No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Corona dan Sumpah Serapah

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Tak seorangpun yang pernah menyangka kalau saat ini akan hadir mahluk terselubung seperti virus corona. Mahluk yang tergolong antara mahluk hidup dan benda mati ini dengan kekuatan supranaturalnya mampu mengoyak seluruh sendi kehidupan manusia.

Dengan kekuatannya itu, virus corona bisa mengobrak-abrik dan membuyarkan seluruh mimpi-mimpi terencana. Karena ulahnya itu, virus corona telah menciptakan sejarah tersendiri dan menempatkan dirinya terpopuler sepanjang abad ini.

Mahluk renik tak kasat mata ini bahkan wujudnya boleh dikata lebih halus dari hantu-hantu gentayangan. Ia tak mempan dengan jampi-jampi dari tabib manapun. Barangkali inilah sejenis mahluk yang dinamakan “sai” kata orang Bugis. Mahluk halus yang kerap mengganggu manusia.

Barangkali sebagian orang Bugis masih ingat ketika mengucapkan sumpah serapah “nanreko sai” artinya terkutuk engkau dimakan sai (mahluk halus). Bisa jadi “sai” tersebut adalah virus corona (covid-19). Kendati sejak dulu orang yang disumpah serapah belum pernah termakan “sai” ataukah mungkin baru sekarang? Tuhan lebih mengetahui.

Meskipun si covid-19 ini dengan brutal menyerang manusia, tapi kita semua harus yakin dan percaya, bahwa manusia adalah mahluk yang paling mulia diciptakan Allah sudah barang tentu dengan mengerahkan segala daya Insya Allah si Virus Corona ini bakal tumbang dengan sendirinya.

Tapi jangan lupa si Corona itu memiliki kemampuan tempur yang sangat hebat disertai laskar terlatih yang tak terhitung jumlahnya. Ia bergerak senyap dan masif. Ia menyerang ketika manusia lengah dan sadar.

Kendati demikian sebagai manusia kita harus selalu optimis, berusaha dan berikhtiar terus menerus serta secara bersama-sama melawan covid-19 ini. Kalau laskar corona menyerang dengan cara keroyokan, maka kita manusia harus melawannya dengan cara keroyokan pula.

Saat ini para ahli, dokter dan paramedis tengah mencari tahu kekuatan yang dimiliki Corona si mahluk bejat itu. Pemerintah, ulama, dan tokoh-tokoh agama saat ini tengah berjuang dengan segala daya dan upaya.

Ketika musuh sudah di depan tak ada lagi waktu untuk saling menyalahkan, jika mau menang dalam sebuah pertempuran ikuti perintah komandanmu. Jika ingin memenangkan peperangan melawan corona maka ikuti petunjuk pemimpinmu. Karena pemerintah/pemimpin adalah khalifah di atas bumi oleh sebab itu … ikuti.

Apa yang terjadi sekarang ini harus menjadi perhatian kita sebagai umat manusia, sudah barang tentu menjadi bahan renungan untuk kehidupan yang lebih baik ke depannya. Sebenarnya banyak hikmah yang bisa kita tarik dalam peristiwa Corona ini.

Corona mengajarkan hidup seimbang. Corona mengajarkan bahwa hidup tak melulu tentang uang. Ada kalanya kita berbagi, ada saatnya kita istirahat. Bahwa kita harus hidup sehat. Bukan sembarang makan. Makan harus dijamin kebersihan dan gizinya.

Dengan corona kita mengatur strategi baru dalam perekonomian, sosial budaya, agama, iptek, adab dan prilaku. Kita menjadi toleran terhadap sesama. Kita menjadi lebih selektif terhadap tempat, makanan, belanjaan dan pengeluaran. Banyak pertemuan dibatalkan, perjalanan ditunda, bahkan ibadah pun terkena imbasnya.

Banyak penyakit dan musibah lebih berat dari corona, bahkan lebih mengerikan, langit menjadi merah akibat asap kebakaran hutan. Manusia menjadi amat sangat serakah. Dan kini, keserakahan itu berdampak global, memakan makanan yang tidak semestinya menyebabkan penyakit baru yang belum ada obatnya menjangkiti seluruh dunia.

Sesungguhnya mudah bagi Tuhan membuat segalanya. Tapi sulit bagi kita untuk berpikir ada bahaya apa yang mengancam atas perbuatan kita. Berkali-kali kita masuk ke lubang yang sama atas kejahatan, keserakahan atau hal-hal sepele menurut kita tapi merugikan banyak pihak.

Semoga kita dapat berhikmah. Semoga Tuhan Maha Kuasa mengampuni kita. Apalagi sebentar lagi kita memasuki bulan suci Ramadan, mari kita memperbanyak ibadah dan berdoa kepada Allah SWT semoga corona cepat berlalu. Amin.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...