No menu items!
Minggu, 12 Juli 20

Sejarah Bubung Paranie Lemo Ape dan Bubung Laccokkong

Bone dikenal memiliki perjalanan sejarah dan budaya yang cukup panjang. Bekas peninggalan sebagai daerah yang pernah berjaya di masa lalu sebagian masih dapat disaksikan hingga sekarang ini.

Salah satu peninggalan kerajaan Bone yang jarang diperbincangkan adalah keberadaan tentang sumur. Di mana sumur itu diyakini mempunyai daya magis tersendiri.

Bubung Paranie

Di desa Lemo Ape kecamatan Palakka Kabupaten Bone, terdapat satu sumur tua yang konon katanya airnya bisa mendatangkan kekebalan bagi prajurit kerajaan Bone. Sumur itu dikenal dengan nama Bubung Paranie.

Secara harfiah, kata Bubung Paranie berasal dari bahasa Bugis yang berarti ‘Bubung artinya Sumur dan Paranie artinya Keberanian’.

Penyematan nama Bubung Paranie pada sumur itu konon karena adanya sifat magis air pada sumur itu yang mampu membuat kebal orang yang mandi di sumur itu.

Pada jaman kerajaan Bone  dahulu kala. Lemo Ape memang dikenal dengan para prajurit elit kerajaan Bone, prajurit ini di sebut “Laskar Passiuno”.

“Dahulu, sebelum laskar Passiuno ini pergi berperang terlebih dahulu mereka mandi di Bubung Paranie, agar mendapatkan kekebalan.
Lalu untuk menguji kekebalan tersebut, para Laskar Passiuno melakukan Permainan Massallo Kawali atau Massallo Gajang.

Massallo Kawali atau Gajang adalah permainan saling menghadang, hanya saja pada waktu itu mereka menggunakan badik untuk menikam lawan yang dihadangnya.

Nah, jika terkena tikaman badik, dan laskar ini masih berdarah, itu berarti mereka belum suci, maka harus kembali dimandikan di Bubung Paranie hingga akhirnya mereka benar-benar kebal. Jika semua Laskar Passiuno telah kebal, maka pasukan elite kerajaan Bone ini siap untuk berangkat ke medan perang.

Kini keberadaan sumur tersebut jarang kita dengar lagi, fungsi magis untuk kekebalan tidak lagi terdengar. Apalagi zaman sekarang ini tidak lagi pasukan elit kerajaan Bone dan bukan lagi masa peperangan.

Meskipun keadaan dan fungsi sumur itu tidak lagi seperti zaman dahulu, tapi kita wajib melestarikan sumur itu sebagai saksi sejarah perjalanan panjang kerajaan Bone dan kisahnya sebagai khazanah budaya Bugis.

Dalam catatan sejarahnya Bubung Paranie di Lemo Ape Kecamatan Palakka awalnya sudah digunakan  pasukan La Saliyu Korampelua raja Bone ke-3 yang memerintah dalam tahun 1368-1470 Masehi.

Usianya baru semalam La Saliyu sudah dinobatkan menjadi raja yang ditunjuk langsung oleh pamannya La Ummasa Raja Bone ke-2 yang memerintah tahun 1365-1368 Masehi.

Bubung Paranie ditemukan oleh pengawal La Saliyu tahun 1388 Masehi, ketika itu raja Lasaliyu Korampelua memerintahkan mencari orang-orang untuk dijadikan sebagai laskar kerajaan.

Sejak itulah untuk menguji keberanian para laskar diharuskan mandi di sumur itu. Dengan dasar itulah dapat dikemukakan bahwa Bubung Paranie ditemukan sejak 630 tahun silam.

Setelah mandi tak jarang para laskar menguji keberanian dan kekebalannya lewat permainan “massallo kawali” disertai mengucapkan “osong atau ada passokkang” dengan menggunakan properti badik atau kawali. Sebelum ke medan perang para laskar wajib mandi di Bubung Paranie.

