No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Pongka Sebuah Perkampungan Kono

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Pongka adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tellu Siattingnge Kabupaten Bone. Dari beberapa penelitian Pongka sebenarnya merupakan kawasan situs.

Adapun faktor-faktor yang mendukung terbentuknya wilayah pemukiman di situs Pongka meliputi temuan non-fragmental dan temuan fragmental.

Faktor yang berpengaruh terhadap terbentuknya wilayah pemukiman di Situs Pongka adalah faktor politik, yang erat kaitannya dengan keamanan lokasi.

Situs Pongka merupakan sebuah perkampungan tua di mana masyarakatnya merupakan para migran yang berasal dari Daerah Baringeng, Kerajaan Soppeng.

Selain itu keberadaan Pongka sebagai sebuah perkampungan kuno dapat diketahui dari tradisi tutur masyarakat Pongka, yang mengisahkan bahwa dahulu kala Pongka dibangun oleh sekelompok migran yang berasal dari daerah Baringeng Soppeng.

Data arkeologis yang ditemukan di desa Pongka yaitu sebaran fragmen seperti
tembikar, porselin, stoneware, terakota,
artefak batu, batu dakon, sumur batu,
cangkang kerang, gigi hewan, tulang hewan, sumur, serta kompleks makam.

Selain itu terdapat pula tradisi tutur masyarakat dan prosesi adat Sirawu Sulo ( Perang Api ) yang menceritakan sejarah terbentuknya Kampung Pongka.

Letak Situs Pongka:

Situs Pongka berada di Dusun Tengnga-Tengngae yang berbatasan dengan Desa Prajamaju (Kecamatan Dua Boccoe) pada bagian utaranya, Dusun Alaugalung (Desa Pongka) pada bagian timur, Desa Wellulang (Kecamatan Amali) pada bagian selatan dan Dusun Ajangkalung (Desa Pongka) pada bagaian baratnya.

Bagian utara Situs Pongka berbatasan dengan areal perkebunan kakao, jagung, serta perkampungan, bagian timurnya berbatasan dengan kebun jagung, bagian selatan dengan kebun jagung dan bukit pongka, kemudian bagian baratnya juga dikelilingi oleh hamparan perkebunan jagung, kakao, serta areal perbukitan.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa Situs Pongka dikelilingi oleh areal perkebunan masyarakat dengan kondisi yang berbukit-bukit.

Situs Pongka ini terdiri dari beberapa sektor, yaitu makam Petta Pabbaranie, Watang tanae dan Warue.

Areal kompleks makam Petta Pabbaranie saat ini, merupakan lahan perkebunan jagung dan kapas milik warga.

Kondisi topografi di sekitar kompleks makam berupa daerah perbukitan yang landai dengan beberapa sungai musiman yang mengalir di bagian barat dan timurnya.

Temuan makam kuno yang terdapat pada
kompleks makam Petta Pabbaranie tersebut memiliki beberapa jenis, yaitu makam bernisan monolit tanpa jirat, makam bernisan dipahat dengan jirat papan batu, dan makam dengan nisan kayu.

Di tengah kompleks makam terdapat sebuah makam yang dipercaya masyarakat sebagai makam Petta Pabbaranie, pemimpin masyarakat Pongka pada masa lalu.

Makam Petta Pabbaranie berorientasi utara selatan dan memiliki nisan dari kayu berbentuk silindrik dengan diameter 13 cm, serta tinggi 75 cm.

Sementara Jirat makam terbuat dari semen berbentuk segi empat dengan panjang 188 cm, lebar 138 cm dan tinggi dari permukaan tanah sekitar 21 cm.

Makam Petta Pabbaranie merupakan satu-satunya makam pada kompleks ini yang bernisan kayu.

Sementara itu sektor Watang tanae berada di sekitar areal perkebunan milik warga. Kondisi topografi sekitar sektor berupa lereng perbukitan yang landai.

Menurut cerita masyarakat sektor Watang Tanae merupakan daerah dilaksanakannya prosesi adat Sirawu Sulo untuk pertama kalinya.

Adapun temuan arkeologis yang terdapat pada sektor WatangTanae berupa sebuah altar, batu dakon, sumur batu, dan sebuah nisan.

