No menu items!
4.4 C
Munich
Rabu, 25 November 20

Sejarah Kecamatan Ponre Kabupaten Bone

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Assalamu alaukum wr.wb.

Kali ini saya akan mengutarakan sejarah kecamatan ponre kabupaten bone

Ponre adalah salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Bone. Pusat pemerintahannya di Lonrong dengan jarak sekitar 25 km dari kota Watampone ibukota Kabupaten Bone.

Berdasarkan Kecamatan Ponre dalam Angka Tahun 2019 terdiri dari 9 desa, serta 50 dusun, RW 45, dan 123 RT . Dengan jumlah penduduk sebanyak 14.055 jiwa, Laki-laki 6.874 dan perempuan 7.181 jiwa.

Desa Turuadae ibukotanya Karoppa
Desa Mappesangka ibukotanya Bakunge
Desa Salebba ibukotanya Benteng
Desa Salampe ibukotanya Saweng
Desa Bolli ibukotanya Bolli
Desa Pattimpa ibukotanya Kampung Baru
Desa Poleonro Ibukotanya Ari
Desa Tellu Boccoe ibukotanya Tinco
Desa Mattampae ibukotanya Mario

Wilayah geografis kecamatan Ponre pada umumnya terdiri dari pegunungan dan perbukitan dan sebagian kecil wilayah rendah.

Wilayah tertinggi di Kecamatan Ponre terletak di Desa Salebba dengan ketinggian 591 diatas permukaan laut dan daerah terendah berada di desa Patimpa dengan 161 diatas permukaan laut.

Dengan kondisi wilayah tersebut, Mata pencaharian masyarakatnya yaitu rata-rata sebagai Petani dan perkebunan. Sebagian lagi sebagai pengusaha, ada pula yang bekerja di instansi Pemerintahan, maupun swasta.

Kecamatan Ponre berbatasan langsung dengan Kecamatan Barebbo, Kecamatan Mare, Kecamatan Bengo, Kecamatan Cina dan Kecamatan Palakka.

Dari sisi penamaan, Ponre berasal dari kata “pore” yang artinya cerdas. Kemudian penyebutannya menjadi “ponre” sampai sekarang ini.

Konon, dinamakan nama pore atau ponre karena di kerajaan Ponre masa lalu merupakan tempat berkumpulnya para pemimpin kerajaan lainnya untuk bermusyawarah.

Para cerdik pandai berkumpul di suatu puncak gunung, sehingga mereka menyebutnya “bulu pore” artinya gunung cerdas atau wilayah yang dihuni orang cerdas. Yang kemudian lebih dikenal kawasan itu menjadi Ponre sampai sekarang ini.

Para pemimpin kerajaan lainnya berkumpul di puncak gunung Ponre sebelum mereka bergabung dengan kerajaan Bone yang dipimpin La Saliyu Korampelua.

Kecamata Ponre dibentuk berdasarkan Perda Kabupaten Bone Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Organisasi kecamatam dan kelurahan Kabupaten Bone.

Namun sebelumnya, berdasarkan “Memori serah terima jabatan onderafdeeling Bone Riattang 1912-1915″ dari kerajaan menjadi afdeling Bone” disebutkan bahwa : Dalam keputusan Asisten Residen Bone tertanggal 23 Mei 1906 No. 229 dan 223 dan tanggal 10 Juli 1906 No. 287 telah dibentuk distrik-distrik (setingkat kecamatan).

Dalam keputusan tersebut menegaskan, bahwa Ponre yang sebelumnya disebut Pitu Teddung (tujuh payung) kemudian berubah menjadi distrik atau Onder Afdeling Bone Riattang. Di mana distrik ini dipimpin oleh Sulewatang Ponre.

Afdeling yang merupakan wilayah administratif ini dibentuk pada tanggal 2 Desember 1905, saat Belanda berhasil menguasai Lalebbata atau Watampone saat ini sekaligus membubarkan Persekutuan Tellumpoccoe yang terdiri dari Bone, Wajo dan Soppeng.

