No menu items!
Minggu, 12 Juli 20

Hubungan Bugis dengan Batavia

Apa yang dibayangkan tentang Jakarta ternyata sangatlah jauh berbeda. Apa yang diimpikan terpaksa ditanggalkan. Semangatnya yang membara perlahan padam. Demikian patahan lirik lagu Jakarta II sikondang elegi Ebiet G.Ade. Namun bagi Orang Bugis yang dikenal memiliki semangat hidup yang tinggi bukan menjadi lirik yang menakutkan.

Sebenarnya Batavia yang kini disebut Jakarta bukanlah kota menyeramkan selayaknya adagium atau pepatah yang sering kita dengar. Jakarta bahkan adalah kota yang ramah dan menyenangkan.

Betapa tidak, selayaknya perantau pada umumnya, merasa akan teralienasi pasti ada, namun Jakarta soal lain. Selayaknya Ibu, Ibu Kota Indonesia ini juga sangat menjaga anak-anaknya.

Setelah hampir dua tahun tinggal di Jakarta, orang-orang banyak yang menanyakan apakah saya masih beta dan selama tinggal di Jakarta apa saya mendapatkan banyak kesulitan.

Seperti Makassar dan tanah Bugis, Jakarta juga terasa sangat dekat. Tidak sulit menemukan orang-orang berasal dari Sulawesi Selatan di kota ini, kota di mana pusat kebudayaan saling berinteraksi.

Hal itu bukan tanpa sebab, Jakarta memang telah dihuni oleh orang-orang Bugis dan Makassar sejak zaman dahulu, saat Jakarta masih berstatus Batavia.

Hendrik E. Niemeijer dalam bukunya yang berjudul Batavia, Masyarakat Kolonial Abad XVIII menguraikan kronologi pembentukan perkampungan di Batavia. Melalui penelusuran itu, kita juga dapat menemukan, sejak kapan dan asal muasal orang-orang Bugis, Makassar bermukim di Batavia.

Sebenarnya selain orang-orang Bugis dan Makassar, etnis yang lain seperti Jawa, Ambon, dan Bali juga telah ada sejak dahulu, bahkan jumlah mereka lebih banyak.

Dalam catatan sejarah, jumlah orang Bugis-Makassar dan Bali lebih sedikit dibandingkan orang-orang Jawa. Akan tetapi, angka itu masih tinggi dibandingkan etnis-etnis yang lain, seperti Eropa, Cina, dan kelompok Mardiker (De Mardijkers).

Sebanyak 6.000 orang Bugis dan Makassar menempati wilayah di luar tembok kota Batavia, Ommenlanden pada abad ke-17. Sebagian besar di antara mereka juga bekerja sebagai budak.

Orang-orang Bugis dan Makassar yang mendatangi Ommenlanden ditempatkan oleh Pemerintah Agung di perkampungan tertentu. Seiring dengan berjalannya waktu dan banyaknya interaksi antara etnis, di antara suku itu juga banyak yang menikah dan memiliki keturunan.

Di Kampung Pulau Gadung umpamanya, pada abad ke-17 terdapat kampung yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya berbagai kelompok etnis Indonesia; terutama di kampung Mangga Doea, dekat benteng Jaccatra. Kampung ini dinamakan demikian karena di dekatnya ada dua pohon mangga besar.

Asal-Usul kedatangan Orang Bugis dan Makassar

Bermukimnya orang-orang Bugis dan Makassar bukan hal yang kebetulan terjadi. Seperti datangnya etnis lain di Batavia, orang-orang Bugis dan Makassar datang karena adanya peristiwa politik dan militer tertentu.

Hendrik E Niemeijer mengungkapkan jika pada tahun 1663, Raja Bugis Patoudjou, salah satu dari empat Raja Bugis tiba di Batavia Bersama anak buahnya. Mereka menumpang beberapa kapal kompeni.

Raja Bugis ini menyeberang ke Buton, untuk menghindari kejaran orang Makassar yang menilai kesepakatan yang dia tandatangani dengan kompeni sebagai pengkhianatan.

Saat tiba di Batavia, orang-orang Bugis tersebut terlebih dahulu harus tinggal sementara di perkebunan kompeni. Mereka diberi sebidang lahan di sebelah barat kali Krukut untuk mereka tinggali.

Sementara itu, pada 25 Oktober 1678, Kapal Tertholen membuag sauh di Teluk Batavia. Kapal itu membawa Raja Arung Palakka yang terkenal beserta sekelompok besar orang Bugis.

