Menyingkap Kebiasaan Perempuan Bugis Ketika Gerhana Matahari

580

Tradisi masyarakat Indonesia dalam menyikapi gerhana matahari terkadang berbeda pandangan dan karakter di setiap wilayah etnis dan suku. Karakter tersebut telah membentuk keariafan lokal terutama dalam menyikapi peristiwa gerhana matahari yang disebut dalam budaya Bugis Bone “Siamme Matanna Essoe”.

Peristiwa gerhana matahari dalam tradisi Bugis khususnya di Bone ternyata peranan perempuan sangat urgen dalam menyikapi gerhana matahari tesebut. Ada beberapa kepercayaan masyarakat Bugis khususnya kaum perempuan dalam menyikapi gerhana Matahari tersebut.

Secara garis besar ada dua bentuk yang menjadi tradisi di kalangan perempuan Bugis dalam menyikapi gerhana Matahari, yaitu: Budaya perempuan Bugis dalam menyikapi gerhana matahari sebelum datangnya agama Islam, dan Budaya perempuan Bugis dalam menyikapi gerhana matahari setelah agama Islam menjadi bagian integral dari pangadereng Bugis.

Nah, terkait hal tersebut mari kita kupas secara lengkap seperti di bawah ini.

A. Budaya perempuan Bugis dalam menyikapi gerhana matahari sebelum datangnya agama Islam (pra-Islam)

Dari sekian budaya Bugis yang beraneka ragam tentu masih banyak terdapat tradisi yang bersifat tradisi animisme, mistik dan mtos termasuk yang terjadi pada fenomena gerahana matahari.

Kepercayaan perempuan Bugis sebelum diterimanya agama Islam sebagai pandangan hidupnya. Tentu menyikapi peristiwa gerhana Matahari dianggap peristiwa langka yang terkait astrologi dan mempunyai dampak bagi kehidupan di Bumi.

Menurut pandangan Bugis tentang astrologi dan dunia mistik ada yang mengatakan bahwa gerhana matahari ada pengaruhnya terhadap kehidupan makhluk di bumi. Ia menghubungkan antara posisi Matahari dan bulan serta waktu terjadinya gerhana itu dengan kehidupan di bumi.

Pengaruh tersebut dapat berdampak baik dan buruk sehingga ada hal-hal tertentu dilarang dilakukan sebagai pamali (pantangan) dan ada pula yang diharuskan dilakukan sebagai “penolak bala” sekaligus mendatangkan keberkahan.

Secara umum pemali atau pantangan yang tidak boleh dilakukan perempuan Bugis dalam menyikapi gerhana matahari adalah melakukan hubungan seksual. Hal itu, karena ada kepercayaan anak yang bakal lahir cenderung gelap masa depan.

Kehidupannya dalam arti luas dan termasuk dapat membutakan mata atau cacat. Di samping itu tidak boleh mengadakan acara yang sakral secara bersamaan lainnya, sehingga harus selesai atau melewati peristiwa detik-detik terjadinya fenomena gerhana Matahari tersebut.

Sebagian masyarakat Bugis ada yang percaya dengan mitos, bahwa saat gerhana matahari dimakan raksasa sehingga orang-orang memukul berbagai benda untuk mengusir raksasa itu. Dan itu dianggap berhasil ketika matahari kembali benderang.

Sebagian masyarakat Bugis percaya juga dengan mitos yang mengaitkan gerhana dengan pertanda buruk tertentu. Bahkan dengan ketakutan anak-anak disuruh bersembunyi di bawah ranjang, kelambu bahkan disembunyi di dalam lemari supaya tidak terkena cahaya matahari pada saat gerhana.

Biasanya perempuan Bugis dalam menyikapi gerhana matahari lebih sibuk dibandingkan kaum laki-laki dan lebih terfokus pada hal hal yang bersifat apa yang sebaiknya dilakukan untuk mendatangkan kebaikan atau keberkahan terkait dalam peristiwa langka tersebut.

Secara garis besar ada berbagai aktivitas perempuan Bugis dalam menyikapi gerhana matahari untuk mendapatkan keberkahan di antaranya:

1. Makebbu Bedda’ Picah atau Meramu Bedak.

Di saat terjadinya fenomena gerhana matahari perempuan Bugis Bone memiliki kebiasaan meramu bedak dari tepung beras. Di mana beras (ware) yang akan dijadikan bedak itu diambil dari rumah tetangga secara diam-diam kurang lebih segenggam tangan yang diambil langsung dari tempat penyimpanan beras disebut “paberesseng”. Disertai niat dalam mengambil beras bukan niat yang jelek melainkan diniatkan untuk hal kebaikan dan keharmonisan.

Kemudian beras tersebut dijadikan bedak baik untuk “bedda’ picah” untuk kecantikan maupun untuk bedak lulur yang teristimewa bagi calon pengantin.