Warue adalah sebuah sumur tua yang berada di MTS As’adiyah Pongka. Warue saat ini difungsikan sebagai sumur sekolah. Kondisi topografi sumur Warue berupa lereng bukit yang landai.

Menurut warga setempat Sumur Warue merupakan sumber air bagi masyarakat Pongka pada masa lalu. Ditemukan beberapa fragmen tembikar yang tersebar di sekitar Sumur Warue.

Kemudian sumur Taddapi terletak di Ajangkalung. Dinamakan Taddapi karena karena tidak pernah kering meskipun musim kemarau. Saat ini difungsikan untuk keperluan air minum dan mandi warga setempat.

Kemudian sebarab temuan fragmental juga ditemukandi sekitar Bukit Pongka yang
merupakan areal perkebunan jagung miliki
masyarakat. Kondisi topografi Bukit Pongka berupa daerah perbukitan yang kelerengannya bervariasi.

Adapun temuan arkeologis yang terdapat di sektor Bukit Pongka ini yaitu fragmen tembikar, stoneware, porselin, artefak batu, fragmen tulang, gigi, dan beberapa cangkang molusca.

Toponim (Penamaan tempat):

Selain temuan-temuan artefak, terdapat beberapa toponim yang terkait dengan pemukiman masyarakat Pongka pada masa lalu. Toponim tersebut yaitu Topotte, Paddeppa’ Busu, dan Barugae.

Toponim Topotte merupakan daerah
perbukitan. Menurut tradisi tutur masyarakat setempat, bahwa Topotte dahulunya merupakan tempat masyarakat Pongka masa lalu melakukan aktivitas pertanian.

Topotte juga pernah menjadi tempat tinggal sementara para prajurit dari Baringeng ketika datang hendak menyerang Petta Pabbaranie dan masyarakat Pongka.

Walaupun demikian para prajurit dari Baringeng itu tidak tinggal lama sebab di Topotte mereka terserang sebuah wabah penyakit yaitu sakit perut yang menewaskan para anggota
prajurit satu persatu sehingga mereka
akhirnya kembali ke Baringeng.

Tidak ditemukan adanya artefak di Topotte namun diperoleh gambaran tentang kondisi lingkungan Topotte secara umum.

Kondisi tanah di sektor Topotte memang potensial untuk dijadikan areal pertanian sebab lapisan tanahnya tebal, berbeda dengan yang dijumpai pada areal sebaran temuan artefaktual yang mana kondisi tanahnya tipis karena didominasi oleh batu gamping.

Toponim Paddeppa’ Busu terletak
sekitar 114 m di sebelah tenggara Topotte. Kondisi topografi pada areal Paddeppa’ Busu merupakan lereng bukit.

Berdasarkan tradisi tutur yang berkembang diceritakan bahwa nama Paddeppa’ Busu yang berarti “pemecah kendi”.

Kendi tersebut pecah ketika nenek monyang masyarakat Pongka masa lalu lewat di daerahtersebut.

Wadah-wadah berupa kendi tersebut pecah
akibat curamnya medan di daerah tersebut sehingga orang-orang yang lewat dengan membawa air di dalam bejana terpeleset dan menjatuhkan wadah tembikar bersama air yang mereka bawa.

Penjelasan:

Dari beberapa penelitian diketahui bahwa data-data arkeologis yang terdapat di Situs Pongka dibedakan menjadi dua bagian utama yaitu temuan yang bersifat profan (keperluan sehari-hari) dan sakral.

Temuan fragmental berupa fragmen tembikar, fragmen porselin, dan artefak batu ditemukan bersama dalam satu konteks yaitu pada area bagian barat laut Bulu Pongka.

Kemudian bersama dengan temuan fragmental tersebut ditemukan pula beberapa buah cangkang moluska, dan tulang binatang yang mengindikasikan fungsi profan (keperluan hidup sehari-hari).

Temuan selanjutnya yang berindikasi profan dalam fungsinya juga terlihat dari hubungan antara sumur Waruwae dan sebaran fragmen terbikar yang terdapat di sekitarnya.

Unsur kesamaantemuan di sektor Watangtanae, yaitu batu dakon, batu nisan, altar, dan sumur batu. Dimana temuan-temuan tersebut berfungsi sakral untuk ritual upacara tertentu.

