Masuknya Islam di Daerah Bone

Setelah daerah dan kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan memeluk agama Islam, Sultan Alauddin Awwalul Islam adalah da’i yang tak kenal lelah mengajak para raja-raja untuk memeluk Islam.

Salah satunya mengajak Raja Bone, La Tenri Ruwa (1607-1608), kakek Arung Palakka dari putrinya We Tenri Sui’, yang saat itu baru tiga bulan dilantik menjadi Raja Bone. La Tenri Ruwa merespons dengan sangat baik ajakan koleganya itu, meski pada saat itu tidak langsung mengucapkan dua kalimat syahadat.

La Tenri Ruwakembali ke Bone mengumpulkan rakyatnya dan berseru agar ajaran agama Islam diterima sebagai agama resmi kerajaan. Tetapi sayang, niat baik Sang Raja mendapat protes dari rakyatnya. Karena gagal meyakinkan rakyatnya, ia akhirnya mengundurkan di sebagai Raja.

Saat itu, rakyat bingung dan merasa kehilangan pemimpin mereka. Mereka pun mengirim utusan untuk bertemu Sang Raja. Utusan itu berkata, “Bukan kami yang tidak menyukai puatta’, tapi puatta’lah yang tidak menyukai kami”. Raja La Tenri Ruwa kemudian menjawab, “Saya menerima ajakan dari rekan kami Raja Gowa Sultan Alauddin bukan karena takut padanya, melainkan karena saya meyakini kebenaran agama yang dibawanya.

Silakan kalian berpegang pada ajaran kalian yang menyesatkan itu”. Raja kemudian digantikan oleh La Tenri Pole Arung Timurung (Hannabil Rizal, dkk., 2004: 114).

Pada awal mulanya, Sultan Alauddin bertekad menyebarkan Islam di Bone secara damai dan tanpa konfrontasi fisik sebagaimana yang terjadi pada awal mula tadi dan bahkan berniat mengutus Datuk Ribandang ke Bone. Namun selalu menemui kegagalan karena
keengganan rakyat Bone untuk memeluk Islam baik dari kalangan penguasa maupun masyarakat biasa.

Maka perang tak dapat dielakkan sebagai alternatif terakhir. Perang ini pun menjadi perang agama bagi raja kembar Gowa-Tallo dan harga diri bagi Raja Bone.

Perang ini juga terkenal dengan Buduk Sallanga (bahasa makassar) dan Musu’ Asselengeng (bahasa bugis) atau “musuh bebuyutan”.

Bone akhirnya tak kuasa melawan dan bertekuk lutut. Kemudian La Tenri Pale pergi menghadap Sultan Alauddin dan memeluk Islam bersama seluruh rakyatnya. Kemudian Sutan bertitah, “Meskipun kalah perang tetapi karena Islam diterima baik di kerajaan Bone,
maka dibebaskan dari rampasang perang dan semua tawanan juga dibebaskan”.

Mendengar titah Sultan itu maka rakyat Bone mulai berduyung-duyung masuk agama Islam. La Tenri Pole yang sudah memeluk Islam kemudian bergelar Sultan Abdullah, setelah wafat sebagaimana wasiatnya agar digantikan oleh La Maddaremmeng Arung Timurung yang bergelar Sutan Muhammad Saleh diangkat
sebagai pelanjut.

Adapun La Tenri Ruwa yang sejak awal menerima Islam tanpa paksaan dan paling awal merespons Islam, tidak disetujui oleh
rakyatnya kemudian memilih mundur sebagai raja. Beliau lebih dulu berangkat menjumpai Sultan Alauddin dan kemudian Sultan
bertanya padanya, “Manakah daerah yang menjadi milik Puatta?” La Tenri Ruwa Menjawab, “Palakka, Pattiro, dan Awangpone kepunyaan saya.”

Mendengar jawaban itu, Sultan lantas mempersilahkan La Tenri Ruwa untuk mengucapkan dua kalimat Syahadat dan disaksikan langsung oleh Datuk ri Bandang, kemudian mendapat gelar Sultan Adam. Selanjutnya, baginda berguru pada Datuk ri Bandang untuk memperdalam Islam. Inilah penguasa sekaligus orang Bone yang paling masyhur sebagai pemeluk agama Islam untuk pertama kalinya.

