Disadari atau tidak, mahluk yang satu ini (manusia) memang gemar melakukan sesuatu hal yang buruk. Mulutnya sebagai alat makan minum dan bicara kerap disalahfungsikan untuk menghina bahkan menjelek-jelekan yang lainnya. Kepandaian mereka kerap hanya digunakan sebagai kecerdikan dan memperdayai orang sekitarnya.

Akal pikirannya yang semestinya digunakan kepada hal-hal lebih bermanfaat tapi digunakan hanya mencela, mengejek, mengumpat, menjelek-jelekkan, mengatai-ngatai, dan sejenisnya. Celakanya lagi celaan itu hanya untuk kepentingan tertentu. Bahkan orang-orang seperti ini hanya disibukkan terhadap hal-hal yang lebih banyak menuntut. ” lomi ande delo eco” kata sindiran Bugis.

Lebih lanjut Tuah Bugis mengatakan: Naiya accae ripatoppoki jekko, agato aliri, narekko teyai mareddu’, mapoloi. Artinya: kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah, kalau tidak tercabut, ia akan patah. Di Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakan pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan.

Ini adalah kias terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa malapetaka. Iya, ilmunya tinggi tapi buta paham.

Untuk jelasnya, mari kita cermati pesan-pesan Bugis di bawah ini:
Limai awangenna narilolongeng deceng, yanaritu:
1. pakatunai alemu ri sulesanae;
2. saroko mase risulesanae;
3. makkareso patujue;
4. moloiyye roppo roppo narewe;
5. molae laleng namatike’ nappa sanre’ ri Alla Taala.

Maksudnya :

Lima jenis sifat manusia menghasilkan kebaikan, yaitu:
1. merendahkan diri sepatutnya,
2. mencari kawan/sahabat sepatutnya,
3. berbuat/bekerja yang baik dan benar,
4. kembali apabila menghadapi rintangan,
5. waspada dalam perjalanan sambil berserah diri kepada Allah SWT.

Nah, ternyata sesuatu yang kita anggap biasa-biasa saja bisa berujung petaka kepada kita dan juga orang lain yang ikut-ikutan dengan apa yang kita lakukan.

Para ulama juga kerap mengingatkan, bahwa kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Neraka bagi manusia yang suka mencela dan mengejek. Jadi intinya terkutuklah bagi orang yang selalu mencela, mengejek, mengumpat, menjelek-jelekkan, mengatai-ngatai, dan sejenisnya. Apalagi celaannya itu hanya untuk kepentingan tertentu.

Jika ada orang lain yang mengajak kita mencela hanya untuk mencela dan menutut yang tidak jelas, pikir lebih dahulu. Sebaiknya kita tidak ikut-ikutan dan segera menghindar. Bahkan jika perlu mengingatkan mereka untuk menghentikan apa yang mereka lakukan agar terhindar dari harapan sesaat belaka.

Oleh karena itu mari kita jaga lisan, jangan dikotori dengan perkataan-perkataan yang tidak perlu apalagi yang menambah perbendaharaan dosa kita selama hidup di dunia. Namun semuanya kembali kepada cara berpikir kita masing-masing.

BAGIKAN