No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Budaya Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge, Sipatokkong

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Budaya lokal diartikan sebagai kebudayaan yang tumbuh dan berkembang serta dimiliki dan diakui oleh masyarakat/suku setempat.

Kebudayaan menjadi dasar pendidikan karakter yang dapat dijadikan sebagai landasan dalam membentengi diri. Dalam penguatan pendidikan karakter harus dimulai dari pelastarian budaya lokal.

Indonesia terbangun dari beragam suku dan setiap suku memiliki budaya tersendiri yang menjadi identitas daerah mereka. Indonesia dan budaya adalah dua hal yang tidak terpisahkan.

Budaya Lokal Bugis Sipakatau, Sipakainge’, Sipakalebbi, dan Sipatokkong merupakan landasan pendikan karakter yang sangat kuat dan kukuh. Keempat permata ini menjadi landasan berpikir pembinaan moral orang Bugis sejak dahulu kala.

1. Sipakatau

Sipakatau adalah sifat yang tidak saling membeda-bedakan, semua manusia sama, tidak ada perbedaan derajat, kekayaan, kecantikan, dsb. Dalam kehidupan, kita tidak selayaknya membedakan orang-orang. Kita harus saling menghargai dan menghormati sesama.

2. Sipakalebbi

Sipakalebbi adalah sifat saling menghargai sesama manusia. Kita sesama manusia, harus saling menghargai. Semua manusia ingin diperlakukan dengan baik. Dengan sipakalebbi diharapkan akan membawa manusia ke jalan yang benar. Jadi intinya adalah, apabila kita ingin diperlakukan dengan baik maka perlakukan pula orang lain dengan baik pula.

3. Sipakainge’

Sipakinge adalah sifat di mana kita saling mengingatkan. Apabila ada di antara kita yang melakukan kesalahan tidak ada salahnya kita saling mengingatkan. Tujuan saling mengingatkan agar dapat mengubah dan menghindari sifat-sifat tercela yang tidak disukai oleh Allah SWT.

4. Sipatokkong

Sipatokkong adalah sifat saling bekerja sama. Sipatokkong berarti berdiri bersama-sama. Contoh kecilnya, orang Bugis dalam melakukan suatu pekerjaan biasanya dilakukan bersama-sama. Pekerjaan yang berat apabila dikerjakan bersama-sama akan menjadi lebih ringan. Dalam arti lain, sipatokkong juga bisa diartikan saling membantu. Saling membantu kepada saudara-saudara kita yang sedang susah maupun yang sedang membutuhkan bantuan.

Pada hakikatnya, pendidikan karakter mengandung nilai-nilai budaya bangsa seperti yang mencakup nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.

Keberadaan pendidikan karakter diharapkan mampu menjadi pemersatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun pada kenyataannya, pengamalan pendidikan karakter mulai terkikis secara perlahan di tengah perkembangan arus globalisasi yang semakin pesat.

Kemajuan globalisasi seharusnya bukan menjadi hambatan untuk melupakan apalagi tidak mengamalkan pendidikan karakter. Justru dengan kemajuan globalisasi, pendidikan karakter perlu diamalkan agar kita dapat terhindar dari virus negatif yang mungkin terjadi.

Berbagai kasus penyimpangan sosial, perkelahian antar pelajar, kekerasan terhadap anak, pelecehan terhadap guru, perselisihan antar agama, hingga ujaran kebencian adalah deretan kasus yang seringkali terjadi belakangan ini.

Adapun faktor yang menjadi pemicu maraknya terjadinya kasus-kasus tersebut, salah satunya lantaran melemahnya pengamalan pendidikan karakter dalam kehidupan bermasyarakat.

Di sinilah pentingnya dihidupkan kembali pendidikan karakter sipakatau, sipakalebbi, sipakainge, dan sipatokkong (S4) yang benar di sekolah hingga perguruan tinggi. (murs).

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...