Dalam era reformasi ini, penggunaan kata “menghujat” terkesan mendapat perhatian yang lebih. Tampaknya, pemakaian kata itu tidak terlepas dari komentar para tokoh politik terhadap tokoh la­in atau organisasi tertentu.

Di mana komentar itu menimbulkan reaksi pro dan kontra. Bagi yang setuju, komentar itu dianggap sebagai koreksi atau kritik yang dapat dijadikan pelajaran berharga. Namun, bagi yang tidak setuju, komentar itu dianggap sebagai hujatan. Dalam hal ini, hujatan berarti “hinaan atau fitnah”

Terhadap penggunaan kata menghujat atau hujatan, muncul pendapat yang berbeda pula. Sebagian orang beranggapan bahwa arti hujatan bu­kan “hinaan atau fitnah” melainkan “alasan atau bukti”.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata hujat, selain berarti “hinaan atau fitnah”, dapat pula berarti “alasan atau bukti”. Dengan demikian, pemakaian kata menghujat ‘memfitnah’ dan hujatan “hinaan atau fitnah” tentu saja tidak salah. Demikian seperti dikutip Badan Pengembangan dan pembinaan Bahasa Indonesia.

Di era kebebasan berpendapat seperti sekarang ini setiap orang bebas mengutarakan isi pikirannya terhadap berbagai hal. Mulai dari isu sosial, politik, ekonomi, hingga hiburan semuanya dapat dikomentari. Apalagi dengan tersedianya kolom komentar di berbagai website dan media sosial, semakin mempermudah orang mengutarakan isi pikiran. Tinggal mengetik kalimat yang ada di pikiran pada kolom tersebut maka pendapat kita pun dapat dibaca oleh banyak orang.

Komentar berisi kritik tentu diperlukan untuk memberikan masukan kepada orang lain. Melalui kritik pula kita bisa memperbaiki sesuatu yang salah di mana hal tersebut bisa jadi belum disadari. Tapi sayangnya, kini tidak sedikit orang sulit membedakan mana yang disebut kritik dan menghujat. Akibatnya ada banyak kalimat kasar bertebaran di berbagai kolom komentar yang diklaim sebagai ‘kritik’ justru berbau hujatan.

Lantas sebetulnya apa saja sih yang membedakan antara kritik dan hujatan?

1. Kritik berisi kalimat koreksi yang memberi masukkan perbaikan. Sementara hujatan cenderung hanya berisi hinaan dan ejekan.

Terkadang kita memang sulit membedakan mana yang layak disebut kritik dan mana yang lebih cocok dikategorikan sebagai hujatan. Tapi sebetulnya jika jeli kita bisa dengan mudah loh mengidentifikasi kritik dan hinaan. Menurut IDNtimes kritik adalah komentar yang ditujukan untuk kebaikan dan mengharapkan perbaikan. Sementara hujatan cenderung hanya menghina tanpa adanya masukkan untuk sesuatu yang kita anggap kurang.

2. Hujatan akan berisi kalimat negatif yang tidak menghiraukan etika dalam komentar. Kritik tetap memedulikan pentingnya tata krama dalam berpendapat.

Tidak hanya kalimat berisi koreksi untuk perbaikan, ciri lainnya sebuah komentar dapat dikategorikan sebuah kritik adalah bahwa tetap memperhatikan tata krama. Ya, seseorang yang bermaksud memberikan kritik tidak akan melupakan etika karena komentar tersebut ditujukan untuk perbaikan dan bukan menyudutkan. Karenanya ia tidak akan berkata-kata kasar.

3. Kritik akan fokus pada kekurangan hasil kerja, bukan pada orang yang menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Seperti sudah dijelaskan, bahwa kritik difokuskan untuk perbaikan dan bukan menyudutkan. Karena itu yang dikomentari biasanya bukanlah siapa yang mengerjakan tapi apa yang dikerjakan. Sebagai seorang pemberi kritik siapa yang mengerjakan tidaklah penting karena tujuan dari komentarnya adalah untuk membangun maka yang dikomentari adalah ouput itu sendiri.

4. Pemberi kritik akan berkomentar didasarkan alasan yang logis. Penghujat lebih senang berpendapat karena rasa tak suka.

Memiliki rasa tak suka yang di utarakan tentu wajar. Tidak semua hal dalam hidup ini memang harus kita senangi. Tapi ketika memberi kritik, komentar yang diberikan tidak hanya di dasarkan karena rasa tak suka. Kita juga harus mampu berkomentar berdasarkan argumentasi logis agar kritik yang diberikan dapat memberi perbaikan bukan hanya kalimat menyudutkan.

5. Memberi inspirasi adalah tujuan utama kritik. Hal ini tidak akan ditemukan dalam hujatan.

Pada akhirnya kritik diberikan untuk perbaikan. Artinya ketika melihat sesuatu yang keliru, kita dapat berkomentar agar sesuatu yang tak baik untuk bisa dikoreksi. Jika komentar yang diberikan tidak memberikan inspirasi untuk melakukan perbaikan mungkin ada baiknya kita diam. Bukankah akan lebih baik diam daripada mengatakan sesuatu yang tak bermanfaat?

“Salaka Mette’e Ulaweng Mammekkoe begitu kata Orang Bugis”. Jika tidak tahu menahu tentang sebuah masalah tak perlu banyak bicara dan lebih baik diam karena hanya bernilai besi karatan. Jadi lebih baik diam daripada hanya memperkeruh permasalahan. ” aja mu kacoddo’-coddo’.

BAGIKAN