No menu items!
26.7 C
Watampone
Minggu, 5 April 20

Ketika Tuhan Tak Mau Menerima kita di RumahNya

Artikel Terbaru

Apa yang Anda lakukan agar terhindar petir, Ini jawabannya

Musim hujan atau musim basah adalah musim dengan ciri meningkatnya curah hujan di suatu wilayah dibandingkan biasanya dalam jangka waktu tertentu secara tetap. Musim...

Google Merilis Pergerakan Ponsel Pengguna Selama Wabah Virus Corona

Pandemi virus cirona membuat pemerintah di berbagai negara mengimbau warganya untuk tidak keluar rumah untuk menekan angka penyebaran virus corona di wilayahnya. Hal tersebut...

Seorang Pria Lanjut Usia Kendarai Mobil Mewah Bagikan Beras Hingga Uang Tunai di Jalan

Belum lama ini dunia maya dihebohkan dengan video yang menjadi viral karena sebuah unggahan. Unggahan video tersebut memperlihatkan seorang pria dengan mengendarai sedan mewah membagikan...

Disebut Negara Adidaya Tapi Kebingungan Hadapi Tentara Corona

Dicap Sebagai Negara Adigdaya, Nyatanya AS Kelabakan Saat Diserang Wabah Corona, Pemerintah Sampai Tega Lakukan Ini Pada Para Gelandangan Amerika Serikat sedang bingung bukan main....

Download Surat Edaran Menteri Kesehatan tentang Penggunaan Bilik Disinfeksi Dalam Rangka Pencegahan Penularan Covid-19

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak menganjurkan penggunaan bilik disinfeksi di kalangan masyarakat umum, terkait pencegahan infeksi virus corona atau Covid-19. Larangan ini tertuang Surat Edaran Nomor:...

Tata Cara Penerapan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB)

Presiden Joko Widodo secara resmi meneken Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus...

Rumah kebun roboh 5 Petani Jagung Di Bone Tewas

Lima orang warga Desa Waempubbu, Kecamatan Amali, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mengembuskan nafas terakhir setelah tertimpa rumah kebun yang roboh, Jumat 3 Maret 2020 Diduga...

Memori yang terakhir

Ku tak pernah menyangka bahwa puisi pertama dan terakhir Chairil Anwar berkisah tentang kematian. Agaknya dia sengaja. Seolah kematian sudah menjadi teman akrab. Atau...

Apakah Bilik Disinfektan dianjurkan, Ini Jawabannya

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) telah dinyatakan oleh WHO sebagai pandemi, dan Indonesia telah menyatakan COVID-19 sebagai bencana non alam berupa wabah penyakit yang wajib dilakukan upaya penanggulangan...

Ladang Hoaks terkait Virus Corona

Ladang hoaks/kabar bohong saat ini tidak sulit dicari apalagi ditengah pandemi Covid-19. Banyak orang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi ini menyebar hoaks. Salah...

Awal November lalu, Allah menurunkan mahluk-Nya yang tak dapat dilihat mata karena terlalu kecil bernama: CORONA di sebuah negeri yang tak mengenal-Nya: Wuhan.

Kini si mahluk kecil itu memporak-porandakan segala sendi kehidupan 2/3 dunia. Ekonomi global mengalami anomali yang sulit dinalar.

Ketakutan dan kecemasan di mana-mana. Kematian cukup banyak hanya dalam waktu singkat saja.

Saat umroh dilarang oleh otoritas Saudia, kita masih tidak terlalu risau karena hanya orang mampu dan terpanggil yang bisa melakukannya.

Kita masih bisa berapologi :
” … Ah umroh kan gak wajib. Lagian rumah Allah kan bukan cuma di Mekkah Madinah … masih ada Masjid dan langgar.. Gak masalah Umroh ditutup …”

Pada detik itu,
Hanya berpikir : Allah menutup pintu rumah besar-Nya hanya untuk kaum – kaum jauh.
Allah hanya memberikan kesempatan pada penduduk sekitar dan para pelayan sejati yang diperbolehkan bertawaf di baitul atiq-Nya.

Namun tadi malam,
Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa pelarangan salat Jumat, Tarwih Ramadan dan pelaksanaan salat Idul Fitri untuk daerah terdampak corona yang ditetapkan pemerintah. Dan bisa jadi meluas dari yang sekarang. Bahkan mudikpun akan dilarang.

