No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Ketika Tuhan Tak Mau Menerima kita di RumahNya

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Ketika Tuhan Tak Mau Menerima kita di Rumah-Nya

Allah menurunkan mahluk-Nya yang tak dapat dilihat mata karena terlalu kecil bernama: CORONA di sebuah negeri yang tak mengenal-Nya: Wuhan.

Kini si mahluk kecil itu memporak-porandakan segala sendi kehidupan 2/3 dunia. Ekonomi global mengalami anomali yang sulit dinalar.

Ketakutan dan kecemasan di mana-mana. Kematian cukup banyak hanya dalam waktu singkat saja.

Saat umroh dilarang oleh otoritas Saudia, kita masih tidak terlalu risau karena hanya orang mampu dan terpanggil yang bisa melakukannya.

Kita masih bisa berapologi :
” … Ah umroh kan gak wajib. Lagian rumah Allah kan bukan cuma di Mekkah Madinah … masih ada Masjid dan langgar.. Gak masalah Umroh ditutup …”

Pada detik itu,
Hanya berpikir : Allah menutup pintu rumah besar-Nya hanya untuk kaum – kaum jauh.
Allah hanya memberikan kesempatan pada penduduk sekitar dan para pelayan sejati yang diperbolehkan bertawaf di baitul atiq-Nya.

Kendati pula,
Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa pembatasan salat Jumat, Tarwih Ramadan dan pelaksanaan salat Idul Fitri untuk daerah terdampak corona yang ditetapkan pemerintah. Dan bisa jadi meluas dari yang sekarang. Bahkan mudikpun telah dilarang.

Bertanya dalam renung,
Apakah Engkau marah Rabb-ku ?
Ketika sebelum ini : Masjid-masjid megah namun Sepi. Musalla-musalla bertebaran namun Berdebu.

Tarwih ramai namun hanya di awal Ramadan …
Lebaran katanya Mudik, namun tetap hanya notifikasi maya dan WA-lah yang saling Bermaafan.

Ya Rabb …

Saat tak dibebaskan lagi bagi kami bersujud di rumah-Mu yang suci. Saat terbatasi bagi kami berjamaah dengan para jamaah saudara seiman kami.

Baru kami Paham :
Arti Kehilangan …
Betapa mulai sunyi suara toa masjid di sekitaran kami dari celoteh kanak-kanak dan pujian-pujian.

Betapa sepi jalanan depan rumah kami dari ramainya TPA dan ibu-ibu yang hendak pengajian …
Betapa terasa saat semua hal yang selama ini kami abaikan itu, telah selanjutnya jadi pelarangan …
Nikmat yang dicabut itu,
Barulah menggerogoti Relung Kedamaian.

Ya Allah,
Pesan Cinta apa yang ingin Engkau sampaikan?
Atau memang sudah tak sudi lagi,
Engkau melihat wajah kami, mendengar keluh kesah kami, menatap tangis kami dan meraba senyum bahagia kami di Rumah-rumah-Mu ?

Ya Rabb sekarang kami bisa merasakan bagaimana perasaan saudara kami di Uiyghur, Myanmar, Suriah dan Palestina yang harus berjuang untuk bisa berada di masjid-masjid-Mu.

Sementara kami,
Malah sering dan seringkali malas menuju masjid yang hanya beberapa langkah dengan aman dan nyaman …

Ya Rabb kini kami sadar arti silahturahmi yang dulu kami anggap hanya basa basi.
Sekarang kami tak bisa dalam kerumunan dan forum dakwah yang mendatangkan banyak orang lagi.

Corona …
Mahluk Kecil Tak Nampak oleh Mata …
Namun mampu merusak Tatanan Ketenangan dunia …

Ya Rabb jangan kau buat ramadan kami kini setengah berlalu akan terasa sepi hambar.

Membayangkan tak ada salat tarwih berjamaah, tadarrus ramai-ramai, dan membangunkan sahur sambil berkeliling kampung desa tempat kami lahir dibesarkan.
Apalagi membayangkan : Tak ada lagi mudik berdesakan …

Jangan ya Rabb …
Jangan ya Rabb …
Jangan Kau cabut Nikmat yang berpuluh tahun kami nikmati namun telah kami abaikan.

Apa Engkau Menyentil kami?
Ketika ada kesempatan,
Kami malah cukup mengumbar jabat WA Kopas-an untuk bermaafan?

Apa Engkau Mengkapoki kami?
Ketika takziah yang satu kota saja,
Kami hanya titip kalimat Innalillah melalui Grup Rekan dan Teman?

Jangan Kau cabut Nikmat ini ya Rabb …
Karena kini,
kami akhirnya sungguh-sungguh hanya bisa bertemu dalam tegur WA atau Kalimat Telpon dan Pesan massenger …

Engkau menuruti kami Ya Rabb …
Menuruti pengabaian kami …
Yang kami ciptakan sendiri …

Maafkan kami Rabbi …
Maafkan kami …

Masihkah ada kesempatan lagi?
Bukankah Maha Pengasih-Mu,
Melebihi Murka-Mu pada kami ?

Ya Rabb ku …
Hidupnya Mahluk Corona adalah semata mata atas Kehendak-Mu.
Engkau yang Menghidupkan segalanya …
Engkaupun yang Mematikan segalanya.

Mohon Ya Rabb
Panggil kembali mahluk corona ke tubuh-tubuh hewan seperti sebelumnya.
Cukupkan tugas mereka untuk mengingatkan kami semua.

Ya Allah,
Berilah obat untuk wabah ini.
Dan Berilah tobat bagi kami..

Pertemukan kami dengan ramadan penuh berkah, Tanpa Corona antara Kita.

Ya Allah,
Inikah maksud tetua luhur kami
mate mua mapatae
matepi dua tellu massola-solae?

Ya Allah,
Sembah sujudku pada-Mu
Detik ini kubermohon
Tariklah dosa-dosa kami

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...