Perbedaan Saoraja dengan Bola

1256

Beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan tempat berdiam suku Bugis memiliki peninggalan sejarah dan budaya yang beragam. Tak pelak peninggalan masa lalu itu menjadi pilihan tujuan destinasi wisata. Seperti halnya rumah tempat tinggal raja yang disebut saoraja tidak hanya terdapat di Bone tapi juga ada di Wajo, Barru, dan daerah lainnya.

Rumah adat suku Bugis dibedakan berdasarkan status sosial orang yang menempatinya. Rumah Saoraja biasa juga dinamakan “Sallasa” yang berarti rumah besar yang ditempati oleh keturunan raja (kaum bangsawan) sedangkan Bola adalah rumah yang di tempati oleh rakyat biasa.

Adapun tipologi saoraja dan bola adalah sama-sama rumah panggung, lantainya mempunyai jarak tertentu dengan tanah, bentuk denahnya sama, yaitu empat persegi panjang. Perbedaannya adalah saoraja dalam ukuran yang lebih luas begitu juga dengan tiang penyangganya, atap berbentuk prisma sebagai penutup bubungan yang biasa di sebut timpa’ laja yang bertingkat-tingkat antara tiga sampai lima sesuai dengan kedudukan strata penghuninya.

Saoraja Petta Ponggawae Kabupaten Bone

Rumah Bugis sebenarnya tahan gempa dan banjir. Karena Rumah bugis yang sebenarnya menggunakan parewa lepang (pattuppu dan padongko) yang tidak disambung. Karena struktur kayu yang tidak disambung dapat meredam getaran hingga getaran yang frekuensinya tinggi. Namun sekarang mencari kayu yang sangat panjang sangatlah sulit, sehingga parewa lepang diganti dengan “pattolo” yang ukurannya lebih kecil.

Oleh karena itu, apabila tinggal di daerah rawan gempa, rumah Bugis adalah solusi yang tepat agar rumah Anda tidak terporandakan gempa. Begitu juga dengan banjir, kalau banjirnya tidak melebihi dua meter dan pondasinya tidak mudah terbawa arus.

Rumah Bugis Tradisional merupakan contoh model rumah Asia tenggara yaitu rumah panggung dari kayu, yang atapnya berlereng dua dan kerangkanya berbentuk huruf ”H” terdiri dari tiang dan balok yang dirakit tanpa pasak atau paku. Tianglah yang menopang lantai dan atap sedangkan dinding hanya diikat pada tiang luar.

Karakteristik fisik itu, yang membuat model rumah itu mudah dibongkar atau malah dipindahkan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pemukiman orang Bugis sering kali berpindah dan tidak terpusat pada suatu pemukiman permanen.

Saoraja La Tenri Bali Kabupaten Wajo

Rumah Bugis memiliki keunikan tersendiri, dibandingkan dengan rumah panggung dari suku yang lain seperti Sumatera dan Kalimantan. Bentuknya biasanya memanjang ke belakang, dengan tambahan di samping bangunan utama dan bagian depan orang Bugis menyebutnya lego-lego (beranda).

Saoraja pertama-tama di Bone merupakan rumah tinggal raja Bone ke-30 yaitu We Fatimah Banri yang kemudian ditempati pula raja Bone berikutnya yakni La Pawawoi Karaeng Sigeri Raja Bone ke-31. Saoraja di Bone biasa juga di sebut Saoraja Petta Ponggawae yang lebih lazim disebut Bola Soba.

Seperti disebutkan sebelumnya, saoraja tidak hanya ada di Bone tetapi ada pula Saoraja La Tenri Bali di Kabupaten Wajo. Sao Raja La Tenri Bali berasal dari bahasa Bugis. Sao Raja diartikan sebagai istana raja, sedangkan La Tenri Bali merupakan salah satu nama raja yang pernah memimpin Kerajaan Wajo. Arung Matoa sebutan masyarakat setempat bagi pemimpin Kerajaan Wajo tersebut. Jadi, Sao Raja La Tenri Bali adalah Istana Raja La Tenri Bali.

