Kesenian rakyat dari Bone

178

Kesenian rakyat adalah kesenian masyarakat banyak dalam bentuk yang dapat menimbulkan rasa indah yang diciptakan sendiri oleh anggota masyarakat yang hasilnya merupakan milik bersama. Seni terdiri dari 5 jenis, yaitu seni tari, seni rupa, seni musik, seni teater, dan seni sastra.

Kesenian bukan menghidangkan hiburan semata. Lebih penting dari itu, kesenian harus menjadi “penyambung lidah” bagi berbagai persoalan sosial di sekitarnya. Kesenian tidak bisa berdiri netral melainkan lahir dari keterpaduan kehidupan masyarakat dengan alamnya.

Suku Bugis merupakan suku yang mendiami sebagian besar wilayah di Sulawesi Sealatan. Suku Bugis dikenal sebagai suku perantau yang banyak meninggalkan wilayah aslinya untuk menyebar ke daerah-daerah lain. Salah satu nilai kebudayaan suku Bugis yang paling tua adalah adat dalam mempertahankan harga diri.

Masyarakat Bugis bisa melakukan segala hal untuk mempertahankan harga dirinya. Bahkan, pada zaman dahulu bila terdapat anggota keluarga yang melakukan perbuatan tercela dan mengakibatkan keluarga menanggung malu, maka anggota keluarga yang bersalah bisa diusir ataupun dibunuh secara riladung (ditenggelamjan ke laut).

Namun demikian, adat ini sudah mulai luntur karena tentunya perbuatan membunuh apapun alasannya, dengan konteks hari ini bisa dikenai sanksi hukum. Namun, jiwa dan kepribadian keras untuk senantiasa menjaga harga diri, masih tetap dipatuhi dan dijaga hingga saat ini.

Seni sendiri mempunyai cakupan yang cukup luas yang tidak dapat dibatasi oleh suatu penjelasan secara harafiah. Namun secara garis besar seni merupakan ekspresi yang diciptakan manusia dan memiliki unsur keindahan atau unsur estetika yang dapat dituangkan menjadi suatu karya. Di mana karya tersebut dapat dinikmati oleh kelima panca indera dan dapat mempengaruhi perasaaan seseorang terhadap hal tersebut.

Kesenian rakyat jenis seni musik tentunya diungkapkan dalam bahasa lokal setempat seperti kesenian Bugis menggunakan bahasa keseharian yaitu bahasa Bugis. Karena bukan kesenian rakyat apabila menggunakan bahasa lain selain bahasa ibu atau lokal. Jadi kesenian rakyat sama halnya dengan motto suatu daerah ia harus menggunakan bahasa yang pada umumnya dipergunakan di daerah itu.

Berikut ini terdapat beberapa kesenian rakyat suku Bugis berupa “seni musik” yang masih dipertahankan secara turun temurun dan menjadi warisan budaya bagi masyarakat Bugis khususnya yang berdiam di Kabupaten Bone.

Kesenian berupa syair dan irama ini salah perwujudan dan eksistensi kesenian rakyat yang ada di Kabupaten Bone yang meskipun dihantam akibat perkembangan teknologi modern ia tetap menunjukkan keberadaannya.

Struktur lagu adalah susunan unsur-unsur musik dalam sebuah lagu dan menghasilkan sebuah komposisi lagu yang bermakna. Sebuah lagu memiliki bentuk / struktur yang terdiri dari kalimat, pola, motif, refrain (pengulangan), segmen, tema, interlude, dan sebagainya.

Namun lagu Bugis murni pada umumnya mempunyai pola komposisi yang iramanya dimainkan secara berulang-ulang hanya yang membedakan adalah lirik/kalimatnya. Akan tetapi lagu Bugis murni tidak mempunya Reffrein/Ref yang bermakna pengulangan biasanya menggunakan bagian lain dari lagu untuk diulang di bagian tertentu.

