Membicarakan Arung Palakka seakan tidak ada habisnya. Bagi orang Bone sosok Arung Palakka menjadi simbol perjuangan. Nilai-nilai perjuangannya itu diturunkan ke generasinya hingga menggelegar sampai saat ini.

Arung Palakka salah satunya raja Bone yang tidak pernah duduk di singgasana. Ia sosok lelaki batu semberani yang lahir dari rahim suci bunda dengan rambut penuh misteri. Berikut lembaran sejarah perjuangannya.

Setelah La Maddaremmeng Matinroe ri Bukaka meninggal dunia, maka digantikanlah oleh kemanakannya yang bernama La Tenritatta Arung Palakka Malampee Gemme’na Petta To Risompae.

La Tenritatta adalah anak dari We Tenrisui Datu Mario Riwawo dengan suaminya yang bernama La Pottobune Arung Tanatengnga Datu Lompulle. Ibu dari We Tenrisui adalah We Baji atau We Dangke Lebae ri Mario Riwawo dengan suaminya La Tenriruwa Arung Palakka Matinroe ri Bantaeng.

La Tenri Ruwalah yang mula-mula menerima agama Islam dari Karaenge ri Gowa. Karena pada waktu itu orang Bone menolak agama Islam, maka La Tenriruwa pergi ke Bantaeng dan di sanalah ia meninggal dunia sehingga dinamakan Matinroe ri Bantaeng.

Ketika La Tenritatta baru berusia 11 tahun, Bone di bawah kepemimpinan La Tenriruwa, Bone diserang dan dikalahkan oleh Gowa. Orang tuanya La Pottobune ditangkap dan ditawan bersama La Tenriruwa serta beberapa anak bangsawan Bone lainnya oleh Karaenge ri Gowa. Dalam peristiwa yang disebut Beta ri Pasempe ( Kekalahan di Pasempe ).

Pasempe adalah sebuah kampung kecil yang dipilih oleh La Tenriruwa untuk melakukan perlawanan dan di sanalah dia dikalahkan. Semua tawanan Gowa termasuk orang tua La Tenritatta dibawa ke Gowa.

Sesampainya di Gowa, tawanan-tawanan itu dibagi-bagi kepada Bate Salapange ri Gowa. Sedang La Pottobune dan isterinya We Tenrisui serta anaknya La Tenritatta diambil oleh Karaenge ri Gowa.

Ditempatkan di Salassae (Istana) Gowa dan ditunjukkan sebidang tanah untuk digarap dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Di situ pulalah membuat pondok untuk ditempatinya.

Karena La Tenritatta dianggap masih anak-anak, maka ia selalu diikutkan oleh Karaenge ri Gowa apabila bepergian.
La Tenritatta biasanya ditugasi untuk membawa tombak atau sebagai pakkalawing epu (pembawa perlengkapan) yang diperlukan oleh Karaenge ri Gowa dalam perjalanan itu. Sejak itu La Tenritatta dikenal banyak kalangan, termasuk para anggota Bate Salapange ri Gowa.

La Tenritatta memiliki sifat-sifat yang baik, jujur dan cerdas. Oleh karena itu ia dipelihara oleh Karaeng Patingalloang untuk diajari tentang adat-istiadat Mangkasar (Gowa).

Setelah Karaeng Patingalloang Tu Mabbicara Butta ri Gowa meninggal dunia, maka yang menggantikannya adalah saudaranya yang bernama Karaeng Karunrung.

Potongan Rambut La Tenritatta Arung Palakka yang tersimpan di Museum Arajangnge Watampone

Karaeng Karunrung inilah yang terkenal sangat kejam terhadap orang-orang Bone yang menjadi tawanan Gowa. Ini pulalah sebagai Tu Mabbicara Butta ri Gowa yang minta kepada Tobala Jennang Bone untuk dikirimi sebanyak 10.000 orang Bone yang akan dipekerjakan sebagai penggali parit dan pembuat benteng.
Jumlah tersebut tidak bisa dikurangi, diganti atau dibayar.

Walaupun seseorang yang telah ditunjuk itu ada yang bisa menggantikannya atau mampu untuk membayarnya, namun oleh Karaeng Karunrung tidak membenarkannya.

Ketika orang Bone yang jumlahnya 10.000 itu tiba, langsung dipekerjakan sebagai penggali parit dan pembuat benteng. Tiap-tiap 10 orang diawasi oleh seorang mandor dari orang Gowa sendiri.

Mereka dipekerjakan mulai pagi sampai malam dan hanya diberi kesempatan istirahat pada waktu makan. Makanannya tidak ditanggung oleh Karaeng Karunrung, tetapi harus dibawa sendiri dari Bone.