Afdeling Bone dibagi menjadi lima wilayah Onder Afdeling yang dikepalai oleh seorang Kontrolir atau pengawas dan dijabat oleh orang Belanda.

Afdeling Bone terdiri dari Onderafdeling Bone Utara, Onderafdeling Bone Tengah, Onderafdeling Bone Selatan, Onderafdeling Wajo, dan Onderafdeling Soppeng.

Pemerintahan dijalankan oleh Belanda, namun kerajaan lokal tetap berjalan sesuai adatnya masing-masing, meskipun tidak memiliki persenjataan perang.

Sejarah:

Perlu diketahui, bahwa sebagaimana ponre merupakan wilayah pertemuan orang-orang cerdas di masa lalu. Hal itu terbukti pada masa-masa berikutnya melahirkan seorang ulama dan pejuang. Ia adalah La Semma Daeng Marola Arung Pinre atau Sulewatan Ponre.

La Semma Daeng Marola Arung Ponre adalah salah seorang putra Ponre yang memiliki kecerdasan yang luar biasa (dalam bahasa Bugis disebut Pore). Selain seorang ulama Beliau adalah pejuang Tana Bone di masa perang Bone ke-4 dalam tahun 1905 yang lebih dikenal peristiwa Rumpana Bone.

Salah satu putra terbaik Tana Bone dalam peristiwa heroik itu adalah Arung Ponre, La Semma Daeng Marola atau lebih dikenal dengan nama Anre Guru Semma.

Beliau berasal dari Watangponre, yaitu sebuah perkampungan tua yang dahulu menjadi pusat pemerintahan “kerajaan” Ponre.

Ketika kerajaan Bone belum terbentuk, Ponre adalah sebuah kerajaan kecil yang dipimpin oleh seorang Matowa atau Arung seperti halnya kerajaan-kerajaan kecil lain.

Kemudian kerajaan Ponre melebur dalam kerajaan Bone pada masa pemerintahan Raja Bone ke-3 yaitu Lasaliyu Korampeluwa (1424–1496).

Kerajaan Ponre letaknya berada di puncak Bulu Ponre, sebuah gunung yang berada tepat ditengah-tengah antara Palakka, Ulaweng Bengo, Lappa Riaja, Libureng, Mare, Cina dan Barebbo, saat ini.

Adapun La Semma Daeng Marola, ketika Bone benar-benar telah dikuasai oleh Belanda, La Semma Daeng Marola mangurungkan niatnya untuk pulang ke kampung halamannya, Ponre.

Daeng Marola Arung Ponre memilih tetap berada di Bajoe dan mengembuskan nafas terakhirnya di sana dan disebutlah beliau sebagai Anre Guru Semma, Suliwatang Ponre Matinroe Ri Bajoe.

La Semma Daeng Marola Arung Ponre dikenal memiliki pertimbangan yang matang sebelum memutuskan. Beliau juga yang menyarankan raja Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri untuk menyingkir ketika Belanda hendak menyerbu Lalebbata atau Watampone sekarang ini.

Selama kurang lebih lima bulan (Juli-November) La Semma Daeng Marola Arung Ponre senantiasa mendampingi Lapawawoi Karaeng Sigeri bersama Petta Ponggawae melakukan perlawanan dengan taktik gerilya

Mereka secara berpindah-pindah mulai dari Palakka, Pasempe, Gottang, Lamuru, dan Citta di daerah Soppeng hingga ke pusat pertahanan terakhir Bulu Awo (perbatasan Siwa dengan Tanah Toraja), tempat gugurnya Petta Ponggawae.

