No menu items!
12.2 C
Munich
Kamis, 22 Oktober 20

Daramatasia

Must read

Selamat Hari Kesaktian Pacasila

JANGAN LUPAKAN SEJARAH Banyak peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang harus diingat oleh masyarakat apalagi generasi muda. Salah satunya adalah peristiwa Gerakan 30 September atau yang...

Daramatasia

Cerita I Daramatasia adalah salah satu cerita rakyat lisan yang ada di tengah-tengah masyarakat Bugis Sulawesi Selatan. Cerita ini masih hidup hingga sekarang apalagi...

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Cerita I Daramatasia adalah salah satu cerita rakyat lisan yang ada di tengah-tengah masyarakat Bugis Sulawesi Selatan. Cerita ini masih hidup hingga sekarang apalagi di daerah pelosok. Karya ini merupakan tergolong dalam cerita rakyata yang berbentuk Legenda keagamaan yaitu legenda mengenai orang-orang beriman.

Cerita Daramatasia di sosialisasikan ke dalam masyarakat Bugis melalui tuturan. Penuturan dilakukan oleh seorang atau lebih tukang tutur dan dihadiri atau didengar oleh sejumlah orang dari komunitas mereka. Masyarakat yang mendengar pelisanan cerita tersebut merasa terhibur dengan keindahan bahasa dan teknik penuturan yang biasanya dinyanyikan dengan lagu tertentu.

Di pasar-pasar tradisiional rekaman cerita ini masih kadang di dapatkan dalam bentuk kaset. Pertanda bahwa cerita ini masih mendapat tempat di hati masyarakat Sulawesi Selatan bahkan pesan yang dikandungnya masih dibutuhkan oleh mereka . Meskipun tentunya tidak semua pesan yang ada dalam cerita ini relevan dengan kondisi dewasa ini .

Khususnya dalam masyarakat Bugis, cerita ini biasanya diceriterakan oleh seorang penutur pada waktu-waktu tertentu seperti saat acara pengantinan. Pada malam hari sebelum esoknya acara pernikahan, cerita ini dituturkan menemani para keluarga yang berkumpul untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan pada esok hari di acara pernikahan.

Cerita ini digunakan untuk mengajari sang calon mempelai dan juga kepada segenap hadirin. Penuturan ini biasa berlangsung semalam suntuk . Selain itu penuturan cerita ini biasa juga dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya menjelang tidur.

Penuturan cerita I Daramatasia bisa dilakukan dengan iringan musik ataupun tanpa iringan. Musik yang biasa menyertai penuturab cerita ini adalah alat musik kecapi.

Naskah Daramatasia di sosialisasikan ke dalam Bugis dengan jalan melisankan naskah tersebut. Penuturan naskah ini dilakukan oleh seorang atau lebih tukang tutur dan didengar oleh sejumlah orang dari komunitas mereka.

Masyarakat yang mendengar pelisanan cerita tersebut merasa terhibur dengan keindahan bahasa dan teknik penuturan yang biasanya dinyanyikan dengan lagu tertentu.

Ajaran Moral dalam cerita I Daramatasia:

Cerita I Daramatasia menceritakan perjalanan hidup seorang perempuan yang bernama I Daramatasia . Cerita diawali saat I Daramatasia menuntut ilmu yang meliputi ilmu tata bahasa, hokum, fikhi, sampai pada ilmu kebatinan. Kemudian menikah atas pilihan orang tua, pengabadiannya kepada suaminya , saat diusir oleh suami dan orang tuanya, saat suaminya meninggal sampai pada ketika I Daramatasia menikah lagi atas pilihannya sendiri.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang perempuan . Sebelum menikah beliau adalah sosok perempuan yang cerdas dalam menuntut ilmu . Selain itu, sebagai anak tunggal tidak pernah menunjukkan sifat kecengengan dan ketergantungan pada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Selain sebagai media menghibur, para pendengarnya juga mendapat pengajaran dari isi cerita yang dinyanyikan. Kisah Daramatasia memiliki fungsi mendidik dan mengajarkan kepada pembacanya bagaimana sepatutnya suami istri hidup berumah tangga.

Tokoh Daramatasia menunjukkan sikap atau prilaku seorang istri yang mengabdi kepada suaminya sesuai apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Kedua fungsi di atas sangat menonjol dalam naskah cerita Daramatasia.

Masyarakat Bugis ataupun mungkin semua suku bangsa di muka bumi ini senantiasa memiliki pengharapan bahwa melalui perkawinan manusia dapat mengciptakan kehidupan yang lebih baik dan merasa bahagia. Karena dengan demikian kebahagiaan dan ketentraman masyarakat luas dapat tercipta.

Maka dengan itu kehidupan rumah tangga yang dibangun oleh suami dan istri harus menciptakan kehidupan harmonis. Suami dan istri harus mampu saling menghargai dan menyadari hak dan kewajiban-kewajibannya, suami dan istri mesti pula menyadari posisinya dalam rumah tangga.

Sebagai istri I Daramatasia menyadari posisinya sehingga ia menunjukkan pengabdiannya yang sangat tinggi kepada suaminya. Setiap hari ia menunggu suaminya pulang dan mencuci kakinya, lalu melapnya dengan rambutnya. Setelah itu ia menemani suami makan hingga selesai.

