No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Merawat Bugis Melalui Modal Budaya

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Banyak sumber untuk menggali nilai-nilai budaya Bugis, di antaranya melalui nyanyian tradisonal yang mungkin sekali pada saat ini sudah mulai tidak diingat kembali dan bahkan tidak mau menyanyikannya, khususnya oleh generasi muda.

Mereka lebih mengenal bahkan hafal menyanyikan lagu-lagu pop, termasuk “K-Pop” yang kini sedang melanda dunia mereka. Kondisi ini memang tidak dapat dihindari, karena kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat dan sangat canggih.

Keampuhan teknologi informasi menjadikan “dunia remaja” makin sempit dan tidak tergantung lagi pada persoalan ruang dan waktu sehingga selera mereka mudah ditentukan atau dibentuk oleh selera “dunia sana”.

Hal inilah yang kemudian mampu memengaruhi selera mereka terhadap nyanyian tradisional memudar. Padahal irama nyanyian tradisonal sangat enak didengar dan penuh dengan suasana keceriaan. Liriknya pun tidak “abal-abal”, melainkan sarat dengan makna-makna filosofis khas budaya Bugis. Salah satu nyanyian tradisional itu adalah “ININNAWA SABBARAE”.

Syair selengkapnya adalah sebagai berikut yang kami kutip dari www.telukbone.id

ININNAWA SABBARA’E 2X
LOLONGENG GARE’ DECENG
ALA TOSABBARAEDE

PITU TAUNNA SABBARA’ 2X
TENGGINANG KULOLONGENG
ALA RIYASENGNGE DECENG

IDECENG ENRE’KI RI BOLA 2X
TEJJALI TETAPPERE
ALA BANNA MASE-MASE

MASE-MASE IDI’NAGA 2X
RISURO MATTARANA
ALA MUTEA MABELA

MABELAMPI KUTIROKI 2X
MUJOPPA ALE-ALE
ALA MUTELLU SITINRO

TELLU MEMENGNGA SITINRO 2X
NYAWAKU NA TUBUKU
ALA PASSENGERENGNGEDE

SENGERENGMU PADA BULU 2X
ADATTA SILAPPAE
ALLA RUTTUNGENG MANENGNGI

Terjemahan:

Sampai saat ini kami belum mendapatkan informasi tentang siapa pengarang nyanyian itu. Namun satu hal yang tidak dapat dipungkiri nyanyian ini menjadi pemersatu Orang Bugis. Sangat popular di zaman saya masih ana-anak dahulu. Saya yakin pada zaman sebelum saya pun nyanyian ini juga sangat akrab dalam pergaulan sosial orang Bugis.

Bahkan akhir-akhir ini lagu tersebut kembali terangkat setelah seorang yang melantunkannya dengan iringan musik gitar. Dengan petikan khasnya ia mampu memukau orang Bugis pada khususnya. Lewat suaranya yang khas ia bisa menuturkan lirik-lirik dengan pas dan mudah dicerna. Ia adalah Mursalim dari Kabupaten Bone.

Meskipun lagu ini sudah banyak yang nyanyikan sebelumnya namun versi musik yang berbeda. Tapi Mursalim membuat dalam versi musik klasik sehingga kedengarannya sangat menyentuh apalagi disertai gaya bahasa yang mudah dicerna khususnya kalangan Bugis itu sendiri. Bahkan kalau dilihat videonya hanya menggunakan kamera smartphone yang sederhana.

Secara historis, biasanya nyanyian ini dikumandangkan pada saat hendak menidurkan anak, bahkan saat panen raya yang pada waktu itu masih menggunakan ani-ani (Bugis: rakkapeng) dinyanyikan serentak oleh perempuan Bugis sambil potong padi. Suasana keceriaan dan bahagia senantiasa mewarnai aktivitas mereka pada saat itu.

Meskipun sangat mungkin mereka tidak memahami makna filosofis yang terkandung di dalamnya, namun nyanyian ini mampu memberikan semangat kebersamaan yang mengasyikkan.

