La Tenritatta Bocah Tawanan Jadi Penakluk

278

Dikisahkan Arung Tana Tengnga La Pottobunne’ sekeluarga adalah tawanan perang Bettae ri Passempe’. Sementara La Sangaji Karaeng Loe Arung Tana Tengnga Toa beserta isteri dan anak-anaknya berada di Gowa. Sebagai tawanan karena kalah perang mereka terpaksa dipekerjakan sebagai abdi istana di kerajaan Gowa.

La Pottobunne’ Arung Tana Tengnga dijadikan sebagai pembawa tombak Sultan Malikussaid beserta keluarga Sultan yang lain. Akan tetapi sebagai bangsawan tinggi Bone-Soppeng meskipun sebagai tawanan tetap diperlakukan dengan baik.

Bahkan mereka dibangunkan rumah tinggal yang layak dalam kompleks istana somba Gowa (Balla’ Lompoa) dan diberikan pula sebidang tanah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Adalah seorang pangeran kecil La Tenritatta, putera La Pottobunne’ yang baru berumur 11 tahun. Masa kecil seorang pangeran yang semestinya penuh warna keceriaan dan kemuliaan dalam istana negerinya sendiri, namun terpaksa dijalani sebagai pangeran tawanan yang penuh keprihatinan di istana penakluk negerinya.

La Tenritatta adalah anak yang ditakdirkan dengan penuh talenta sejak lahirnya. Ia bergaul dengan anak-anak sebayanya yang kebanyakan terdiri dari para pangeran Gowa.

Sebagaimana halnya aktivitas keseharian para Ana’ Karaeng (Pangeran Gowa) yang bermain sambil berlatih aneka permainan rakyat dan olahraga ketangkasan seperti Mallogo, maggasing, marraga, menca’ maka La Tenritatta yang biasa disapa sebagai Daeng Serang dalam kompleks istana Gowa, dikenal sebagai pemain yang paling mahir dan menonjol di antara teman-teman sepermainannya.

Salah seorang pangeran lainnya yang dianggap setara dalam hal kemahiran permainan ketangkasan, adalah : I Mallombasi Daeng Mattawang putera kesayangan Sultan Gowa sendiri. Walaupun demikian, kedua pangeran kecil yang berlainan poros ini sangat akrab dan saling menghormati satu sama lainnya.

Mendapati puteranya tercinta sebagai “anak gaul” walaupun berstatus “anak tawanan” dalam kompleks istana Gowa, We Tenrisui (Ibunda La Tenritatta) yang merupakan pemegang takhta Mario kerap menyebut La Tenri Tatta kecil sebagai “Datu Mario”.

Hal itu dapat dimengerti sebagai ungkapan rasa sayang seorang ibu yang disertai “rasa iba” terhadap nasib malang puteranya yang tumbuh ditengah situasi “terhina” sebagai budak tawanan perang.

Kepribadian La Tenritatta yang sopan dan cekatan membuatnya disenangi oleh para penghuni istana, sehingga kerap ditugaskan oleh Mangkubumi kerajaan sebagai pembawa tempat sirih (pekinangan) pada berbagai acara penting istana. Tentu saja sebagai seorang pembawa tempat sirih, ia senantiasa duduk di belakang Sang Mangkubumi yang arif bijaksana tersebut.

Sebagaimana, bahwa I Mangadacina Daeng Sitaba Karaeng Patingalloang yang juga menjabat sebagai Karaeng Tumabbicara Butta Gowa (Mangkubumi) adalah seorang tokoh besar Gowa yang arif dan cendekia.

Beliau terkenal hingga jauh ke benua Eropa. Dennys Lombard (1996) menyebutnya sebagai Pria Agung (The Great Man) yang telah mempelajari Bahasa Latin, Spanyol, Portugal, Belanda, dan lainnya serta menguasainya dengan sangat baiknya hingga menyamai native speakernya sendiri.

Pastor Alexander de Rhodes S.J ketika singgah di Sulawesi Selatan serta bertemu dengan Karaeng Pattingalloang mengungkapkan kekagumannya dalam tulisannya tentang tokoh besar itu, dikutip, sebagai berikut :

” Jika kita mendengarkan omongannya tanpa melihat orangnya, pasti kita mengira bahwa dia adalah orang Portugal sejati. Karena dia berbahasa Portugal sama fasihnya dengan orang Lisbon.

Ia menguasai dengan baik segala misteri kita dan telah membaca dengan seksama semua kisah raja-raja kita di Eropa dengan keinginantahuan yang besar.

Di antara koleksinya terdapat karya Founder Louis de Granada O.P yang telah dibacanya dalam bahasa aslinya. Namun yang paling mengagumkan dari Karaeng Pattingalloang adalah cintanya pada ilmu-ilmu exacta.

Ia selalu membaca buku-buku kita dan khususnya mengenai matematika, ia begitu ahli dan begitu besar cintanya pada setiap bagian ilmu ini sehingga mengerjakannya siang dan malam..”.

Karaeng Pattingalloang memiliki pula perpustakaan yang luar biasa dengan berbagai koleksi buku, Bola Dunia dari kayu/tembaga dan berbagai atlas dunia dari Eropa. Selain itu, baginda pula memiliki laboratorium yang berisi berbagai prisma, Teropong Bintang dan lainnya.

Hal inilah sehingga Karaeng Patingalloang dikagumi para orang Eropa berkat penguasaanya dalam bidang Matematika, Geografi, Astronomi dan Optik sebagai seorang negarawan dan ilmuwan yang rasional sehingga sangat berperan dalam mengantarkan Kerajaan Gowa menuju Dinamika Global.