Lagu rakyat Bugis murni yang tidak mempunyai reffrein bertujuan agar lirik dan syairnya mudah dihafal dan diingat. Seperti kebiasaan orangtua Bugis dalam menyampaikan ajaran-ajaran kepada anaknya dilakukan selain dalam bentuk wejangan juga dilakukan dalam bentuk syair dan lagu yang disebut “elong”. Berikut beberapa contoh lagu rakyat Bugis yang berdiam di Bone dan daerah lainnya:

1. Ininnawa Sabbarae
Lagu ini merupakan kesenian rakyat Bugis pada umumnya meskipun terdapat perbedaan lirik dan syair akibat pengaruh dialek masing-masing daerah, namun tetap memiliki maksud yang sama. Lagu yang lahir dalam tahun 1912 ini tidak diketahui penciptanya, menyampaikan pesan sosial dan etika yang sarat dengan petuah leluhur Bugis.

Sebagian orang memberinya judul ” Ininnawa Sabbarae “, namun lagu ini judul aslinya adalah “Ininnawa” artinya Hati Yang Tulus Ikhlas. Terdiri atas tujuh bait saja. Makna syair tiap bait terhubung antara satu dengan yang lainnya.

Syair lagu “Ininnawa Sabbarae” ini sudah ada sejak tahun 1912 Masehi. Sampai saat ini belum diketahu siapa penciptanya. Syair lagu Ininnawa Sabbarae ditemukan oleh seseorang yang tersimpan di dalam sebuah Ceropong (Batang Bambu Sejenis Teropong) dengan naskah lontara Bugis.
Seperti kebiasaan orang Bugis masa lalu kalau ada surat yang dianggap penting mereka simpan dalam Ceropong Bambu. Lagu inipun sarat dengan petuah.

Lagu Ininnawa Sabbarae terdiri dari 7 bait bercerita tentang orang yang selalu bersabar akan memperoleh kebahagiaan, dan kebahagian itu akan datang jika disertai usaha dan ikhtiar.

Lagu ini menawarkan petuah berupa pesan moral yang mengajarkan kita untuk selalu bersabar dan bersyukur dan apabila kita mendapat kebahagiaan, janganlah lupa kepada Maha Pencipta.

Seperti diketahui ayunan pada tubuh akan merangsang otak kecil anak yang secara otomatis akan meningkatkan daya kognitif anak. “Jangan hanya diayun, tapi dinyanyikan. Ini akan jadi satu latihan kinestetik awal yang baik bagi anak.

Kinestetik merupakan keistimewaan pada orang-orang tertentu yang lebih cepat memahami ilmu atau pelajaran dengan aktivitas dibanding membaca dan menghafal.

Misalnya saja mempelajari proses turunnya hujan. Bagi anak kinestetik, jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan maka cepat dicerna oleh anak.

Berikut Lirik Lagu Ininnawa Sabbarae:

I. ININNAWA SABBARA’E 2X
LOLONGENG GARE’ DECENG
ALA TOSABBARAEDE

II. PITU TAUNNA SABBARA’ 2X
TENGGINANG KULOLONGENG
ALA RIYASENGNGE DECENG

III. DECENG ENRE’KI RI BOLA 2X
TEJJALI TETAPPERE
ALA BANNA MASE-MASE

IV. MASE-MASE IDI’NAGA 2X
RISURO MATTARANA
ALA MUTEA MABELA

V. MABELAMPI KUTIROKI 2X
MUJOPPA ALE-ALE
ALA MUTELLU SITINRO

VI. TELLU MEMENGNGA SITINRO 2X
NYAWAKU NA TUBUKU
ALA PASSENGERENGNGEDE

VII. SENGERENGMU PADA BULU 2X
ADATTA SILAPPAE
ALLA RUTTUNGENG MANENGNGI

2. Ala Masea-sea

Lirik lagu Ala Masea-sea bercerita tentang penyesalan seseorang yang tidak pernah belajar di masa kecilnya. Tatkala sudah tua, keinginan untuk belajar, maka pelajaran sudah susah untuk dimengerti karena pikiran telah bercabang dan rasa malas juga telah melanda.

