No menu items!
0.5 C
Munich
Kamis, 3 Desember 20

Sejarah Massaung Manu

Must read

Sejarah Situs Gua Mampu

As.Al.Wr.Wb. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan tentang sejarah Gua Mampu yang berada di Dusun Aluppang Desa Cabbeng Kecamatan Dua Boccoe Kab.Bone Sulawesi Selatan. Saya akan...

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Massaung manu’ biasa juga disebut Mappabbitte Manu. Dalam bahasa Indonesia berarti Sabung Ayam.

Massaung manu’ adalah sejenis permainan yang sudah dilakukan sejak dahulu kala yang hanya dilakukan keluarga kerajaan dan bangsawan Bugis.

Permainan massaung kerap dilaksanakan pada pagi atau sore hari untuk memeriahkan pesta-pesta adat seperti pelantikan raja, perkawinan, dan panen raya.

Permainan ini bermula dari kegemaran para raja yang kerap mempertarungkan pemuda-pemuda di seluruh wilayah kerajaannya untuk mencari tobarani-tobarani (pahlawan) kerajaan yang akan dibawa ke medan pertempuran.

Jadi, pada waktu itu yang disabung bukanlah ayam melainkan manusia. Namun, lama-kelamaan, mungkin karena semakin jarangnya terjadi peperangan antarkerajaan, sehingga pertarungan antarmanusia itu berubah menjadi pertarungan antarayam yang dinamakan massaung manu’ atau mappabbitte manu’.

Pada waktu itu permainan tidak hanya dilakukan di dalam sebuah kerajaan, tetapi juga antarkerajaan dengan tujuan tidak hanya sekadar hobi tetapi juga sebagai ajang adu prestasi, gengsi dan perjudian.

Pemilik yang ayamnya selalu menang akan dianggap sebagai orang yang berhasil melatih ayam aduannya, dan kedudukannya akan dipandang lebih tinggi di kalangan para pengadu ayam.

Kemudian, ayam aduan yang selalu menang dalam pertarungan akan menjadi “maskot” kerajaan sebagai lambang keberanian.

Nama pemiliknya pun akan dikenal oleh seluruh penduduk, baik di dalam maupun di kerajaan-kerajaan lainnya.

Bahkan, ketika itu banyak pahlawan Bugis yang sering menggunakan julukan yang sama seperti nama-nama ayam yang terkenal di daerahnya masing-masing.

Misalnya, La Bakka Marowe, I Segong Ri Panaikang, Buleng Lengna Lantebung, Cambang Toana Labbakang, Korona Jalanjang, Campagana Maccinibaji dan lain sebagainya.

Dalam perkembangannya, permainan yang disebut sebagai massaung manu’ ini tidak hanya dimainkan oleh kaum bangsawan saja, melainkan juga oleh oleh rakyat jelata.

Permainan juga dapat dilakukan kapan saja, tanpa harus menunggu adanya pesta-pesta adat terlebih dahulu.

Saat ini permainan massaung manu’ dilarang oleh pemerintah, di samping karena lebih menekankan pada motif perjudian, juga dianggap terlalu kejam dan merendahkan martabat manusia.

Padahal, bagi masyarakat “tradisional” Bugis, menganggap bahwa sesuatu yang berlaga hingga mengeluarkan darah, dipercaya akan menambah keberanian dan kesaktian.

Jumlah Pemain :

Jumlah pemain massaung manu: tidak dibatasi. Namun, untuk satu kali pertandingan hanya diikuti oleh dua orang peserta karena ayam yang akan diadukan harus satu melawan satu.

Kemudian daripada itu Massaung manu’ ini hanya dimainkan oleh laki-laki, dari usia remaja hingga orang dewasa atau tua.

Tempat Permainan:

Permainan massaung manu dapat dilakukan di mana saja, asalkan memiliki arena yang berbentuk lingkaran atau persegi empat seluas sekitar 5 x 5 meter.

Jadi, bisa di pekarangan rumah maupun lapangan. Permainan ini biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari.

Peralatan Permainan:

Peralatan yang digunakan dalam permainan ini adalah: ayam, taji, dan kayu bercagak.

Ayam yang akan diadu bukan sembarang ayam, tetapi ayam jantan yang dinilai kuat, besar dan tangguh dalam bertarung.

Ayam-ayam yang telah dipilih menjadi ayam-aduan biasanya akan dirawat dengan sangat baik.

Adakalanya ayam-ayam ini dimantrai atau dijampi-jampi lebih dahulu agar dapat mengalahkan lawannya.

Taji adalah senjata yang diikatkan pada kaki ayam agar serangannya efektif dan mematikan. Alat ini terbuat dari logam dan berbentuk runcing menyerupai keris atau badik kecil.

Kayu bercagak pada saatnya akan diselipkan di leher ayam yang kalah untuk dipatuk oleh ayam yang menang.

Aturan Permainan:

Peraturan permainan massaung manu’ tergolong sederhana, yaitu apabila dua ekor ayam jantan diadukan dan salah satu di antaranya kalah atau mati, maka ayam yang dapat mengalahkannya dinyatakan sebagai pemenang.

Proses Permainan:

Permainan dimulai dengan pengundian untuk menentukan ayam siapa saja yang nantinya mendapat giliran untuk bertarung.

Setelah urutan peserta yang ayamnya akan bertarung ditetapkan, maka bagi yang mendapat giliran pertama akan memasukkan ayamnya ke dalam arena.

Kemudian, ayam-ayam tersebut oleh pemiliknya akan dipasangi sebilah atau dua bilah taji, bergantung kesepakatan para pemilik ayam.

Orang Bugis menyebut pemasangan taji ini sebagai rinrelengngi, sedangkan orang Makassar menyebutnya nibulanggi. Setelah itu, ayam diadu sampai ada yang kalah atau mati.

Pada saat kedua ayam berlaga, penonton bersorak-sorai menyemangati ayam yang dijagokannya. Sementara, pemilik ayam berkeliling, menyemangati ayamnya dengan teriakan, dan sekaligus mengawasinya (berjaga-jaga).

Ayam yang “kalah” lehernya akan dijepit dengan kayu bercagak. Kemudian, ayam yang menang harus mematuk kepalanya sejumlah tiga kali.

Tetapi jika ayam yang menang itu tidak dapat mematuk sejumlah tiga kali, maka permainan dianggap seri.

Nilai Budaya Massaung Manu’

Walaupun pemerintah dan sebagian masyarakat Bugis menganggap bahwa permainan massaung manuk bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan, namun lepas dari masalah itu sesungguhnya permainan ini mempunyai nilai yang sangat berguna dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai itu adalah: kerja keras, kreativitas dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari perawatan ayam aduan yang dilakukan dengan sangat baik melebihi perawatan ayam-ayam biasa yang bukan aduan.

Di samping merawat, pemilik ayam juga harus melatih ayam aduannya agar semakin lihai dalam bertarung.

Nilai kreativitas tercermin dari cara-cara yang dilakukan oleh pemilik ayam dalam memilih ayam aduan yang baik dan dalam menggunakan peralatan-peralatan khusus (taji) agar ayamnya dapat menang secara cepat dan efektif.

Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada ketika ayamnya kalah atau mati.

Permainan massaung manu’ ini masih kerap dilakukan oleh kelompok tertentu hingga sekarang, namun sekadar permainan belaka dan tidak ada taruhan.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Sejarah Situs Gua Mampu

As.Al.Wr.Wb. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan tentang sejarah Gua Mampu yang berada di Dusun Aluppang Desa Cabbeng Kecamatan Dua Boccoe Kab.Bone Sulawesi Selatan. Saya akan...

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...