No menu items!
2.6 C
Munich
Rabu, 25 November 20

Pappaseng Bugis

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Kearifan lokal dalam bahasa asing dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom) atau kecerdasan setempat (local genius). Istilah local genius dilontarkan pertama kali oleh Quatritch Wales yang dirumuskan sebagai the sum of the cultural characteristics which the vast mayority of a people have in common as a result of their experiences in early life.

Wales dalam memberikan makna kepada local genius menunjuk ke sejumlah ciri kebudayaan yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat sebagai akibat pengalamannya pada masa lalu .

Secara umum maka local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Kearifan lokal juga dapat dikatakan sebagai usaha manusia yang menggunakan akal budinya untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Berbicara tentang kearifan lokal juga membicarakan warisan ajaran hidup yang disampaikan oleh para pendahulu suatu suku atau bangsa bagi penerusnya.

Warisan ajaran hidup itu melalui berbagai karya. Di antara karya tersebut berbentuk tertulis, karya seni tulis, seni lantun, dan sebagainya.Dengan demikian dalam kearifan lokal, terkandung pula kearifan budaya lokal. Kearifan budaya lokal sendiri adalah pengetahuan lokal yang sudah sedemikian menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, dan budaya serta diekspresikan dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama dalam suatu masyarakat.

Hilangnya atau musnahnya kearifan lokal (local genius) berarti pula memudarnya kepribadian suatu masyarakat, sedangkan kuatnya local genius untuk bertahan dan
berkembang menunjukkan pula kepribadian masyarakat itu.

Hal penting sekali adalah usaha pemupukan serta pengembangan local genius tersebut yang berfungsi dalam seluruh kehidupan masyarakat, baik dalam gaya hidup masyarakat, dalam pola dan sikap hidup, persepsi, maupun dalam orientasi masyarakat.

Di Sulawesi Selatan, nilai-nilai kearifan lokal tersimpan dalam berbagai media, antara lain: lisan dan tulisan. Media tulisan dituangkan melalui naskah lontara’. Dalam lontara’ ini, orang Bugis menyimpan ilmu dan kearifan masa lalunya, termasuk berbagai ekspresi kebudayaannya.

Oleh karena itu Lontara’ memiliki makna ganda, yakni selain bermakna tulisan-tulisan yang terdapat di daun lontar, juga pada sisi yang lain bermakna sejarah.

Dahulu pada kerajaan-kerajaan Bugis hampir semua raja-raja Bugis memiliki lontara’, dalam arti sebagai naskah yang berisi tentang sejarah leluhur mereka. Tanpa lontara’ seorang raja belumlah absah sebagai raja. Itulah sebabnya lontara’ dalam arti sejarah ini dipelihara di dalam istana raja-raja yang sewaktu-waktu dibuka apabila diperlukan untuk menjelaskan keaslian keturunan mereka. Dan ini berkembang hingga masyarakat dengan istilah “panggoriseng”.

Keunggulan lontara’ sebagai sumber ilmu pengetahuan, telah menarik perhatian para ilmuwan Barat. Bahwa lontara’, kebanyakan isinya dapat dipercaya, lihatlah karangan A.A. Cense, Enige aantekeningen over Makassar-Boeginese geschiedschrijving. Juga karangan R.A. Kern, Proeve van Boeginieesche geschiedschrijving, BKI, deel CIV (1948).

Periksa pula karangan J. Noorduyn berjudul Een achttiende eeuwse kroniek van wajo Dissertatie di Leiden, 1995, South Celebes Historical Writing dalam kumpulan
karangan An Introduction to Indonesian
Historiography ed. By Soedjatmoko, et. al,
Cornel University Press, Ithaca New York,
1965, Een Boeginees geschriftje over Arung Singkang, BKI deel CIX (1953) dan De Islamisering van Makassar, BKI deel CXII (1956).