Dalam hikayat Rumpa’na Bone yang terkenal itu, disebutkan bahwa ketika para pimpinan laskar kerajaan Bone seperti Daeng Matteppo’ Arung Bengo dari Bone Barat, Daeng Massere Dulung Ajangale dari Bone Utara, dan Arung Sigeri Keluarga Arungpone, serta sejumlah laskar Pakkanna Passiuno lainnya gugur dalam pertempuran melawan Belanda yang sangat lengkap persenjataannya.

Laskar Bone dibawah komando Panglima Perang Petta Ponggawae terdesak mundur dan bertahan di Cellu.

Pertempuran berlangsung sangat sengit. Dentuman meriam-meriam Belanda disambut dengan tombak, parang, badik dan persenjataan seadanya oleh Laskar Bone.

Keberanian laskar Bone menyabung nyawa membuat serdadu Belanda merinding ketakutan. Tidak sedikit serdadu Belanda yang tewas.

Dalam pertempuran ini, La Semma Daeng Marola Arung Ponre mengukir sejarah dengan keberaniannya yang pantang mundur sejengkalpun.

Konon, pada waktu itu, La Semma Daeng Marola hanya memilik tiga butir peluru, namun setiap kali ditembakkan, moncong senjatanya kembali berisi seolah tak pernah kehabisan peluru untuk menewaskan si Mata Pute, Belanda.

Pertempuran terus berlangsung. Panglima Kerajaan Bone Petta Ponggawae terus mengobarkan semangat perlawanan sambil terus meramu taktik agar Tanah Bone dapat tetap dipertahankan.

Satu demi satu laskar kerajaan Bone gugur sebagai pahlawan kesuma Tana Ugi. La Semma Daeng Marola pun akhirnya terluka lalu ditandu menuju Saoroja tempat Mangkau’ berada.

Melihat kenyataan itu, Petta ponggawae segera mengirim pesan ke Istana agar kiranya Mangkau segera meninggalkan istana dan berlindung ke Palakka.

Sang Raja menerima pesan tersebut dan mempertimbangkan segala sesuatunya.

Terbayang nasib negeri Bone tercinta jika harus ditinggalkannya. Lalu Raja La Pawawoi Karaeng Sigeri menantap permaisuri menunggu pertimbangan.

Daeng Marola pun telah tiba di Istana. Setelah beberapa saat, Sang Mangkau lalu meminta pertimbangan Daeng Marola tentang isi pesan dari Petta Ponggawae.

Dengan hormat La Semma Daeng Marola menyampaikan bahwa laskar Bone sulit untuk membendung serangan Belanda. Kekuatan persenjataan sungguh sangat tidak seimbang, perlu perubahan taktik dan starategi untuk bisa terus melawan.

La Semma Daeng Marola memahami dan merasakan kegalauan sang Raja.

La semma Daeng Marola berusaha meyakinkan Sang Raja, bahwa mundur bukan berarti kalah tetapi mundur selangkah untuk maju seribu kali.

Setelah menyimak pandangan yang diberikan oleh La Semma Daeng Marola, maka tenanglah kembali hati sang Raja.

Persiapan segera dilakukan. Para pengawal telah siaga untuk melindungi perjalanan Sang Raja beserta keluarga menuju Palakka.

Pada tanggal 30 Juli 1905 tentara Belanda berhasil merebut Saoraja di Lalebbata dan menjadikannya sebagai basis pertahanannya.

Sepeninggal Panglima Perang Petta Ponggawae, laskar-laskar kerajaan Bone terpencar-pencar. Meski perlawanan masih terus berjalan terutama Laskar-Laskar yang berada di wilayah selatan Kerajaan Bone di bawah komando Latemmu Page Arung Labuaja.

Namun kian hari stamina laskar kerajaan Bone semakin menurun sementara serdadu Belanda terus menyisir pusat-pusat pertahanan Bone.
Perlawanan Rakyat Bone kini dilakukan dengan cara bergerilya dan berpindah-pindah.

Dari Palakka, rombongan Mangkau kemudian pindah ke Passempe.

