No menu items!
4.4 C
Munich
Rabu, 25 November 20

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Ass.Al.Wr.Wb..

Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan.

Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone ibukotanya Compongnge yang berjarak sekitar 7 km dari kota Watampone.

Kecamatan Awanpone dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor 5 Tahun 2008 tentang pembentukan organisasi kecamatan dan kelurahan Kabupaten Bone.

Luas wilayah kecamatan Awangpone seluas 110,70 km persegi. Wilayah desa terluas adalah Maccope dan terkecil adalah desa Cakkebone dan desa Lappo Ase.

Kemudian, wilayah tertinggi berada di desa Bulumpare yaitu 48 meter diatas permukaan laut dan terendah berada di desa Kading dengan ketinggian hanya 24 meter diatas permukaan laut.

Adapun batas wilayah kecamatan Awangpone, yaitu sebelah utara dan Barat berbatasan dengan kecamatan Tellu Siattinge. Sebelah Timur berbatasan Teluk Bone dan Kecamatan Tanete Riattang Timur. Sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatan Tanete Riattang dan kecamatan Palakka.

Berdasarkan kecamatan Awangpone dalam Angka Tahun 2019. Jumlah penduduk sebanyak 29.599 jiwa, yaitu laki-laki 13.772 dan perempuan 15.827 jiwa. Kemudian Jumlah dusun sebanyak 64 buah, RW 68, dan RT sebanyak 139 buah.

Pada masa distrik Awangpone yang dibentuk oleh Belanda tahun 1906 kecamatan ini hanya meliputi Jaling, Paccing, Matuju, Unra, dan Cumpiga. Kelima kampung tersebut disebut Lili Limampanua Ri Alau Ale.

Seiring perkembangannya, kemudian kecamatan Awangpone terdiri beberapa desa, yaitu desa Lattekko, Matuju, Carebbu, Cumpiga, Paccing, Unra, Kajuara, Mallari, Kading, Maccope, Pallette, Waetuo, dan Pappolo.

Namun sekarang ini Pallette dan Waetuo masuk wilayah kecamatan Tanete Riattang Timur, dan Pappolo masuk wilayah Kecamatan Tanete Riattang.

Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa desa mengalami pemekaran. Sehingga sekarang ini Kecamatan Awangpone terdiri dari 1 kelurahan dan 17 desa, yaitu:

Kelurahan Maccope ibukotanya Maccope
Desa Bulumpare ibukotanya Curubaweng
Desa Carebbu ibukotanya Carebbu
Desa Abbanuang ibukotanya Tana cellae
Desa Paccing ibukotanya Paccing
Desa Mallari ibukotanya Bacu
Desa Kading ibukotanya Bulu
Desa Cakke bone ibukotanya Larapping
Desa Lappoase ibukotanya Compongnge
Desa Cumpiga ibukotanya Jaling
Desa Awolagading ibukotanya Awolagading
Desa Jaling ibukotanya Lempu
Desa Mappalo ulaweng ibukotanya Mappalo ulaweng
Desa Unra ibukotanya Watang unra
Desa Kajuara ibukotanya Kajuara
Desa Carigading ibukotanya Turungeng Tonrae
Desa Matuju ibukotanya Polewali
Desa Lattekko ibukotanya Lattekko

Wilayah Geografis kecamatan Awangpone terdiri perbukitan dan dataran rendah yang banyak ditumbuhi seperti pohon lontar, Asam, nipah, Mangga dan tumbuhan lainnya.

Pohon lontar tersebut selain menghasilkan minuman dan gula juga sebagai bahan membuat songkok recca. Tak heran wilayah kecamatan ini menjadi pusat kerajinan songkok recca atau songkok to Bone.

Bahkan sebagian masyarakat Awangpone sampai sekarang apabila mendirikan teruma rumah panggung dimana pada bagian atas rumah selalu menggunakan rangka yang terbuat dari Kanurung. Kayu kanurung ini terbuat dari pohon lontar yang sudah tua, bahkan ada sampai berusia ratusan tahun.

Mata pencaharian masyarakat kecamatan Awangpone pada umumnya bekerja di sektor pertanian, sebagian wiraswasta, Nelayan, dan pegawai negeri.

Di Kecamatan Awangpone terdapat objek wisata alam yaitu situs Cempalagi yang terletak di Desa Mallari. Bahakan di Desa Mallari ini menjadi tantangan bagi para peneliti untuk mengetahui secara mendalam apa sebenarnya yang terpendam di wilayah tersebut.

Karena di daerah Mallari sampai sekarang ini masih terdapat bekas-bekas benteng peninggalan masa lalu. Benteng tersebut tersusun dari batu. Bisa diduga benteng tersebut merupakan peninggalan Arung Palakka semasa beliau berada di Cempalagi sebelum bertolak ke Buton tahun 1660.

Bahkan di Desa Mallari juga ditemukan semacam lesung yang terbuat dari batu. Selain itu, di desa ini juga sebelumnya terdapat tujuh sumur atau bubung pitu. Ketujuh sumur tersebut disebut Bubung Polewali. Meskipun sekarang ini tersisa dua sumur. Dan sumur lainnya sudah tertimbun tanah.

Menurut warga setempat, konon daerah ini dinamakan Mallari karena dahulu kala menjadi tempat untuk mencari perlindungan dari berbagai gangguan.