Sebenarnya masih banyak lagi orang
Barat yang menggunakan lontara’ sebagai
bahan kajiannya, ini terlihat dalam tulisan
S.A. Buddingh (Makassaarsche Historien,
1843), B.F. Matthes (Makassaarsche
Chrestomathie, 1883 dan Boegineesche
Chrestomathie, tiga jilid 1872), Eerdmans
(Algemeene Geschiedenis van Celebes;
Geschiedenis van Bone, tanpa tahun) dan
masih banyak karangan para pangrehpraja
Belanda (Abidin, 1999: 25).

Begitu luas dan dalam jika mengkaji tentang lontara’ ini, sehingga dalam tulisan ini, kita akan bahas kandungan lontara’ pappaseng sebagai bahan kajian nilai-nilai kearifan lokal yang selayaknya dapat digunakan dalam muatan lokal di sekolah-sekolah.

Jika dicermati dan dikaji secara mendalam, lontara’ pappaseng ternyata memuat banyak hal yang berkaitan dengan nilai-nilai kearifan lokal. Nilai-nilai kearifan lokal dimaksud, sangat penting untuk dikaji dan diangkat ke permukaan, sebab nilai-nilai kearifan lokal yang dimuat di dalamnya masih sangat relevan untuk menghadapi kehidupan masa kini, begitu juga pada masa yang akan datang dalam era modern.

Isi pappaseng yang berbentuk manuskrip berbahasa Bugis antara lain adalah pemberian tuntunan kepada masyarakat agar menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, rasa, dan karsa, baik sebagai pemimpin maupun anggota masyarakat. Bahkan lontara’ ini merupakan kitab utama masyarakat Bugis sebelum kehadiran Islam. Dan yang mencengangkan isi pesan yang termaktub di dalamnya (lontara’) seiring tuntunan dan perintah dalam kitab suci Al-AlQuran. Dengan begitu memudahkan penerimaan Islam di kalangan Manusia Bugis.

Oleh sebab itu, pesan-pesan yang terdapat di dalam lontara’ pappaseng perlu diposisikan kembali pada keseharian masyarakat Bugis sebagai pemilik budaya, agar masing-masing individu dapat menghayati dan mengimplementasikan dan menginternalisasikan dalam kehidupannya. Selanjutnya para orang tua dapat mewariskan nilai-nilai kearifan lokal tersebut dengan jalan mendidik karakter anak-anak mereka sejak dini.

Jenis-jenis pesan yang bersumber dari kearifan lokal Bugis tersebut sangatlah kaya akan nuansa pendidikan, khususnya pendidikan manusia yang berkarakter.

*Nilai-Nilai Pendidikan dalam Pappaseng*

Sampai saat ini kehadiran pappaseng belum dapat diketahui secara pasti, namun
sebagai warisan budaya masa lampau telah mencerminkan cita rasa dan pandangan hidup serta cara berpikir masyarakat Bugis pada waktu itu. Cara pengungkapannya pun cukup bervariasi, yang biasa dilakukan dari kalangan bangsawan atau raja dan menjadi sebuah ketentuan di dalam wilayah kekuasaannya.

Di samping itu juga adakalanya para cerdik pandai, guru, bahkan terkadang ada pula yang berasal dari orang tua terhadap anak cucunya yang bermuatan norma-norma kesusilaan. BahkanPelras menyebutkan, pesan-pesan atau petuah-petuah leluhur, paling banyak diambil dari tokoh-tokoh sejarah, khususnya: La Waniaga Arung Bila; Datu Soppeng Matinroe ri Tanana; Arung Saotanre La Tiringeng To Taba (pembesar kerajaan Wajo; La Mangkace To Uddama (Arung Matoa Wajo); La Sangkuru (Arung Matoa Wajo ); dan paling populer La Mellong Kajaolaliddong Penasihat Ulung Raja Bone dan masih banyak yang lainnya.

Warisan leluhur orang Bugis yang terdapat dalam naskah lontara’, jika dikaji secara mendalam dalam upaya memahami apa yang tersurat dan apa yang tersirat dalam naskah tersebut, maka akan ditemukan pertama-tama rasa kagum terhadap berbagai pandangan hidup yang merupakan falsafah leluhur orang Bugis pada masa lampau. Falsafah Bugis tersebutlah sebagai yang mewarnai dan mendasari berbagai nilai perilaku manusia Bugis pada masa lampau.