Adapun La Tenrtatta sudah kawin dengan seorang anak bangsawan Gowa yang bernama I Mangkawani Daeng Talele. Pada saat orang Bone yang jumlahnya 10.000 itu bekerja, La Tenritatta menggabungkan diri dan bekerja juga sebagai penggali parit dan pembuat benteng.

Saat itu La Tenritatta juga merasakan bagaimana penderitaan orang Bone disiksa oleh mandor-mandor orang Gowa yang mengawasi pekerjaan itu.

Suatu ketika, Karaenge ri Gowa akan memperingati ulang tahunnya, maka diadakanlah perburuan rusa di Tallo. Seluruh rakyat diharuskan mengikuti perburuan tersebut. La Tenritatta yang biasa membawakan tombak Karaenge kebetulan tidak ikut. Oleh karena itu orang tuanya La Pottobune yang ditunjuk oleh Karaenge ri Gowa untuk membawakan tombaknya.

Sesampainya Karaenge ri Gowa pada lokasi perburuan rusa di Tallo, berpencarlah orang banyak baik sebagai pemburu atau sebagai penunggang kuda untuk menelusuri hutan-hutan mencari rusa.

Kebetulan ada dua orang pekerja parit yang melarikan diri dan bersembunyi di hutan, karena disangkanya dirinya yang dikepung. Kedua orang tersebut ditangkap oleh pemburu dan dihadapkan kepada Karaeng Karunrung. Keduanya disiksa, dipukuli hingga meninggal dunia.

La Pottobune orang tua La Tenritatta sangat prihatin menyaksikan penyiksaan itu, sehingga tidak dapat menahan perasaannya. Ia tidak dapat menahan emosinya dan pada saat itu juga ia mengamuk dengan menggunakan tombak milik Karaeng Karunrung yang dibawanya.

Setelah membunuh banyak orang Gowa, barulah ia ditangkap dan disiksa seperti layaknya pekerja parit yang melarikan diri tadi.
Karena La Pottobune’ memiliki ilmu kebal terhadap senjata tajam, maka nantilah dia meninggal dunia setelah dimasukkan dalam lesung dan ditumbuk dengan alu.

Sejak kejadian itu, La Tenritatta tidak bisa lagi tidur. Setiap saat ia selalu berdoa kepada Dewata SeuwaE agar diberi jalan yang lapang untuk kembali menegakkan kebesaran Tanah Bone. Ia sangat sedih mengenang nasib orang tuanya yang dibunuh dengan keji oleh orang Gowa.

Suatu hati pagi-pagi sekali La Tenritatta tiba di tempat penggalian. Lalu dipanggilnya keluarga dekatnya, seperti Arung Belo, Arung Pattojo, Arung Ampana, dan lain-lain. Semua keluarga dekatnya itu memang tidak pernah berpisah dengannya.

Dalam kesempatan itu, dibuatnya suatu kesepakatan untuk membebaskan seluruh orang Bone dari penyiksaan orang Gowa di tempat penggalian tersebut. Kesepakatan ini sangat dirahasiakannya, tidak seorangpun yang bisa mengetahuinya termasuk kepada isteri mereka.

Pada waktu diadakan perburuan rusa terakhir di Tallo, rencana pembebasan yang akan dilakukan oleh La Tenritatta bersama Arung Belo, Arung Pattojo dan Arung Ampana juga sudah cukup matang.

Semua keluarganya sudah dipersiapkan dan barang-barang bawaan sudah dikemas dengan rapi. Saat itulah La Tenritatta Arung Palakka memerintahkan kepada seluruh pekerja parit dan pembuat benteng untuk melarikan diri meninggalkan tempat itu. Sebelumnya seluruh mandor dari orang Gowa dibunuh dan dirampas senjata dan perlengkapan lainnya.

Tiba di Bone La Tenritatta langsung menemui Jennang Tobala dan Datu Soppeng yang bernama La Tenribali yang tidak lain adalah pamannya sendiri. Datu Soppeng La Tenribali dengan Jennang Tobala memang telah membuat suatu kesepakatan untuk membangkitkan kembali semangat orang Bone melawan Gowa.

Kesepakatan antara Jennang Tobala dengan Datu Soppeng inilah yang kemudian dikenal dengan nama ulu ada Pincara Lopie ri Attapang.

Kepada pamannya Datu Soppeng, La Tenritatta minta bekal untuk kebutuhan dalam perjalanan, karena dia akan pergi jauh mencari teman yang bisa diajak kerja sama melawan Gowa. Sebab menurut perkiraannya perjalanan ini akan memakan waktu yang lama dan akan menelan banyak pengorbanan.

Tidak berapa lama, datanglah orang Gowa dengan jumlah yang sangat besar lengkap dengan persenjataan perangnya mencari La Tenritatta. Terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat antara La Tenrtatta bersama pasukannya melawan orang Gowa di Lamuru.