Arung Matoa yang pernah memimpin Kerajaan Wajo memiliki istana dan bentuk kekuasaan yang berbeda-beda. Para Arung Matoa memiliki ciri khas masing-masing, salah satunya adalah Sao Raja yang mereka miliki. Sao Raja La Tenri Bali inilah yang paling dikenal sebagai salah satu rumah adat dan menjadi ikon wisata Kabupaten Wajo saat ini.

Sairaja La Pinceng Kabupaten Barru

Selain itu, ada pula Saoraja La Pinceng di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Saoraja La Pinceng merupakan salah satu rumah atau istana peninggalan kerajaan Balusu, Kabupaten Barru. Istana ini menjadi salah satu saksi perjuangan Kerajaan Balusu melawan penjajahan Belanda. Awal mula kerajaan Balusu diperintah keturunan raja-raja Gowa.

Namun ketika rakyat Balusu sudah tidak sudi lagi diperintah keturunan raja-raja Gowa, maka ketua adat kerajaan Balusu memohon kepada Datu Soppeng kerajaan Soppeng. Permohonan ini untuk memberikan atau memperkenankan keturunan Datu Soppeng untuk menjadi raja Balusu. Namun semua anak laki-laki Datu Soppeng sudah memangku jabatan, maka diutuslah anak perempuannya, Tenri Kaware untuk menjadi Ratu Balusu.

Setelah Tenri Kaware memerintah kerajaan Balusu beberapa tahun, kemudian digantikan oleh puteranya, Andi Muhammad Saleh. Dalam masa pemerintahan Andi Muhammad Saleh, kerajaan Balusu dalam keadaan aman dan sentosa. Selain itu, kehidupan rakyat penuh kesehjahteraan dan hasil pertanian melimpah ruah. Raja ini terkenal sangat saleh dan berani, sehingga kemudian digelar dengan nama Andi Muhammad Saleh Daeng Parani Arung Balusu.

Atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kerajaan Soppeng dari kehancuran atas serangan yang dilancarkan gabungan kerajaan Wajo dan Sidenreng (Musu Belo atau Perang Belo), sehingga dia diberi gelar ‘Petta Sulle Datue’. Gelar ini juga memberikan kesempatan kepada Andi Muhammad Saleh untuk menggantikan Datu Soppeng jika berhalangan dan diserahi tugas dan tanggung jawab sebagai panglima perang di bagian barat kerajaan Soppeng.

Dalam masa pemerintahannya, Andi Muhammad Saleh memindahkan pusat kerajaan dari Balusu ke Lapasu dan markas pertahanannya di Bulu Dua. Di Bulu Dua ini didirikan Saoraja Lamacan yang terkenal penuh dengan ukiran.

Saoraja La Pinceng sendiri dibuat pada tahun 1895 terletak di Dusun Lapasu atau Bulu Dua Kabupaten Barru. Ukuran Ale Bola atau bangunan rumah induk berukuran kurang lebih 23,50 x 11 meter. Jumlah tiang Saoraja La Pinceng sebanyak 35 buah dengan panjang sekitar 6,50 meter, dan lebar sekitar 5,50 meter. Selain itu, juga terdapat sembilan buah tiang dengan ukuran 3 x 3 meter.

Bangunan rumah dapur memiliki panjang sekitar 11 meter dan lebar sekitar 8 meter, dengan jumlah tiang 20 buah (5 x 4), ditambah dua buah tiang antara Ale Bola dengan rumah dapur yang berfungsi sebagai penyambung dan tempat penyanggah tangga belakang.

Selain itu, di dalam lokasi Saoraja La Pinceng terdapat pula beberapa bangunan antara lain, rumah jaga dengan ukuran sekitar 7,50 x 4 meter, bangunan panggung pementasan dengan ukuran sekitar 9,50 x 5 meter. Juga terdapat bangunan kamar mandi dan sumur dengan ukuran sekitar 8,50 x 6,20 meter. Luas lokasi secara keseluruhan sekitar 4.000 meter persegi.

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan, bahwa “saoraja” merupakan rumah tempat tinggal raja sekaligus sebagai pusat pemerintahan. Sedangkan “bola” hanya sebatas rumah panggung tempat tinggal rakyat atau masyarakat biasa pada umumnya.