No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Doja Penabuh Bedug dari Kampung Bugis

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Tahun 70-an Doja bertugas sebagai penjaga masjid selain itu pada saat tiba salat lima waktu sebagai penabuh bedug masjid atau langgar. Bila bedug masjid ditabuh sebanyak empat kali menandakan rakaat dalam salat. Misal pada pukulan terakhir beduk bunyi dua kali menandakan salat subuh, apabila empat kali menandakan duhur, ashar, dan isya, dan pukulan terakhir tiga kali menandakan magrib. Namun sebelumnya ditabuh berulang-ulang sebagai tanda bersiap-siap.

Bedug masjid terbuat dari sepotong batang kayu besar atau pohon enau sepanjang kira-kira satu meter atau lebih. Bagian tengah batang dilubangi sehingga berbentuk tabung besar. Ujung batang yang berukuran lebih besar ditutup dengan kulit binatang yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang. Bila ditabuh, bedug menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapat terdengar sampai jarak yang cukup jauh.

Fungsi sosial bedug yaitu sebagai alat komunikasi atau petanda kegiatan masyarakat, mulai dari ibadah, petanda bahaya, hingga petanda berkumpulnya sebuah komunitas. Tahun 80-an bedug digantikan oleh pengeras suara namun di kampung-kampung tertentu masih tetap mempertahankan bedug (genrang).

Di kampung Bugis, orang yang bekerja sebagai Doja disebut Paddoja selain menjaga masjid dan menabuh beduk ia juga yang mengumandangkan azan setiap waktu salat tiba. Doja secara harfiah artinya begadang yang bermakna menunggu waktu.

Doja ditunjuk berdasarkan hasil musyawarah yang kemudian ditentukan oleh Imam/Khatib. Tidak sembarang orang bisa menjadi Doja. Seorang Doja harus memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an, disiplin dan harus bisa mengatur waktu dengan baik. Dua jam sebelum tiba waktu salat sudah harus berada di masjid.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya biasanya mendatangi rumah warga di sekitar masjid untuk minta sedekah. Jadi seminggu dua kali yaitu hari Rabu dan Kamis dengan mendatangi tiap-tiap rumah di lingkungan mesjid yang dijaganya minta sedekah. Apa saja yang diberikan oleh warga diterimanya dengan segala senang hati.

Pada bahunya tergantung sehelai kain yang telah dijahitnya buat menaruh apa-apa yang didapatnya pada tiap-tiap rumah yang dikunjunginya. Biasa juga menggunakan “balasse” atau kesek sebagai wadah.

Warga setempat sudah tahu hari kedatangannya, sedekah untuk Paddoja memang sudah disiapkan sebelumnya. Biasanya pak Doja tidak naik ke rumah warga hanya menunggu di depan pintu atau tangga sambil mengucapkan salam. Ada yang memberi bantuan berupa beras, jagung, bahkan ada juga warga memberikan uang kalau beras lagi kurang.

Doja di masa lalu tidak pernah kekurangan kebutuhan sehari-hari seperti makanan. Apabila ada warga yang melakukan hajatan, biasanya makanan dibungkuskan atau disisihkan juga untuk Paddoja.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...