No menu items!
Senin, 13 Juli 20

Sejarah Massempe di Kampung Bugis

Salah satu kegiatan yang paling ditunggu- tunggu di kampung Bugis adalah panen raya. Dalam kegiatan ini diisi berbagai gelaran tradisi seperti massempe’, mallanca, mappere, mappadendang, dan lain-lainnya. Gelaran tradisional Bugis ini sudah berlangsung sejak zaman kerajaan.

Salah satu gelaran yang dilakukan dalam acara ini adalah adu ketangkasan yang disebut massempe’. Olahraga yang terbilang keras ini masih berlanjut sampai sekarang ini.

Massempe’ berasal dari bahasa Bugis, kata sempe’ berarti menendang atau menyepak. Sedangkan awalan kata Ma memiliki makna melakukan sesuatu. Berarti massempe’ adalah melakukan suatu pertarungan dengan cara menendang ataupun menyepak lawan.

Tradisi adu ketangkasan tersebut, merupakan pertarungan bebas antara dua pria dengan mengandalkan kekuatan kaki untuk menjatuhkan lawan.

Karena dalam permainan itu, peserta tidak diperbolehkan menggunakan tangan untuk menyerang, namun menangkis serangan lawan tidak masalah.

Sebelum berlaga, beberapa pemuda desa yang bertindak sebagai peserta melakukan prosesi berjalan mengelilingi lapangan sambil menepuk-nepuk paha. Prosesi ini bertujuan untuk mencari lawan yang merupakan bagian dari penonton.

Setelah mendapatkan lawan seimbang yang bersedia untuk bertarung, maka ada dua orang lainnya yang berperan sebagai wasit.

Di atas tangan wasit tersebut, kedua pemain berjabat tangan. Kemudian, wasitpun segera memberikan aba-aba sebagai tanda permainan dimulai.

Disaksikan kerumunan penonton. Para pemain melakukan gerakan berlari-lari kecil sambil melompat-lompat dan menepuk kedua pahanya. Mereka mencoba mencari peluang untuk menyerang dan akhirnya mereka saling menyepak dan menangkis.

Meskipun dalam permainan rakyat ini terkesan ekstrem, karena tak jarang peserta mengalami cedera bahkan patah tulang. Namun tradisi massempe’ tersebut justru merupakan ajang silaturahmi antar warga kampung dengan kampung tetangga. Olehnya itu dalam tradisi tersebut, tidak boleh ada dendam antar para peserta.

Untuk menyelenggarakan permainan ini, dibutuhkan lapangan terbuka (tanah lapang) dan dibuatkan arena berbentuk lingkaran agar terdapat pemisah antara pemain dan penonton, sehingga permainan dapat berjalan dengan lancar.

Apabila salah satu petarung mengalah, ia harus mengakui kehebatan lawannya sambil berjabat tangan dan saling merangkul.

Sementara si pemenang kembali berjalan melompat-lompat mengelilingi arena sambil mappale’ (menjulurkan telapak tangan kearah penonton), yaitu mencari lawan terkuat untuk bisa bertanding dengannya.

Jika kembali memenangkan pertandingan itu, maka ia pun kembali lagi berkeliling mencari orang terkuat yang bisa bertarung dengannya sambil berteriak mengucapkan “paccingarai” artinya sebuah ajakan bertarung melawan siapa saja.

Seperti yang diutarakan salah seorang tokoh masyarakat Bugis dari Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone Bapak Amrullah Sipakatau.

Beliau mengatakan seperti biasanya di Kampung Bugis kegiatan kemasyarakatan seperti pesta panen yang didalamnya ada kegiatan massempe, mappere, dan mappadendang menjadi ajang silaturahmi dan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang diperoleh.

Bahkan tidak jarang dalam ajang ini menjadi wahana mencari pasangan hidup. Apalagi si pemenang adalah lelaki tangguh dan masih perjaka. Ia menjadi sorotan mata gadis-gadis yang turut menonton.

Sehingga pesta pernikahan di kampung Bugis umumnya dilaksanakan setelah panen. Mereka beranggapan semua pekerjaan di sawah dan dikebun sudah selesai dan sudah ada hasil.

“Jadi biasanya meskipun sudah ” sitaro ada ” namun pelaksanaan pernikahan mereka sepakat menunggu setelah panen” tutur pak Amrullah Sipakatau saat ditemui di salah satu warkop di kota Watampone, Rabu 24 Juni 2020 sekira pukul 17.00 Wita.

Konon, awalnya adu ketangkasan tersebut hanya dilaksanakan dalam keluarga bangsawan atau raja. Massempe’ dilakukan oleh hamba sahaya sebagai bentuk hiburan bagi keluarga sang raja.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, permainan itu tetap dipertahankan oleh masyarakat umum dan dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat Bugis sebagai bentuk tradisi turun temurun yang harus tetap dijaga kelestariannya.

Masih banyak kearifan lokal lainnya yang masih dilakukan hingga sekarang ini. Karena kearifan lokal merupakan muatan lokal masa lalu yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan saat ini.

Must read

Kawasan Peruntukan Pariwisata Kabupaten Bone

Peruntukan pariwisata di Kabupaten Bone terdiri pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan. Hal ini berdasarkan Rancangan Perda Kabupaten Bone Nomor 2 Tahun 2013 Tentang...

Sejumlah Seniman Jadi Juri Lomba Festival Aksara Lontara’ 2020

Sejumlah seniman senior akan mengambil peran sebagai juri dalam kegiatan lomba serangkaian Festival Aksara Lontara' 2020. Lomba ini digelar selain memeriahkan Festival Aksara Lontara', sekaligus...

Cara La Patau Membangun Benteng Cenrana

Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone merupakan peninggalan La Patau Matanna Tikka raja Bone ke-16. La Patau Matanna Tikka lahir pada Tanggal 3 November 1672...

Sejarah Situs Cenrana Kabupaten Bone

Sejak berabad-abad yang lalu wilayah Cenrana memainkan peranan penting dalam pembentukan sejarah budaya di Sulawesi Selatan. Cenrana sebagai kelanjutan sungai Walennae memiliki lembah-lembah sungai yang...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles

Latest article

Begini Cara SD Negeri Borong Peduli Sampah

Kata "peduli" itu bukan hanya sekadar jargon yang diucapkan tapi perlu contoh dan tindakan. Bahkan, bukan hanya murid-murid yang perlu diedukasi agar peduli, tapi...

Makna lirik lagu Sumange’na Watampone

Sumange'na Watampone merupakan lagu Bugis dari Kabupaten Bone yang diciptakan oleh Mursalim pada tahun 2019. Meskipun lagu ini tergolong baru, namun lirik-liriknya menggunakan kosakata...