Awal tahun 2020 ini, tidak diketahui dengan pasti berapa orang Indonesia yang menderita stres. Ada stresnya yang unik-unik yang tidak seperti biasanya, atau dengan kata lain bermunculan stres gaya baru.

Demikian stresnya sehingga ada yang melantik dirinya menjadi raja dan ratu sejagat dan stres jenis lainnya. Orang yang terkena stres biasanya agak susah mengontrol dan mengendalikan diri, perasaan galau, merasa was-was, rasa malu hilang dan bermuka tebal.

Akan tetapi bukan hanya rakyat miskin yang stres orang kaya juga banyak diserang stres. Bahkan stres ini juga banyak dialami pejabat dan politikus. Tapi uniknya rakyat biasa lebih mudah mengendalikan stres dibanding orang kaya, pejabat, dan politikus.

Sejatinya teknologi canggih saat ini diharapkan bisa mengurangi stres, sebab sudah bisa meringankan beban kerja. Dengan teknologi kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja tanpa batas, memudahkan transaksi, dengan kendaraan kita bisa berpindah dari tempat yang satu ke tempat lainnya.

Seorang pejabat bisa stres lantaran adanya aturan/regulasi yang mengikat, orang kaya stres sebab ingin semakin kaya, orang miskin/rakyat biasa stres sebab ingin menutupi kebutuhan sehari-harinya. Tampaknya hampir separuh penyebab stres adalah ujung-ujungnya uang atau finansial.

Tetapi penyebab stres bukan hanya masalah finansial saja, ada beberapa faktor juga menjadi penyebab tingginya tingkat stres.

1. Kebutuhan Keluarga

Dari waktu ke waktu, kebutuhan keluarga Indonesia terus meningkat. Hal itu disebabkan oleh harga sandang, pangan, dan papan yang kian lama akan semakin meningkat pula. Kalau sudah seperti ini, tidak heran rasanya jika seseorang bisa stres saat memikirkan kebutuhan keluarganya sehari-hari.

2. Masalah Pekerjaan

Sebagian besar pekerja di Indonesia pasti merasakan banyak permasalahan, baik di lingkungan sekitar ataupun dalam bidang pekerjaan yang mereka lakukan. Dari beban yang terlalu berat hingga tenggat kerja yang mencekik sering kali membuat para pekerja menjadi stres dalam menjalani kehidupan profesionalnya.

3. Masalah Kesehatan

Kesehatan adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada manusia. Maka dari itu, kesehatan amatlah mahal hingga tidak ternilai harganya. Seringkali, karena pengaruh gaya hidup yang tidak baik, pola makan yang tidak beraturan, serta kurangnya waktu untuk berolahraga menyebabkan seseorang mengalami masalah kesehatan.

Tidak hanya itu, akibat masalah kesehatan ini tidak sedikit yang akhirnya harus mengeluarkan biaya lebih untuk tindakan perawatan dan penyembuhan. Permasalahan biaya kesehatan ini yang kerap kali memicu naiknya tingkat stres, apalagi jika harus dikeluarkan dalam jumlah yang besar.

4. Masalah Kehidupan Sosial

Tidak semua orang bisa membaur dengan baik dalam kehidupan sosial. Ada yang bisa dengan mudah dekat satu sama lain, ada juga yang sulit untuk beradaptasi, hingga akhirnya tidak mampu bergaul dan malah dianggap sebagai orang yang aneh dalam pergaulan, bahkan tidak sedikit yang menjadi korban penindasan. Ketika sudah sampai pada tahap itu, tingkat stres seseorang akan semakin memuncak, bahkan jika semakin parah, bisa masuk dalam tahap depresi.

Beragam faktor memang dapat menyebabkan stres pada seseorang, selain empat faktor di atas, banyak kesibukan juga memicu seseorang untuk terkena stres. Banyaknya kegiatan, kadang membuat orang tidak memiliki waktu luang untuk melakukan hal-hal lain yang membuatnya tenang. Seseorang bisa mengalami stres karena banyaknya kegiatan sehingga minimnya waktu luang untuk berkumpul bersama keluarga atau teman.

Sekarang, tinggal bagaimana Anda mengontrol dan mengendalikan diri agar tidak terhanyut dalam lingkaran stres. Luangkanlah waktu sejenak untuk bernafas, berhenti dari kegiatan yang tengah Anda lakukan, dan jernihkan pikiran dari segala pemicu stres, serta pandai-pandailah mensyukuri nikmat Tuhan.

Namun ada resep pemuncak dan paling ampuh untuk menghindari stres, untuk mencarinya tak perlu jauah-jauh, tak perlu ke dukun, yaitu: HIDUP SEDERHANA dan kata Orang Bugis: SUKKURU’ (alai cedde’e rekko engkai makkeguna, sampeangngi maegae rekko engkai makkasolang).

BAGIKAN