No menu items!
4.4 C
Munich
Rabu, 25 November 20

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

As.Al.Wr.Wb.
Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan.

Cenrana adalah salah satu kecamatan dalam wilayah kabupaten Bone. Ibukota Kecamatan Cenrana adalah Cenrana.

Kecamatan Cenrana berbatasan Kecamatan Dua Boccoe, Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Wajo, sebelah Selatan berbatasan Kecamatan Tellu Siattinge, dan Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Bone.

Adapun keberadaan kecamatan Cenrana diperkuat oleh Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Organisasi Kecamatan dan Kelurahan Kabupaten Bone.

Kecamatan Cenrana awalnya hanya sembilan desa, yaitu Panyiwi, Pacubbe, Watu, Nagauleng, Cenrana, Labotto, Pallime, Laoni, dan Latonro.

Tahun 1970 Desa Lebongnge bagian dari wilayah Desa Cenrana. Kemudian tahun 1987 berdiri menjadi sebuah desa yang merupakan pecshan dari Desa Cenrana.

Dari catatan sejarah terdapat situs tempat pertemuan Arung Pitu di  Cenrana yang sekarang ini wilayah tersebut Calodo yang sekarang ini masuk Desa Lebongnge.

Pada masa pemerintahan La Patau Matanna Tikka para Arung Pitu sering melakukan pertemuan-pertemuan tingkat tinggi antara Bone dengan kerajaan lainnya seperti Kerajaan Luwu.

Lebongnge mereka pilih sebagai tempat pertemuan disamping sebagai wilayah perbatasan juga merupakan daerah tertinggi yang ada di wilayah Cenrana bagian utara.

Setelah dimekarkan Desa Cenrana menjadi tiga Desa yaitu Desa Cenrana, Desa Watang Cenrana (Desa Lebongnge Sekarang), dan Kelurahan Ujung Tanah.

Kemudian pada tahun 2003 Desa Watang Cenrana berubah nama menjadi Desa Lebongnge. Pengambilan nama Desa Lebongnge karena berada di daerah dataran agak tinggi.

Selanjutnya Desa Cakkeware merupakan pecahan dari Desa Labotto. Desa Watang Ta adalah pecahan dari Desa Pacubbe. Kemudian Desa Pallae merupakan hasil pemekaran dari Desa Watu tahun pada tahun 1987.

Sementara Desa Pusungnge merupakan hasil pemekaran Desa Laoni dan Ajanglasse merupakan hasil pemekaran dari Desa Pallime.

Adapun penetapan nama-nama desa dan kelurahan di kecamatan Cenrana seperti kecamatan lainnya berdasarkan Peraturan Bupati Bone Nomor 11 Tahun 2018 tentang penetapan nama desa dan kelurahan Kabupaten Bone.

Dalam perkembangannya beberapa desa di Kecamatan Cenrana mengalami pemekaran sehingga sekarang ini terdiri 15 desa dan 1 kelurahan, yaitu:

Adapun daftar desa/kelurahan di kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone antara lain :
1. Kelurahan Ujung Tanah
2. Desa Pacubbe
3. Desa Panyiwi
4. Desa Latonro
5. Desa Watu
6. Desa Nagauleng
7. Desa Awang Cenrana
8. Desa Pallime
9. Desa Laoni
10.Desa Labotto
11.Desa Cakkeware
12.Desa Lebongnge
13.Desa Ajanglasse
14.Desa Pusungnge
15.Desa Pallae
16.Desa Watang Ta

Luas wilayah kecamatan Cenrana yaitu 143,60 km persegi. Desa Lebongnge merupakan desa terluas di kecamatan Cenrana yaitu seluas 22 km persegi, dan wilayah terkecil adalah Desa Watang Ta hanya seluas 2,75 km persegi.

Sementara wilayah tertinggi di Kecamatan Cenrana adalah Desa Lebongge yaitu 22 meter diatas permukaan laut, dan wilayah terendah berada di desa Latonro, Laoni, dan Desa Pusungnge masing-masing hanya 1 meter diatas permukaan laut. Ketiga desa tersebut berada di tepi laut.

Berdasarkan Kecamatan Cenrana Dalam Angka Tahun 2019, memiliki jumlah penduduk sebanyak 24.366 jiwa, yaitu Laki-laki 11.589 jiwa dan perempuan 12.777 jiwa.