Beberapa kearifan Bugis dari berbagai sumber naskah lontara’ pappaseng yang
mengandung nilai-nilai pedagogik adalah sebagai berikut :

1) Nilai Religius

Berbagai nilai religius (keagamaan) dapat ditemukan dalam pappaseng, di antaranya yaitu:

Têllui riala sappo saisanna : tau-e ri dêwata; siri-ê ri watakkaleta; siri-ê ri padatta tau.

Artinya Tiga hal yang dijadikan pagar/pelindung, yakni Takut kepada Dewata (Allah SWT); Malu pada diri sendiri; dan Malu pada sesama manusia.

Dalam kehidupan di dunia ini, yang dijadikan sebagai penjaga bagi diri seorang yang utama adalah rasa takut atau malu kepada Allah Ta’ala, kemudian selanjutnya ditanamkan rasa malu terhadap diri sendiri dan malu kepada orang lain. Seorang yang memegang teguh ketiga prinsip tersebut, maka dirinya akan selamat dan terjaga dalam kehidupannya di dunia ini.

2). Nilai Kejujuran

Nilai-nilai kejujuran pada masyarakat Bugis sangat dijunjung tinggi sejak dahulu. Salah satu faktor yang sangat mendasari budaya orang Bugis dalam kehidupan sehari-hari
adalah sifat kejujuran. Apabila kejujuran
ini terabaikan maka akan menimbulkan
keresahan, kegelisahan, dan penderitaan
di kalangan masyarakat.

Mari kita simak berdasarkan kearifan yang terdapat dalam percakapan Penasihat raja Bone, Kajao Laliddong dengan Arungpone (raja Bone) tentang kejujuran.

Arungpone : Aga appongênna accae Kajao?
Kajao : Lempu-e
Arungpone : Aga sabbinna lêmpu-e Kajao?
Kajao : Obbi-e
Arungpone : Aga riangngobbirêng Kajao?
Kajao : Aja’ muala aju ripasanrê narekko tania iko pasanre-i; Aja muala waramparang narekko tania waramparammu; Aja’ muala aju riwettawali narekko taniya iko mpettai

Terjemahan:
Raja Bone : Apa pangkalnya kepintaran Kajao?
Kajao : Kejujuran
Raja Bone : Apa yang menjadi saksi kejujuran Kajao?
Kajao : Panggilan (seruan)
Raja Bone : Apa yang diserukan Kajao?
Kajao : Jangan mengambil kayu yang disandarkan dan bukan engkau yang menyandarkan; Jangan mengambil barang-barang yang bukan milikmu; Jangan mengambil kayu yang ditetak ujung pangkalnya dan bukan kamu menetaknya (menebangnya).

Raja Bone mendapatkan suatu nasihat yang sangat berharga bahwa dasar dari kecakapan adalah kejujuran. Tidak mengambil barang yang merupakan hak dan milik orang lain. Larangan untuk tidak menikmati hasil jerih payah dan keringat orang lain, yang bukan diusahakan sendiri.

3) Nilai Tanggung Jawab

Melaksanakan tugas dan kewajiban adalah perwujudan dari tanggung jawab yang harus dilakukan, baik pada dirinya sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial,
budaya), negara dan Tuhan Yang Maha
Esa. Pentingnya sikap tanggung jawab,
telah ditekankan sejak dahulu. Hal ini
terdapat dalam pappaseng sebagai berikut:

“Iyapa naulle taue mabbaine narekko naulleni maggulilingiwi dapurêngnge wekka pitu”

Terjemahan:
Apabila seseorang pria ingin beristri,
harus sanggup mengelilingi dapur tujuh
kali.