Bagi perempuan Bugis dipercaya bahwa bedak tersebut mempunyai keberkahan senantiasa cantik dipandang dan berkulit halus. Begitu juga dengan “bedda” picah” dapat menghindari mimpi buruk dan sebagai obat penenang disaat tidur.

2. Makkitateru atau Menyaksikan Melalui Air di Baskom (Katuang).

Masyarakat Bugis menyaksikan gerhana matahari melalui baskom atau wadah
yang berisi air agar supaya mata terhindar dari cahaya kuat sinar matahari langsung
ke mata yang dapat merusak retina mata.

Hal itu dilakukan secara berjamaah atau sekeluarga namun yang menarik adalah pasca terjadinya gerhana matahari maka para perempuan Bugis menyikapi air di dalam baskom tersebut dengan memandikan putra putrinya.

Sambil mengucapkan mantra-mantra ataupun doa yang intinya agar anaknya kelak akan bercahaya menjadi pengayom keluarga, memiliki wajah yang bersinar dan memiliki prinsip yang teguh sebagaimana teguhnya cahaya Matahari. Adapun doa yang kerap diucapkan ” Muare Muancaji pada mata essoe Nak artinya jadilah engkau seperti Matahari Nak” Hal itu dimaksudkan agar anak mampu bersinar karena kualitas pribadinya dan ia mampu menerangi dan menghangatkan sekitarnya serta mampu memberi manfaat bagi sekitarnya.

3. Mappadekko atau Memukul Lesung.

Mengajak para anak gadis atau perawan ikut serta acara mappadekko dengan tujuan utama yaitu agar gerhana matahari cepat selesai dan tidak mendatangkan bencana dan tujuan lainnya agar para anak gadisnya memperlihatkan kemahirannya dalam menumbuk padi serta kecerdasan estetika dalam atraksi yang menghasilkan alunan atau irama sehingga jejaka ataupun pemuda yang berada di sekitar tempat itu ikut menyaksikan kemahiran para gadis hingga ada yang tertarik untuk mempersuntingnya. Sebagaimana perempuan Bugis dahulu kala jarang keluar dari rumah selain keperluan sangat penting.

4. Nasimpaiwi Wakke Olokolo’na Neniya Dare’na (Mendoakan Hewan
Ternak dan Kebun).

Bergegas atau berlari cepat pada saat terjadinya gerhana untuk mendatangi sawah, kebun-kebun dan tempat ternakannya sambil mengucapkan doa-doa tertentu.

Perempuan gadis Bugis menyikapi fenomena gerhana Matahari agar mendapatkan keberkahan supaya hasil panen dan binatang ternaknya mendatangkan keberhasilan yang besar dan terhindar dari berbagai penyakit yang dapat mendatangkan kegagalan panen ataupun kepunahan binatang ternaknya sekaligus cepat berkembang biak.

5. Napammulai Muki Nagasikoi ( Memulai membuat Jimat Nagasikoi)

Pada saat terjadinya gerhana adalah waktu yang paling baik dalam memulai
menulis jimat ‘nagasikoi’ tulisan di atas kertas yang berbentuk empat naga dan
beberapa binatang buas lainnya. Para sesepuh atau ibu dari perempuan Bugismenyikapinya dengan membuat nagasikui kepada anak atau cucunya agar menjadi pahlawan keluarga kelak melalui keberkahan jimak tersebut.

Pembuatan jimak nagasikui ini tidak sembarang tinta yang digunakan begitu juga dengan jenis kertas dan bentuk lukisannya dan terkadang ada tulisan Arabnya. Tentu mempunyai tata cara tersendiri dan lantunan doa ketika membuatnya serta bahannya.

Awalnya mereka menulis dari daun lontar muda dengan beberapa tetes darah. Namun dengan perubahan zaman saat ini jimat tersebut digantikan oleh kertas dan tulisan tinta yang berwarna.

6. Maggendrang Pangampi ( Beramai-ramai memukul Gendang)

Biasanya gendrang Pangampi pada acara tertentu hanya dibunyikan oleh kaum
laki-laki tetapi khususnya pada peristiwa gerhana matahari perempuan Bugis ikut
berpartisipasi dalam memukul gendang pengampi tersebut agar lebih keras bunyi
yang dihasilkan. Biar ribut agar naga yang menelan matahari segera dimuntahkan
agar supaya gerhana cepat berlalu dan tidak mempunyai dampak buruk bagi kehidupan masyarakat.

7. Malai Kaluku (Mengambil Kelapa)

Mengambil buah kelapa orang lain baik yang ada di pohon ataupun di dalam pekarangan rumah tetangga. Diniatkan agar kelak buah kelapa tersebut mendapatkan berbagai keberkahan setalah diolah menjadi minyak rambut dan digunakan untuk menghitamkan rambut.

Selain itu simbol dari buah kelapa dalam kehidupan memiliki kerakter lurus atau jujur sebagaimana batangnya yang berdiri tegak tidak bercabang, bisa tumbuh di mana saja, dilembah, dibukit, daratan, di atas gunung. Dalam artian bisa beradaptasi di manapun, serta semua komponen dari kelapa semuanya bermanfaat bagi kehidupan.