Orang-orang yang mencari perlindungan dan mereka berlarian atau mallaring ke wilayah tersebut.Karenanya, mallari berasal dari kata mallaring atau berlarian.

Keberadaan peninggalan-peninggalan masa lalu itu dapat diidentifikasi bahwa di desa Mallari tersebut bisa saja pernah berdiri sebuah kerajaan kecil seperti daerah-daerah lainnya. Hal ini menjadi tantangan para arkeolog untuk meneliti lebih jauh.

Selain itu di kecamatan ini terdapat kompleks permakaman Petta Ponggawae Panglima Perang Bone. Kompleks permakaman ini terletak di desa Matuju.

Awangpone terdiri dua kata yakni Awang artinya utara dan Pone berasal dari kata Bone. Jadi Awangpone diartikan sebagai wilayah yang terletak di sebelah utara Watampone ibukota kabupaten Bone sekarang ini.

Namun sebelumnya Awangpone biasa juga disebut Tanete Riawang bahkan daerah ini dikenal seorang anggota Hadat Bone yang bernama Laju daeng Pawawo Arung Tanette Riawang.

Hadat Bone merupakan lembaga pembantu utama pemerintahan Kerajaan Bone, jadi sejenis DPR sekarang. Bertugas mengawasi dan membantu pemerintahan di Kerajaan Bone.

Hadat Bone sendiri berdiri 1605 dan berakhir 1950. We Tenrituppu Matinroe ri Sidenreng Ratu Bone ke-10 yang memerintah tahun 1602-1611. Inilah Mangkau’ yang mula-mula mengangkat Arung Pitu di Bone. Kemudian dilanjutkan raja-raja Bone selanjutnya hingga tahun 1950.

Ade’ Pitu terdiri dari 7 (tujuh) orang yaitu :

Anggota Hadat Bonebdahulu terdiri atas 7 orang atau yang disebut Arung Pitu. Adapun yang termasuk anggota Hadat Bone yaitu:

1. La Massakirang Daeng Patappa Arung Macege
2. La Matupung Daeng Masesang Arung Tibojong
3. La Pagore daeng Silele Arung Ponceng
4. Laju daeng Pawawo Arung Tanette Riawang
5. La Sahida Arung Tanette Riattang
6. La Mappasere Arung Ta
7. La Makkarumpa Arung Ujung.

Para anggota hadat tersebut yang pada masa kerajaan Bone tinggal di Lelebbata Watampone dan hanya memiliki kekuasaan pemerintahan atas kampung-kampung di mana mereka menjadi Arung, dan selanjutnya semuanya diangkat oleh pemerintah Belanda menjadi Kepala Distrik.

Seperti dijelaskan sebelumnya, Salah distrik yang dibentuk adalah Distrik Awangpone : yang terdiri dari Bone Tengnga yaitu Awangpone dan federasi dari Lili Limampanua rilau ale’, atau lima kampung yaitu : Jaling, Paccing, Matuju, Unra, dan Cumpiga.

Pembentukan distrik yang setingkat kecamatan tersebut berdasarkan keputusan Asisten Residen Bone tertanggal 23 Mei 1906 No. 229 dan 223 dan tanggal 10 Juli 1906 No. 287.

Mari kita lanjutkan, Kecamatan Awangpone salah satu kecamatan yang pernah dikunjungi oleh presiden Republik Indonesia. Tepatnya hari Rabu 26 Agustus 1981.

Di mana Presiden Soeharto bersama Ibu Tien pun menghadiri acara panen raya Operasi Gudang Beras ( OLA), dan juga meresmikan tugu Lappo Ase di Desa Paccing pada masa itu, sekarang wilayah tersebut menjadi Desa Lappoase Kecamatan Awangpone.

Dalam catatan sejarah antara Pappolo dan Maccope terdapat suatu kampung yang dinamakan Caleppa.

Di tempat tersebut pernah terjadi peristiwa penting, yaitu tempat perjanjian antara Bone dan Gowa yang disebut Ulu Adae Ri Caleppa atau perjanjian di Caleppa. Orang Makasar menyebutnya Ulu Kanayya ri Caleppa.

Perjanjian tersebut sebagai buntut serangan militer keempat Gowa ke Bone tahun 1565 yang berakhir dengan gencatan senjata.

Beberapa desa yang ada di kecamatan Awangpone seperti Jaling, Paccing, Matuju, Unra, Cumpiga, Lattekko dan lainnya tentu memiliki sejarah masing-masing.

Misalnya Desa Lattekko, yang sebelum kemerdekaan disebut Padaelo. Kemudian pada tahun 1931 Jalanan lurus Padaelo dibangun jalanan baru yang melengkung dalam bahasa Bugis disebut Matteko yang selanjutnya menjadi Lattekko sampai sekarang ini.

Konon, pada waktu pembuatan ruas jalanan baru ini, Belanda mempekerjakan warga setempat secara paksa.

Karena kurangnya penelitian arkeologi di kecamatan wilayah kelahiran orangtua Jusuf Kalla ini sehingga tidak banyak diketahui dan bukan tidak mungkin banyak yang bisa diungkap.

Itulah sejarah singkat kecamatan Awangpone. Mohon maaf atas segala kekurangannya.

Wassalamu Al.Wr.Wb.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...