Petta Matinroe ri Tasi’na adalah salah seorang keturunan bangsawan asli Bone dalam bahasa Bugis disebut Maddara Takku yang pernah memangku jabatan penting di kerajaan Bone pada masa pemerintahan raja Bone ke-31yakni La Pawawoi Karaeng Sigeri.

Petta Matinroe ri Tasi’na nama aslinya adalah La Mappipenning atau Andi Mappepenning. Ketika terjadi perang antara kerajaan Bone dengan Belanda sekitar abad ke-19 atau tahun 1905, di mana berakhir dengan kekalahan Bone.

La Mappipenning tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Belanda, sehingga beliau pindah ke salah satu daerah kekuasaan kerajaan Bone, yaitu Tanah Kongkong (sekarang kabupaten Bulukumba) dengan menggunakan perahu layar.

Dalam perjalanan itu La Mappepenning diburu tentara Belanda dan Beliau beliau bersama laskarnya balik melawan dan gugur di Laut Teluk Bone dan kemudian diberi gelar Petta Matinroe ri Tasi’na, yang artinya yang meninggal di laut. Memang tidak diketahui secara detail tentang kehidupan dan perjuangan beliau sehingga dibutuhkan penelusuran sejarahnya.

Ketika Belanda berhasil menguasai Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri ditangkap dan putranya selaku panglima tertinggi terbunuh dalam sebuah pertempuran. Namun ada juga panglima lainnya yang tidak mau menyerah yaitu La Temmu Page Petta Parenring Arung Labuaja serta La Mappepenning.

Dari catatan sejarah, Lapawawoi Karaeng Sigeri Raja Bone ke-31 bersama putranya Abdul Hamid Baso Pagilingi yang populer dengan nama Petta Ponggawae menunjukkan kepahlawanannya dalam perang Bone melawan Belanda tahun 1905.

Walaupun Belanda menyerang dengan persenjataan lengkap dengan tentara terlatih, akan tetapi Lapawawoi Karaeng Sigeri tidak menjadi gentar. Dengan jiwa kesatria yang membara, ia menghadapi serangan Belanda di berbagai tempat.

Pendaratan tentara Belanda di pantai Timur Kerajaan Bone di kawasan laut Teluk Bone (ujung Pallette-Bajoe-Ujung Pattiro), La Pawawoi Karaeng Sigeri menyatakan perang diseluruh wilayah kerajaan Bone terhadap kompeni Belanda. Tindakan penuh keberanian ini dilakukan setelah mendapat dukungan dari anggota Hadat Tujuh serta Seluruh pimpinan Laskar Kerajaan Bone.

Di bawah pimpinan Panglima operasinya Kolonel Van der Wedden, Belanda melakukan serangan sporadis ke kubu-kubu pertahanan Laskar Kerajaan Bone. Walaupun mendapat perlawanan yang cukup sengit dari Laskar kerajaan Bone, akan tetapi persenjataan Tentara Belanda yang lengkap akhirnya tentara Belanda berhasil memukul mundur Laskar kerajaan Bone yang dipimpin oleh Lapawawoi Karaeng Sigeri bersama Petta Ponggawae dan Seluruh keluarganya.

Akhirnya pada tanggal 30 Juli 1905 tentara Belanda berhasil merebut Saoraja (Istana Raja) di Watampone dan menjadikannya sebagai basis pertahanannya.

Selama Selama kurang lebih lima bulan (Juli-November 1905 ) Lapawawoi Karaeng Sigeri bersama Petta Ponggawae beberapa kali memindahkan pusat pertahanannya. Hal ini dilakukan agar segenap Laskar Kerajaan Bone yang terpencar di berbagai tempat senantiasa dapat melakukan kontak dengannya.

Adapun pusat-pusat pertahanan Laskar Kerajaan Bone pada waktu itu anatara lain : Palakka, Pasempe, Gottang, Lamuru, dan Citta di daerah Soppeng. Pusat pertahanan yang terakhir yang merupakan tempat gugurnya Petta Ponggawae adalah Bulu Awo di perbatasan Siwa dengan Tana Toraja.

Dalam kondisi yang tidak menentu, menyusul kejaran Serdadu Belanda juga semakin gencar, maka kedua petinggi kerajaan Bone merubah taktik perangnya dari perlawanan frontal menjadi perang gerilya. Hal ini dilakukan karena semakin sulitnya mengkoodinir laskar-laskar Kerajaan Bone yang terpencar di berbagai tempat. Terutama Laskar-Laskar yang berada di wilayah selatan Kerajaan Bone di bawah komando La Temmu Page Petta Parenring Arung Labuaja. Namun kian hari stamina lasykar kerajaan Bone semakin menurun sementara serdadu Belanda menguber pusat-pusat pertahannya.

Latemmu Page Petta Parenring arung Labuaja kemudian berpindah-pindah tempat. Arung Labuaja kemudian ke Daerah Sinjai. La Temmu Page’ Petta Parenring Arung Labuaja, merupakan panglima perang legendaris, beliau berwatak jujur dan menentang pemakaian candu.

Beliau pernah mengungkapkan ketidak-senangannya pada kebiasaan menggunakan candu (madat) di kalangan bangsawan Kerajaan Bone dan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan. Menurutnya kebiasaan itu sangat melemahkan. Candu dalam kurun waktu itu umumnya dikonsumsi dengan cara menghisap.

Alat penghisap candu itu masih dikoleksi sejumlah orang di Makassar hingga hari ini. Salah satu keturunan Latemmu Page Petta Parenring Arung labuaja yang menjadi tokoh publik sekarang ini adalah Andi Alfian Mallarangang, Rizal Mallarangang dan Syafrie Syamsuddin.

Dalam perang gerilya ini Arung Labuaja kemudian menyembunyikan identitasnya untuk mengelabui Belanda dengan membuang gelar kebangsawanannya, di Sinjai beliau lebih dikenal dikenal dengan nama Petta Tuang. Salah satu anak Arung Labuaja yang menetap di Sinjai adalah Petta Sattuang. Keturunan Petta Sattuang sekarang mendiami salah satu desa yang bernama desa Barania kecamatan Sinjai Barat kabupaten Sinjai.

BAGIKAN