Karena kurangnya data pendukung, untuk menggambarkan situasi saat mangosong, maka penulis hanya membuat ilustrasi. Adapun contoh osong yang diucapkan kurang lebih seperti berikut:

CINGARANA UGIE

pasibukke’ sai
lise’ cenranae
na irita sonrae

pasitumba’ sai
lise’na sampo genoe
na irita milla’e

pasiburu’ sai
sadda mparanie
na irita mpatie

pasilanro sai
poppa bune’e
na irita reppa’e

itawa’ !!!
sangadi maretto tellui
lise’na cenranae
kuaddampeng soro

TERJEMAHAN BEBAS

CINGARANA UGIE
(amarah bugis)

peradukan
badik dari sarungnya
kita lihat yang miring

perhadapkan
jimat di leher
kita lihat yang berkilau

peradu abukan
teriak yang berani
kita lihat yang menangis

adu benturkan
paha teguh kukuh
kita lihat yang pecah

tatap aku !!!
ku tak mundur setapakpun
kecuali senjata
sudah patah tiga

Oleh : Mursalim, 25-10-2018

Bubung Laccokkong:

Nama Laccokkong tidak lepas dari sosok raja Bone ke-3 La Saliyu Korampelua yang memerintah di kerajaan Bone pada tahun 1368-1470 Masehi.

Pada waktu La Saliyu semasa bayi dibawa dari Saoraja Palakka, dalam perjalanan rombongan pengawal sang pangeran menemukan sebuah mata air. Karena letih dalam perjalanan, maka pimpinan rombongan pengawal mengisyaratkan untuk berhenti.

Tampak pula sang pangerang La Saliyu Korampelua menengadah layaknya seorang bayi butuh air susu ibu. Maka diambilkanlah seteko air dari mata air tersebut lalu dibasuhkan ke wajah La Saliyu sembari meneteskan ke mulutnya sedikit demi sedikit.

Serta merta sang pangerang membuka matanya lalu mendongakkan kepalanya pertanda rasa hausnya pun hilang ia pun tersenyum sambil memegang rambutnya yang tegak lurus itu, yaitu maccicca-cicca, seperti rambut landak.

Gerakan La Saliyu mendongakkan kepala ini disebut “cokkong” maka sejak itu mata air tersebut dinamakan Bubung Laccokkong, yaitu Sumur Laccokkong. Bahkan daerah tempat ditemukannya mata air itu juga dinamakan Kampung Laccokkong, termasuk ketika La Saliyu memindahkan Pasar Palakka ke daerah ini sehingga dinamakan pula Pasar Laccokkong.

Berdasarkan catatan lontara, La Saliyu menggantikan pamannya La Ummasa menjadi raja Bone sejak berusia satu malam (masih bayi). Kalau ada sesuatu yang akan diputuskan maka To Suwalle yang memangkunya menjadi juru bicaranya. Kemudian yang bertindak selaku Makkedang Tana adalah To Sulewakka.

Ketika memasuki usia dewasa, barulah La Saliyu Korampeluwa mengunjungi orang tuanya di Palakka. Tiba di Palakka, kedua orang tuanya sangat gembira dan diberikanlah pusaka yang menjadi miliknya, termasuk Pasar Palakka. Sejak itu Pasar Palakka dipindahkan ke suatu tempat yang disebut Laccokkong.

La Saliyu Karampeluwa dikawinkan oleh orang tuanya dengan sepupunya yang bernama We Tenri Roppo anak pattola (putri mahkota) Arung Paccing.

Dari perkawinan itu lahirlah We Banrigau atau Daeng Marowa, We Pattana Daeng Mabela yang digelar MakkaleppiE kemudian menjadi Arung Majang.

Sementara orang Bukaka sebagian dibawa ke Majang. Mereka itulah yang menjadi rakyat Makkaleppie yang mendirikannya Sao Lampe-e di Bone, yang diberi nama Lawelareng.

Oleh karena itu, La Saliyu digelarlah sebagai  Makkaleppie Massao Lampe-e Lawelareng. Bagi orang banyak menyebutnya Puatta Lawelareng.

Pada masa pemerintahannya, La Saliyu Korampeluwa sangat dicintai oleh rakyatnya karena memiliki sifat-sifat rajin, jujur, cerdas, adil, dan bijaksana. Ia juga dikenal pemberani dan tidak pernah gentar menghadapi musuh. Konon sejak masih bayi tidak pernah terkejut bila mendengarkan suara-suara aneh atau suara-suara besar.

