Nilai Dibalik Mappadendang

403
Mappadendang yang lebih dikenal dengan sebutan pesta tani pada suku Bugis merupakan suatu pesta syukur atas keberhasilannya dalam menanam padi kepada yang Maha Kuasa. Mappadendang sendiri merupakan suatu pesta yang diadaakan dengan penumbukan gabah pada palungeng atau lesung dengan tongkat besar sebagai penumbuknya.

Acara mappadendang sendiri juga memiliki nilai magis yang lain. Disebut juga sebagai penyucian gabah yang dalam artian masih terikat dengan batangnya dan terhubung dengan tanah menjadi ase (beras) yang nantinya akan menyatu dengan manusianya. Olehnya perlu dilakukan pensucian agar lebih berberkah.

Acara mappadendang ini tidak hanya sekadar menumbuk saja. Alur ceritanya bahwa para ibu-ibu rumah tangga dekat rumah akan diundang lalu mulai menumbuk. Dengan nada dan tempo yang teratur, ibu-ibu tersebut pun kadang menyanyikan beberapa lagu yang masih terkait dengan apa yang mereka kerjakan. Sedangkan anak-anak mereka bermain di samping atau pun di bawah rumah.

Acara adat ini dulu umumnya dilakukan oleh masyarakat-masyarakat di berbagai daerah, begitu selesai mereka lalu menjemur di bawah terik matahari . kegiatan ini merupakan hal yang sangat sering dilakukan oleh para petani orang Bugis. Dikenal juga Manre ase baru yang meupakan lanjutan setelah mappadendang.

Mappadendang merupakan upacara syukuran panen padi dan merupakan adat masyarakat Bugis sejak dahulu kala.Biasanya dilaksanakan setelah panen raya biasanya memasuki musim kemarau pada malam hari saat bulan purnama. Pesta adat itu diselenggarakan dalam kaitan panen raya atau memasuki musim kemarau.

Pada dasarnya mappadendang berupa bunyi tumbukan alu ke lesung yang silih berganti sewaktu menumbuk padi. Komponen utama dalam acara ini yaitu 6 perempuan, 3 pria, bilik Baruga, lesung, alu, dan pakaian tradisional yaitu baju tokko.

Pesta ini merupakan bentuk pagelaran seni tradisional bugis makassar karena merupakan sebuah pertunjukan unik yang menghasilkan bunyian irama teratur atau nada dari kelihaian pemain. Para perempuan yang beraksi dalam bilik baruga disebut Pakkindo’na, sedang pria yang menari dan menabur bagian ujung lesung disebut Pakkambo’na. Bilik baruga terbuat dari bambu, serta memiliki pagar yang terbuat dari anyaman bambu yang disebut walasuji.

Pada saat acara Mappadendang dimulai penari dan pemain yang akan tampil biasanya mengenakan pakaian adat yang telah ditentukan :

  • Bagi wanita diwajibkan untuk memakai baju tokko
  • Laki-laki memakai lilit kepala serta berbaju hitam , seluar lutut kemudian melilitkan kain sarung hitam bercorak
Alat yang digunakan dalam Mappadendang seperti :
  • Lesung panjangnya berukuran kurang lebih 1,5 meter dan maksimal 3 meter. Lebarnya 50 cm.
  • Bentuk lesungnya mirip perahu kecil (jolloro; Makassar) namun berbentuk persegi panjang.
  • Enam batang alat penumbuk yang disebut alu antan yang biasanya terbuat dari kayu yang keras atau pun bambu berukuran setinggi orang dan ada dua jenis alat penumbuk yang berukuran pendek, kira-kira panjangnya setengah meter.

Personil yang bertugas dalam memainkan seni menumbuk lensung ini atau mappadendang dipimpin oleh dua orang, masing-masing berada di ulu atau kepala lesung guna mengatur ritme dan tempo irama dengan menggunakan alat penumbuk yang berukuran pendek tersebut di atas, biasanya yang menjadi pengatur ritme adalah mereka yang berpengalaman. Sedangkan menumbuk di badan lesung adalah mereka perempuan atau laki-laki yang sudah mahir dengan menggunakan bambu atau kayu yang berukuran setinggi badan orang atau penumbuknya.

Seiring dengan nada yang lahir dari kepiawaian para penumbuk, biasanya dua orang laki-laki melakukan tari pakarena. Isi lesung yang ditumbuk berisi dengan gabah atau padi ketan putih/hitam (ase punu bahasa bugis) yang masih muda dan biasanya kalau musim panen tidak dijumpai lagi padi muda, maka biasanya padi tua yang diambil sebagai pengganti, akan tetapi sebelum ditumbuk padi itu terlebidahulu direbus selama 5 sampai 10 menit atau direndam air mendidih selama 30 menit kemudian disangrai dengan menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat tanpa menggunakan minyak dengan memakai api dari hasil pembakaran kayu.

