No menu items!
0.7 C
Munich
Senin, 30 November 20

Sejarah Massempe di Kampung Bugis

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Salah satu kegiatan yang paling ditunggu- tunggu di kampung Bugis adalah panen raya. Dalam kegiatan ini diisi berbagai gelaran tradisi seperti massempe’, mallanca, mappere, mappadendang, dan lain-lainnya. Gelaran tradisional Bugis ini sudah berlangsung sejak zaman kerajaan.

Salah satu gelaran yang dilakukan dalam acara ini adalah adu ketangkasan yang disebut massempe’. Olahraga yang terbilang keras ini masih berlanjut sampai sekarang ini.

Massempe’ berasal dari bahasa Bugis, kata sempe’ berarti menendang atau menyepak. Sedangkan awalan kata Ma memiliki makna melakukan sesuatu. Berarti massempe’ adalah melakukan suatu pertarungan dengan cara menendang ataupun menyepak lawan.

Tradisi adu ketangkasan tersebut, merupakan pertarungan bebas antara dua pria dengan mengandalkan kekuatan kaki untuk menjatuhkan lawan.

Karena dalam permainan itu, peserta tidak diperbolehkan menggunakan tangan untuk menyerang, namun menangkis serangan lawan tidak masalah.

Sebelum berlaga, beberapa pemuda desa yang bertindak sebagai peserta melakukan prosesi berjalan mengelilingi lapangan sambil menepuk-nepuk paha. Prosesi ini bertujuan untuk mencari lawan yang merupakan bagian dari penonton.

Setelah mendapatkan lawan seimbang yang bersedia untuk bertarung, maka ada dua orang lainnya yang berperan sebagai wasit.

Di atas tangan wasit tersebut, kedua pemain berjabat tangan. Kemudian, wasitpun segera memberikan aba-aba sebagai tanda permainan dimulai.

Disaksikan kerumunan penonton. Para pemain melakukan gerakan berlari-lari kecil sambil melompat-lompat dan menepuk kedua pahanya. Mereka mencoba mencari peluang untuk menyerang dan akhirnya mereka saling menyepak dan menangkis.

Meskipun dalam permainan rakyat ini terkesan ekstrem, karena tak jarang peserta mengalami cedera bahkan patah tulang. Namun tradisi massempe’ tersebut justru merupakan ajang silaturahmi antar warga kampung dengan kampung tetangga. Olehnya itu dalam tradisi tersebut, tidak boleh ada dendam antar para peserta.

Untuk menyelenggarakan permainan ini, dibutuhkan lapangan terbuka (tanah lapang) dan dibuatkan arena berbentuk lingkaran agar terdapat pemisah antara pemain dan penonton, sehingga permainan dapat berjalan dengan lancar.

Apabila salah satu petarung mengalah, ia harus mengakui kehebatan lawannya sambil berjabat tangan dan saling merangkul.

Sementara si pemenang kembali berjalan melompat-lompat mengelilingi arena sambil mappale’ (menjulurkan telapak tangan kearah penonton), yaitu mencari lawan terkuat untuk bisa bertanding dengannya.

Jika kembali memenangkan pertandingan itu, maka ia pun kembali lagi berkeliling mencari orang terkuat yang bisa bertarung dengannya sambil berteriak mengucapkan “paccingarai” artinya sebuah ajakan bertarung melawan siapa saja.

Seperti yang diutarakan salah seorang tokoh masyarakat Bugis dari Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone Bapak Amrullah Sipakatau.

Beliau mengatakan seperti biasanya di Kampung Bugis kegiatan kemasyarakatan seperti pesta panen yang didalamnya ada kegiatan massempe, mappere, dan mappadendang menjadi ajang silaturahmi dan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang diperoleh.

Bahkan tidak jarang dalam ajang ini menjadi wahana mencari pasangan hidup. Apalagi si pemenang adalah lelaki tangguh dan masih perjaka. Ia menjadi sorotan mata gadis-gadis yang turut menonton.

Amrullah Sipakatau

Sehingga pesta pernikahan di kampung Bugis umumnya dilaksanakan setelah panen. Mereka beranggapan semua pekerjaan di sawah dan dikebun sudah selesai dan sudah ada hasil.

“Jadi biasanya meskipun sudah ” sitaro ada ” namun pelaksanaan pernikahan mereka sepakat menunggu setelah panen” tutur pak Amrullah Sipakatau saat ditemui di salah satu warkop di kota Watampone, Rabu 24 Juni 2020 sekira pukul 17.00 Wita.

Konon, awalnya adu ketangkasan tersebut hanya dilaksanakan dalam keluarga bangsawan atau raja. Massempe’ dilakukan oleh hamba sahaya sebagai bentuk hiburan bagi keluarga sang raja.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, permainan itu tetap dipertahankan oleh masyarakat umum dan dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat Bugis sebagai bentuk tradisi turun temurun yang harus tetap dijaga kelestariannya.

Masih banyak kearifan lokal lainnya yang masih dilakukan hingga sekarang ini. Karena kearifan lokal merupakan muatan lokal masa lalu yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan saat ini.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...