Osong adalah ungkapan Ikrar kesetiaan Laskar Kerajaan Bone terhadap Raja Bone untuk melawan Tentara Belanda. Osong dalam bahasa Makassar disebut Angngaru’. Sedang di Bone sendiri disebut osong.

Setiap perayaan hari jadi Bone, biasanya ada lomba “Osong’” sebagai bagian tak terpisahkan dari upacara penyambutan tamu, entah itu gubernur, bupati atau Siapa saja yang dipertuan, yang mengendalikan atau memerintah orang banyak.

Osong yang dimaksud di sini adalah upacara pengucapan ikrar atau sumpah di mana seseorang melompat dengan keris atau badiknya dan mengucapkan sumpah setia kepada pemimpinnya.

Di masa kerajaan, Osong atau Mangosong biasa dipersembahkan kepada raja, atau dari pemimpin pasukan kepada panglimanya, dari bangsawan kepada rajanya. Mangosong biasa juga dipersembahkan dihadapan pemimpin tamu atau raja / yang datang sebagai raja atau pemimpin sahabat atau pemimpin / raja yang lebih tinggi kedudukannya.

Orang yang melakukan Osong disebut “mangosong” yakni bersumpah, berikrar, menyatakan kesetiaan. Mereka diharuskan berpakaian adat, mengucapkannya harus lantang, tegas dan sambil menghunus keris atau badik kemudian menghujamkan ke atas dan ke bawah, dan tidak dibenarkan menghunus senjata sambil menghujamkan ke ke arah raja.

Osong sebenarnya digolongkan sebagai salah satu jenis sastra tutur yang sudah dikenal etnis Bugis dan Makassar sejak jaman kerajaan, bahkan berdirinya suatu kerajaan umumnya diawali dengan pernyataan ikrar / sumpah antara rakyat yang diwakili para pemimpin kaum (Anang) dengan calon pemimpin atau rajanya, dalam hal ini Tomanurung, sebagai penguasa awal dinasti.

Osong dilakukan untuk berbagai kepentingan : selain pernyataan perang kepada Belanda juga untuk pengangkatan raja atau pemimpin, pergantian raja, pernyataan setia sebelum berangkat perang atau ikrar harapan akan sesuatu.

Contoh osong di antaranya Osonna La Parakkasi Arung Tanete, Osonna Arung Sailong, Osonnna Imakunradde, dan lain-lain.

BAGIKAN