Ala masea-sea mua
Tau na ompori sesse’ kale

Nasaba riwettu Baiccu’ na
Dememeng naengka nagguru

Riwettu baiccu ta mitu wedding
Narekko battoani masussani

Nasaba Maraja nawa-nawani
Enrengnge pole toni kuttue

3. Ongkona Arumpone

Lagu Ongkona Arumpone dibedah oleh Mursalim dari Lembaga Seni Budaya Teluk Bone. Apabila kita membedah lagu itu memiliki hubungan dengan sejarah Rumpa’Na Bone tahun 1905, yaitu pada saat terjadinya perang antara Kerajaan Bone melawan pasukan Belanda. Ribuan laskar kerajaan Bone yang gugur dalam pertempuran tersebut. disepanjang teluk Bone diserang habis-habisan oleh pasukan Belanda, sehingga Kerajaan Bone jatuh dan dikenal dengan istilah Rumpa’na Bone.

Lagu Ongkona Bone yang lahir dalam tahun 1905 ini tidak diketahui penciptanya. Lagu ini mengisahkan seorang istri melepas sang suami berangkat ke medan perang untuk mempertahankan Tanah Bone dari serangan armada laut Belanda. Sang suami melangkah dengan tekad melakukan perlawanan sampai tetes darah terakhir.

Setelah tujuh hari tujuh malam pertempuran, terdengar kabar bahwa sang suami telah gugur. Namun sang istri masih setia menanti kedatangan suaminya, tak peduli siang dan malam tetap mencari keberadaan sang suami. Di kala sang istri beristirahat, maka dia bersenandung untuk menghibur diri.

Lagu Ongkona Arumpone erat kaitannya dengan gugurnya putra La Pawawoi Karaeng Sigeri raja Bone ke-31. Putranya yang bernama Abdul Hamid Baso Pagilingi sebagai putra mahkota yang digadang-gadang sebagai penggantinya tewas diterjang peluru Belanda.

Rupanya harapan besar itu tidak tercapai yang diungkapkan dalam kata “mate colli” yang artinya mati pucuk. Tuhan berkehendak lain Sang Putra yang dijuluki Petta Ponggawae yang sekaligus panglima perang Bone itu gugur sewaktu rumpa’na Bone dalam tahun 1905.

4. Yabelale

Lagu ini awalnya hanya terdiri beberapa lirik saja ” yabe … lale … atinrono mai anakku” kemudian setelah itu hanya dilanjutkan dengan syair saja tanpa lirik. Namun begitu ia cukup populer di kalangan Bugis utamanya sewaktu orangtua Bugis hendak menidurkan anaknya di ayunan.

Untuk melanjutkan liriknya berdasarkan syair/ lagu yang ada khususnya di Bone, kami dari Lembaga Seni Budaya Teluk Bone menyempurnakan lirik lagu tersebut seperti di bawah ini yang disusun oleh Mursalim.

Lirik Yabelale:

Yabelale atinrono mai anakku
Yabelale upakkuru sumange’mu

Buana … buana atikku
Engkalingani elokku
Elong kininnawa buana atikku
Elong kininnawa buana atikku

Unganna … unganna atikku
Engkalinani pasekku
Paseng tiro deceng unganna atikku
Paseng tiro deceng unganna atikku

Unganna … unganna atikku
Upakkuru sunge’mu
Tudang rilangkana mucawa cabberu
Tudang rilangkana mucawa cabberu

5. Lojeng Pulaweng

Lagu ini juga awalnya hanya terdiri dari beberapa kata saja namun selanjutnya kami dari lembaga Seni Budaya Teluk Bone menyempurnakannya dengan melengkapi liriknya sehingga utuh.

