Keterbatasan kemampuan untuk memahami keseluruhan apa yang terbentang di alam raya ini menyebabkan banyaknya peristiwa, kejadian, atau sesuatu yang dianggap misteri dalam kehidupan ini. Sebutlah misalnya ijuk yang diyakini menyimpan manfaat dan misteri.

Ijuk (bugis:inru’) merupakan salah satu serat alami terbaik dengan ketahanan yang awet. Ijuk bisa bertahan digunakan hingga 100 tahun lamanya. Tahan terhadap asam, rayap, dan bisa menyerap air maupun panas.

Tidak heran jika ijuk sering menjadi pilihan untuk atap perumahan di tepi pantai, gazebo, restoran, bergaya tradisional. Atap ijuk memberikan keteduhan karena menyerap sinar matahari sekaligus membuat sejuk suasana di sekitar.

Dengan warna hitam pekat yang khas, bulu ijuk selalu terlihat alami, mengkilap dan punya kesan baru yang indah. Tidak salah jika kalian menggunakan atap ijuk sebagai pelengkap gazebo taman kalian.

Atap ijuk sering menjadi bagian dari bangunan tradisional seperti rumah adat. Dengan penataan yang rapi, warna hitam legam dari atap ijuk kian menambah keasrian suatu budaya. Bayangkan saja, sambil menyantap diteduhi atap ijuk, suasana alam serba tradisional pasti akan semakin terasa, bukan?

Nah bagaimana sisi misterinya?

Para nelayan tradisional Bugis tempo dulu misalnya, kebanyakan memasang bulu-bulu ijuk di ujung tiang-tiang perahu. Mereka umumnya beranggapan dengan memasang ijuk seperti itu, segala jenis yang disebut-sebut sebagai hantu laut tidak akan mengganggu perjalanan perahu di lautan bebas. Dengan memasang bulu-bulu ijuk di ujung tiang perahu juga diyakini akan menangkal sambaran petir apabila terjadi badai di laut lepas. Hal seperti ini masih berlaku saat ini.

Masih banyak nelayan Bugis di sejumlah pesisir Sulawesi Selatan, sampai sekarang mereka masih meneruskan kebiasaan leluhurnya menancapkan bulu-bulu ijuk pada tiang tertinggi di armada perahu atau kapal yang mereka gunakan untuk mengarungi lautan.

Ijuk dari pohon enau ini katanya, bagaimanapun tingginya tidak pernah ada yang tersambar petir seperti yang sering menimpa pohon kelapa atau pohon-pohon lainnya yang tumbuh menjulang di hutan-hutan.

Dengan alasan sama, ijuk untuk menangkal bahaya sambaran petir, sejumlah petani di pedalaman Bugis sampai sekarang jika melintas atau bekerja di suatu tanah hamparan luas dalam musim penghujan, masih banyak yang menyelipkan lidi iduk di antara jepitan celana atau saku baju dalam posisi tegak seperti antena.

Masih berkait dengan Pohon Enau yang sarinya dijadikan bahan baku pembuatan Gula Aren (Gula Merah), lidinya sampai sekarang masih banyak digunakan untuk mencambuk orang-orang yang disebut-sebut ‘kemasukan barang halus’.

Tidak hanya bulu tapi lidi ijuk diyakini mampu mengusir mahluk halus. Orang-orang yang ‘kemasukan’ tersebut gejalanya dalam keadaan tiba-tiba saja tak sadarkan diri, menagis, atau berteriak-teriak histeris.

Seringkali juga berbicara aneh-aneh atau berbicara dalam bahasa asing yang fasih. Pada hal yang bersangkutan dalam keadaan sadarnya, tidak mengetahui bahasa asing tersebut. Di kalangan Bugis peristiwa semacam ini disebut “dongkokeng”.

Dengan mencambukkan lidi ijuk ke tubuh orang ‘kemasukan’, biasanya lantas ia sadar diri kembali. Bahkan para pemburu hantu juga sering menyodok kuntilanak menggunakan sapu lidi.

Dari pengalaman sejumlah rimbawan, juga ada diceritakan jika mereka menjelajah hutan selalu membawa perlengkapan berupa tali hitam yang dipintal dari bulu-bulu ijuk.

Tali ijuk tersebut dibentangkan mengelilingi lokasi di mana mereka akan membuat kemah. Maksudnya untuk menghalau masuknya binatang melata berbisa sejenis ular ke lokasi tempat perkemahan mereka. Dari banyak pengalaman, mereka telah membuktikan berbagai jenis ular hutan tak mau melintas ke lokasi yang dibatasi bentangan tali ijuk.

Sejumlah guru ngaji di pedalaman Bugis Sulawesi Selatan masih menganjurkan kepada murid-muridnya untuk menggunakan potongan lidi ijuk (enau) yang disebut ‘kallang’ sebagai alat bantu penunjuk huruf-huruf ketika membaca kitab suci Al-Qur’an.

Kajian ilmiah, tentu saja, masih perlu dilakukan untuk mengungkap misteri ijuk yang sejak dulu dianggap memiliki multimanfaat itu.

BAGIKAN