8. Nakkai Sari Bandang ( Menggali Sari Bandang)

Ketika terjadi gerhana matahari perempuan Bugis terutama para ibu menggali sari
bandang atau semacam daun sereh untuk dijadikan bedak karena daun tersebut
dipercaya memliki keberkahan dipermudahkan jodohnya atau Tabbuka Parekkusenna (terbuka jodohnya).

Sebab ada kepercayaan gadis-gadis yang terlambat menikah disebabkan tertutup jodohnya atau Parekkusennna disebakan adanya orang-orang iri atau kecewa padanya sehingga perlu kembali didoakan untuk melepas atau dimudahkan jodohnya.

Demikianlah beberapa tradisi perempuan Bugis dalam menyikapi keberkahan gerhana matahari sebelum masuknya Islam. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan masih ada beberapa aktivitas perempuan Bugisyang belum disebutkan dalam tulisan ini.

Selanjutnya kita akan bahas setelah Agama Islam masuk.

B. Budaya perempuan Bugis dalam menyikapi gerhana matahari setelah agama Islam menjadi bagian integral dari pangadereng Bugis.

Setelah agama Islam menjadi bagian integral dari Pengadereng Bugis terutama di Bone. Di mana masuknya agama Islam pada tahun 1611 yang dimotori ratu Bone ke-10 (1602-1611) yang bernama We Tenrituppu Matitinroe ri Sidenreng, sehingga kebiasaan sebelumnya banyak mengalami perubahan.

Di masa pemerintahannya, secara berangsur-angsur tradisi masyarakat Bone mengalami Islamisasi kultur. Sehingga segala bentuk tradisi menyesuaikan dan hilang secara bertahap yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Puncak Islamisasi kultur masyarakat Bugis Bone dengan diterimanya syara’ atau syariat Islam sebagai salah satu pilar dari pangadereng sebagai pedoman hidup masyarakat Bugis, yaitu siri, ade, wari, rapang, dan syara’.

Pada mulanya Islamisasi kultur yang dimulai kesalahpahaman datangnya ajaran baru sehingga terjadi perang dan setelah memahami maksud dan tujuan ajaran Islam maka diterimalah menjadi bagian integral dari pangadereng Bugis terutama di Bone.

Secara garis besar setelah masuknya agama Islam, ada tiga bentuk dalam hal perempuan gadis Bugis dalam menyikapi gerhana matahari, yaitu:
a. Tetap mempertahankan tradisi leluhurnya sehingga tetap melestarikan segala bentuk aktivitas leluhurnya, termasuk mengambil segenggam beras dan beberapa butir telur. Hal ini dilarang oleh agama Islam karena masuk kategori
mencuri.

b. Kompromistik dalam arti yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi
dilestarikan sedangkan yang bertentangan dengan ajaran Islam tidak dilaksanakan.

c. Mengikuti sepenuhnya dengan petunjuk agama Islam seperti melaksanakan
salat gerhana, memperbanyak ucapan syahadat, takbir dan doa-doa serta
sedekah atu infaq dan berbagai amalan kebaikan lainnya.

Demikianlah beberapa perubahan aktivitas perempuan Bugis terurama di Bone dalam
menyikapi gerhana matahari. Setelah masuknya dan terintegrasikannya syariat Islam sebagai salah satu bagian dari Pangadereng Bugis Bone.

Kualitas perubahan ini sangat dipengaruhi oleh kualitas pendidikan pemahaman keislaman perempuan Bugis secara umum, sehingga terdapat perbedaan dalam menyikapi peristiwa gerhana Matahari tersebut.

Akan tetapi seiring kecanggihan teknologi dan peningkatan kualitas iman dan taqwa secara bertahap dan berangsur menuju kepada penyikapan perempuan Bugis yang disesuaikan dengan tuntunan Rasullah SAW seperti salat gerhana, bersedekah, berdoa, dan melakukan silaturahim serta berbagai kegiatan yang bermanfaat.

Nah, kebetulan berdasarkan data astronomi bahwa besok pada Kamis, 26 Desember 2019 bertepatan tanggal 29 Rabiul Akhir 1441 Hijriah mulai pukul 11.34 Wita di Indonesia akan terjadi Gerhana Matahari Cincin dan Gerhana Matahari Sebagian. Seluruh kawasan Indonesia dapat mengamati gerhana ini.

Di mana puncak gerhana akan terjadi pada pukul 13.17 Wita dan berakhir pada pukul 15.00 Wita. Kaum Muslimin dapat melaksanakan salat sunnah berjamaah dan melakukan khutbah sesuai tuntunan dalam pelaksanaan salat gerhana serta kegiatan lainnya yang lebih bermanfaat.

Demikian akhir tulisan kali ini “Menyingkap Kebiasaan Perempuan Bugis Ketika Gerhana Matahari” Semoga bermanfaat