Masyarakat Kecamatan Cenrana umumnya bekerja pada sektor pertanian, tambak, peternakan, wiraswasta, pedagang, Pegawai Negeri Sipil, dan lainnya.

Kecamata Cenrana juga dikenal sebagai penghasil kepiting yang terkenal di dunia.

Desa Pallime merupakan sumber penangkaran utama kepiting bakau, umumnya petani melakukan penangkaran di hamparan tambak yang luas, maklum Desa Pallime memang merupakan kawasan pesisir utara Teluk Bone.

Tanahnya yang lembab serta memiliki muara Sungai Walannae cukup membuat kepiting bakau menjadikan kawasan ini sebagai habitatnya.

Siapa yang tak kenal dengan Bukkang Pallime atau Kepiting Pallime yang dikenal gurih itu. Konon Bukkang Pallime yang ada di kecamatan Cenrana ini adalah kepiting yang paling gurih di dunia. Masya Allah.

Wilayah Kecamatan Cenrana juga dikenal sebagai daerah situs bersejarah, yaitu merupakan pusat pemerintahan raja Bone ke-16 yaitu Lapatau Matanna Tikka yang memerintah di kerajaan Bone dalam tahun 1696-1714.

Kompleks Makam La Patau Matanns Tikka tersebut terletak di Desa Nagauleng. Di saat saat tertentu kompleks makam ini banyak dikunjungi terutama yang memiliki panggorisen atau jalinan kekerabatan dengan La Patau Matanna Tikka. Bahkan ada diantaranya datang dari negeri jiran Malaysia.

Insya Allah Terkait Keberadaan situs Cenrana kami akan paparkan secara khusus di lain kesempatan di Channel Youtube Teluk Bone.

Bahkan sebelum pemerintahan La Patau Matanna Tikka, Wilayah Cenrana merupakan tempat pertemuan Tiga kerajaan Bugis, yaitu Bone, Wajo, dan Soppeng. Petemuan itu melahirkan perjanjian Tellumpoccoe yang disebut Allamumpatue ri Timurung.

Dalam catatan sejarah, bahwa Latar belakang dari Perjanjian Tellumpoccoe yang merupakan perjanjian yang melibatkan tiga kerajaan Bugis yaitu Bone,Wajo, dan Soppeng.

Perjanjian itu diawali dari adanya bencana perang yang dialami Bone saat di pimpin oleh Raja Bone ke-7 La Tenrirawe Bongkange yang memerintah dalam tahun 1560-1564.

Bencana perang yang didalangi oleh pihak Gowa dan Luwu, ternyata mengakibatkan Bone mengalami kerugian harta benda dan sumber daya manusia serta kehidupan sosial budaya. Meskipun saat itu Bone selalu unggul, namun untuk menghindar dari kondisi itu sepertinya tidak dapat lagi dilakukan.

Maka untuk tetap mempertahankan kedudukan kerajaan Bone yang tangguh, maka Raja Bone La Tenri Rawe Bongkangnge menjalin hubungan kerja sama dengan Arung Matowa Wajo yang bernama To Uddamang, Datu Soppeng yang bernama Lamappaleppe Pollipue. Maka diadakanlah pertemuan di Cenrana untuk memperkuat hubungan antara Bone, Soppeng dan Wajo.

Setelah pertemuan Cenrana, ketiga kerajaan sepakat menanam batu dikampung Bunne, Timurung. Dipilihnya daerah tersebut karena merupakan wilayah perbatasan ketiga kerajaan.

Situs perjanjian yang menyerupai anglo tersebut adalah batu besar (Bone) yang menandakan Bone sebagai saudara tua, kemudian yang agak kecil (Wajo) sebagai saudara tengah dan yang paling kecil (Soppeng) sebagai saudara bungsu.

Namun setelah Rumpa’na Bone, Belanda mengganti nama Tellumpoccoe menjadi Afdeling Bone pada tanggal 2 Desember 1905.

Baik kita lanjutkan …

Penamaan kecamatan Cenrana sendiri lahir tidak lepas dari potensi alamiah yang ada sebelumnya di daerah tersebut.

Sebagai mana diketahui kata Cenrana dalam bahasa Indonesia disebut Cendana, yaitu merupakan kayu bahan membuat wangi-wangian. Di masa lalu komoditi cendana ini sangat mahal.

