No menu items!
2 C
Munich
Selasa, 24 November 20

Sejarah Mappere di Kampung Bugis

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Salah tradisi Bugis yang butuh nyali besar adalah mappere atau ada pula yang menyebut mattojang.

Mappere atau mattojang adalah permainan ayunan raksasa, tingginya bisa mencapai 15 meter. Permainan ini tak hanya menjadi ajang ritual persembahan kepada manusia pertama dalam kepercayaan mitologis Bugis, tapi juga bermakna hiburan dan ajang uji nyali dan keberanian ala Suku Bugis.

Tak heran jika kampung komunitas Bugis yang terpencar di Nusantara, bahkan hingga mancanegara, biasanya lebih mudah dikenal daerah asalnya, karena nyali dan keberanian penduduknya bermain ayunan.

Pesta petani di kampung Bugis ini tidak hanya dihadiri sederet pejabat daerah, namun juga dihadiri ribuan warga dari berbagai desa bahkan tetangga kabupaten berkumpul menggelar permainan Mappere sambil uji nyali dan keberanian.

Tak heran jika pesta panen di kampung Bugis yang biasanya dimeriahkan dengan permainan Massempe’, Mallanca, Mappere, dan Mappadendang,

Mappadendang adalah seni menumbuk palungeng atau lesung dengan irama tertentu diikuti dengan tarian dan pertunjukan seni bela diri oleh Pamanca’, juga menjadi ajang wisata budaya yang selalu ramai dikunjungi warga dan pendatang lainnya.

Bahkan biasa juga rombongan wisatawan asing sengaja mampir untuk menyaksikan Mappere dan Mappadendang. Bahkan ada turis yang sempat ikut uji nyali Mappere, meski pun tampaknya Caggiri-giri. Ia tak berani menuntaskan permainan mappere karena takut.

Sejarah Mappere atau Mattojang

Dalam linguistik Bugis, Mappere berasal dari kata “pere” yang berarti ayunan. Secara kultural dalam masyarakat Bugis istilah Mappere diartikan sebagai permainan berayun atau berayun-ayun.

Permainan ini tidak terlepas dari sebuah mitos yang diyakini oleh masyarakat Bugis, bahwa mappere merupakan proses turunnya manusia pertama, yaitu Batara Guru dari Botting Langi’ atau Turunnya Batara Guru dari Negeri Khayangan ke Bumi.

Batara Guru dalam mitos kebudayaan Bugis adalah nenek dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah ayah dari La Galigo, tokoh mitologi Bugis yang melahirkan mahakarya yang sangat monumental dan termahsyur di dunia yakni kitab La Galigo.

Mappere dan mappadendang digelar pada pasca panen sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas melimpahnya hasil panen. Selain itu sebagai bentuk perghormatan kepada leluhur Bugis

Ritual Mappadendang yang semula sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur Suku Bugis, belakangan lebih banyak menonjolkan unsur hiburan dan permainannya.

Pesta Mappere juga menjadi ajang tudang sipulung dan silaturahim antar-petani. Saat pesta digelar, di tempat inilah biasanya para petani mendiskusikan berbagai masalah yang dihadapi termasuk menentukan jadwal turun sawah.

Menurut kepercayaan masyarakat Bugis, prosesi turunnya Batara Guru dari Kayangan yakni dengan menggunakan Pere Ulaweng yang berarti ayunan emas. Mitos ini pun kemudian berkembang dan menjadi bagian dari prosesi adat.

Sebagai salah satu cara untuk menjaga kelestarian kepercayaan ini, maka dibuatlah permainan adat Mappere yang kemudian berkembang menjadi permainan rakyat.

Cara Membuat Pere atau Ayunan Raksasa

Untuk membuat permainan Mappere dibutuhkan minimal empat hingga enam pohon pinang atau batang bambu besar yang tingginya kira-kira 10-15 meter.

Bayangkan saja, mendirikan ayunan dari batang pinang yang tingginya mencapai 15 meter bukanlah perkara mudah.

Diperlukan keberanian dan nyali untuk merakit dan mengikat pertemuan tiga batang pohon pinang yang telah ditanam di kedua sisi bentangan ayunan.

Kedua pilar ayunan berjarak sekitar 10 meter dihubungkan dengan bentangan pohon pinang atau bambu di bagian atas.

Pilar ayunan yang ditopang dengan tiga batang pinang di masing-masing sisi ayunan yang dipasang dalam posisi berbentuk segitiga.

Pada bentangan inilah dipasang tali ayunan yang biasanya dibuat dari kulit kerbau yang telah dikeringkan dan dianyam membentuk tali.

Tahap selanjutnya adalah membuat Tudangeng atau dudukan.

Tudangeng dibuat dari papan atau kayu kapuk (aju kawu-kawu) sebagai tempat duduk orang yang akan bermain ayunan.

Di bagian bawah tempat dudukan dipasang Peppa’ yaitu sebuah tali yang berfungsi sebagai alat penarik, saat pertama kali pemainan akan menguji nyali bermain ayunan pada ketinggian 15 meter.

Dalam tradisi Bugis, seseorang yang hendak bermian ayunan di atas tudangeng terlebih dahulu harus mengenakan baju tokko tapi biasa juga pakai kobaja’ atau kebaya. Setelah itu barulah ia bisa dipere atau diayun.

Pemain di ayunan yang biasanya didominasi perempuan atau gadis-gadis cantik ini kerap melakukan gerakan bellu’ atau semacam gerakan tangan gemulai ketika berada di ketinggian. Maka sorak sorak dan riuh rendah para penonton tak terhindarkan pula.

Tak hanya pemain ayunan yang sudah teruji keberanian dan nyalinya boleh bermain, tetapi penonton yang hadir di tempat itu juga bisa ikut ikut uji nyali Mappere secara secara bergiliran.

Peppa’ ditarik oleh dua orang laki-laki atau perempuan untuk mengayunkan orang yang duduk di atas Tudangeng. Untuk mengayunkan seorang pemain, dibutuhkan minimal dua hingga empat orang paddere, yaitu orang yang menarik tali hingga pappere bisa berayun hingga di ketinggian.

Paddere yang kuat mengayunkan pemain sering kali membuat pemain berayun hingga melebihi ketinggian bentangan tempat tali ayunan dipasang.

Pelaksanaan Mappere

Biaya pelaksanaan Mappere biasanya dipungut dari sumbangan sukarela masyarakat petani dan sumbangan para donatur lainnya. Dalam bahasa Bugis kegiatan seperti itu disebut suculu cculung atau macculu culung yaitu saling kolaborasi.

Untuk menjamu para tamu terutama warga suku Bugis dari luar daerah yang sengaja datang menyaksikan ritual dan hiburan pesta panen ini, biasanya disuguhkan makanan dan minuman.

Bahkan kerap memotong sapi hingga beberapa ekor untuk menjamu dan memuliakan para tamu yang datang secara berombongan terutama dari luar daerah.

Warga luar daerah yang ingin menyaksikan permainan Mappere tidak perlu repot membawa bekal makanan dan minuman, sebab tamu yang datang sudah disiapkan jamuan makan dan minum.

Sebelum acara puncak Mappere digelar yang biasanya dihadiri sejumlah pejabat seperti bupati dan gubernur, acara pra Mappere dimulai sekitar dua pekan sebelum acara puncak.

Waktu dua pekan tersebut biasanya dihadiri ratusan bahkan ribuan warga dari berbagai pelosok daerah. Sebagian datang untuk sekadar menyaksikan kemeriahan pesta adat petani tersebut, namun juga sebagian ikut mappere.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...