Lojeng Pulaweng dari bahasa Bugis yang terdiri dari dua kata yaitu Lojeng dan Pulaweng. Lojeng dalam bahasa Indonesia disebut Nampan atau Baki. Sedang Pulaweng berasal dari kata Ulaweng artinya emas (logam mulia). Sehingga Lojeng Pulaweng diartikan sebagai Nampan atau Baki yang bahannya terbuat dari emas. kemudian Penulis menyimbolkan nampan emas sebagai pangkuan.

Syair dan Lagu Lojeng Pulaweng yang diciptakan oleh Mursalim 4-4-2002 awalnya merupakan sebuah puisi Bugis namun seiring dengan waktu penulis pada akhirnya membuatnya sebuah lagu hingga saat ini menjadi lagu wajib Lembaga Seni Budaya Teluk Bone (Teluk Bone).

Di mana pada saat itu tahun 2006 lembaga ini belum mempunyai lagu wajib, sehingga penulis membuat syair Lojeng Pulaweng menjadi lirik Lagu yang dikenal hingga saat ini ” Lojeng Pulaweng “.

Lojeng Pulaweng memiliki makna mengisahkan perjuangan para laskar Bone yang gugur melawan tentara Belanda pada tahun 1905. Ribuan laskar Bone yang gugur di laut Teluk Bone pada saat itu. Penulis ibaratkan laskar yang gugur itu sebagi kapas yang putih bersih melambangkan kesucian.

Buih putih Teluk Bone diibaratkan Kapas putih bermakna laskar Bone yang tengah bertempur meregang nyawa yang rela mengorbankan jiwaraga demi membela tanah airnya Tanah Bone dari gempuran tentara kompeni Belanda.

Pada bait ke-3 Lojeng Pulaweng bermakna petuah leluhur, yaitu tempatkan lawan bicaramu di atas sebuah nampan emas, niscaya engakau berada di atasnya. Jika kita menghargai orang lain maka orang lainpun akan lebih menghargai kita. Berikut hasil penyempurnaannya yang diciptakan oleh Mursalim.

Lirik Lojeng Pulaweng:

pungani ape’ku rialauna bone
mario marennu rilaleng ati
meddu’ni kasi seddi buana
waddakka rakka lao mittei

kuwittei naku parilojengngi
rilojeng pulaweng malebbiku
kuwittei naku parilojengngi
rilojeng pulaweng malebbiku

moni pale bombang silaju-laju
bali sunge tenri bali sumange
lele ada tenrita pangadereng
nariala pakkawaru rilino

6. Daramatasia

Cerita I Daramatasia adalah salah satu cerita rakyat lisan yang ada di tengah-tengah masyarakat Bugis Sulawesi Selatan. Cerita ini masih hidup hingga sekarang apalagi di daerah pelosok. Karya ini merupakan tergolong dalam cerita rakyata yang berbentuk Legenda keagamaan yaitu legenda mengenai orang-orang beriman.

Cerita Daramatasia di sosialisasikan ke dalam masyarakat Bugis melalui tuturan. Penuturan dilakukan oleh seorang atau lebih tukang tutur dan dihadiri atau didengar oleh sejumlah orang dari komunitas mereka. Masyarakat yang mendengar pelisanan cerita tersebut merasa terhibur dengan keindahan bahasa dan teknik penuturan yang biasanya dinyanyikan dengan lagu tertentu.

Di pasar-pasar tradisiional rekaman cerita ini masih kadang di dapatkan dalam bentuk kaset. Pertanda bahwa cerita ini masih mendapat tempat di hati masyarakat Sulawesi Selatan bahkan pesan yang dikandungnya masih dibutuhkan oleh mereka . Meskipun tentunya tidak semua pesan yang ada dalam cerita ini relevan dengan kondisi dewasa ini .

Khususnya dalam masyarakat Bugis, cerita ini biasanya diceriterakan oleh seorang penutur pada waktu-waktu tertentu seperti saat acara pengantinan. Pada malam hari sebelum esoknya acara pernikahan, cerita ini dituturkan menemani para keluarga yang berkumpul untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan pada esok hari di acara pernikahan.

