Melukis Sunyi pada Sketsa Sepi

156

Dalam hening yang lelah, angan berjalan risau membujuk resah. Kurasakan debar inginmu yang tak mampu menipu rasa, sebagai saksi goresan aksara biru mengeja gagu sebuah nama.

Diammu bersembunyi dalam waktu, tapi tidak inginmu.

Ketika tangis dan tawa tergerus riak cara di tepi jurang kepastian. Ketika rasa dan asa terkikis hempasan masa di lembah penyesalan. Airmata adalah satu-satunya pilihan, membasuh jejak-jejak kehilangan.

Tak ada kepedihan jemu, selain penantian tunggu.

Manik matamu mencari pecahan-pecahan sukma sebagai pijakan. Merajah segala alasan-alasan, untuk menemukan satu jawaban. Kau dan aku melukis sunyi, pada sketsa sepi

Riuh butiran hujan, diam-diam mengajak pergi pertanyaan. Menghanyutkan genangan jawaban dalam kabut keinginan.

Pada Makna yang Gagu, Kusimpan Tunggu dalam Rindu

Desau angin pernah mengajakku, menimang sebutir embun yang terperangkap di musim kemarau.

Saat itu, detak waktu mengajakmu mereguk satu titik persinggahan. Meninggalkan syair-syair biru kerinduan, menyisakan sajak-sajak pilu tentang kehilangan.

Satu persatu, tanpa pernah kau tahu.

Jika keberadaan menyatu dalam ketiadaan. Akan kuhimpun aksara-aksara penghapus keresahan, agar tak melahirkan kata-kata pengikat harapan.

Saat belantara impian, memelukmu erat dalam kebahagiaan yang tak disangka. Tak berjejak, lesatan bayangmu menjauh tanpa pernah kuduga.

Pada makna yang gagu, kusimpan rindu dalam tunggu.

BAGIKAN