No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Maklumat Petta Ponggawae Panglima Perang Bone

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae adalah Panglima Perang Kerajaan Bone tahun 1905. Ia anak kandung La Pawawoi Karaeng Sigeri Raja Bone Ke-31 yang memerintah di Kerajaan Bone dalam tahun 1895-1905.

Nama ibu kandung Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae adalah I Karimbo Daeng Tamene, ia adalah putri Arung Mangempang Barru.

Tak diragukan perlawanan Abdul Hamid Petta Ponggawae dalam menentang kekuasaan pemerintah Belanda. Pertentangan antara Bone dengan Belanda dipicu oleh akumulasi rangkaian keinginan Belanda untuk menguasai Bone.

Dalam catatan sejarah, terhitung 4 kali Belanda melakukan agresi ke Bone, yaitu mulai tahun 1824 (Agresi I yang gagal), setahun kemudian tahun 1825 (Agresi II juga gagal), selanjutnya tahun 1859 (Agresi III yang juga mengalami kegagalan tragis), akibat kekalahan itu, 46 tahun kemudian barulah Belanda kembali menyerang Bone pada tahun 1905 (Agresi IV berhasil).

Dalam agresi terakhir inilah Belanda berhasil mengalahkan Kerajaan Bone. Di mana pada saat itu tentara Belanda mengerahkan armada dan seluruh kekuatan tempurnya. Kapal-kapal perang Belanda menembakkan mortir dan meriam dari Laut Teluk Bone.

Kemudian tentara Belanda melakukan pendaratan di Bajoe dan sepanjang pesisir Teluk Bone. Selanjutnya melakukan serangan darat menuju kota Watampone sebagai pusat pemerintahan kerajaan Bone dan berhasil menguasainya pada Tanggal 30 Juli 1905.

Korbanpun berjatuhan dikedua pihak. Dalam peristiwa itu lebih kurang 3000 laskar Bone gugur mempertahankan tanah airnya. Karena terdesak Raja Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri bersama putranya Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae mundur hingga ke Gunung Awo perbatasan Siwa dengan Tator.

Tentara Belanda melakukan pengejaran terhadap raja Bone, pertempuran pun kembali berkecamuk. Akhirnya berhasil mengepung Raja Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri di pegunungan Awo pada Tanggal 18 November 1905.

Pada pertempuran tersebut, Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae gugur bersama ratusan laskar Bone. Sementara raja Bone ditangkap kemudian diasingkan ke Bandung oleh pemerintah Belanda.

Dalam peristiwa inilah yang disebut “Rumpa’ni Bone artinya Bone telah bobol”. Hal itu diungkapkan Raja Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri yang ditandai dengan gugurnya Petta Ponggawae.

Sebelum akhir hayatnya, Abdul Hamid Baso Paggilingi Petta Ponggawae menemui ayah bundanya (Raja Bone) dengan menyatakan Osong (maklumat). Osong adalah sumpah setia dan semangat seorang laskar kepada pemimpinnya. Mereka tidak takut Lete Ripammasareng (menjemput ajal).

Berikut Osongna Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae:

Taroi siya mattonrong
kompania Balandae
apa’ masiri wegangnga
taroangngi pau temmate
watakku ripadakku sulangali
padakku lebba risompa

Tellu memengngi ponratu
kutoddo’ kutea lara’
ata memengnga ri Bone
kurilanti’si ponggawa mangkau’
ritengnga padang
tajajiyangnga riperi nyamenna Bone

Iya arena labela betta massola solae
temmennajai sunge’
mattekka ri pammassareng
inappa memengngi bela
paranru’ rukka mawekke’

Allingereng mangkau’ku
batara tungke’na Bone
namasallena ri maje
sumange bannampatikku
wajo-ajo mani lolang ri wanua lino

Memeng kuwinreng tommiro bela
tonangeng passingara’ku
kuwana maccappu bello
riwala-wala bessie
ri appasareng kannae

Terjemahan :

Biarkan Belanda menyerang
sebab aku malu meninggalkan
kesan yang buruk
terhadap sesamaku laki-laki
sesamaku pemberani

Ada tiga hal yang kupegang teguh
sehingga tidak akan goyah
saya warga asli di Bone
kemudian dilantik
sebagai Panglima Perang
lahir dalam suka dukanya Bone

Sayalah pemberani yang bebas
tidak menyayangi jiwaku
menyeberang ke alam baka
tibalah waktunya
melakukan perlawanan mematikan
sebagaimana tugasku sebagai panglima

Setelah baginda mengumumkan perang
penguasa tunggal tanah Bone
ayahanda sekaligus rajaku
penguasa tunggal di Bone
semangatku sudah berada di akhirat
hanyalah bayang-bayangku yang nampak di dunia

Memang saya hanya meminjam
tubuh kasar ini
Saya akan memperlihatkan kelincahan
di atas panggung
medan perang

Itulah maklumat (osong) seorang laskar Bone kepada pemimpinnya. Ia menyatakan sumpah setia kepada rajanya untuk mempertahankan tanah tumpah darahnya. Padahal sedianya Petta Ponggawae dipersiapkan sebagai Raja Bone selanjutnya untuk menggantikan ayahandanya. Namun Tuhan berkehendak lain.

Pada masa ini pula terciptalah sebuah lagu yang berjudul ” Ongkona Arumpone” artinya miliknya Bone pada masa itu yang dipersiapkan menjadi raja mengalami kegagalan. Layu sebelum berkembang.

Makam Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae terletak di Desa Matuju Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone.

Untuk menghargai jasa-jasanya, maka namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Watampone, yaitu Jalan Petta Ponggawae, yaitu jalan di depan rumah jabatan Bupati Bone sekarang ini.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...