Pesan ini mengajarkan bahwa seorang
laki-laki yang telah dewasa, jika telah
memiliki keinginan untuk berumah
tangga, hendaknya mampu mengitari
“dapur sebanyak tujuh kali”. Kata
“dapur” di sini dijadikan suatu ibarat
bahwa seorang yang ingin berumah
tangga, berarti telah siap bertanggung
jawab untuk memberikan nafkah
kepada keluarganya.

Adapun kata “tujuh” adalah hitungan hari dalam satu minggu terdapat tujuh hari. Jadi seorang laki-laki yang ingin berkeluarga, telah siap mencukupi kebutuhan sehari-hari dari orang yang kelak menjadi tanggungannya.

4). Nilai Disiplin.

Kedisiplinan adalah merupakan tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Sifat kepatuhan dan kesetiaan orang Bugis dalam berbagai aspek, seperti kepatuhan pada adat, dan kepatuhan kepada pemerintah. Hal ini terlihat pada pappaseng seperti berikut ini.

Aja’ siyo mupinrai, murusa-i, mubicarai paimêng pura onroe, iyana ritu riasêng popo gamaru, makere’.

Natujui tikka wanuae, lelei saiye, makkamate-matengngi tedongnge,
olo’-kolo’e, têmmabbuai aju-kajung ri anrewe buwana, ri sappeang pattapie, natuwoi sêri-i dapurêngngê;

Iya natêppa kêrêkênna nanre topi api
adê’-e popo gamaru, rusa’e pura-onro, pura lalêng malêmpu. narusa deceng mallêbbang, napasalai tongêngnge napatujui salae;

Naiya pura onroe, appunnanna tanae, appunnanna toi to maegae, appunnana toi arung-e.

Terjemahan:

Jangan sekali-kali engkau mengubah,
merusak, dan membicarakan adat tetap
karena itulah dinamakan popogamaru
(makere/keramat) pantangan besar dalam negeri.

Jika hal itu dilakukan, negeri akan
ditimpa kemarau panjang, penyakit mewabah, binatang ternak mati bergelimpangan, tak berbuah pepohonan yang dimakan buahnya, nyiru digantung, antan diselipkan, lesung ditelungkupkan, dapur ditumbuhi rumput.

Musibah itu tiba jika mengubah adat yang telah ada (membatalkan kesepakatan, mengubah tradisi), merusak nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh masyarakat, menyalahkan yang benar, membenarkan yang salah.

Adapun yang dimaksudkan tradisi ialah sesuatu yang milik bersama, milik orang banyak, dan milik raja.Maksudnya seseorang jangan sekali-kali membatalkan suatu kesepakatan, mengubah tradisi, merusak nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh masyarakat, menyalahkan yang benar, membenarkan yang salah.

Adapun yang dimaksudkan tradisi ialah sesuatu yang milik negeri, milik orang banyak, dan milik raja. Kalau hal tersebut dilanggar maka akan mendatangkan bencana dan musibah di negeri tersebut. Musibah yang dimaksud di sini adalah terjadi kekacauan di dalam negeri itu yang diakibatkan dari tidak dipatuhinya aturan-aturan yang ada.

5). Nilai Kerja Keras

Kerja keras adalah upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan dan
persoalan dalam kehidupan. Perilaku
tersebut telah ditanamkan dalam budaya
Bugis. Hal tersebut terlihat dalam
pappaseng seperti berikut ini.

Aja’ mumaelo ribettamakkalêjja’ ricappa’na letengnge.

Terjemahan:
Jangan mau didahului menginjakkan
kaki di ujung titian.

Dalam berusaha, hendaknya bekerja
dengan maksimal dan kepandaian
untuk melihat peluang usaha. Hal ini
menunjukkan bahwa dalam berusaha
dibutuhkan perhatian dan kerja keras
yang kompetitif

6). Nilai Mandiri

Mandiri adalah sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas. Sikap kemandirian ini sangat ditekankan dalam kearifan Bugis, seperti yang disebutkan dalam pappaseng berikut ini.

Makkedai pappasenna arung rioloe
ri anana eppona ri siajinnna, makkedae rekko sappako dalle’ koi mutajeng
pammasena Allah ta’ala ri pammasena
arung mangkauq-e. Enrengnge ri
laonrumangnge. Kuwae leppang
limammu.