La Saliyu Korampeluwa pulalah yang memulai mengucapkan ada passokkang yang disebut Osong terhadap musuh, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh arung-arung terdahulu seperti yang tercatat dalam Galigo.

La Saliyu Korampelua pulalah yang membuat Bate (bendera) yang bernama, Cellae ri Abeo dan Cellae ri Atau, yakni Merah di Kiri dan Merah di Kanan, serta bendera khusus raja yaitu Woromporonge.

Pada waktu itu orang Bone terbagi atas tiga bagian dan masing-masing bahagian bernaung di bawah bendera tersebut.

Yang bernaung di bawah bendera Woromporonge adalah Arumpone sendiri dan orang Majang sebagai pembawanya.

Sementara yang bernaung di bawah bendera Cellae ri Atau adalah orang Paccing, Tanete, Lemolemo, Melle, Macege, Belawa pembawanya adalah Kajao Paccing.

Sedangkan yang bernaung di bawah bendera Cellae ri Abeo adalah orang Araseng, Ujung, Ta, Katumpi, Padaccenga, Madello, dan pembawanya adalah Kajao Araseng.

Untuk memperluas wilayah kerajaannya, La Saliyu Korampeluwa menaklukkan negeri-negeri sekitarnya seperti Pallengoreng, Sinri, Anrobiring, Melle, Sancereng, Cirowali, Bakke, Apala, Tanete, Attang Salo, Soga, Lampoko, Lemoape, Bulu Riattang Salo, Parigi, dan Lompu.

Pada masa pemerintahannya La Saliyu mempersatukan orang Bone dengan orang Palakka yang menjadikan Palakka sebagai wilayah bawahan dari Bone.

Selanjutnya beberapa negeri berikutnya menyatakan diri bernaung di bawah pemerintahannya, seperti Limampanuae ri Alau Ale’ (Lanca, Otting, Tajong, Ulo, dan Palongki).

Datang pula Arung Baba Uwae yang bernama La Tenri Waru menemui menantunya menyatakan bernaung di bawah Kerajaan Bone. Begitu pula Arung Barebbo dan Arung Pattiro yang bernama La Paonro menemui iparnya menyatakan bernaung di bawah Kerajaan Bone, juga Arung Cina, Ureng, dan Pasempe.

Arung Kaju yang bernama La Tenri Bali  juga datang bergabung di samping datang untuk menyatakan diri bergabung dengan Bone, sekaligus melamar anak Arumpone yang bernama We Banrigau dan dutanya diterima.

Selanjutnya bergabung pula Arung Ponre, Limae Bate ri Attangale’, Aserae Bate ri Awangale’ datang bergabung dengan Bone. Boleh dikata pada saat pemerintahan La Saliyu seluruh negeri-negeri disekitarnya menyatakan diri bergabung dengan Bone.

La Saliyu Korampelua dikenal sangat mencintai dan menghormati kedua orang tuanya. Hamba sendirinya dikeluarkan dari Saoraja dan ditempatkan di Panyula.

Sementara hamba yang didapatkan setelah menjadi raja ditempatkan di Limpenno. Orang Panyula dan orang Limpenno-lah yang mempersembahkan ikan. Dia pula yang menjadi pendayung perahunya dan pengusungnya jika La Saliyu Korampelua Arumpone bepergian jauh.

Setelah genap 72 tahun menjadi  raja di Bone, dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan bahwa :

“Saya mengumpulkan kalian untuk memberitahukan, bahwa mengingat usia saya sudah tua dan kekuatan saya sudah semakin melemah, maka saya bermaksud untuk memindahkan kekuasaan saya sebagai Mangkau (raja) di Bone”

“Pengganti saya adalah anak saya yang bernama We Banrigau Daeng Marowa yang digelar Makkaleppie”

Mendengar itu, semua orang Bone menyatakan setuju. Maka dikibarkanlah bendera Woromporonge.

Setelah itu berkata lagi La Saliyu Arumpone:

“Di samping saya menyerahkan kekuasaan, juga saya serahkan perjanjian yang telah disepakati oleh orang Bone dengan Puatta Mulaiye Panreng untuk dilanjutkan oleh anak saya”

Tak lama setelah menyampaikan pesan-pesannya, hanya selang satu malam, La Saliyu Korampelua meninggal dunia.