Pada Tanggal 2 Agustus 1905 tentara Belanda menyerbu ke Pasempe, akan tetapi Arumpone dengan laskar dan keluarganya sudah meninggalkan Pasempe dan mengungsi ke Lamuru dan selanjutnya ke Citta.

Dalam bulan September 1905 Raja Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri dengan rombongannya tiba di Pitumpanuwa Wajo.
Tentara Belanda tetap mengikuti jejaknya.

La Semma Daeng Marola Arung Ponre serta sejumlah laskar pemberani terus mendampingi Petta Ponggawae menyertai Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri hingga di Bulu Awo perbatasan Siwa dengan Tanah Toraja.

Di Bulu Awo inilah pada tanggal 18 November 1905

Laskar Pemberani Kerajaan Bone di bawah komando Panglima Petta PonggawaE kembali bertemu dengan tentara Belanda dibawah komando Kolonel van Loenen dan terjadi pertempuran habis-habisan.

Pada saat itulah, Baso Pagilingi Petta PonggawaE gugur terkena peluru Belanda. Pada saaat gugurnya Baso Pagilingi Petta PonggawaE, La Pawawoi Karaeng Sigeri langsung menaikkan bendera putih sebagai tanda menyerah.

Rupanya La Pawawoi Karaeng Sigeri melihat bahwa putranya yang bernama Baso Pagilingi itu adalah benteng pertahanan dalam perlawanannya terhadap Belanda. Sehingga setelah melihat putranya gugur, spontan ia berucap ; Rumpa’ni Bone, artinya benteng pertahanan Bone telah bobo.

Lapawawoi Karaeng Sigeri akhirnya ditangkap dan dibawa ke Parepare, seterusnya ke Makassar lalu diasingkan ke Bandung dan terakhir dipindahkan ke Jakarta. Pada tanggal 11 November 1911.

La Pawawoi Karaeng Sigeri meninggal dunia di Jakarta, maka dinamakanlah MatinroE ri Jakarta. Dalam tahun 1976 M. dianugrahi gelar sebagai Pahlawan Nasional, dan kerangka jenazahnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Ketika La Pawawoi Karaeng Sigeri diasingkan ke Bandung, pemerintahan di Bone hanya dilaksanakan oleh Hadat Tujuh Bone. Dengan demikian selama 26 tahun tidak ada Mangkau’ di Bone.

Adapun La Semma Daeng Marola, ketika Bone benar-benar telah di kuasai oleh Belanda, La Semma Daeng Marola mangurungkan niatnya untuk pulang ke kampung halamannya, Ponre.

La Semma Daeng Marola Arung Ponre memilih tetap berada di Bajoe dan menghembuskan nafas terakhirnya disana dan disebutlah ia sebagai Anre Guru Semma Sulewatang Matinroe Ri Bajoe.

Setelah Indonesia merdeka, muncul pergerakan suatu daerah yang diduduki oleh DI/TII (Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia) yang dimana latar belakangnya adalah mendirikan negara Islam di Sulawesi Selatan.

Tentunya pergerakan DI/TII tersebut untuk mencari kedudukan, sampai pula di Tanah Bone termasuk Ponre Bumi La Semma Daeng Marola.

Untuk merebut wilayah Ponre DI/TII menjadikan Ponre khususnya Patimpa sebagai markas.

Dari beberapa catatan, pada awalnya desa Patimpa memiliki nama lain yaitu Kajuara semasa kedudukan DI/TII di daerah ini.
Namun setelah Tentara Nasional bersama rakyat berhasil merebut kembali daerah ini maka berganti pula nama Kajuara menjadi Patimpa.

Itulah kilas sejarah kecamatan Ponre Kabupaten Bone, di mana daerah ini memiliki potensi alam wisata dan sumber daya manusia yang mumpuni.

Terima kasih, Semoga paparan ini ada manfaatnya, Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalamu alaikum Wr.Wb.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...