Terjemahan:

Berkata pesan-pesan raja terdahulu
kepada anak cucunya, kepada kerabatnya.
Kalau engkau mencari rezeki, nantikanlah
rahmat Allah Ta’ala daripada belas kasih
raja yang berkuasa, serta pada usaha
bercocok tanam. Demikian pula dengan
jerih payahmu sendiri.

Maksud pesan ini adalah berusaha mandiri
mencari rezeki dengan keringat sendiri,
seperti menjadi seorang petani, sambil
bercocok tanam senantiasa berdoa dan
berharap rahmat dari Allah Ta’ala agar
usaha yang dilakukan mendapatkan
berkah dari-Nya. Bekerja sambil berdoa
adalah lebih mulia daripada berharap
belas kasihan dari orang lain.

7). Nilai Peduli Sosial

Peduli sosial adalah sikap dan perilaku yang mencerminkan kepedulian dan rasa cinta kepada orang lain. Peduli dan suka membantu orang lain yang berada dalam posisi kesusahan adalah sikap terpuji yang senantiasa perlu dipupuk dan dipelihara.

Anjuran peduli pada orang lain juga telah terekam dalam pappaseng Bugis yaitu :

Limai passalêng namulolongêng decengnge, seuani pakatunai alemu ri sitinajannae; maduanna, saroko mase ri sillalênnae; matelluna, makkareso patujue; maeppana, molae roppo-roppo narewê; malimanna, molae laleng namatike. Kuatopa eppi-eppi moi bali bolamu.

Terjemahan:

Ada lima hal yang perlu diperhatikan jika
ingin mendapatkan kebaikan. Pertama,
rendahkanlah dirimu sewajarnya; kedua,
bantulah orang lain pada tempatnya; ketiga, lakukanlah pekerjaan yang bermanfaat; keempat, hadapilah rintangan, ingatlah kembali kepada Tuhan; laluilah jalan dengan berhati-hati. Demikian pula bantu-bantulah tetanggamu.

Maksud pesan ini, jika ingin mendapatkan kebaikan di antara yang disebutkan
dalam lima hal di atas adalah suka membantu orang yang berada dalam kesulitan. Dalam menolong atau membantu orang lain hendaknya dengan hati yang ikhlas. Keikhlasan ini akan melahirkan suatu kepuasan dalam ikut meringankan beban orang lain, karena dilakukan tanpa pamrih dan berharap pujian dari manusia melainkan semata-mata mengharap pahala dan ridha dari Yang Maha Kuasa. Kemudian disaat kita berlebihan tidak ada salahnya memercikkan juga terhadap tetangga.

8). Nilai Peduli Lingkungan

Kepedulian akan lingkungan alam dibuktikan dengan cara menggunakan alam sesuai dengan kebutuhan secara wajar dan seimbang. Berbagai pesan Bugis yang menggambarkan sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah pada kerusakan lingkungan sekitar dan upaya untuk memperbaikinya, juga terdapat dalam pappaseng seperti berikut ini.

Naiya rekko maelokko mappalili madecenni maddepungeng ri padangnge tasipakainge madeceng ribicaranna laonrumae ri billa’na bare’-e, timo-e.

Ponco’na bosie enrengnge lampe’na
ri alemmana timo-e, rimakerinna,
nasaba’ purana napalalo Matowa
pallaonrumae riaddapangi pole
riadanna lontara’-e enrengnge rapang
lalonnae tau parekkengngengngi
laonrumae temmakkullei pasala.

kuatopa ripuada makkeda mangkalungung ribulue, massulappe ripottanangnge, makkoddang ritasie

Terjemahan:

Apabila engkau akan turun ke sawah,
baiklah (engkau sekalian) berkumpul di
padang kemudian saling memperingati
(bermusyawarah), yang baik tentang
musim kemarau, musim hujan, panjang
dan lembutnya musim kemarau itu,
keringnya udara, berdasarkan yang
pernah dilaksanakan oleh Matowa
(orang terdahulu yang paham) pertanian
yang mengambil contoh seperti apa yang tertera dalam lontara’, serta contoh
yang pernah dilakukan oleh para ahli
pertanian sebelumnya dan tak mengalami
kesalahan.