Cerita ini digunakan untuk mengajari sang calon mempelai dan juga kepada segenap hadirin. Penuturan ini biasa berlangsung semalam suntuk . Selain itu penuturan cerita ini biasa juga dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya menjelang tidur.

Penuturan cerita I Daramatasia bisa dilakukan dengan iringan musik ataupun tanpa iringan. Musik yang biasa menyertai penuturab cerita ini adalah alat musik kecapi.

Naskah Daramatasia di sosialisasikan ke dalam Bugis dengan jalan melisankan naskah tersebut. Penuturan naskah ini dilakukan oleh seorang atau lebih tukang tutur dan didengar oleh sejumlah orang dari komunitas mereka.

Masyarakat yang mendengar pelisanan cerita tersebut merasa terhibur dengan keindahan bahasa dan teknik penuturan yang biasanya dinyanyikan dengan lagu tertentu.

Ajaran Moral dalam cerita I Daramatasia:

Cerita I Daramatasia menceritakan perjalanan hidup seorang perempuan yang bernama I Daramatasia . Cerita diawali saat I Daramatasia menuntut ilmu yang meliputi ilmu tata bahasa, hokum, fikhi, sampai pada ilmu kebatinan. Kemudian menikah atas pilihan orang tua, pengabadiannya kepada suaminya , saat diusir oleh suami dan orang tuanya, saat suaminya meninggal sampai pada ketika I Daramatasia menikah lagi atas pilihannya sendiri.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang perempuan . Sebelum menikah beliau adalah sosok perempuan yang cerdas dalam menuntut ilmu . Selain itu, sebagai anak tunggal tidak pernah menunjukkan sifat kecengengan dan ketergantungan pada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Selain sebagai media menghibur, para pendengarnya juga mendapat pengajaran dari isi cerita yang dinyanyikan. Kisah Daramatasia memiliki fungsi mendidik dan mengajarkan kepada pembacanya bagaimana sepatutnya suami istri hidup berumah tangga.

Tokoh Daramatasia menunjukkan sikap atau prilaku seorang istri yang mengabdi kepada suaminya sesuai apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Kedua fungsi di atas sangat menonjol dalam naskah cerita Daramatasia.

Masyarakat Bugis ataupun mungkin semua suku bangsa di muka bumi ini senantiasa memiliki pengharapan bahwa melalui perkawinan manusia dapat mengciptakan kehidupan yang lebih baik dan merasa bahagia. Karena dengan demikian kebahagiaan dan ketentraman masyarakat luas dapat tercipta.

Maka dengan itu kehidupan rumah tangga yang dibangun oleh suami dan istri harus menciptakan kehidupan harmonis. Suami dan istri harus mampu saling menghargai dan menyadari hak dan kewajiban-kewajibannya, suami dan istri mesti pula menyadari posisinya dalam rumah tangga.

Sebagai istri I Daramatasia menyadari posisinya sehingga ia menunjukkan pengabdiannya yang sangat tinggi kepada suaminya. Setiap hari ia menunggu suaminya pulang dan mencuci kakinya, lalu melapnya dengan rambutnya. Setelah itu ia menemani suami makan hingga selesai.

Segala perkataan dan perintah suaminya ia patuhi, ia takut melanggar perintah suaminya karena ia tahu membantah perintah suami adalah dosa menurut ajaran agama Islam yang ia pelajari.

Karena takutnya berbuat kesalahan sampai pada suatu saat ia menemani suaminya makan sambil menyusui anaknya yang mulai tertidur, pada waktu itu pelita yang digunakan sebagai penerangan kehabisan sumbu, maka dengan spontan ia memotong rambutnya beberapa helai untuk dijadikan sumbu, karena ia takut kalau suaminya makan dalam kegelapan dan kalau ia berdiri ia khawatir jika anaknya terbangun yang baru saja tertidur.