Berdasarkan Lontara Akkarungeng ri Bone, La Saliyu Korampelua semasa hidupnya mempunya dua isteri, yaitu We Tenri Roppo Arung Paccing dan We Tenro Amali.

Adapun anak La Saliyu Korampelua dari isterinya We Tenri Roppo Arung Paccing, adalah  We Banrigau Daeng Marowa Makkaleppie.

We Banrigau kawin dengan sepupunya yang bernama La Tenri Bali Arung Kaju. Dari perkawinan itu lahirlah:
1. La Tenri Sukki,
2. La Panaungi To Pawawoi Arung Palenna,
3. La Pateddungi To Pasampoi,
4. La Tenri Gora Arung Cina juga Arung di Majang,
5. La Tenri Gera’ To Tenri Saga,
6. La Tadampare (meninggal di masa kecil),
7. We Tenri Sumange’ Da Tenri Wewang, dan
8. We Tenri Talunru Da Tenri Palesse.

Jadi cucu La Saliyu Korampelua dar isterinya We Tenri Roppo Arung Paccing sebanyak 8 orang.

Sementara, anak La Saliyu Korampelua dari isterinya We Tenro Arung Amali yaitu : La Mappasessu yang kawin dengan We Tenri Lekke’. Dan tidak mempunyai anak.

Demikian sejarah Sumur Laccokkong yang sudah berusia 651 tahun itu sejak ditemukannya tahun 1368 Masehi. Sumur tersebut tidak pernah kering meskipun musim kemarau tetap memancarkan airnya yang jernih dan digunakan masyarakat setempat sebagai air minum.

Must read

Kawasan Peruntukan Pariwisata Kabupaten Bone

Peruntukan pariwisata di Kabupaten Bone terdiri pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan. Hal ini berdasarkan Rancangan Perda Kabupaten Bone Nomor 2 Tahun 2013 Tentang...

Sejumlah Seniman Jadi Juri Lomba Festival Aksara Lontara’ 2020

Sejumlah seniman senior akan mengambil peran sebagai juri dalam kegiatan lomba serangkaian Festival Aksara Lontara' 2020. Lomba ini digelar selain memeriahkan Festival Aksara Lontara', sekaligus...

Cara La Patau Membangun Benteng Cenrana

Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone merupakan peninggalan La Patau Matanna Tikka raja Bone ke-16. La Patau Matanna Tikka lahir pada Tanggal 3 November 1672...

Sejarah Situs Cenrana Kabupaten Bone

Sejak berabad-abad yang lalu wilayah Cenrana memainkan peranan penting dalam pembentukan sejarah budaya di Sulawesi Selatan. Cenrana sebagai kelanjutan sungai Walennae memiliki lembah-lembah sungai yang...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles

Latest article

Refleksi Sejarah Perjalanan Tana Bone

Seperti biasanya Hari Jadi Bone diperingati setiap tanggal 6 April dirayakan secara hidmat dan meriah. Sepanjang jalan umbul-umbul terpasang dari kota hingga pelosok desa. Gemuruh...

Bone Kampung Halamanku

Tanah Bone kampung halamanku Indah permai pujaan hatiku Negri luhur pusaka leluhur Kan kujaga sepanjang hidupku Dihiasi bunga warna Harum semerbak kemana-mana Berpagar air laut biru Mencari ikan para nelayan Tanah Bone...

Lontara Kutika

Bagi masyarakat Bugis Makassar pernikahan adalah suatu hal yang sakral yang merupakan suatu pengukuhan dua pasang manusia yakni Pria dan Wanita yang diikat dalam...

Lirik Lagu Beu Puppu

BEU PUPPU Beu puppunaro kasi Tengindokku tengambokku Monrona ale-aleku Rilino makkasi-asi Pura makkoni totoku Pura makkoni jello'ku Tenginang tesselessureng Detona paccarinnae Guttuni marellung rellung Billa'ni tassiseng-siseng Ucapu campa aroku Upakkuru'na sungekku Rekko ritu wengngerangngi Indo'ku na ambo'ku Nakutudang ri...