Bahkan, Sultan Adam ini lebih memilih berdakwah ketimbang kembali menjadi raja di Bone. Beliau memilih menyebarkan agama Islam di daerah Bantaeng dan wafat di sana. Karena itulah, beliau juga dikenal La Tenri Ruwa Matinroe ri Bantaeng (Azhar Arsyad, dkk., 2003: 13).

Tahun 1640, Arumpone La Maddaremmeng yang menggantikan La Tenri Pale atau digelar Sultan Abdullah mengamalkan Islam lebih
ketat dibanding kerajaan lain termasuk Gowa dan Tallo. Di antara gebrakannya yang terkenal adalah menghapus sistem perbudakan (ata) karena manusia dilahirkan tidak untuk diperbudak; juga menghukum berat para penyembah berhala atau menyakralkan
tempat dan benda-benda tertentu; pelaku zina; pencurian; miras, dan sebagainya.

Maka terjadilah perlawanan besar dari para bangsawan Bone yang dipimpin langsung Ibu La Maddaremmeng sendiri, Datu Pattiro we Tenrisoloreng. Dia menolak ajaran Islam versi anaknya karena dianggapnya keras dan tidak toleran. Ibunya lebih suka dan tertarik dengan ajaran Islam versi kerajaan Gowa dan Tallo karena lebih sufistik dan lebih dekat dengan ajaran kepercayaan pra-Islam di Bone.

La Maddaremmeng akhirnya melakukan ekspansi ke daerah lain dengan alasan “Islamisasi” di Wajo, Soppeng, Masseppe, Sawitto, dan Bacukiki. Dengan luasnya daerah yang ditaklukkan oleh La Maddaremmeng, maka banyak yang menilai kalau tindakannya
itu bukan saja dengan tujuan islamisasi tetapi memiliki niat yang terselubung yaitu memperluas daerah kekuasaan wilayah dan pengaruhnya. Tindakannya ini kemudian mengundang Raja Gowa dan Tallo untuk ikut campur. Akhirnya, perang saudara kembali pecah pada tanggal 8 Oktober 1643.

Gowa yang memang memiliki angkatan perang yang tak terkalahkan berkoalisi dengan dengan Wajo dan Soppeng untuk menyerang Bone di daerah Pasempe. La Maddaremmeng dan pasukannya dipaksa mundur ke daerah Luwu. Mulai saat itulah Bone berada dalam kekuasaan Gowa hingga muncul Arung Palakka.

Arung Palakka diperkirakan lahir tahun 1635, di desa Salamatta daerah Mario Riwawo, Soppeng, Putera We Tenri Sui’ Puteri Arungpone La Tenri Rua, Sultan Adam Matinroe Ri Bantaeng. Beliau bangkit menjadi pemimpin Bone dan Soppeng.

Dia memiliki gelar yang tidak sedikit karena kehebatan dan berbagai macam prestasinya terhadap rakyat Bone. Dia dikenal dengan gelar La Tenri Tatta (yang tak dapat ditebas). Versi lain, kadang juga disebut La Tenri Tata, (yang
tidak dapat diperintah oleh siapa pun). Dia tumbuh sebagai pemuda di istana Gowa, memperoleh nama Daeng Serang. Karena dia berjasa membebaskan rakyat Bone dari kekuasaan Makassar, maka dia diberi gelar Arung Palakka yang berarti Penguasa Palakka dan dikenal sebagai pewaris tahta Bone.

Karena sumpahnya yang terkenal untuk tidak memotong rambutnya sampai bisa membebaskan rakyat Bone dari kekuasaan Gowa, dia mendapat panggilan Petta Malampe’e Gemme’na (pangeran berambut panjang).

Sepanjang perang melawan Makassar, beliau tidak pernah terkalahkan dan mendapatkan julukan Tounru’ atau Toapaunru’ (Sang Penakluk). Orang Belanda memberinya gelar Koning Der Buginezen (Raja Tana Ugi), namun orang Sulawesi sendiri menyebutnya, Datu Tungke’na Tana Ugi (penguasa tunggal tanah Bugis) (A. Mattulada, 1998: 234).

Tahun 1672, dia menjadi Arungpone dan menggunakan gelar Sultan Sa’duddin. Peperangan terakhir yang dipimpin oleh Arung Palakka adalah ketika berperang di bawah koalisi Bone-Soppeng melawan koalisi Gowa-Wajo.