Bertanya dalam renung,
Apakah Engkau marah Rabb-ku ?
Ketika sebelum ini : Masjid-masjid megah namun Sepi. Musalla-musalla bertebaran namun Berdebu.

Tarwih ramai namun hanya di awal Ramadan …
Lebaran katanya Mudik, namun tetap hanya notifikasi maya dan WA-lah yang saling Bermaafan.

Ya Rabb …

Saat tak dibebaskan lagi bagi kami bersujud di rumah-Mu yang suci. Saat terbatasi bagi kami berjamaah dengan para jamaah saudara seiman kami.

Baru kami Paham :
Arti Kehilangan …
Betapa mulai sunyi suara toa masjid di sekitaran kami dari celoteh kanak-kanak dan pujian-pujian.

Betapa sepi jalanan depan rumah kami dari ramainya TPA dan ibu-ibu yang hendak pengajian …
Betapa terasa saat semua hal yang selama ini kami abaikan itu, telah selanjutnya jadi pelarangan …
Nikmat yang dicabut itu,
Barulah menggerogoti Relung Kedamaian.

Ya Allah,
Pesan Cinta apa yang ingin Engkau sampaikan?
Atau memang sudah tak sudi lagi,
Engkau melihat wajah kami, mendengar keluh kesah kami, menatap tangis kami dan meraba senyum bahagia kami di Rumah-rumah-Mu ?

Ya Rabb sekarang kami bisa merasakan bagaimana perasaan saudara kami di Uiyghur, Myanmar, Suriah dan Palestina yang harus berjuang untuk bisa berada di masjid-masjid-Mu.

Sementara kami,
Malah sering dan seringkali malas menuju masjid yang hanya beberapa langkah dengan aman dan nyaman …

Ya Rabb kini kami sadar arti silahturahmi yang dulu kami anggap hanya basa basi.
Sekarang kami tak bisa dalam kerumunan dan forum dakwah yang mendatangkan banyak orang lagi.

Corona …
Mahluk Kecil Tak Nampak oleh Mata …
Namun mampu merusak Tatanan Ketenangan dunia …

Ya Rabb jangan kau buat ramadan kami nanti akan terasa sepi hambar.

Membayangkan tak ada salat tarwih berjamaah, tadarrus ramai-ramai, dan membangunkan sahur sambil berkeliling kampung desa tempat kami lahir dibesarkan.
Apalagi membayangkan : Tak ada lagi mudik berdesakan …

Jangan ya Rabb …
Jangan ya Rabb …
Jangan Kau cabut Nikmat yang berpuluh tahun kami nikmati namun telah kami abaikan.

Apa Engkau Menyentil kami?
Ketika ada kesempatan,
Kami malah cukup mengumbar jabat WA Kopas-an untuk bermaafan?

Apa Engkau Mengkapoki kami?
Ketika takziah yang satu kota saja,
Kami hanya titip kalimat Innalillah melalui Grup Rekan dan Teman?

Jangan Kau cabut Nikmat ini ya Rabb …
Karena kini,
kami akhirnya sungguh-sungguh hanya bisa bertemu dalam tegur WA atau Kalimat Telpon dan Pesan massenger …

Engkau menuruti kami Ya Rabb …
Menuruti pengabaian kami …
Yang kami ciptakan sendiri …

Maafkan kami Rabbi …
Maafkan kami …

Masihkah ada kesempatan lagi?
Bukankah Maha Pengasih-Mu,
Melebihi Murka-Mu pada kami ?

Ya Rabb ku …
Hidupnya Mahluk Corona adalah semata mata atas Kehendak-Mu.
Engkau yang Menghidupkan segalanya …
Engkaupun yang Mematikan segalanya.

Mohon Ya Rabb
Panggil kembali mahluk corona ke tubuh-tubuh hewan seperti sebelumnya.
Cukupkan tugas mereka untuk mengingatkan kami semua.

Ya Allah,
Berilah obat untuk wabah ini.
Dan Berilah tobat bagi kami..

Pertemukan kami dengan ramadan penuh berkah, Tanpa Corona antara Kita.

Aamiin ya rabbal alamin.
Sembah sujudku pada-Mu.

Artikel Berikutnya

Berikan Komentar Anda

Please enter your comment!
Please enter your name here

Komentar Pembaca

Tulisan Populer

Filosofi huruf lontara’

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...