Raja Arung Palakka saat itu juga menandatangani kesepakatan dengan kompeni, sehingga antara 1667-1669 mereka akhirnya berhasil menguasai kerajaan Gowa-Makassar. Mengingat pengorbanan besar itu, Pemerintah Agung merasa berkewajiban membawa mereka ke Batavia.

Adapun untuk membiayai hidup para keluarga Bugis di pulau-pulau pertama, Raja Arung Palakka mendapat 1.000 ringgit dan sejumlah pikul padi. Untuk mencegah kecemburuan kepala Kampung Makassar maka Karaeng Bisse juga diberi 400 ringgit untuk keperluan rakyatnya.

Menurut Niemeijer, segala bentuk pemberian yang dberikan orang-orang Bugis dan Makassar bukanlah bentuk kedermawanan, melainkan investasi dalam sumber daya tentara.

Pada masa itu terjadi pemberontakan yang dipimpin Pangeran Trunajaya dari Madura yang ketika itu hendak menggulingkan Raja Mataram. VOC akhirnya memanfaatkan orang-orang Makassar dan Bugis sebagai pasukan yang dapat menumpas pemberontakan tersebut.

Arung Palakka sadar sekaligus maklum saat rakyatnya dimanfaatkan. Tanpa malu-malu ia kemudian meminta upah lebih besar lagi untuk rakyatnya sebesar 12.000 real. Demi mengikat Arung Palakka dan mencegah rakyatnya melakukan hal tidak dikehendakil, uang itu segera diberikan.

Lahan yang ditempati Arung Palakka dan rakyatnya merupakan lahan pinjaman dari kompeni dan tidak diberi hak milik. Begitupun dengan sebidang lahan kompeni yang dipinjamkan kepada kelompok orang Makassar.

Muara Angke

Pada abad ke 17 Arung Palakka pahlawan dan bangsawan Bugis dari Bone berserta pengikutnya pernah bermukim di Angke pada tahun 1663 sebagai tempat penampungan dan pengungsian sementara di Batavia setelah terdesak oleh kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan ketika itu.

Kemudian dalam tahun 1666 Arung Palakka kembali bersama pengikutnya dan tentara VOC lainnya ke Makassar untuk menaklukan Sultan Hasanuddin dari kerajaan Gowa di Makassar. Karena sebelumnya Arung Palakka melakukan pembangkangan terhadap akibat perlakuan Gowa terhadap Bugis.

Pengikut Arung Palakka ini adalah prajurit-prajurit tangguh yang disegani lawan dan dinamakan “Toangke” , yakni “orang dari Angke” (People of Angke), dinamakan demikian karena tempat permukimannya di Jakarta terletak di daerah sekitar kali Angke ketika itu. (The Heritage Of Arung Palakka, Leonard Y. Andaya).

Jika merujuk pada kisah ini bisa dibenarkan pula, karena mayoritas penduduk Muara Angke saat ini adalah keturunan Bugis yang lama menetap dikampung nelayan, di samping sebagian suku Jawa, Sunda dan berbagai daerah di Indonesia.

Pendapat yang lain dikemukakan oleh Alwi Shahab, salah seorang penulis dan budayawan Betawi. Menurutnya, kata “angke” berasal dari bahasa Hokkian, yakni “ang” yang berarti merah dan “ke” yang berarti sungai atau kali.

Hal ini terkait dengan kejadian tahun 1740, saat Belanda membantai 10.000 orang Tionghoa di Glodok, yang membuat warna air Kali Angke yang semula jernih menjadi merah bercampur darah. Namun, menurut budayawan Betawi Ridwan Saidi, kata “angke” berasal dari kata Sanskerta, “anke”, yang berarti kali yang dalam.

Beberapa tempat di Jakarta (Batavia) terkait dengan Bugis. Dalam sejarahnya kota Jakarta, tidak lepas dari etnis-etnis yang mendiami kota tersebut. Berikut ini tempat-tempat yang namanya bersentuhan dengan Bugis.

Petojo

Di DKI Jakarta, tepatnya di wilayah Jakarta Pusat, ada dua kelurahan yang bernaung di bawah Kecamatan Gambir. Kedua Kelurahan tersebut bernama Petojo Utara dan Petojo Selatan.

Dahulu, kedua Kelurahan tersebut berawal dari satu kelurahan yang bernama Petojo. Karena adanya pemekaran wilayah, jadilah kelurahan tersebut dibagi dua.

Nama Petojo sendiri berasal dari nama seorang bangsawan suku Bugis Soppeng, Kesultanan Bone, bernama Arung Pattojo. Dia adalah orang kepercayaan Raja Bone, Aru Palakka.