Bau harum kayu cendana ini bisa bertahan sampai berabad-abad lamanya. Pada masa kerajaan Bone kayu ini biasa dibuat menjadi minyak dan baunya harum yang disebut “minynya’ cenrana” atau minyak cenrana.

Tak heran apabila jenasah-jenasah masa lalu dibalsem dengan minyak cenrana. Selain itu kayu cenrana (bugis:aju cenrana) digunakan sebagai rempah-rempah, bahan untuk dupa, bahkan kayunya dibuat untuk sarung badik dan keris.

Pohon cendana sebagaimana banyak juga yang tumbuh di daerah lain hidup dan tumbuh secara alamiah serta liar di hutan-hutan wilayah Bone khususnya di kawasan Cenrana.

Oleh karena itu, penamaan Cenrana tidak lepas dari kondisi dan potensi alamiah yang dimiliki wilayah tersebut. Banyaknya pohon cendana yang tumbuh di daerah tersebut di masa lalu sehingga menjadi nama daerah tersebut.

Selain tumbuhan cenrana, tanaman padi juga salah satu komuditas unggulan kerajaan Bone masa lalu. Padi sebagai produk pertanian telah diusahakan secara intensif mulai abad ke-16.

Olehnya itu kerajaan Bone dikenal mempunyai kantong-kantong pertanian yang salah satunya di sekitar sungai Cenrana dan wilayah sekitarnya.

Orang-orang dari kerajaan Mampu datang ke kerajaan Cenrana untuk membentuk lahan-lahan pertanian seperti ladang, kebun dan persawahan. Hal ini tidak lepas keberadaan sungai Cenrana yang banyak menyuplai air.

Sungai Cenrana mempunya peran sangat besar, tak heran La Patau Matanna Tikka Raja Bone ke-16 fokus mempertahankan wilayah tersebut, bahkan ia membuat benteng dan dijadikan wilayah Cenrana sebagai ibukota kerajaan.

Bekas-bekas benteng yang dibangun oleh La Patau Matanna Tikka diabadikan menjadi nama kampung seperti Laleng Benteng dan Saluweng Benteng. Kampung tersebut terletak di sebelah Utara Sungai Cenrana, yaitu dapat dijumpai manakala kita menuju Dusun Kajuara.

Konon, sebelumnya istana kerajaan berada di Tibojong namun karena wilayah Cenrana yang stategis untuk perdagangan La Patau Matanna Tikka memindahkan pusat pemerintahannya di Cenrana.

Keberadaan sungai cenrana yang bermuara di Teluk Bone menjadi jembatan perdagangan lokal dan internasional. Pedagang-pedagang dari Aceh, Cina, Vietnam, Jepang, dan Thailand masuk ke Cenrana melalui Teluk Bone.

Tak heran fragmen seperti serpihan keramik banyak ditemukan di sekitar bekas istana kerajaan Bone Balla. Bahan-bahan tersebut dibawa pedagang dari negeri Cina yang negerinya lebih dahulu berkembang.

Konon wilayah Cenrana ini sebelumnya merupakan wilayah kerajaan Soppeng. Hal itu berdasarkan cerita rakyat.

Dahulu kala masa pemerintahan raja Bone ke-7 La Tenrirawe Bongkangnge mempunyai seorang ahli bicara yaitu La Mellong.

Di mana saat itu diadakan sayembara antara kerajaan Bone dan Soppeng yang intinya dimenangkan oleh Bone atas kepiawaian La Mellong.

Cerita rakyat itu dikenal “arengnga Cenrana Walai Ganra ” artinya berikan cenrana kuambil ganra.

Ganra saat ini merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Soppeng sebelumnya masuk wilayah kerajaan Bone.

Dalam bahasa Bugis kuno Ganra diartikan sebagai alat pemintal benang yang berbentuk melingkar. Bahan untuk membuat ganra adalah kayu cendana atau aju cenrana.

Itulah kilasan sejarah tentang Kecamatan Cenrana. Di mana daerah ini banyak melahirkan putra putri daerah yang cerdas dan religius. Sebenarnya apabila dikaji lebih mendalam masih banyak yang perlu diteliti di daerah ini. Hal itu dibuktikan adanya peninggalan situs sejarah di wilayah kecamatan Cenrana.

Terima kasih semoga bermanfaat, mohon maaf atas segala kekurangan dalam paparan ini.

Wabillahi Taufik Walhidayah
Wassalamu Al.Wr.Wb.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...