Peperangan ini terjadi berkali-kali,
yang pada kali pertama berlangsung di daerah Suling yaitu antara Cenrana dan Lamuru. Kedua, di sekitar Matango dekat Bengo. Ketiga, berlangsung di sekitar Labai sebuah pegunungan dekat Lamuru.

Pada pertempuran ini Bone-Soppeng kewalahan menghadapi koalisi
Gowa-Wajo walaupun masih melakukan perlawanan. Puncaknya, ketika koalisi Gowa-Wajo berhasil memisahkan pasukan koalisi Bone-Soppeng dan berhasil menyerang dan membakar pasukan Soppeng secara berasingan. Sementara pasukan Bone di bawah komando Arung Palakka juga dikalahkan dalam sebuah pertempuran dekat daerah Ulaweng dan memaksa pasukannya lari ke kaki bukit.

Di sana terjadi lagi pertempuran Arung Palakka dan pasukannya kembali menelan kekalahan dan dipukul mundur ke daerah Jaling dan akhirnya ke Watampone. Di kandangnya, Arung Palakka dan pasukannya betul-betul sudah tak berdaya. Akhirnya, dia melarikan diri dan pasukannya di Gunung Maccini untuk bersembunyi di sana selama dua puluh hari.

Setelah keluar dari persembunyiannya, beliau melafazkan sumpah warani dengan mengatakan, “Perang kami dengan Karaeng Gowa telah berakhir, namun perang saya dengan seajing (saudara) Wajo belum selesai”. Sebagaimana kita ketahui bahwa dulu Wajo masuk dalam aliansi Tellumpoccoe atau kerajaan tiga serangkai yaitu Bone-Soppeng-Wajo yang kini biasa disebut Bosowa. Namun pada akhirnya Wajo lebih cenderung untuk beraliansi ke Gowa dengan beberapa pertimbangan saat itu.

Peperangan ini berlangsung sepanjang tahun 1660 dan Arung Palakka serta beberapa pasukan intinya meninggalkan tanah leluhurnya. Dia berlayar ke pulau Buton pada awal tahun 1661 M.

Di sana beliau dengan pasukannya berdiam selama tiga tahun. Pada 1663, dia berangkat ke Batavia (sekarang Jakarta) bersama pasukan setianya berjumlah 400 personel. Selanjutnya, dia berdiam di Muara Angke dengan tujuan utamanya adalah ingin berkoalisi dengan Belanda untuk menyerang Pasukan Sultan Hasanuddin.

Bahkan lebih jauh lagi, Arung Palakka rela diperalat Kompeni Belanda untuk
ikut berperang di Padang Pariaman dan ditempatkan di garda paling depan dengan hanya menggunakan badik, kelewang, keris, parang, dan kapak.

Akhirnya terjadilah pertempuran yang sangat sengit yang dimenangkan Kompeni dan Arung Palakka. Perang ini berlangsung pada tahun 1666. Setelah itu, barulah pihak Kompeni mengakui kehebatan Arung Palakka sehingga tidak ragu lagi bahwa beliau bisa diajak berkoalisi untuk melawan kerajaan kembar Islam Gowa-Tallo. Pada akhirnya, analisa Kompeni ini pun terbukti (Ali & Amal, 1989: 7).

Setelah kematiannya, dia mendapat gelar Matinroe ri Bontoala(yang meninggal di Bontoala). Sayang, karena cerita tentang prestasi dan kegagahannya lebih banyak berkutat tentang kehebatannya dalam perang saudara melawan Makassar di bawah kerajaan Islam Gowa-Tallo, sangat susah mendapatkan literatur mengenai kehebatannya dalam perang atas nama agama Islam seperti pendahulunya.

Artikel Lainnya :

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular

Masuknya Islam di Daerah Bone

Setelah daerah dan kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan memeluk agama Islam, Sultan Alauddin Awwalul Islam adalah da’i yang tak kenal lelah mengajak para raja-raja...

Pengaruh Migran Suku Bugis di Kawasan Timur Indonesia

Suku Bugis merupakan salah satu suku yang ada dan cukup terkenal di dunia. Suku yang tidak asing lagi ini memiliki karakter yang kuat dalam...

Refleksi Kelam 2020

Menjelang akhir 2020, negeri ini masih dilanda pandemi mematikan. Mahluk yang begitu lembut menyerang secara nyata seluruh sendi kehidupan manusia. Sejak Maret 2020 terus...