Dia diutus Arung Palakka untuk bertemu dengan tokoh VOC, Speelman di Batavia pada 1663. Oleh VOC, Arung Pattojo kemudian diberi sebidang tanah di sebelah barat Kali Krukut, yang diberi nama “Pattojo Land”, dan termuat di dalam Peta Batavia buatan abad ke-19.

Pemberian tanah tersebut, sebagai hadiah dari VOC kepada ayah dari La Bode Karaeng Jampu ini, karena keikutsertaannya bergabung dengan VOC dalam menghadapi Kerajaan Makassar.

Angke

Arung Pattojo berangkat bersama 750 prajuritnya. Mereka ditampung di sebuah kampung yang diberi nama Muara Angke. Pasukan Arung Pattojo tersebut digelar To Angke sebuah bahasa Bugis yang artinya orang yang punyai nilai. Sekarang tempat tersebut disebut Kampung Bugis, lokasinya sekarang adalah di sebelah utara Jalan Pangeran Tubagus Angke, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara.

Kampung Makassar

Kecamatan Makasar adalah sebuah kecamatan di Jakarta Timur, Jakarta. Disebut Kampung Makasar, karena sejak tahun 1686 dijadikan tempat pemukiman orang-/orang Makassar, di bawah pimpinan Kapten Daeng Matara (De Haan 1935:373). Mereka adalah bekas tawanan perang yang dibawa ke Batavia setelah Kerajaan Gowa, di bawah Sultan Hasanuddin, tunduk kepada Kompeni yang sepenuhnya dibantu oleh Kerajaan Bone dan Soppeng (Colenbrander 1925, (II):168: Poesponegoro 1984, (IV):208).

Pada awalnya mereka di Batavia diperlukan sebagai budak, kemudian dijadikan pasukan bantuan, dan dilibatkan dalam berbagai peperangan yang dilakukan oleh Kompeni. Pada 1673, mereka ditempatkan di sebelah utara Amanusgracht, yang kemudian dikenal dengan sebutan Kampung Baru (De Haan 1935:373).

Lagowa

Lagoa adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Koja, Kota Administrasi Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Kelurahan ini memiliki penduduk sebanyak 56.651 jiwa dan luas 157,99 hektare.

Nama kelurahan Lagoa menurut cerita rakyat, diambil dari nama Lagoa atau La Gowa, seorang jagoan silat keturunan suku Bugis atau Mandar, yang dahulu pernah tinggal daerah Lagoa.

Dia adalah seorang jawara yang hidup sezaman dengan Si Pitung, dan beraktivitas di Pelabuhan Tanjung Priok. Lagowa juga dikenal sangat getol melawan kompeni Belanda.

Must read

Kawasan Peruntukan Pariwisata Kabupaten Bone

Peruntukan pariwisata di Kabupaten Bone terdiri pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan. Hal ini berdasarkan Rancangan Perda Kabupaten Bone Nomor 2 Tahun 2013 Tentang...

Sejumlah Seniman Jadi Juri Lomba Festival Aksara Lontara’ 2020

Sejumlah seniman senior akan mengambil peran sebagai juri dalam kegiatan lomba serangkaian Festival Aksara Lontara' 2020. Lomba ini digelar selain memeriahkan Festival Aksara Lontara', sekaligus...

Cara La Patau Membangun Benteng Cenrana

Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone merupakan peninggalan La Patau Matanna Tikka raja Bone ke-16. La Patau Matanna Tikka lahir pada Tanggal 3 November 1672...

Sejarah Situs Cenrana Kabupaten Bone

Sejak berabad-abad yang lalu wilayah Cenrana memainkan peranan penting dalam pembentukan sejarah budaya di Sulawesi Selatan. Cenrana sebagai kelanjutan sungai Walennae memiliki lembah-lembah sungai yang...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles

Latest article

Sejarah Masjid Raya Watampone

Sejarah masyarakat Bone merupakan bagian dari sejarah Sulawesi Selatan yang harus mendapat perhatian untuk dikaji dalam berbagai perspektif, termasuk perspektif arkeologis historis. Karena Bone...

Tradisi Tolak Bala pada Suku Bugis

Tak ada orang yang menginginkan musibah datang menimpa dirinya. Sayangnya musibah bisa datang kapan dan dimana saja tanpa terduga. Hal tersebut tentu atas kehendak Allah...

Tradisi Bugis Membuang Telur

Kebudayaan merupakan salah satu karya yang menunjukkan kemajuan peradaban manusia. Secara sederhana kebudayaan sebagai keseluruhan sistem berupa gagasan, aktivitas, dan menjadi milik bersama melalui...