Dan juga isi pesan yang mengatakan gunung sebagai bantal, darat sebagai guling, laut untuk berenang. Diartikan bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup ada diketiga tempat tersebut.

Adapun maksud dari pappaseng Bugis ini adalah berisi suatu pelajaran, bahwa sebelum melakukan aktivitas menanam padi hendaknya betul-betul melihat waktu yang tepat, kapan mulai masuk musim penghujan dan kapan masuk musim kemarau.

Hal ini penting untuk diketahui agar supaya padi yang akan ditanam, diharapkan dapat tumbuh dengan baik dan kelak bisa dipanen dengan hasil yang memuaskan. Kebiasaan tersebut telah dilakukan oleh leluhur orang Bugis sejak dahulu kala.

Sementara untuk memanfaatkan alam sebagai tempat tinggal Tuhan telah menyediakan segala mahluknya. Manusia sebagai mahluk mulia senantiasa dapat memenuhi kebutuhannya dengan mencari nafkah baik di gunung (berkebun), di darat (bercocok tanam), dan laut (nelayan).

Apakah Sebenarnya Keunggulan Pappaseng?

Berbagai keunggulan yang terdapat dalam naskah lontara’ pappaseng, sehingga sangat tepat untuk diajarkan sebagai muatan lokal dalam pembelajaran di sekolah. Agar anak didik Bugis nantinya tidak kehilangan landasan berpikir perlu diupayakan sejak dini.

Lontara ini berbasis budaya lokal setempat, dan penerapannya dapat mengangkat kembali budaya lokal. Nilai-nilai yang terkandung dalam lontara’ tersebut telah diuji dari generasi ke generasi dan memberikan manfaat terhadap masyarakat seperti penanaman nilai kejujuran, kerja keras, kedisiplinan, menghargai nilai
kepintaran atau orang Bugis menyebutnya
“engkaure’ na pettu”.

Keunggulan lainnya adalah memberikan keluasan pandangan hidup. Lontara’ pappaseng juga berisi nasihat-nasihat bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia, berhubungan dengan orang tua dan berhubungan dengan alam serta menjadi resep dan penuntun dalam kehidupan sehari-hari.

Keunggulan lontara’ pappaseng pesan-pesannya sejalan dengan religi mayoritas orang Bugis yakni Islam. Selain dalam lontara’ tersebut terdapat nilai-nilai moral seperti kejujuran, kecendekiawan, keberanian, kesetiaan, etos kerja, yang
kesemuanya sudah dituliskan sejak dulu
oleh para leluhur dalam lontara’ pappaseng
yang kemudian menjadi suatu keunggulan
dan dapat diajarkan di bangku-bangku sekolah.

Dalam pappaseng mengajarkan
kepada seorang anak untuk menghargai
orang tuanya, menghargai sesama. Sehingga sangat tepat kepada dunia pendidikan agar ajaran dalam lontara’ ini dapat tetap diwariskan kepada generasi muda, karena masih sangat dibutuhkan sebagai dasar dalam beretika, olehnya itu harus tetap diajarkan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi agar
nilai-nilai di dalamnya tidak hilang begitu
saja.

Keunggulan dari lontaraq pappaseng
adalah bahasanya sederhana dan mudah
dimengerti dan semua orang bisa meles-
tarikannya. Nilai-nilai dalam pappaseng juga sejalan dengan nilai-nilai agama dan nilai yang terdapat dalam ideologi negara. Selain itu, di dalamnya juga terdapat berbagai nilai etika, seperti nilai kesopanan dan nilai-nilai lainnya.

