No menu items!
12.2 C
Munich
Kamis, 22 Oktober 20

Makna Filosofi Bugis Ada Na Gau

Must read

Selamat Hari Kesaktian Pacasila

JANGAN LUPAKAN SEJARAH Banyak peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang harus diingat oleh masyarakat apalagi generasi muda. Salah satunya adalah peristiwa Gerakan 30 September atau yang...

Daramatasia

Cerita I Daramatasia adalah salah satu cerita rakyat lisan yang ada di tengah-tengah masyarakat Bugis Sulawesi Selatan. Cerita ini masih hidup hingga sekarang apalagi...

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Deretan filosofi Bugis yang dikenal selama ini sangat banyak yang mengandung pesan-pesan dengan makna sangat dalam. Pesan-pesan itu dilambangkan dalam bentuk ucapan dan kata-kata.

Pesan berupa rangkaian kata-kata itu biasanya pendek-pendek akan tetapi mengandung arti dan makna komprehensip. Karena itu, tergantung cara memahami dan meletakkan pemaknaan bahasanya.

Meskipun filosofi Bugis umumnya tersusun dengan kalimat pendek-pendek namun sarat dengan pesan yang dalam. Kalimat tersebut berisi prinsip hidup yang memberikan acuan dan semangat hudup yang berlaku terus menerus.

Rangkaian kata-kata tersebut bernilai bijak dan sakral dalam kehidupan Bugis sehingga mereka menyebutnya sebagai “paseng”. Bila dilanggar mempunyai konsekuensi yang harus ditanggung.

Filosofi sendiri adalah kata serapan dari bahasa Inggris, yakni philosophy yang artinya cinta kebijaksanaan. Sehingga filosofi itu merupakan rangkaian kata yang mempunyai makna sangat dalam.

Salah satu ungkapan Bugis yang bernilai filosofis adalah ADA Na GAU’ artinya KATA dan PERBUATAN. Ungkapan ini memang hanya terdiri dua kata, namun apabila dibedah dan dimaknai akan menjadi deskripsi yang sangat panjang.

Secara umum ADA Na GAU’ berarti kata yang diucapkan tidak boleh bertentangan dengan perbuatan. Jika seseorang telah mengeluarkan ucapan yang berakhir di ujung lidah, maka ucapannya itu harus dipertanggungjawabkan.

Apabila ucapan yang sudah dikeluarkan tidak dapat dipertanggungjawabkan atau menyangkal berarti secara perbuatan orang tersebut sudah menyalahi filosofi Ada Na Gau.
Orang tersebut layak disebut sebagai orang yang hanya mempunyai prinsip ADA Na CIGAU’ artinya KATA dan KURANG AJAR. Orang Bugis menyebutnya “Pareare”.

Kata-kata filosofi Bugis sesungguhnya tidak lahir begitu saja, melainkan melalui praktik dan proses hidup yang cukup panjang dan teruji. Hal tersebut didasari prilaku dan tindakan terbaik dalam melakukan hubungan sosial antara sesama kaum Bugis dan kaum lainnya.

Berani mengatakan yang benar dan salah harus seiring dengan tingkah laku dan perbuatan merupakan salah satu tujuan filosofi tersebut. Selain itu apa yang diucapkan harus dipertanggungjawabkan melalui perbuatan.

Makna filosofi Bugis Ada Na Gau ini sangat erat hubungannya dengan unsur kesempurnaan hidup manusia Bugis yang mengatakan ” riasengngi tau nasaba gau’na ” artinya dinamakan manusia karena atas perbuatannya. Hal ini bermakna, bahwa hanyalah tutur kata dan perbuatan disertai prilaku yang baik bisa disebut sebagai manusia.

Dalam unsur kesempurnaan hidup manusia Bugis dijelaskan, bahwa tutur kata mewujudkan perbuatan, kemudian perbuatanlah yang mewujudkan sebagai manusia, selanjutnya manusia mewujudkan kebaikan.

Nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi Ada Na Gau, antara lain : berkata jujur, berani, tanggung jawab, dan harga diri sebagai manusia.

Ada Na Gau tidak berarti meskipun dalam posisi salah tetap harus dipertahankan. Melainkan bagaimana memunculkan sifat satria sebagai manusia.

Sementara Taro Ada Taro Gau pemaknaannya kurang lebih sama Ada Na Gau, yaitu sama perkataan dengan perbuatan. Apa yang terucap dari mulut haruslah seiring dengan perbuatan, dan konsistensi perbuatan dengan apa yang telah dikatakan. Jika sudah mengatakan merah, maka pantang untuk mengubahnya.

Seringkali harga diri dan martabat seseorang hilang karena tutur kata dan perbuatannya sendiri. Ia tidak memiliki pendirian yang hanya mengikuti arah ke mana angin bertiup. Mereka sulit membangun integritas diri.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Selamat Hari Kesaktian Pacasila

JANGAN LUPAKAN SEJARAH Banyak peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang harus diingat oleh masyarakat apalagi generasi muda. Salah satunya adalah peristiwa Gerakan 30 September atau yang...

Daramatasia

Cerita I Daramatasia adalah salah satu cerita rakyat lisan yang ada di tengah-tengah masyarakat Bugis Sulawesi Selatan. Cerita ini masih hidup hingga sekarang apalagi...

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...