No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Kawali Mangkau’ Patappulo Panre

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Desa Lappo Ase, Kecamatan Awangpone sekitar 10 km dari kota Watampone. Nampak berkumpul sebanyak 40 Panre Bessi (pandai besi) pada Jumat 14 Februari 2020.

Ada persiapan persembahan sakral dalam Hari Jadi Bone ke-690 nanti. Kawali Mangkau Patappulo Panre yang dibuat oleh 40 Panre Bessi dari seluruh Tanah Bone.

Mereka memulai prosesi ritual pembuatan Kawali Mangkau. Badik itu harus selesai pada 5 April mendatang. Malam Jumat. Sebelum hari jadi Bone yang ke-690 pada tanggal 6 April 2020.

Gendang pun dibunyikan. Gendrang bali sumange, yang artinya semangat berbalas semangat. Ada enam orang yang memakai pakaian putih untuk melakukan ritual. Ada yang berdiri, ada pula yang duduk di depan salah seorang Panre Bessi. Mereka adalah bissu.

Puang Matoa Bissu, Syamsul Bahri memulai prosesi maddupa atau dimulainya acara. Di depannya ada panre bessi yang turun di lubang. Dihadapannya ada bara api. Setelah prosesi ritual itu ada empat orang pandai besi. Mereka mulai memanaskan dan memukul. Berganti-gantian. Sebab ruangannya kecil.

Panre Polojiwa, Andi Ancu menjelaskan badik yang akan dibuat itu. Katanya, ada pamor-pamor yang akan muncul, ada lingkaran bulan tiga disebut tering tellu yang maknanya lempu, getteng, ada tongeng.

“Tering tellu itu tidak sembarangan. Bukan hanya bulatan saja. Ada ure tuo (urat hidup), dan titik uleng puleng. Ini sudah ditentukan oleh Allah SWT yang sudah diniatkan ke Panre,” katanya.

Kemudian ada lima timpa’laja. Maksudnya ada lima pangadereng di Tanah Bone, ada pamor “tebba’ jampu” yang muncul atas kehendak Allah SWT, ada attuppung batu lappa, ada pamor gigi 40 yang menandakan 40 panre yang menempa. “Inilah badik terbaik. Inilah Badik Mangkau Lanro Patappulo di Bone,” sebutnya.

Sebelum memulai prosesi itu sudah terlebih dahulu dilakukan ziarah kubur ke Raja Bone ke-2 La Ummasa yang dijuluki sebagai Petta Panre Bessie. Kemudian malam harinya meminta izin juga kepada leluhur.

“Prosesi hari ini tidak ada tenda. Karena langit yang menjadi tenda. Tidak bakalan ada hujan,” sambut Alfian T Anugrah selaku pencetus dari pembuatan Kawali Mangkau Patappulo Panre.

Kata lelaki yang gemar memakai topi itu, Bone memiliki banyak panre andalan, makanya dibuat hal baru untuk dikenang. 40 panre besi buat satu badik. “Kita membuat kawali jenis baru lebih sakral, karena melibatkan 40 panre,” ucapnya.

Badik jenis baru itu menjadi agenda dalam hari jadi Bone untuk diserahkan dan diberikan prasasti dan dipajang di Museum Arajangnge Pamor itu bentuk ukiran yang mempunyai makna.

Alfian sapaan karibnya, menjelaskan di kerangkanya ada ukiran 17 emas yang menandakan 17 rakaat salat sebagai penanda tiang agama. Ukirannya itu bunga kawerang, sebagai tanda bersatunya tujuh matoa membentuk sebuah kerajaan. Saat pertama Manurungnge menjadi raja di Bone tahun 1330.

Pegangannya itu dibuat dengan ukiran emas dan kepala garuda. Terinspirasi dengan lambang Negara Indonesia . Panjang bilanya adalah ukuran satu lengan sampai ujung telunjuk. “Tangan Pak Bupati yang dijadikan ujuran. Karena dia bupati atau pemimpin,” jelasnya.

Badik itu juga memiliki empat unsur. Angin, Api, Air, dan Udara. Serta empat arah angin yang dikuasai menjadi satu (utara, timur, barat, selatan). “Memang ini badik baru, dengan bahan yang bagus dan menjadi satu jenis badik. Dulu kita hanya kenal badik raja, gecong. Mangkau’ adalah jenis barunya,” ungkap lelaki berpostur tubuh tinggi yang murah senyum itu.

Alfian yang juga mantan legislator Bone itu menjelaskan, Bissu dilibatkan dalam prosesi ini karena dia Pengawal dan Penjaga Arajang. Di zaman kerajaan, Bissu adalah orang-orang yang dipercaya. “Apalagi ini badik akan disimpan di arajang maka dikawal oleh Bissu,” terangnya.

Sementara Bupati Bone, Andi Fahsar Mahdin Padjalangi menyambut baik hal itu. Dia meminta agar memakai nama Mangkau. Raja sama konotasinya dengan mangkau. Raja pemberian gelar dari Belanda, akan tetapi Mangkau merupakan pemberian dari adat yang murni lahir di Tanah Bone.

Bupati Andi Fahsar juga mengapresiasi karena, mempertemukan 40 panre besi saja sangat susah. Apalagi mau berbuat untuk satu, dan inilah tanda kebesaran dari Pallanroe yang bisa menjadi satu. “Orang akan berdatangan mencari kita semua. Dan ini tidak bisa dinilai dengan harga. Besi lainnya bisa, ini tidak bisa karena ada 40 panre,” kata Bupati Bone.

Beliau meminta, buatlah tanda sebagai ciri khas dalam pembuatan badik ini. Yang menandakan Mangkau ada karakternya tersendiri. Ketika dicabut langsung diketahui kalau ini adalah Badik Mangkau, bisa dibedakan dengan badik raja, gecong, dan lainnya.

“Ini akan dipersembahkan kepada Bone. Bukan Fahsar. Saya pribadi mau sekali, tapi ini lebih pantas dimiliki oleh Bone ketimbang saya secara pribadi. Karena akan disimpan di Museum Arajangnge. Nanti dipersandingkan dengan Lamakkawa dan Latea Riduni dan akan diberikan tempat di situ,” tutur Bupati Bone.

Untuk itulah seluruh Panre Bessi agar sungguh-sungguh membuat badik ini. Ilmu yang disembunyikan selama ini agar dikeluarkan semua. “Tapassokku memenni kuro, karena kalian semua memiliki isi soal itu. Karena inilah menjadi simbol Bone ke depan,” pungkasnya.

(Semua Panre Bessi adalah Pallanro, tapi tidak semua Pallanro adalah Panre Bessi).

(Besi menajamkan besi dan manusia  menajamkan sesamanya)

Berita sebelumyaSurat Raja Bone
Berita berikutnyaPanrita di Tepi Danau Tempe
- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...