulawesi Selatan dengan sejumlah sukses yang diraih dalam pengembangan usaha mulai dari kategori sederhana yang kompetitif hingga usaha skala besar yang “tak tertandingi” (Bugis: besar-unggul-gagah-istimewa-super).

Di sisi lain, nama besar itu tercemar (jika dapat dikatakan demikian) oleh jargon seperti ungkapan bahwa Bugis itu adalah singkatan dari “Banyak Uang Ganti Istri”. Istilah yang sepintas hanya terkesan guyonan ini, rupanya bukan isapan jempol semata.

Kecenderungan orang Bugis beristri lebih dari satu, telah mendapat perhatian serius sejak masa lampau. Kenyataan ini terbukti melalui salah satu tutur yang mengatakan:

“boleh engkau belanjakan harta bendamu, dan pakai untuk berbini, namun janganlah sampai kamu menghabiskan modalmu dan bagi labamu”.

“Iyapa naullé taué mabbaine narékko naulléni magguli-lingiwi dapurengngé wékka pitu”

Artinya: apabila seseorang ingin beristeri, harus sanggup mengelilingi dapur tujuh kali”. Di sini dapur merupakan perlambang dari masalah pokok dalam kehidupan rumah tangga. Sedangkan tujuh kali merupakan padanan terhadap jumlah hari yang juga tujuh (Senin s/d Minggu).

Maksudnya, sebelum berumah tangga supaya memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab menghidupi keluarga setiap hari.

Peringatan tentang pentingnya strategi penggunaan uang dari usaha ini, menunjukkan bahwa salah satu penyebab tidak berkembangnya usaha seseorang karena faktor istri yang lebih dari satu (poligami). Bahkan kenyataan ini sekaligus membuktikan bahwa poligami, memang selalu identik dengan uang banyak (harta melimpah).

Meskipun demikian, ada anggapan yang cenderung apologik dan mungkin juga benar bahwa faktor penyebab orang Bugis khususnya dari kalangan bangsawan beristri lebih dari satu karena persoalan darah. Maksudnya, bahwa jika seorang anak gadis dikawini oleh lelaki yang berdarah bangsawan, maka keturunan (anak) yang dilahirkan kelak otomatis akan berdarah bangsawan.

Kesan buruk lainnya di balik sukses orang Bugis karena pengamalan falsafah hidupnya, juga tampak pada kesan bahwa jika sebuah usaha telah berkembang dan memerlukan modal besar serta pelibatan orang lain seringkali mengalami kegagalan.

Fenomena ini, pada gilirannya melahirkan kesan bernada “degaga kongsi madeceng ri tana ugi” atau tidak ada perkongsian atau kerja sama yang berhasil di daerah Bugis.

Suatu cerita yang mencerminkan tabiat buruk pedagang Bugis juga dapat kita ketahui melalui kisah pedagang To-Welado. Suatu ketika saat sebuah rombongan pergi bersama-sama, muncul kesepakatan untuk diadakan kerja sama untuk menjaga keselamatan mereka.

Ironisnya, yang termasuk dalam kesepatan itu hanya menyangkut keselamatan bersama tadi, sementara barang dagangan menjadi tanggung jawab masing-masing. Makna kisah ini direfleksikan dalam terminologi bahasa Bugis berbunyi: “massilessureng watakkale, temmassilessureng waramparang” atau tubuh boleh bersaudara, namun harta tidak.

Dengan kata lain, bahwa meskipun seseorang itu bersaudara kandung sekalipun, namun dalam melakukan usaha (dagang) tidak mengenal saudara. Kesan negatif seperti ini, hingga sekarang tampak masih menggejala sehingga tidak jarang dijadikan sebagai instrumen destruktif untuk mengalahkan lawan politik.

Karena itu, tidak heran jika kerap muncul di masyarakat anggapan bahwa para pedagang tidak boleh menduduki jabatan penting di pemerintahan, dengan pertimbangan bahwa apa saja dapat dijual untuk kepentingannya.

Hal itu mengkin berdasar pada ungkapan dalam Lontara’ Bugis : “salah satu tanda-tanda keruntuhan suatu negeri, apabila pemerintah (pejabat pemerintah) ikut berdagang”.