Makna-makna simbolik

Sekilas makna simbolik nyanyian Ininnawa Sabbarae dapat diinterpretasikan sebagai nyayian tentang prinsip kehidupan. Makna yang dikandungnya sangat jelas menggambarkan bagaimana seseorang diharapkan senantiasa memelihara kesabaran dan ketabahan menjalani hidup ini. Untuk meraih sukses harus bekerja keras disertai doa kepada Dewata (Tuhan Yang Maha Esa).

Selain itu lagu ini bermakna, bahwa dalam hidup ini sedapat mungkin menjauhi sifat sombong ketika kita merasa sudah memiliki harta yang melimpah. Karena harta yang diperoleh itu tidak lain berawal dari ketidakadaan, di mana sewaktu-waktu kekayaan itu bisa hilang kapan saja bila tuhan menghendaki.

Dalam lagu itu juga menitip pesan bagaimana kita dalam melakukan interaksi sosial sesama manusia. Menjaga perilaku dan tutur kata sangat ditekankan, karena walaupun telah banyak kebaikan yang kita lakukan biasanya akan runtuh hanya karena sebuah tutur kata.

Nyanyian Ininnawa Sabbara’e dapat pula dimaknai dalam konteks budaya Bugis yang lebih dalam. Apabila dicermati dengan seksama, bait-bait dalam nyanyian Ininnawa Sabbarae mengandung berbagai pilihan kata yang membentuk suatu konteks makna simbolis.

Pilihan kata-kata itu adalah: ininnawa sabbarae lolongeng gare deceng. Pilihan kata-kata ini sudah barang tentu bukanlah sederetan kata tanpa makna melainkan memiliki makna-makna simbolis yang harus diinterpretasikan sesuai dengan konteks nilai-nilai kultural Bugis.

Kata ininnawa sabbarae lolongeng gare deceng (hanyalah dengan kesabaran bisa meraih kebaikan) bermakna suatu tindakan atau upaya dan kerja keras untuk meraih sesuatu yang dicita-citakan atau diinginkan. Dengan menggunakan kosa kata ini, yang harus diraih itu merupakan sesuatu yang sangat tinggi nilainya, bukan sekadar keinginan atau cita-cita yang ala kadarnya.

Inti dari makna simbolik yang terkandung dalam pilhan kata ininnawa sabbarae lolongeng gare deceng adalah konsep bekerja keras dengan semangat yang tinggi merupakan salah satu kewajiban kultural orang Bugis. Lebih tegasnya, bermalas-malasan tidak dikehendaki apa pun alasannya.

Kata pitu taunna sabbara, bermakna atau simbolisasi dari sesuatu yang sangat lama dan bersifat sabar. Dalam konteks ini, kata pitu taunna bisa saja bermakna sebagai suatu jarak waktu mencapai keinginan luhur.

Tentu saja, tidaklah mungkin suatu cita-cita atau keinginan luhur hanya diniatkan dan diucapkan, melainkan harus disertai dengan upaya dan kerja keras untuk dapat meraihnya menjadi suatu kenyataan. Harapan itu tidak serta merta dapat diraih dalam waktu singkat.

Itu sebabnya dalam nyanyian Ininnawa Sabbarae kemudian disebutkan untuk meraih cita-cita itu disebut enre’ki ribola yaitu di mana rumah sebagai tempat tinggal ibarat berada di ketinggian yang harus dicapai melalui tangga.

Selanjutnya, meskipun cita-cita luhur tersebut telah diupayakan dengan kerja keras tanpa mengenal lelah, namun harus disadari bahwa tidak tertutup kemungkinan ternyata hasilnya bisa jadi tidak sesuai dengan yang diharapkan (tengngina kulolongeng). Sebab, tingkat kesulitan itu akan dimaknai hanya bermuara pada suatu area yang menyenangkan.

Dengan demikian segala bentuk “perkataan dan tutur bahasa” ke manapun dan di manapun Orang Bugis berada ia senantiasa menjaga sopan santun dan tutur kata yang baik dalam melakukan interaksi sosial. Hal ini merupakan simbolisasi pada bait terakhir: “sengerengmu pada bulu, ada silappae ruttungeng manenngi”.

