Misteri Perempuan Berambut Pirang di Bukit Cempalagi

834

Pagi itu matahari baru saja beranjak dari timur, sementara angin selatan berembus pelan merasuk tubuh para penjala ikan yang siap mengayuh perahu-perahu.

Sejurus kemudian sang surya perlahan memperlihatkan kekuasaannya untuk menyinari dunia yang amat luas menggeser tugas dan singgasana sang rembulan.

Sengaja saya datang pagi-pagi ke bukit itu karena selainĀ  berada di pesisir pantai yang bersentuhan langsung Teluk Bone juga masih ditumbuhi hutan belukar setengah perawan yang masih bisa menghipnotis siapapun.

Bila ditatap dari udara, bukit eksotik yang tidak jauh dari Tanjung Pallette itu bentuknya bagai dua buah payudara tengah duduk bersanding menanti kehadiran saya dan mungkin juga Anda yang lagi kasmaran.

Selain eksotik, di lereng bukit itu terdapat sebuah lubang yang menyerupai vagina yang lebih tepat disebut gua dan konon bekas tempat peristirahatan Arung Palakka sebelum menyeberang menuju Tanah Uliyo Buton.

Bahkan pada dinding gua mungil itu tampak jelas bekas tapak kaki yang membatu dan bila kita melangkah beberapa hasta tampak pula lubang bekas kaki persis di bibir pantai. Uniknya dari lubang itu berisi air tawar yang sangat digemari para bidadari manakala ingin membasuh sekujur tubuhnya yang putih bersih itu.

Karena semakin penasaran dalam kesendirian yang hanya ditemani bayang-bayang itu, aku pun beranjak menuju puncak bukit agar bisa melihat sekeliling sambil menikmati riak yang saling berkejaran.

Tiba di puncak bukit mata saya tertuju pada sebuah kelambu berwarna merah. Spontan jantung yang masih berdenyut bertambah kencang tidak seperti biasa ketika aku lari-lari pagi menyusuri sudut-sudut kota Watampone. Kelambu merah itu membuatku terdiam sejengkal “ada yang tidak beres” kataku.

Dalam diamku itu, tiba-tiba ada telapak tangan yang menutup kedua bola mataku. “Ya Allah Tolong hamba-Mu” doaku saat itu. Bulu romaku berdiri namun aku berusaha bertahan dalam ketakutan sebagai manusia biasa.

Selang beberapa saat … tangan halus yang menutup mataku perlahan menghilang. Aku berusaha menenangkan diri sambil menoleh ke belakang tak sadar Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar ” begitu kata yang terucap dari bibirku yang gemetaran … aku duduk lunglai bagai tak bertulang … aku tak sadarkan diri.

Ketika kutersadar dari pesona, tiba-tiba aku sudah berada di bawah kelambu merah. Terlihat seorang gadis berambut pirang duduk di sampingku dengan mata sayu menatapku. Wajahnya yang cantik bagai rembulan malam keempat belas. Akupun tak sadarkan diri untuk kedua kalinya, namun sempat aku merasakan ketika jari jemarinya mengelus ubun-ubunku.

Sediam kemudian aku kembali tersadar sambil mengusap mataku ” Ya Allah tolong hamba-Mu” kataku setengah berteriak. Ternyata perempuan itu masih ada bahkan kepalaku kini berada di kedua pahanya yang montok itu. Lalu ia menyuruhku agar tenang sambil menyingkap kelambu ia pun berbisik ke telingaku ” jangan takut … tak usah takut … saya bersamamu”.

Lalu perempuan misteri itu menyuruhku agar tetap baring dengan kepalaku berbantal di kedua pahanya yang empuknya mengalahkan bantal dari segala bantal. Lalu ia bercerita panjang lebar tentang siapa dirinya sebenarnya.

Sesekali di tengah kisahnya ia bersenandung kecil yang membuat hatiku menjadi nyaman penuh kedamaian. Suaranya yang merduĀ  membuatku terdiam dalam kehangatan. Tak terasa aku pun jatuh terlena dalam lelap.

Menjelang petang saat cahaya mentari mulai meredup pertanda sebentar lagi terganti sinar rembulan. Tiba-tiba terdengar guntur menggelegar disertai kilat menyambar-nyambar. Akupun langsung terbangun dari perjalanan mimpiku.

(Mursalim)

BAGIKAN