Fungsi ritual juga terdapat pada kompleks makam Petta Pabbaranie sebagai areal pemakaman.

Berdasarkan sebaran dan fungsi temuan yang ada, maka dapat diidentifikasi beberapa bentuk aktivitas yang pernah berlangsung di Situs Pongka.

Setidaknya ada empat bentuk aktivitas
yang pernah berlangsung di Situs Pongka
yaitu aktivitas rumah tangga, perbengkelan, ekonomi dan aktivitas religi.

Aktivitas ekonomi dapat dilihat dari
temuan-temuan seperti porselin, stoneware, fragmen tulang, gigi, dan cangkang molusca.

Fragmen porselin dan stoneware sebagai
barang impor menggambarkan bahwa
masyarakat Pongka pada masa lalu sudah
mengenal kontak dengan dunia luar yang
mungkin melalui media perdagangan.

Fragmen tulang dan gigi memberikan
gambaran bahwa masyarakat Pongka pada masa lalu melakukan aktivitas konsumsi hewan tertentu.

Sebagaimana dengan fragmen porselin dan stoneware, kehadiran cangkang molusca yang didominasi oleh moluska laut dangkal.

Hal ini menyiratkan telah berlangsungnya kontak antara masyarakat Pongka yang bermukim agak jauh dari pantai (sekitar 20 km) dengan komunitas-komunitas lain yang bermukim di sekitar pantai.

Bentuk aktivitas ekonomi lain dapat
kita telusuri dari tradisi tutur masyarakat
yang menceritakan bahwa di sekitar Topotte dahulunya merupakan daerah pertanian.

Hal tesebut didukung oleh kondisi lapisan tanah disekitar Topotte yang cukup tebal dan memungkinkan untuk diolah sebagai lahan pertanian.

Bukti-bukti terkait aktivitas religi yang dilaksanan oleh masyarakat Pongka pada masa lalu, dapat kita lihat dari keberadaan kompleks makam Petta Pabbaranie.

Aktivitas religi juga di sekitar daerah
Watang tanae (batu dakon, altar, dan sumur batu), sebab daerah Watangtanae pada masa sekarang masih disakralkan oleh masyarakat yang berfungsi sebagai tempat prosesi adat Sirawu Sulo.

Terbentuknya pemukiman:

Masyarakat Pongka membentuk daerah pemukiman mereka dilatarbelakangi oleh faktor politik yang berhubungan dengan keamanan lokasi, dan faktor lingkungan yang memungkinkan untuk dimanfaatkan.

Sebagaimana yang dikisahkan dalam tradisi tutur masyarakat Pongka, bahwa mereka melakukan migrasi dari tanah asal mereka di Baringeng akibat adanya ketidaksepakatan terhadap penindasan yang dilakukan oleh raja Baringeng pada waktu itu.

Hal inilah kemudian mendorong mereka untuk pergi mencari daerah tempat tinggal baru, yang dianggap aman dan jauh dari jangkauan kekuasaan Wanua Baringeng.

Hal ini diperkuat oleh penuturan masyarakat yang menceritakan bahwa di sekitar Bulu Pongka dulunya terdapat struktur benteng dari batu yang disusun sedemikian rupa untuk menghalangi penyerangan yang dilakukan oleh prajurit utusan kerajaan Baringeng.

Namun saat ini jejak-jejak keberadaan benteng tersebut telah hilang sebab daerah lokasi benteng sudah dijadikan lahan perkebunan, dan batu-batu bentengnya telah dijadikan material bangunan oleh masyarakat saat ini.

Berdasarkan potensi lingkugan utamanya ketersediaan sumber air, di sekitar daerah Bulu Pongka adalah daerah kering, sebab jarak sungai besar terdekat dari sekitar daerah Bulu Pongka adalah sekitar 1,2 km ke sebelah tenggara. .

Walaupun demikian, terdapat sebuah sumur Warue dan sungai musiman di sebelah timur dan barat kompleks makam Petta Pa Baranie yang dapat menyokong kebutuhan air masyarakat Pongka pada masa lalu.

Kondisi permukaan tanah di sekitar Bulu Pongka agak tipis dan kadang-kadang terdapat singkapan batu gamping di beberapa bagian permukaan, terkecuali di sekitar Topotte yang lapisan tanahnya cukup tebal.

