O … mate colli
mate collini warue
ritoto baja-baja alla
ritoto baja-baja alla
nariala kembongeng

O … macilaka
macilakani kembongeng
nappai ribala-bala alla
nappai ribala-bala alla
namate puangna

O … taroni mate
taroni mate puanna
iyapa upetturennu alla
iyapa upetturennu alla
usapu mesana

Lagu Ongkona Arumpone dibedah oleh Mursalim dari Lembaga Seni Budaya Teluk Bone. Apabila kita membedah lagu itu memiliki hubungan dengan sejarah Rumpa’Na Bone tahun 1905, yaitu pada saat terjadinya perang antara Kerajaan Bone melawan pasukan Belanda. Ribuan laskar kerajaan Bone yang gugur dalam pertempuran tersebut. disepanjang teluk Bone diserang habis-habisan oleh pasukan Belanda, sehingga Kerajaan Bone jatuh dan dikenal dengan istilah Rumpa’na Bone.

Lagu Ongkona Arumpone yang lahir dalam tahun 1905 ini tidak diketahui penciptanya. Lagu ini mengisahkan seorang istri melepas sang suami berangkat ke medan perang untuk mempertahankan Tanah Bone dari serangan armada laut Belanda. Sang suami melangkah dengan tekad melakukan perlawanan sampai tetes darah terakhir.

Setelah tujuh hari tujuh malam pertempuran, terdengar kabar bahwa sang suami telah gugur. Namun sang istri masih setia menanti kedatangan suaminya, tak peduli siang dan malam tetap mencari keberadaan sang suami. Di kala sang istri beristirahat, maka dia bersenandung untuk menghibur diri.

Lagu Ongkona Arumpone erat kaitannya dengan gugurnya putra La Pawawoi Karaeng Sigeri raja Bone ke-31. Putranya yang bernama Abdul Hamid Baso Pagilingi sebagai putra mahkota yang digadang-gadang sebagai penggantinya tewas diterjang peluru Belanda.

Rupanya harapan besar itu tidak tercapai yang diungkapkan dalam kata “mate colli” yang artinya mati pucuk. Tuhan berkehendak lain Sang Putra yang dijuluki Petta Ponggawae yang sekaligus panglima perang Bone itu gugur sewaktu rumpa’na Bone dalam tahun 1905.

BAGIKAN