Setelah ditumbuk sampai terpisah dengan kulitnya (dipeso bahasa makassar) barulah perempuan menampanya (ditapi bahasa makassar) memakai alat pattapi yang terbuat dari anyaman bambu dan rotan yang berdiameter seperti tudung saji di bawah sinar rembulan dan cahaya dari sulo atau lampu penerangan orang makassar yang terbuat dari bambu/obor minyak tanah.

Kalau hasil tumbukan dari prosesi mappadendang benar-benar dianggap bersih karena sudah dipisahkan antara padi dan kulitnya, maka perempuan lainnya menyiapkan kelapa habis diparut dan gula merah yang sudah diperhalus kemudian dicampur menjadi satu bersama dengan padi yang telah ditumbuk. maka terbuatlah satu penganan atau racikan kue tradisional yang dikenal dengan nama laulung.

Mappadendang dan kisah modernisasi pertanian, Tradisi ini sudah berjalan turun temurun. Tiap musim panen tiba, semua orang melakukan mappadendang. Tapi, sejak tak ada lagi pare riolo dan katto bokko, ritual panen itu jarang dilakukan. Pare riolo adalah sebutan padi varietas lama yang tumbuh dengan batang lebih tinggi. Lebih panjang ketimbang varietas baru yang pernah diperkenalkan pemerintah tahun 1970-an lewat program intensifikasi pertanian, macam PB-5 dan PB-8 yang berbatang pendek.

Saat musim panen tiba para warga biasanya memotong ujung batang padi dengan ani-ani, dalam bahasa Bugis disebut Rakkapeng yang menyerupai sebuah pisau pemotong berukuran kecil. Biasanya setelah terkumpul lantas padi hasil panenan itu dirontokkan dengan cara menumbuk dalam sebuah lesung.

Suara benturan antara kayu penumbuk, yang disebut alu, dan lesung ini biasanya terdengar nyaring. Membentuk irama ketukan yang khas rancak bertalu-talu. Gerakan dan bunyi tumbukan berirama inilah yang menjadi asal-usul seni mappadendang. Tradisi ini turun temurun. Sampai akhirnya lambat laun mulai ditinggalkan setelah pemerintah menggulirkan program intensifikasi pertanian untuk mendongkrak produktivitas ekonomi nasional.

Ritual semacam mappadendang sebenarnya bukan hanya dikenal di daerah Kalabbirang. Di sejumlah tempat yang penduduknya bergantung dari hasil usaha bertani umumnya mengenal ritual bercocok tanam. Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba waktunya panen raya. Ada upacara Mappalili sebelum pembajakan tanah. Ada Appatinro pare atau appabenni ase sebelum bibit padi disemaikan.

Ritual ini juga biasa dilakukan saat menyimpan bibit padi di posibola, sebuah tempat khusus terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk menjaga agar tak satu binatang pun lewat di atasnya. Lalu ritual itu dirangkai dengan massure’, membaca Meong Palo Karellae, salah satu epos Lagaligo tentang padi. Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu barulah dilaksanakan Mapadendang.

Di Makassar dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda. Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktivitas ini. Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari.

“Padi bukan hanya sumber kehidupan. Ia juga makhluk manusia. Ia berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk dimakan,”

Seiring dengan modernisasi sistem pertanian dan orientasi pada aktivitas peningkatan “income” dan produksi nasional. Akhirnya ritual-ritual bercocok tanam yang rutin digelar, lambat laun mulai hilang. Lantaran sistem pertanian pendukung ritual itu semakin ditinggalkan. Tak ada lagi memanen dengan ani-ani. Tak ada lagi ketto-katto. Tidak ada pula elong kelong mappadendang. Bersamaan dengan itu tiada lagi penghargaan terhadap sumber kehidupan.

Praktik menanam tidak berurusan dengan anugerah Sangiyang Sri seperti yang diyakini selama ini. Tapi soal bagaimana produk pertanian dapat mengejar target produksi nasional yang diharapkan para penyuluh pertanian.

Maksud dan Tujuan Mappadendang adalah :

  • Menyatakan rasa syukur kepada Allah
  • Menjalin silaturahmi
  • Hiburan
  • Biasanya dijadikan ajang oleh muda mudi untuk mencari pasangan
  • Memupuk rasa kebersamaan
BAGIKAN