No menu items!
Minggu, 12 Juli 20

Syair Terakhir Menjelang Kematian

Syair jiwa manusia menembus dimensi ruang dan waktu yang tak berbatas. Ia memiliki kekuatan batin, energi alam semesta dan getar kehidupan. Tutur dari lidah penyair apalagi ulama bisa menjadi doa yang didengar Tuhan Yang Tiada Duanya.

Jangan khawatirkan sehatku. Cita-citaku, kalau tidak mati di depan Ka’bah, ya mati di atas panggung. Jangan pikirkan siapa aku, kalau tidak tersungkur di atas sajadah, ya aku mati di atas mimbar masjid.

Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku? Barangkali satu denyut lepas, oh satu denyut lepas. Tepat di saat tak jelas batas-batas, sayangku. Segalanya terhempas, oh segalanya terhempas!

Laut masih berombak, gelombangnya entah ke mana. Angin masih berhembus, topannya entah ke mana. Bumi masih beredar, getarnya sampai ke mana? Semesta masih belantara, sunyi sendiri ke mana?

Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku? Barangkali hilir-mudik di suatu titik tumpang-tindih merintih dalam satu nadi, sayangku. Sampai tetes embun pun selesai, tak menitik!

Gelombang lain datang begitu lain. Topan lain datang begitu lain. Gelap lain datang begitu lain. Sunyi lain begitu datang sendiri tak bisa lain!

Aku lemas tapi berdaya. Aku tidak pernah sesak nafas. Tapi tubuhku tidak memuaskan untuk punya posisi sandar yang wajar. Insya Allah, tuhanku akan mewajarkan.

Aku ingin membasuh tubuhku dari racun kimia dunia. Aku ingin kembali pada jalan alam. Aku ingin melanjutkan pengabdian kepada tuhanku. Allah Yang Maha Esa.

Tuhan, di bawah matahari-Mu yang hangat meledak-ledak. Begitu dingin melumuri tangan-tangan malaikat. Dan aku yang terpingsan-pingsan dekat tungku yang penuh kehangatan dan cinta.

Tuhan, beri aku waktu sebelum nyawa merengang meninggalkan tanah lapang duniawi yang kimiawi. Sementara segala adat pangadereng sedang tertatih-tatih menuju gusur di tepi tanah yang amat landai.

Bahwa bertolak dalam falsafah sastra Bugis dalam syair klasik rilalenna galigoe rimakkedanna:

cokkong mua minasae
nakkelo dewata seuwwae
naiyya maddupa

berpucuk jua harapan
kehendak tuhanlah yang berlaku
maka itulah yang menjadi kenyataan

Akkatana:
Atabbakkarenna minasae paddennuangnge idi mua napolei. Naekulle, elo kulle simata-na mua puang marajae Talle majjajareng naiyya mua mannessa.

Batu kecubung warnanya ungu. Ditatah berlian batunya bermutu. Kebiasaan orang Bugis menyongsong tamu. Hamparkan tikar lebarkan pintu. Duduk bersila perkuat silaturahmi.

Must read

Kawasan Peruntukan Pariwisata Kabupaten Bone

Peruntukan pariwisata di Kabupaten Bone terdiri pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan. Hal ini berdasarkan Rancangan Perda Kabupaten Bone Nomor 2 Tahun 2013 Tentang...

Sejumlah Seniman Jadi Juri Lomba Festival Aksara Lontara’ 2020

Sejumlah seniman senior akan mengambil peran sebagai juri dalam kegiatan lomba serangkaian Festival Aksara Lontara' 2020. Lomba ini digelar selain memeriahkan Festival Aksara Lontara', sekaligus...

Cara La Patau Membangun Benteng Cenrana

Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone merupakan peninggalan La Patau Matanna Tikka raja Bone ke-16. La Patau Matanna Tikka lahir pada Tanggal 3 November 1672...

Sejarah Situs Cenrana Kabupaten Bone

Sejak berabad-abad yang lalu wilayah Cenrana memainkan peranan penting dalam pembentukan sejarah budaya di Sulawesi Selatan. Cenrana sebagai kelanjutan sungai Walennae memiliki lembah-lembah sungai yang...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles

Latest article

Falsafah Hidup Bugis Antara Nostalgia Sejarah dan Realitas

Secara fundamental falsafah hidup dipahami sebagai nilai-nilai sosio-kultural yang dijadikan masyarakat tertentu sebagai pola dalam melakukan aktivitas keseharian. Demikian penting dan berharganya nilai normatif...

Festival Aksara Lontaraq 2020 Dilaunching 25 Juni 2020

Makassar. Festival tahunan untuk mengembalikan kejayaan aksara lontaraq, yang merupakan salah satu warisan budaya Sulawesi Selatan dipastikan digelar tahun ini. Festival Aksara Lontaraq 2020, akan...

Raja Bone ke-1 Manurunge Rimatajang 1330-1365

Dalam Lontara’ disebutkan, bahwa setelah habisnya turunan PUATTA MENRE-E RI GALIGO, keadaan negeri-negeri diwarnai dengan kekacauan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya arung (raja)...