Segala perkataan dan perintah suaminya ia patuhi, ia takut melanggar perintah suaminya karena ia tahu membantah perintah suami adalah dosa menurut ajaran agama Islam yang ia pelajari.

Karena takutnya berbuat kesalahan sampai pada suatu saat ia menemani suaminya makan sambil menyusui anaknya yang mulai tertidur, pada waktu itu pelita yang digunakan sebagai penerangan kehabisan sumbu, maka dengan spontan ia memotong rambutnya beberapa helai untuk dijadikan sumbu, karena ia takut kalau suaminya makan dalam kegelapan dan kalau ia berdiri ia khawatir jika anaknya terbangun yang baru saja tertidur.

Namun demikian ternyata tindakannya itu dinilai salah oleh suaminya karena memotong rambutnya tanpa sepengetahuan dan seizin suaminya. Daramatasia dipukul oleh suaminya yang amat marah lalu mengusirnya pergi dari rumahnya. Daramatasiapun pergi meninggalkan rumah suaminya dan menuju ke rumah orang tuanya.

Hal tersebut di atas adalah juga sebuah pelajaran bahwa setiap kelakuan istri harus diketahui dan seizin sang suami. Ajaran serupa sesungguhnya telah pula dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad dalam kehidupan rumah tangganya dan juga dalam rumah tangga anaknya Sitti Fatimah Azzahra, yang juga terdapat pada cerita Daramatasia. Anak yang berdosapun akan ditolak oleh orang tuanya sekalipun. Hal tersebut ditunjukkan oleh kedua orang tuanya ketika melihat Daramatasia diusir dari rumah suaminya.

Kedua orang tua Daramatasia beranggapan bahwa orang yang diusir oleh suaminya adalah orang yang melakukan kesalahan dan berbuat dosa maka orang seperti itu tidak sewajarnya di lindungi. Maka Daramatasiapun berjalan tanpa tujuan dan akhirnya tiba pada hutan belantara.

Selain itu orang tua I Daramatasia menunjukkan sikap orang tua yang memberi kesempatan kepada anaknya untuk menyelesaikan masalah dalam keluarganya. Beliau tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga anak mereka .

Cerita ini juga mengajarkan bahwa orang yang sabar menjalani penderitaan akan mendapat pertolongan dari Allah. Karena setibanya di tengah hutan Daramatasia ingin saalat akan tetapi ia tidak memiliki pakaian yang layak digunakannya. Sehingga datanglah malaikat dari langit menemuinya dan memberikan pertolongan. Daramatasia diberikan pakaian yang indah dan mengubah wajah dan tubuhnya menjadi lebih cantik dan muda.

Ajaran lain yang ditampilkan dalam cerita ini adalah bahwa hidup di dunia ini tidak boleh dihiasi dengan rasa dendam dan dengki terutama kepada orang yang telah menyakiti dan menganiaya kita . Saat Daramatasia kembali kerumah orang tua dan ke rumah suaminya atas perintah Malaikat Jibril ia tidak dikenali lagi. Orang tua dan suaminya tidak menyangka kalau wanita yang cantik dan muda yang datang ke rumah mereka adalah Daramatasia yang telah ia usir dan mereka tolak.

Namun demikian Seperti yang dikatakan Dosen Jurusan Sastra Daerah, Fakultas Sastra Unhas, Daramatasia tidak menunjukkan sikap dendam dan sakit hati. Ia senantiasa menunjukkan sikap sebagai mana layaknya seorang istri dalam melayani suaminya dan mengasuh anaknya, serta tetap bersikap hormat terhadap orang tuanya.
Demikianlah diantaranya unsur-unsur pendidikan dan keteladanan yang dapat ditemukan dalah cerita ini. Tentunya dengan pengkajian yang lebih dalam akan ditemukan lebih banyak lagi.

Berikut lirik lagu Daramatasia:

Dara Matasia to sukku toripoji-poji ku….
Tau ritangke’na atikku tau ritangke pulana…
Tau ritangke’na atikku tau ritangke pulana…

Micawa ca’beru cennippa macenninna cani’e….
Ri soe-soe na limanna malemma’ na mamalu….
Ri soe-soe na limanna malemma’ na mamalu…

Dara matasia to macole…
Dara matasia to makanja….
Dara matasia to malebbi….
To malebbi ampena….

Itulah kesenian rakyat Bone yang menggunakan bahasa Bugis murni dan masih eksis hingga saat ini. Namun tidak tertutup kemungkinan masih ada yang lainnya. Semoga Bermanfaat.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Selamat Hari Kesaktian Pacasila

JANGAN LUPAKAN SEJARAH Banyak peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang harus diingat oleh masyarakat apalagi generasi muda. Salah satunya adalah peristiwa Gerakan 30 September atau yang...

Daramatasia

Cerita I Daramatasia adalah salah satu cerita rakyat lisan yang ada di tengah-tengah masyarakat Bugis Sulawesi Selatan. Cerita ini masih hidup hingga sekarang apalagi...

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...