No menu items!
19.8 C
Munich
Senin, 21 September 20

Sejarah Massempe di Kampung Bugis

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Salah satu kegiatan yang paling ditunggu- tunggu di kampung Bugis adalah panen raya. Dalam kegiatan ini diisi berbagai gelaran tradisi seperti massempe’, mallanca, mappere, mappadendang, dan lain-lainnya. Gelaran tradisional Bugis ini sudah berlangsung sejak zaman kerajaan.

Salah satu gelaran yang dilakukan dalam acara ini adalah adu ketangkasan yang disebut massempe’. Olahraga yang terbilang keras ini masih berlanjut sampai sekarang ini.

Massempe’ berasal dari bahasa Bugis, kata sempe’ berarti menendang atau menyepak. Sedangkan awalan kata Ma memiliki makna melakukan sesuatu. Berarti massempe’ adalah melakukan suatu pertarungan dengan cara menendang ataupun menyepak lawan.

Tradisi adu ketangkasan tersebut, merupakan pertarungan bebas antara dua pria dengan mengandalkan kekuatan kaki untuk menjatuhkan lawan.

Karena dalam permainan itu, peserta tidak diperbolehkan menggunakan tangan untuk menyerang, namun menangkis serangan lawan tidak masalah.

Sebelum berlaga, beberapa pemuda desa yang bertindak sebagai peserta melakukan prosesi berjalan mengelilingi lapangan sambil menepuk-nepuk paha. Prosesi ini bertujuan untuk mencari lawan yang merupakan bagian dari penonton.

Setelah mendapatkan lawan seimbang yang bersedia untuk bertarung, maka ada dua orang lainnya yang berperan sebagai wasit.

Di atas tangan wasit tersebut, kedua pemain berjabat tangan. Kemudian, wasitpun segera memberikan aba-aba sebagai tanda permainan dimulai.

Disaksikan kerumunan penonton. Para pemain melakukan gerakan berlari-lari kecil sambil melompat-lompat dan menepuk kedua pahanya. Mereka mencoba mencari peluang untuk menyerang dan akhirnya mereka saling menyepak dan menangkis.

Meskipun dalam permainan rakyat ini terkesan ekstrem, karena tak jarang peserta mengalami cedera bahkan patah tulang. Namun tradisi massempe’ tersebut justru merupakan ajang silaturahmi antar warga kampung dengan kampung tetangga. Olehnya itu dalam tradisi tersebut, tidak boleh ada dendam antar para peserta.

Untuk menyelenggarakan permainan ini, dibutuhkan lapangan terbuka (tanah lapang) dan dibuatkan arena berbentuk lingkaran agar terdapat pemisah antara pemain dan penonton, sehingga permainan dapat berjalan dengan lancar.

Apabila salah satu petarung mengalah, ia harus mengakui kehebatan lawannya sambil berjabat tangan dan saling merangkul.

Sementara si pemenang kembali berjalan melompat-lompat mengelilingi arena sambil mappale’ (menjulurkan telapak tangan kearah penonton), yaitu mencari lawan terkuat untuk bisa bertanding dengannya.

Jika kembali memenangkan pertandingan itu, maka ia pun kembali lagi berkeliling mencari orang terkuat yang bisa bertarung dengannya sambil berteriak mengucapkan “paccingarai” artinya sebuah ajakan bertarung melawan siapa saja.

Seperti yang diutarakan salah seorang tokoh masyarakat Bugis dari Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone Bapak Amrullah Sipakatau.

Beliau mengatakan seperti biasanya di Kampung Bugis kegiatan kemasyarakatan seperti pesta panen yang didalamnya ada kegiatan massempe, mappere, dan mappadendang menjadi ajang silaturahmi dan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang diperoleh.

Bahkan tidak jarang dalam ajang ini menjadi wahana mencari pasangan hidup. Apalagi si pemenang adalah lelaki tangguh dan masih perjaka. Ia menjadi sorotan mata gadis-gadis yang turut menonton.

Amrullah Sipakatau

Sehingga pesta pernikahan di kampung Bugis umumnya dilaksanakan setelah panen. Mereka beranggapan semua pekerjaan di sawah dan dikebun sudah selesai dan sudah ada hasil.

“Jadi biasanya meskipun sudah ” sitaro ada ” namun pelaksanaan pernikahan mereka sepakat menunggu setelah panen” tutur pak Amrullah Sipakatau saat ditemui di salah satu warkop di kota Watampone, Rabu 24 Juni 2020 sekira pukul 17.00 Wita.

Konon, awalnya adu ketangkasan tersebut hanya dilaksanakan dalam keluarga bangsawan atau raja. Massempe’ dilakukan oleh hamba sahaya sebagai bentuk hiburan bagi keluarga sang raja.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, permainan itu tetap dipertahankan oleh masyarakat umum dan dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat Bugis sebagai bentuk tradisi turun temurun yang harus tetap dijaga kelestariannya.

Masih banyak kearifan lokal lainnya yang masih dilakukan hingga sekarang ini. Karena kearifan lokal merupakan muatan lokal masa lalu yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan saat ini.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...