Budaya Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge, Sipatokkong

0
430

Budaya lokal diartikan sebagai kebudayaan yang tumbuh dan berkembang serta dimiliki dan diakui oleh masyarakat/suku setempat.

Kebudayaan menjadi dasar pendidikan karakter yang dapat dijadikan sebagai landasan dalam membentengi diri. Dalam penguatan pendidikan karakter harus dimulai dari pelastarian budaya lokal.

Indonesia terbangun dari beragam suku dan setiap suku memiliki budaya tersendiri yang menjadi identitas daerah mereka. Indonesia dan budaya adalah dua hal yang tidak terpisahkan.

Budaya Lokal Bugis Sipakatau, Sipakainge’, Sipakalebbi, dan Sipatokkong merupakan landasan pendikan karakter yang sangat kuat dan kukuh. Keempat permata ini menjadi landasan berpikir pembinaan moral orang Bugis sejak dahulu kala.

1. Sipakatau

Sipakatau adalah sifat yang tidak saling membeda-bedakan, semua manusia sama, tidak ada perbedaan derajat, kekayaan, kecantikan, dsb. Dalam kehidupan, kita tidak selayaknya membedakan orang-orang. Kita harus saling menghargai dan menghormati sesama.

2. Sipakalebbi

Sipakalebbi adalah sifat saling menghargai sesama manusia. Kita sesama manusia, harus saling menghargai. Semua manusia ingin diperlakukan dengan baik. Dengan sipakalebbi diharapkan akan membawa manusia ke jalan yang benar. Jadi intinya adalah, apabila kita ingin diperlakukan dengan baik maka perlakukan pula orang lain dengan baik pula.

3. Sipakainge’

Sipakinge adalah sifat di mana kita saling mengingatkan. Apabila ada di antara kita yang melakukan kesalahan tidak ada salahnya kita saling mengingatkan. Tujuan saling mengingatkan agar dapat mengubah dan menghindari sifat-sifat tercela yang tidak disukai oleh Allah SWT.

4. Sipatokkong

Sipatokkong adalah sifat saling bekerja sama. Sipatokkong berarti berdiri bersama-sama. Contoh kecilnya, orang Bugis dalam melakukan suatu pekerjaan biasanya dilakukan bersama-sama. Pekerjaan yang berat apabila dikerjakan bersama-sama akan menjadi lebih ringan. Dalam arti lain, sipatokkong juga bisa diartikan saling membantu. Saling membantu kepada saudara-saudara kita yang sedang susah maupun yang sedang membutuhkan bantuan.

Pada hakikatnya, pendidikan karakter mengandung nilai-nilai budaya bangsa seperti yang mencakup nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.

Keberadaan pendidikan karakter diharapkan mampu menjadi pemersatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun pada kenyataannya, pengamalan pendidikan karakter mulai terkikis secara perlahan di tengah perkembangan arus globalisasi yang semakin pesat.

Kemajuan globalisasi seharusnya bukan menjadi hambatan untuk melupakan apalagi tidak mengamalkan pendidikan karakter. Justru dengan kemajuan globalisasi, pendidikan karakter perlu diamalkan agar kita dapat terhindar dari virus negatif yang mungkin terjadi.

Berbagai kasus penyimpangan sosial, perkelahian antar pelajar, kekerasan terhadap anak, pelecehan terhadap guru, perselisihan antar agama, hingga ujaran kebencian adalah deretan kasus yang seringkali terjadi belakangan ini.

Adapun faktor yang menjadi pemicu maraknya terjadinya kasus-kasus tersebut, salah satunya lantaran melemahnya pengamalan pendidikan karakter dalam kehidupan bermasyarakat.

Di sinilah pentingnya dihidupkan kembali pendidikan karakter sipakatau, sipakalebbi, sipakainge, dan sipatokkong (S4) yang benar di sekolah hingga perguruan tinggi. (murs).

Berikan Komentar Anda

Please enter your comment!
Please enter your name here