No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Gumbang Kearifan Lokal yang Hilang

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Dahulu kala di kampung Bugis selalu ada gumbang dalam bahasa Bugis disebut “bempa”, yaitu semacam guci terbuat dari tanah liat. Bempa ini berfungsi sebagai tempat untuk menampung air untuk keperluan rumah tangga. Gumbang tersebut dilengkapi dengan gayung dari tempurung kelapa yang disebut “kaddaro”.

Gumbang ini ada berukuran besar yang disebut “bempa” dan yang berukuran kecil disebut “busu”. Ukuran besar ditempatkan di sekitar dapur yang disebut “atteme-temeng” yaitu tempat untuk buang air kecil dan membersihkan piring, dan sejenisnya.

Sedang bempa yang kecil (busu) ditempatkan di ruang makan yang berisi air yang sudah dipanasi mendidih tidak boleh kurang 100 derajat. Karena orang tua Bugis melarang anak-anaknya memasak air kalau kurang seratus derajat, bahkan ketika air sudah mendidih tetap harus mendidih selama 10 menit dengan tujuan membunuh kuman dan bakteri.

Selain itu gumbang atau bempa ini digunakan juga untuk menampung air cuci tangan dan kaki yang diletakkan di samping tangga. Tujuannya untuk mencuci kaki dan tangan sebelum anggota keluarga atau tamu naik ke rumah.

Kearifan lokal kakek nenek kita ini ternyata sudah melakoni tradisi yang sangat baik. Di mana menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga hidup lebih terjaga. Selalu sehat dan jarang sakit.

Dengan perilaku hidup sehat itu, tak heran orang tua Bugis masa lalu ada yang mencapai usia seratus tahun lebih. Bandingkan saat ini dengan bermandikan teknologi usianya baru 30 tahunan tampak sudah reot seperti usia 70-an.

Di masa pandemi corona ini baru didengung-dengungkan jaga kesehatan, rajin cuci tangan dan sebagainya. Padahal kakek nenek kita sejak dahulu sudah menerapkan hidup bersih.

Selain itu, dahulu di kampung Bugis setiap ada warga yang meninggal harus menyalakan api tungku di bawah tangga dengan asap membumbung. Gunanya agar anggota keluarga yang datang dari melayat sebelum menaiki rumahnya harus melalui “perasapan” siapa tahu ada bakteri atau kuman yang melekat pada anggota tubuhnya.

Nah, perilaku kakek nenek kita sudah mengantisipasi sebelum terjadi, bedanya sekarang ini terjadi baru mengantisipasi.

Walaupun masa sekarang rumah panggung berubah menjadi rumah batu, sebaiknya fasilitas cuci kaki dan tangan tersedia di sekitar pintu masuk rumah. Jangan hanya memamerkan bunga kembang yang menghibur mata padahal kuman dan bakteri nyelonong masuk rumah.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...