Bait terakhir itu pesannya sangat jelas menggambarkan bagaimana harus menjaga adab melalui tutur kata, sebab meskipun setinggi gunung kebaikan yang pernah kita lakukan sedetik saja bisa meruntuhkan kebaikan itu, sehingga segala kenangan baik menjadi sirna pula.

Itu sebabnya, orang Bugis ketika hendak merantau ke tempat-tempat yang letaknya jauh, dan bahkan sangat jauh, dari kampung halaman demi meraih cita-cita dan keinginan luhur. Mereka sebelumnya telah dibekali berbagai wejangan orangtua. Dalam perantauan tetap harus menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Bugis serta menjaga harkat dan martabat.

Secara empirik, semangat merantau ini telah terbukti oleh banyaknya orang Bugis tersebar di seluruh pelosok Nusantara, bahkan sampai ke mancanegara. Baik mereka sebagai nelayan maupun sebagai pedagang, birokrat, ilmuwan, dan sebagainya. Meskipun mereka harus menuju ke suatu tempat yang sangat jauh, namun tempat-tempat itu hanya dimaknai sebagai wanua lain dan kampung tetangga.

Dengan dilandasi semangat yang tinggi, keuletan serta upaya yang sungguh-sungguh, hampir semua perantau Bugis berhasil baik secara sosial, ekonomi maupun politik sesuai dengan kapasitasnya. Bagi orang Bugis, kegagalan merantau secara kultural akan dimaknai sebagai “suatu yang kurang” yang harus dihindari karena terkadang akan mendapat cibiran yang menyakitkan dari lingkungan sosial (sompe’ baje-baje) artinya kalau bekal habis ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Untuk apa pergi merantau sampai jauh jikalau kondisi kehidupan masih tetap saja yang tidak menunjukkan keberhasilan. Aja’ mu sompe’ baje-baje baco’ … resopa temmangingngi namalomo pammasena dewata-e ( jangan merantau kalau tidak mau kehabisan bekal nak …. hanyalah dengan kerja keras memudahkan rahmat tuhan).

Nilai-nilai kultural yang terkandung dalam nyanyian ininnawa sabbarae adalah semangat pantang menyerah orang Bugis dalam meraih cita-cita atau keinginan luhur yang mau tidak mau harus dibarengi oleh upaya kerja keras meskipun dalam kenyataannya kemudian upaya itu akhirnya belum membuahkan hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Namun berkat kerja kerasnya ketidak berhasilan itu tidaklah fatal, dalam artian capaian yang diperoleh tidak terlalu jauh perbedaannya dengan cita-cita dan keinginan semula. Itu sebabnya, ketidak berhasilan itu tetap disikapi dengan keceriaan dan semangat pantang putus asa.

Nilai-nilai kultral lain yang dapat dipetik dari nyanyian ini adalah berkaitan dengan konsep merantau. Bagi orang Bugis merantau merupakan suatu hal yang sudah lazim dan bahkan sebagai kewajiban kultural. Sejauh berapa pun jarak yang harus ditempuh dan lokasi yang harus didatangi tidak akan menjadi penghalang. Semua itu akan dimaknai sebagai layaknya pergi ke kampung sebelah (wanua lain), suatu tempat yang menjadi konsentrasi berbagai kegiatan dalam menjalani liku-liku kehidupan.

Itu sebabnya, bagi orang Bugis pergi merantau bukan merupakan sesuatu yang menakutkan melainkan justru menyenangkan dan proses uji kemampuan. Implikasi dari semangat itu ditunjukkan oleh keuletan dalam bekerja, daya saing yang sangat kuat, serta motivasi yang tinggi untuk meraih keberhasilan.

Lebih kongkretnya, jarang sekali ditemukan atau terdengar kegagalan orang Bugis di tanah rantau, bahkan ada yang berhasil menjadi pemimpin dan saudagar kaya. Orang Bugis diperantauan dituntut tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya sehingga senantiasa meninggalkan kesan dan jejak sebagai suku yang memiliki kebudayaan yang tinggi. (Buginesse).

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...