No menu items!
Minggu, 12 Juli 20

Sejarah Mappere di Kampung Bugis

Salah tradisi Bugis yang butuh nyali besar adalah mappere atau ada pula yang menyebut mattojang.

Mappere atau mattojang adalah permainan ayunan raksasa, tingginya bisa mencapai 15 meter. Permainan ini tak hanya menjadi ajang ritual persembahan kepada manusia pertama dalam kepercayaan mitologis Bugis, tapi juga bermakna hiburan dan ajang uji nyali dan keberanian ala Suku Bugis.

Tak heran jika kampung komunitas Bugis yang terpencar di Nusantara, bahkan hingga mancanegara, biasanya lebih mudah dikenal daerah asalnya, karena nyali dan keberanian penduduknya bermain ayunan.

Pesta petani di kampung Bugis ini tidak hanya dihadiri sederet pejabat daerah, namun juga dihadiri ribuan warga dari berbagai desa bahkan tetangga kabupaten berkumpul menggelar permainan Mappere sambil uji nyali dan keberanian.

Tak heran jika pesta panen di kampung Bugis yang biasanya dimeriahkan dengan permainan Massempe’, Mallanca, Mappere, dan Mappadendang,

Mappadendang adalah seni menumbuk palungeng atau lesung dengan irama tertentu diikuti dengan tarian dan pertunjukan seni bela diri oleh Pamanca’, juga menjadi ajang wisata budaya yang selalu ramai dikunjungi warga dan pendatang lainnya.

Bahkan biasa juga rombongan wisatawan asing sengaja mampir untuk menyaksikan Mappere dan Mappadendang. Bahkan ada turis yang sempat ikut uji nyali Mappere, meski pun tampaknya Caggiri-giri. Ia tak berani menuntaskan permainan mappere karena takut.

Sejarah Mappere atau Mattojang

Dalam linguistik Bugis, Mappere berasal dari kata “pere” yang berarti ayunan. Secara kultural dalam masyarakat Bugis istilah Mappere diartikan sebagai permainan berayun atau berayun-ayun.

Permainan ini tidak terlepas dari sebuah mitos yang diyakini oleh masyarakat Bugis, bahwa mappere merupakan proses turunnya manusia pertama, yaitu Batara Guru dari Botting Langi’ atau Turunnya Batara Guru dari Negeri Khayangan ke Bumi.

Batara Guru dalam mitos kebudayaan Bugis adalah nenek dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah ayah dari La Galigo, tokoh mitologi Bugis yang melahirkan mahakarya yang sangat monumental dan termahsyur di dunia yakni kitab La Galigo.

Mappere dan mappadendang digelar pada pasca panen sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas melimpahnya hasil panen. Selain itu sebagai bentuk perghormatan kepada leluhur Bugis

Ritual Mappadendang yang semula sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur Suku Bugis, belakangan lebih banyak menonjolkan unsur hiburan dan permainannya.

Pesta Mappere juga menjadi ajang tudang sipulung dan silaturahim antar-petani. Saat pesta digelar, di tempat inilah biasanya para petani mendiskusikan berbagai masalah yang dihadapi termasuk menentukan jadwal turun sawah.

Menurut kepercayaan masyarakat Bugis, prosesi turunnya Batara Guru dari Kayangan yakni dengan menggunakan Pere Ulaweng yang berarti ayunan emas. Mitos ini pun kemudian berkembang dan menjadi bagian dari prosesi adat.

Sebagai salah satu cara untuk menjaga kelestarian kepercayaan ini, maka dibuatlah permainan adat Mappere yang kemudian berkembang menjadi permainan rakyat.

Cara Membuat Pere atau Ayunan Raksasa

Untuk membuat permainan Mappere dibutuhkan minimal empat hingga enam pohon pinang atau batang bambu besar yang tingginya kira-kira 10-15 meter.

Bayangkan saja, mendirikan ayunan dari batang pinang yang tingginya mencapai 15 meter bukanlah perkara mudah.

Diperlukan keberanian dan nyali untuk merakit dan mengikat pertemuan tiga batang pohon pinang yang telah ditanam di kedua sisi bentangan ayunan.

Kedua pilar ayunan berjarak sekitar 10 meter dihubungkan dengan bentangan pohon pinang atau bambu di bagian atas.

Pilar ayunan yang ditopang dengan tiga batang pinang di masing-masing sisi ayunan yang dipasang dalam posisi berbentuk segitiga.

Pada bentangan inilah dipasang tali ayunan yang biasanya dibuat dari kulit kerbau yang telah dikeringkan dan dianyam membentuk tali.

Tahap selanjutnya adalah membuat Tudangeng atau dudukan.

Tudangeng dibuat dari papan atau kayu kapuk (aju kawu-kawu) sebagai tempat duduk orang yang akan bermain ayunan.