Pendek kata, nilai-nilai dalam lontara’ pappaseng masih relevan dengan kondisi kekinian, bentuknya seperti pepatah-petitih yang kaya akan nilai pendidikan. Dalam lontara’ banyak terdapat nilai-nilai budi pekerti yang harus diajarkan kepada generasi muda, agar mereka tidak mudah begitu saja terpengaruh dengan budaya asing, khususnya budaya Barat.

Begitu juga untuk meredam berbagai dampak negatif dari kemajuan iptek yang cenderung ‘bebas nilai’, siswa dan mahasiswa harus dibekali dengan nilai-nilai budi pekerti seperti yang terdapat dalam pappaseng.

Simpulan:

Dahulu, pada masyarakat Bugis, keberadaan pappaseng selain sangat dimuliakan, juga memiliki suatu penekanan ajaran moral dan etika yang patut dituruti. Seseorang yang senantiasa berpedoman pada pappaseng dalam setiap pola tingkah lakunya sehari-hari akan selalu terjaga, terpelihara perilakunya, dan terpandang, serta disegani di tengah-tengah masyarakatnya.

Sebaliknya manakala seseorang tidak mengindahkannya dan meremehkannya maka akan menanggung sanksi berat, yakni nama baiknya akan tercemar dan status sosialnya menjadi rendah, sehingga sangat sulit untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan baik dalam masyarakat di sekitarnya, bahkan tak
jarang kehidupannya akan terpuruk.

Dalam pappaseng mengandung berbagai
nilai pendidikan karakter yang berisi nasihat/pelajaran tentang etika berinteraksi dengan sesama manusia, berhubungan dengan orang tua dan berhubungan dengan alam sekitar, serta menjadi resep dan penuntun dalam kehidupan sehari-hari. Kandungan
isi lontara’ pappaseng sarat dengan nilai-
nilai yang relevan dengan ajaran agama
Islam, keyakinan mayoritas masyarakat
Bugis. Selain itu, lontara pappaseng juga berisi berbagai nilai yang universal. Cocok untuk generasi lalu, generasi kini, dan generasi yang akan datang.

Melihat keunggulan dan kekayaan akan
nilai-nilai pedagogik yang terdapat di dalamnya yang memuat pendidikan budaya
dan karakter bangsa, olehnya itu seyogianya ajaran pappaseng ini tetap dilestarikan dengan cara mengajarkannya lewat pendidikan non formal, baik di rumah maupun dalam lingkungan masyarakat sekitarnya, begitu juga lewat pendidikan formal di sekolah dalam bentuk mengintegrasikan nilai-nilai pappaseng dalam pembelajaran keseharian.

Referensi:

Daryanto. (2012). Perubahan Pendidikan
dalam Masyarakat Sosial Budaya.
Bandung: PT. Sarana Tutorial Nurani
Sejahtera.

Enre, Fachruddin, A., dkk. (1985). Pappasenna To Maccae ri Luwu sibawa Kajao Laliddong ri Bone. Ujung Pandang:
Depdikbud Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan La Galigo.

Gani, Ambo, dkk. (1990). Wasiat-Wasiat dalam Lontara’ Bugis. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.

Hakim, Zainuddin. (1992). Pangngaja
Tomatoa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa Depdikbud.

Mattalitti, M. Arief. (1986). Pappaseng
To Riolota Wasiat Orang Dahulu.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku
Sastra Indonesia dan Daerah.

Pelras, Christian. (2006). Manusia Bugis
(terj. The Bugis). Jakarta: Forum Ja-
karta-Paris Ecole francaise d’Ex-
treme-Orient.

Poespowardojo, Soerjanto. (1986). “Pengertian Local Genius dan Relevasinya dalam Modernisasi,” dalam Ayatrohaedi.
Kepribadian Budaya Bangsa (Local
Genius). Jakarta: Pustaka Jaya.

Sikki, Muhammad, dkk. (1998). Nilai dan
Manfaat Pappaseng dalam Sastra
Bugis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa Depdikbud.

Sikki, Muhammd, dkk. (1991). Nilai-Nilai
Budaya dalam Susastra Daerah
Sulawesi Selatan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Depdikbud.

Raja Bone dari Masa.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...