Seperti biasanya kalau aku di kafe selalu memilih tempat yang ada di sudut, karena aku bisa melihat di segala arah terutama para tamu yang sedang bercumbu rayu dengan kopinya. Tapi yang pasti aku sendiri tidak tahu menahu bagaimana rasa kopinya itu, entah pahit, manis, atau getir. Kupikir itu bukan urusanku.

Inilah barangkali awalnya sehingga orang bijak selalu mengatakan “sudut pandang”  lahir dari orang-orang yang suka memilih tempat duduk di bagian sudut sebuah ruang. Silakan coba kalau Anda punya waktu luang. Mau atau tidak? aku pikir itu juga bukan urusanku.

Seiring angin sepoi berlalu, seorang pelayan kafe mendekat
“minum apaki bang”
“kopi hitam saja dek” jawabku.

Lalu ia melangkah gontai seperti agogo menuju tungku resepsionis. Tapi tak lama kemudian gadis pelayan kafe seksi itu yang bajunya dari bahan kaos sehingga nampak jelas lekuk tubuhnya kembali mendekat:

” oh iya pak, manisnya yang bagaimana, kopinya mau yang ringan, tipis, tebal atau …? “Oh iya dek, yang sedang-sedang saja tapi manisnya yang semanis dengan senyummu” jawabku. Lalu tiga menit kemudian pelayan seksi itu kembali dengan secangkir kopi pesananku.

Entah … aku sendiri tidak mengerti mengapa pikiranku tiba-tiba tertuju ke suatu tempat, padahal saat itu aku lagi asyik menikmati secangkir kopi yang membuatku mengenang betapa pahit getirnya perjuangan para pahlawan mencapai kemerdekaan ini. Ya, segetir kopi hitam yang ada di depanku.

Prak!!! betapa kagetnya lamunku, ketika sebiji asam jatuh menimpa atap kafe. Meski batunya hanya sekelentik namun mampu menghentak kagetku setengah menit. Langsung teringat ketika aku duduk di dekat sebuah kuburan tua yang tiba-tiba ada yang jotos kepalaku dari atas. Dan ternyata biji jamblang buangan burung hantu. Betul kurasa seperti itu.

Jelang malam pergantian tahun, akupun beranjak dari tempat duduk setelah kubayar lunas harga kopi. Sedikit tergesah lalu kutancap motorku menuju Tanjung Pallette. Tadi siang aku terima telepon dari salah seorang kawan lama yang memang sudah lama tak pernah bertemu, namanya RINA.

Namanya saja janji sebagai manusia yang baik seperti diriku tentu harus kupenuhi. Apalagi sahabat lama yang baru saja tiba kemarin dari Sungai Nyamuk perbatasan Indonesia-Malaysia. Ia sengaja datang ke Bone untuk ziarah kubur neneknya yang telah lama meninggal dunia.

Ia ingin sekali ketemu denganku, dan Tanjung Pallette adalah tempat pertemuan yang terbaik untuk melepas kerinduan. Itulah yang ada dalam pikiranku sejauh 12 km perjalanan hingga aku tiba di bibir tanjung yang kesohor itu.

Tanjung Pallette memang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata yang menawarkan keindahan alam yang memukau. Dilengkapi fasilitas renang yang tembus pandang menuju laut Teluk Bone semakin menambah suasana hati yang membiru dalam kedamaian.

Benar saja, sahabatku RINA telah duduk menanti di tepi sunyinya malam. Dalam benakku ia seolah berkata ” alun membawa bidukku perlahan dalam kesunyian malam waktu … tak berpawang tidak berkawan … entah ke mana aku tak tahu” begitu anggapku.

Sesaat kemudian aku pun menghampirinya, Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Karena menurut guru mengajiku sewaktu kecil kalau kita bertemu sesama muslim wajib hukumnya memberi salam. Begitu sebaliknya salam itu harus dijawab pula.

Sahabatku itu diam saja, jangankan balik menyapaku, salamku saja tidak dijawabnya padahal sudah tiga kali kumengulanginya tetap ia duduk membisu sambil menatap jauh ke laut lepas. Hanya rambut terurai yang menutupi punggungnya yang gempal seperti gambus milik tetanggaku. Sesekali rambutnya itu dihempas angin semilir yang bertiup sepoi-sepoi basah.

Aku mulai sedikit emosi, dia yang panggil aku ke sini, dia pula yang acuh sama aku, keterlaluan … ucapku dalam hati. ” Cis, mungkin ia belum tahu siapa aku … aku bukan lelaki murahan … aku bukan seperti yang dulu boz … tanya-tanya tetanggaku pasti kenal siapa aku” begitu gumamku.

Namun tiba-tiba terasa leherku mulai mengejang, aku merinding … aku pun teringat kalau di tempat ini dahulu zaman kerajaan merupakan bekas tempat peladungan, yaitu orang yang melakukan pelanggaran adat yang berat. Mereka diturunkan di tempat ini kemudian dibawa dengan perahu sejauh tiga mil ke timur di sanalah ia ditenggelamkan ke laut. Mereka dibuang ke laut dengan batu pemberat.

Dalam kegelisahanku itu tubuhku mulai terasa lemas, kedua kepalaku seperti copot tak berkutik, aku yakin ” ini bukan sahabatku RINA … tapi ia adalah H a n t u merana yang gentatayang …” bisikku.

Suasana semakin merinding hujan gerimis mulai turun, terdengar nyaring lolongan anjing piaraan warga, sesekali terdengar suara burung hantu, yang hinggap di pohon tempatku berteduh. Ya Allah Lindungi Hamba-Mu, doaku.

Sejurus kemudian hantu perempuan itu membalikkan badan dengan mata melotot menatap tajam kepadaku … aku hanya diam … satu menit kemudian ia menghilang setelah kusemprot dengan Ayat Kursi, di mana ayat ini berisi tentang kekuasaan Allah yang mutlak atas segala sesuatunya.

Akupun baru sadar, dan teringat kalau sahabatku RINA sudah meninggal 10 tahun lalu. Ia meninggal dalam peristiwa bunuh diri setelah diperkosa dengan biadab tujuh penyamun di perbatasan.

RINA sahabatku itu, dulu waktu masih sekolah dikenal gadis yang salehah, ia gadis kembang di desaku, kecantikannya tersebar seantero tetangga, cakrawala pun terdiam seribu bahasa bila melihatnya, rambutnya ikal dikepang dua, kulitnya halus putih, tubuhnya yang pas besarnya, tak heran para pemuda berebut bagai semut merindukan gula dan madu.

Aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi kecuali kukirimkan doa semoga arwahnya di sisi Allah. Dan kuberharap tidak menelponku lagi … Bummm… terdengar suara petasan bersahutan, pergantian tahun telah terjadi, aku pun terbangun dari tidur setelah mengalami peristiwa yang seolah-olah nyata. (Mursalim@telukbone.id)

#Selamat Tahun Baru 2020

BAGIKAN