Walaupun demikian secara keseluruhan tanah di sekitar daerah Bulu Pongka cukup subur untuk menopang kegiatan bercocok tanam. Hal ini bisa dilihat dari suburnya tanaman, utamanya tanaman jagung, yang dibudidayakan oleh sebagian besar masyarakat Desa Pongka saat ini.

Penutup:

Proses penghunian Situs Pongka
tampaknya terjadi pada abad ke-15 sampai abad ke-18 yang bersamaan dengan proses peralihan tradisi megalitik ke Islam di Sulawesi Selatan.

Hal ini dapat dilihat dari temuan berupa fragmen keramik asing, bangunan-bangunan megalitik, serta sebuah kompleks makam Islam.

Selain itu menurut informasi masyarakat setempat mengenai adanya lokasi kremasi (Pattunuangnge) sebagai ciri dari penguburan pra-islam. Lokasi Pattunuangnge berjarak 1 km di sebelah barat daya Situs Pongka (dekat Bulu Lappo).

Dari tinggalan-tinggalan budaya di Situs Pongka, diperoleh gambaran tentang bentuk pengaturan ruang yang dikembangkan beserta dengan faktor yang melatarbelakangi terbentuknya sebuah wilayah okupasi berskala komunitas di daerah tersebut.

Gambaran terkait bentuk pengaturan ruang di Situs Pongka yaitu ruang profan terletak di sekitar Toponim Topotte dan lereng Bulu Pongka yang landai dengan pusat aktivitasnya yaitu di sekitar toponim Barugae.

Ruang sakral berada di sekitar toponim Watang tanae dan kompleks makam Petta Pabbaranie.

Faktor yang melatarbelakangi terbentuknya wilayah okupasi di daerah Pongka, sangat dipengaruhi oleh kondisi politik di mana pada saat itu rombongan migran dari Beringeng memerlukan sebuah daerah bermukim yang aman, jauh dari jangkauan kekuasaan Baringeng.

Daerah Toponim;

Proses aktivitas migrasinya masyarakat Baringan untuk mencari pemukiman yang aman menciptakan nama-nama kampung yang disebut toponim (nama-nama tempat).

Sebelum mencapai Pongka rombongan migran tersebut melalui beberapa kampung atau daerah yang ada di luar kampung Pongka.

Adapun daerah toponim di Luar Desa Pongka di antaranya Lagenrang, Lacenno, Panyili, dan Mario.

Dalam perjalanan migrasinya mereka membawa gendang untuk menambah semangat. Ketika tiba di suatu tempat ia mulai menabuh gendang yang dibawanya, sehingga daerah itu dinamakan Lagenrang.

Perjalanan dilanjutkan kemudian sampai di suatu tempat tiba-tiba gendangnya mengeluarkan bunyi nyaring sehingga kampung tersebuf disebut Lacenno.

Setelah beristirahat perjalanan dilanjutkan krmudian tiba di suatu tempat dan melihat ada bukit di kejauhan maka tempat itu disebutnya Panyili artinya penglihatan.

Dari Panyili ia melanjutkan perjalanan dan menuju bukit yang dilihatnya. Sesampainya di bukit rombongan migran sangat bergembira maka tempat itu disebutnya Mario.

Selanjutnya mereka meneruskan perjalanan kemudian dari kejauhan tampak sebuah pohon besar tinggi menjulang. Kemudia ia mendekati tempat itu dan berteduh di bawah pohon besar tadi.

Di daerah itu ternyata lebih memungkinkan beristirahat berlama-lama karena terdapat sumur yang cukup air. Dengan ditemukannya pohon besar di tempat itu mereka sebut Pong Engka yang kemudian menjadi Pongka.

Jadi Pongka artinya ada pohon di mana pohon atau tumbuhan menjadi lambang kesuburan untuk menyediakan kebutuhan makanan.

Budaya Sirawu sulo:

Sampai saat ini setiap tiga tahun warga desa Pongka selalu menggelar acara budaya yang disebut Sirawu Sulo. Acara itu untuk mengenang perjuangannya selama melakukan migrasi yang penuh penderitaan.

Mereka bermain api sebagai wujud semangat untuk menempuh kehidupan baru ditempatnya yang baru yang jauh berbeda dari kehidupan sebelumnya. (Jurnal Walennae).

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...