Namun sebaliknya, jika jiwa enterpreneur (kewirausahaan) seorang pemimpin sebenarnya dapat memanfaatkan semaksimal mungkin potensi alam yang dimiliki untuk kepentingan pembangunan daerahnya.

Kesan dan anggapan negatif maupun bantahan atasnya tersebut, secara fundamental memiliki dasar argumentatif serta latar historis masing-masing. Karena itu, mengklaim mana yang benar dan yang salah, sepertinya kita tidak memiliki otoritas ilmiah karena harus berhadapan dengan jiwa zaman dan konteks historis yang saling berbeda.

Dalam pengertian lain, bahwa penyebab munculnya anggapan tidak boleh seorang pedagang menjadi pemimpin pemerintahan, mungkin disebabkan oleh adanya bukti empirik di masa lampau akan penyalahgunaan jabatan.

Kemudian bantahan atas argumen tersebut, tentu wajar mengingat orientasi profit merupakan prasyarat mutlak untuk sebuah kegiatan pembangunan di era modern.

Mengenai eksistensi falsafah hidup, dapat ditelusuri secara historis melalui catatan sejarah yang menunjukkan bahwa perikehidupan manusia Bugis sejak dahulu, merupakan bagian integral dari pengamalan pangadereng. Makna pangaderrang dalam koteks ini adalah keseluruhan norma yang meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesama manusia dan terhadap pranata sosialnya yang membentuk pola tingkah laku serta pandangan hidup.

Akhirnya tulisan di atas dapat disimpulkan hal-hal seperti berikut ini:

1) Melekat-kentalnya sistem norma di kalangan orang Bugis ini, sehingga dianggap berdosa jika seseorang tidak melaksanakan. Dalam hubungannya dengan etos kerja dan keberhasilan usaha, maka seseorang baru dikatakan sukses dalam berusaha, jika menempati elit stategik meliputi:

(1) To-Mapparenta yakni pemegang kekuasaan atau petugas peme-rintahan,
(2) To-Panrita, yakni petugas kerohanian (tokoh spiritual) atau keagamaan,
(3) To-Acca, yakni orang pandai atau cendekiawan sederhana,
(4) To-Sugi, mapanre na saniasa yakni orang kaya, pengusaha yang terampil atau cekatan, dan
(5) To-Warani Mapata’e yakni pemberani atau pahlawan yang selalu waspada.

Hal tersebut menunjukkan bahwa parameter kesuksesan seseorang, ditentukan oleh 5 (lima) hal dan kekayaan menempati urutan keempat. Dalam lontara’ ditetapkan bahwa to sugi (orang kaya) adalah orang yang selain memiliki kecakapan niaga, juga memiliki sendiri faktor yang diper-gunakannya seperti: modal, tanah persawahan, tanah perkebunan, empang (tambak), alat pengangkutan, dan lain-lain.

Barulah seseorang dikatakan kaya, kalau sawahnya sendiri yang digarap, kerbaunya sendiri yang dipakai dan anaknya sendiri yang dijadikan gembala

2) Di era modern seperti sekarang, ukuran (kriteria) keberhasilan usaha seseorang tentu saja ditakar melalui kategori usaha yang lain pula. Sebut saja keberhasilan seseorang sekarang, dilihat dari aspek kepemilihan usaha (alat produksi) yang dikelola sendiri. Demikian pula operasionalnya, menggunakan (melibatkan) tenaga anak sendiri atau keluarga dekat, adalah bentuk kesadaran akan pentingnya upaya pengaderan.

3) Selain kecenderungan beristri banyak, tantangan paling fundamental yang tidak kalah menarik yakni terjadinya kecenderungan di kalangan orang Bugis yang memilih jadi pejabat (penguasa). Akhirnya, dualisme orientasi dalam kehidupan seperti ini pada gilirannya berpotensi melahirkan semacam shiffing paradigm yang mengancam prospek jiwa wirausaha di kalangan orang Bugis.
Akhirnya, nilai-nilai falsafah dan etos kerja ini seakan berada di antara nostalgia sejarah dan realitas sekarang ini. (kompasiana)

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...