No menu items!
2 C
Munich
Kamis, 3 Desember 20

Cara La Patau Membangun Benteng Cenrana

Must read

Sejarah Situs Gua Mampu

As.Al.Wr.Wb. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan tentang sejarah Gua Mampu yang berada di Dusun Aluppang Desa Cabbeng Kecamatan Dua Boccoe Kab.Bone Sulawesi Selatan. Saya akan...

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone merupakan peninggalan La Patau Matanna Tikka raja Bone ke-16.

La Patau Matanna Tikka lahir pada Tanggal 3 November 1672 dan Wafat Tanggal 17 September 1714. Ia dilantik menjadi raja Bone ke-16 pada Tanggal 6 April 1696.

Nama lengkapnya adalah La Patau Matanna Tikka, Sultan Alimuddin Idris, Walinonoe To Tenribali Malae Sanrang Matinroe ri Nagauleng. Dialah yang menjadi raja setelah pamannya La Tenritatta Arung Palakka meninggal dunia.

Dalam pemerintahannnya di Bone, La Patau Matanna Tikka selalu berusaha menjalin hubungan bilateral dengan kerajaan besar lainnya seperti Luwu dan Gowa.

Dalam menjalin hubungan erat dilakukan melalui perkawinan antar keluarga kerajaan. Olehnya itu dikawinilah putri payung Luwu We Ummu Datu Larompong dari keluarga kerajaan Luwu.

Selain itu untuk menjalin kekeluargaan dengan Gowa ia kawin dengan Sitti Mariama Karaeng Patukangan putri somba dari kerajaan Gowa. Tidak hanya itu,

Ia juga menjalin kekerabatan melalui perkawinan dengan kerajaan sekitarnya seperti kerajaan Mampu dan Soppeng.

Keberhasilan La Patau Matanna Tikka dalam menjalankan misinya itu tergambar dalam pembuatan benteng di Cenrana.

Batu gunung yang digunakan untuk membangun benteng didatangkan dari kerajaan Mampu yang berada di sekitar gunung Mampu saat ini. Hal itu dilakukan karena di daerah Cenrana langka dengan batu yang dibutuhkan.

Proses pengangkatan batu-batu dari kerajaan Mampu menuju Cenrana dilakukan dengan cara berantai (estafet). Ribuan pekerja berjejer sepanjang Mampu-Cenrana.

Mereka para pekerja berdiri setiap lima puluh meter kemudian dioper lagi ke pekerja lainnya. Sehingga para pekerja tidak merasakan beban penat saat mengangkat batu.

Budaya gotong royong ternyata sudah diterapkan La Patau Matanna Tikka sehingga pekerjaan berat akan menjadi ringan.

Pintu gerbang benteng di situs Cenrana sengaja dibangun yang di depannya merupakan jalan yang langsung menuju daerah Mampu setelah menyeberangi sungai Watu.

Sebelumnya di sungai Watu terdapat bendungan (bugis: teppo’) namun telah bobol terbawa arus sehingga di daerah itu disebut rumpa’e (yang bobol).

Menghadapnya pintu gerbang benteng ke arah Mampu menunjukkan pentingnya akses antara Cenrana-Mampu.

Sepanjang jalanan menuju kerajaan Mampu terdapat toponim (nama-nama tempat) seperti Allappungeng (tempat berkumpul), Getteng (menarik), Attang (sebelah selatan), Maralle (daerah antara dua kampung).

Daerah toponim lainnya yaitu Adingnge (semacam pohon yang dapat dimakan buahnya), Turungeng (jalan yang menurun ke sungai), Sijelling (saling melirik), Pattiro Mampu (sudah terlihat daerah mampu).

Pemberian nama-nama daerah toponim tersebut merupakan proses aktivitas dan mobilitas masyarakat yang dipimpin La Patau Matanna Tikka di masa kerajaan Bone yang berpusat di istana Bone Balla Cenrana.

 

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Sejarah Situs Gua Mampu

As.Al.Wr.Wb. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan tentang sejarah Gua Mampu yang berada di Dusun Aluppang Desa Cabbeng Kecamatan Dua Boccoe Kab.Bone Sulawesi Selatan. Saya akan...

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...