Demi melihat potensi alami bocah pangeran taklukan itu sebagai baja unggul yang belum tergosok, maka Sang Mangkubumi yang visioner itu tertarik untuk “ikut membentuk” bakal tokoh sejarah yang mungkin saja diprediksinya akan menjelma sebagai tokoh yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Maka terjalinlah kedekatan “khusus” antara La Tenritatta dengan Karaeng Patingalloang sesungguhnya adalah moment paling berpengaruh yang membentuk kemampuan intelektual dan leadership seorang “Kaisar Sulawesi” beberapa tahun kemudian.

Tidak begitu banyak reverensi didapati yang menguraikan tentang perhubungan pribadi La Tenritatta dan I Mallombassi. Umur mereka amat sebaya dan jika ada yang lebih tua di antaranya, maka I Mallombassi lebih tua setahun dari La Tenritatta.

Hal yang mendasari sebagaimana diuraikan pada Lontara Bilang, bahwa : I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang dilahirkan pada malam Ahad, 7 Jumadilakhir 1040 Hijriah (12 Januari 1631).

Kemudian pada Lontara Akkarungeng Bone dikhabarkan bahwa penawanan La Pottobunne’ Arung Tana Tengnga beserta keluarganya ke Gowa berlangsung pada tahun 1643 ketika La Tenri Tatta berumur 11 tahun. Maka dari inilah dapat diperkirakan jika La Tenri Tatta dilahirkan pada tahun 1632, lebih muda setahun dari I Mallombassi.

Sebagaimana halnya dengan La Tenri Tatta, Karaeng Patingngalloang dapat melihat pula keutamaan talenta dalam diri I Mallombassi. Maka kedua pangeran ini diasuhnya dengan melimpahkan segenap ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan penuh kesungguhan. Sebagai dua orang “seperguruan” yang dididik khusus oleh guru yang sama, maka kedua pangeran dari negeri berbeda ini mestilah memiliki keakraban khusus.

Sejak remaja belia, I Mallombassi telah dipersiapkan oleh ayahandanya sedemikian rupa untuk menjadi penerus tampuk kekuasaan di Gowa yang sedang dirundung pertikaian dengan VOC. Beliau lahir dan tumbuh besar dalam suasana Kerajaan Gowa seringkali melakukan peperangan diseputar wilayah timur Nusantara.

Pada usia remaja, beliau sudah dipercayakan sebagai panglima untuk suatu ekspedisi memadamkan pemberontakan di Timor. Selain itu, ia pula diangkat menjadi Karaeng Tu Makkajannangang (semacam panglima sekaligus pelatih pasukan khusus).

Suatu jabatan yang tentu saja tidak dilimpahkan begitu saja karena beliau adalah putera Raja Gowa, melainkan berkat talenta khususnya sebagai wira yang cakap dan mumpuni. Setelah itu, beliaupun menerima takhta sebagai Karaeng Bontomangape, yaitu lili (anak kerajaan bawahan Gowa).

Bahkan pada banyak kesempatan, I Mallombassi dipercayakan untuk melakukan perundingan dengan kerajaan-kerajaan bawahan/taklukan Gowa yang sedemikian luas wilayahnya itu. Suatu pertanda kemampuan diplomasi yang tentunya tidak dimiliki sembarang tokoh, terlebih-lebih bagi seorang pangeran remaja berumur kurang dari 20 tahun ketika itu.

Sementara itu, La Tenritatta yang bagaimanapun adalah merupakan pangeran tawanan yang jauh dari negerinya, sedapat mungkin menimba ilmu sebanyak-banyaknya pada Karaeng Pattingngalloang. Sebagai seorang tawanan, tentu saja tidak memungkinkan mendapatkan “latihan super” sebagaimana saudara seperguruannya, yakni : I Mallombassi. Namun dalam hal ini, Sang Guru yang bijak itu rupanya berusaha pula mengisi “anak pungutnya” ini dengan pengalaman-pengalaman berharga pula.

Pada berbagai kesempatan, La Tenritatta diikutkannya pada sidang-sidang kerajaan serta pertemuan/perundingan dengan berbagai pihak dengan Kerajaan Gowa. La Tenri Tatta didudukkannya di belakangnya sebagai pembawa tempat sirih pinang. Maka La Tenri Tatta dapatlah menyimak dengan leluasa, sekaligus menimba pengalaman-pengalaman berharga.

Kedua pangeran dari latar berbeda ini tumbuh sebagai remaja dan menjalani peran kesejarahannya masing-masing. Perhubungan keduanya dipertautkan oleh seorang guru yang sama. Lebih daripada itu, keduanya dipermenantukan oleh Karaeng Patingngalloang, guru mereka tercinta.

I Mallombassi pertamakali menikahi puteri Karaeng Pattingngalloang yang bernama I Mammi Daeng Sangnging. Kemudian Daeng Sangnging wafat dalam umur yang masih muda, maka I Mallombassi dinikahkan lagi dengan adik Daeng Sangnging, yaitu : I Bate Daeng Tommi Karaeng Pambineang.

Adapun halnya dengan La Tenritatta, pada Panguriseng Soppeng didapati bahwa beliau dinikahkan dengan I Mangkawani Daeng Talele, salah seorang puteri Karaeng Pattingngalloang yang lain. Maka kedua pangeran ini sesungguhnya adalah saudara lago atau pada daerah Bugis dikenal sebagai : Silessureng Massellaleng atau saudara sejalan.

Tentu tidak ada yang menyangka meskipun tumbuh dewasa dalam bingkai tawanan, suatu kelak si bocah kecil itu (La Tenritatta) menjadi seorang penguasa, pembebas, dan penakluk.

BAGIKAN