Di bagian bawah tempat dudukan dipasang Peppa’ yaitu sebuah tali yang berfungsi sebagai alat penarik, saat pertama kali pemainan akan menguji nyali bermain ayunan pada ketinggian 15 meter.

Dalam tradisi Bugis, seseorang yang hendak bermian ayunan di atas tudangeng terlebih dahulu harus mengenakan baju tokko tapi biasa juga pakai kobaja’ atau kebaya. Setelah itu barulah ia bisa dipere atau diayun.

Pemain di ayunan yang biasanya didominasi perempuan atau gadis-gadis cantik ini kerap melakukan gerakan bellu’ atau semacam gerakan tangan gemulai ketika berada di ketinggian. Maka sorak sorak dan riuh rendah para penonton tak terhindarkan pula.

Tak hanya pemain ayunan yang sudah teruji keberanian dan nyalinya boleh bermain, tetapi penonton yang hadir di tempat itu juga bisa ikut ikut uji nyali Mappere secara secara bergiliran.

Peppa’ ditarik oleh dua orang laki-laki atau perempuan untuk mengayunkan orang yang duduk di atas Tudangeng. Untuk mengayunkan seorang pemain, dibutuhkan minimal dua hingga empat orang paddere, yaitu orang yang menarik tali hingga pappere bisa berayun hingga di ketinggian.

Paddere yang kuat mengayunkan pemain sering kali membuat pemain berayun hingga melebihi ketinggian bentangan tempat tali ayunan dipasang.

Pelaksanaan Mappere

Biaya pelaksanaan Mappere biasanya dipungut dari sumbangan sukarela masyarakat petani dan sumbangan para donatur lainnya. Dalam bahasa Bugis kegiatan seperti itu disebut suculu cculung atau macculu culung yaitu saling kolaborasi.

Untuk menjamu para tamu terutama warga suku Bugis dari luar daerah yang sengaja datang menyaksikan ritual dan hiburan pesta panen ini, biasanya disuguhkan makanan dan minuman.

Bahkan kerap memotong sapi hingga beberapa ekor untuk menjamu dan memuliakan para tamu yang datang secara berombongan terutama dari luar daerah.

Warga luar daerah yang ingin menyaksikan permainan Mappere tidak perlu repot membawa bekal makanan dan minuman, sebab tamu yang datang sudah disiapkan jamuan makan dan minum.

Sebelum acara puncak Mappere digelar yang biasanya dihadiri sejumlah pejabat seperti bupati dan gubernur, acara pra Mappere dimulai sekitar dua pekan sebelum acara puncak.

Waktu dua pekan tersebut biasanya dihadiri ratusan bahkan ribuan warga dari berbagai pelosok daerah. Sebagian datang untuk sekadar menyaksikan kemeriahan pesta adat petani tersebut, namun juga sebagian ikut mappere.

Must read

Kawasan Peruntukan Pariwisata Kabupaten Bone

Peruntukan pariwisata di Kabupaten Bone terdiri pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan. Hal ini berdasarkan Rancangan Perda Kabupaten Bone Nomor 2 Tahun 2013 Tentang...

Sejumlah Seniman Jadi Juri Lomba Festival Aksara Lontara’ 2020

Sejumlah seniman senior akan mengambil peran sebagai juri dalam kegiatan lomba serangkaian Festival Aksara Lontara' 2020. Lomba ini digelar selain memeriahkan Festival Aksara Lontara', sekaligus...

Cara La Patau Membangun Benteng Cenrana

Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone merupakan peninggalan La Patau Matanna Tikka raja Bone ke-16. La Patau Matanna Tikka lahir pada Tanggal 3 November 1672...

Sejarah Situs Cenrana Kabupaten Bone

Sejak berabad-abad yang lalu wilayah Cenrana memainkan peranan penting dalam pembentukan sejarah budaya di Sulawesi Selatan. Cenrana sebagai kelanjutan sungai Walennae memiliki lembah-lembah sungai yang...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles

Latest article

Sejarah, Penetapan, dan Makna Hari Jadi Bone

Hari Jadi Bone yang selanjutnya disingkat HJB adalah sebuah istilah yang merujuk kepada penetapan Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor 1 Tahun 1990 Tanggal 22...

Jumlah Penduduk Sulawesi Selatan Tahun 2019

Jumlah penduduk Sulawesi Selatan pada 2019 mencapai 8.815.197 (8,8 juta) jiwa. Adapun penduduk terbanyak berada di Kota Makassar, yakni 1,5 juta jiwa. Sementara wilayah dengan...

Siswa SMAN 21 Makassar, Nonton Bareng Sambil Belajar Sejarah

Dalam mata pelajaran sejarah, lebih sering diajarkan tentang sejarah perjalanan agama-agama resmi yang diakui negara seperti Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Jarang ada...

Sejarah Songkok To Bone

Sebenarnya masalah ini, kami telah mengulasnya beberapa tahun silam, namun karena masih sering ada pertanyaan yang masuk, maka kami mengulasnya kembali. Songkok Recca biasa juga...