Namun demikian ternyata tindakannya itu dinilai salah oleh suaminya karena memotong rambutnya tanpa sepengetahuan dan seizin suaminya. Daramatasia dipukul oleh suaminya yang amat marah lalu mengusirnya pergi dari rumahnya. Daramatasiapun pergi meninggalkan rumah suaminya dan menuju ke rumah orang tuanya.

Hal tersebut di atas adalah juga sebuah pelajaran bahwa setiap kelakuan istri harus diketahui dan seizin sang suami. Ajaran serupa sesungguhnya telah pula dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad dalam kehidupan rumah tangganya dan juga dalam rumah tangga anaknya Sitti Fatimah Azzahra, yang juga terdapat pada cerita Daramatasia. Anak yang berdosapun akan ditolak oleh orang tuanya sekalipun. Hal tersebut ditunjukkan oleh kedua orang tuanya ketika melihat Daramatasia diusir dari rumah suaminya.

Kedua orang tua Daramatasia beranggapan bahwa orang yang diusir oleh suaminya adalah orang yang melakukan kesalahan dan berbuat dosa maka orang seperti itu tidak sewajarnya di lindungi. Maka Daramatasiapun berjalan tanpa tujuan dan akhirnya tiba pada hutan belantara.

Selain itu orang tua I Daramatasia menunjukkan sikap orang tua yang memberi kesempatan kepada anaknya untuk menyelesaikan masalah dalam keluarganya. Beliau tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga anak mereka .

Cerita ini juga mengajarkan bahwa orang yang sabar menjalani penderitaan akan mendapat pertolongan dari Allah. Karena setibanya di tengah hutan Daramatasia ingin saalat akan tetapi ia tidak memiliki pakaian yang layak digunakannya. Sehingga datanglah malaikat dari langit menemuinya dan memberikan pertolongan. Daramatasia diberikan pakaian yang indah dan mengubah wajah dan tubuhnya menjadi lebih cantik dan muda.

Ajaran lain yang ditampilkan dalam cerita ini adalah bahwa hidup di dunia ini tidak boleh dihiasi dengan rasa dendam dan dengki terutama kepada orang yang telah menyakiti dan menganiaya kita . Saat Daramatasia kembali kerumah orang tua dan ke rumah suaminya atas perintah Malaikat Jibril ia tidak dikenali lagi. Orang tua dan suaminya tidak menyangka kalau wanita yang cantik dan muda yang datang ke rumah mereka adalah Daramatasia yang telah ia usir dan mereka tolak.

Namun demikian Seperti yang dikatakan Dosen Jurusan Sastra Daerah, Fakultas Sastra Unhas, Daramatasia tidak menunjukkan sikap dendam dan sakit hati. Ia senantiasa menunjukkan sikap sebagai mana layaknya seorang istri dalam melayani suaminya dan mengasuh anaknya, serta tetap bersikap hormat terhadap orang tuanya.
Demikianlah diantaranya unsur-unsur pendidikan dan keteladanan yang dapat ditemukan dalah cerita ini. Tentunya dengan pengkajian yang lebih dalam akan ditemukan lebih banyak lagi.

Berikut lirik lagu Daramatasia:

Dara Matasia to sukku toripoji-poji ku….
Tau ritangke’na atikku tau ritangke pulana…
Tau ritangke’na atikku tau ritangke pulana…

Micawa ca’beru cennippa macenninna cani’e….
Ri soe-soe na limanna malemma’ na mamalu….
Ri soe-soe na limanna malemma’ na mamalu…

Dara matasia to macole…
Dara matasia to makanja….
Dara matasia to malebbi….
To malebbi ampena….

Itulah kesenian rakyat Bone yang menggunakan bahasa Bugis murni dan masih eksis hingga saat ini. Namun tidak tertutup kemungkinan masih ada yang lainnya. Semoga Bermanfaat.

BAGIKAN