Tetapi karena kekuatan Gowa ternyata lebih kuat, akhirnya La Tenritatta bersama pasukannya mundur ke arah utara.

Sementara orang Gowa yang merasa kehilangan jejak, melanjutkan perjalanan ke Bone. Di Bone orang Gowa betempur lagi melawan Tobala dengan pasukannya yang berakhir dengan tewasnya Jennang Tobala Petta Pakkanynyarangnge.

Setelah Tobala Petta Pakkanynyarangnge tewas dalam pertempuran, orang Gowa terus ke Soppeng untuk menangkap Datu Soppeng La Tenribali dan selanjutnya dibawa ke Gowa. Sedangkan pencarian terhadap La Tenritatta tetap dilanjutkan.

Tewasnya Tobala Arung Tanete Petta Pakkanynyarangnge, maka Karaenge ri Gowa yang bernama I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin merasa perlu untuk mengangkat Jennang yang baru di Bone.

Ditunjuklah La Sekati Arung Amali sebagai pengganti Tobala, sementara Datu Soppeng La Tenribali ditawan di Gowa dan ditempatkan di Sanrangeng bersama La Maddaremmeng.

Karena merasa selalu diburu oleh orang Gowa, La Tenritatta bersama seluruh pengikutnya semakin terjepit dan sulit untuk tinggal di Tanah Ugi. Oleh karena itu bersama Arung Belo, Arung Pattojo, dan Arung Ampana sepakat untuk menyeberang ke Butung Tanah Uliyo.

Hal ini dilakukan dengan pertimbangan siapa tahu nanti di Butung Tanah Uliyo bisa mendapatkan teman yang dapat diajak bekerja sama melawan Gowa.

Dipersiapkanlah sejumlah perahu dan pada saat yang tepat La Tenritatta bersama seluruh pengikutnya bertolak dari pantai Cempalagi menuju ke Butung Tanah Uliyo.

Namun beberapa saat saja setelah meninggalkan Cempalagi, orang Gowapun datang mencari jejaknya. Tetapi La Tenritatta bersama pengikutnya telah berada di tengah laut menuju Butung Tanah Uliyo.

Dengan demikian orang Gowa segera kembali untuk menyampaikan kepada Karaenge ri Gowa, bahwa La Tenritatta bersama seluruh pengikutnya tidak berada lagi di daratan Tanah Ugi. Besar kemungkinannya ia menyeberang ke Butung Tanah Uliyo untuk minta perlindungan kepada Raja Butung.

Mendengar laporan itu, Karaenge ri Gowa memerintahkan Arung Gattareng untuk menyusulnya. Arung Gattareng berhasil bertemu La Tenritatta di tengah laut. Setelah berbicara sejenak, Arung Gattareng lalu membelokkan perahunya dan kembali ke Gowa . Sementara La Tenritatta bersama pengikutnya tetap melanjutkan perjalanan menuju Butung.

Tiba di Butung Tanah Uliyo, La Tenritatta diterima baik oleh raja Butung dan diberinya tempat untuk istirahat dengan pengikutnya.

Kepada La Tenritatta, raja Butung berkata:
”Tinggallah sementara di sini, nanti kalau kapal Kompeni Belanda yang akan menuju ke Ambon dan Ternate singgah di sini, barulah saya pertemukan denganmu. Sebab sesungguhnya saya sangat menghawatirkan kalau nantinya orang Gowa yang disuruh oleh Karaengr ri Gowa bisa menemukan tempatmu di sini. Karaenge ri Gowa memang sangat marah kepada saya, karena kapal-kapal Kompeni Belanda selalu singgah di sini apabila akan berangkat menuju ke Ambon dan Ternate”.

Sebelum La Tenritatta bertolak ke Butung, terlebih dahulu ia singgah bernazar di Gunung Cempalagi. Dalam nazarnya tersebut, La Tenri Tatta To Unru bertekad tidak akan memotong rambutnya sebelum dirinya bersama seluruh pengikutnya kembali dengan selamat di Tanah Ugi. Sejak itu rambutnya dibiarkan menjadi panjang dan digelarlah Malampe-e Gemme’na.

Karaenge ri Gowa sudah mengetahui bahwa La Tenritatta bersama pengikutnya telah berada di Butung Tanah Uliyo. Oleh karena itu disiapkanlah pasukan dengan jumlah besar yang diperlengkapi dengan senjata perang untuk menyerang Butung Tanah Uliyo.

Apalagi maksud untuk menyerang Butung memang telah lama direncanakan, karena Butung selalu menjadi tempat persinggahan kapal-kapal Kompeni Belanda kalau akan berangkat ke Ambon dan Ternate.

Tidak lama kemudian utusan Karaenge ri Gowa datang ke Butung untuk mencari La Tenritatta bersama pengikutnya. Tetapi sebelum utusan itu naik kedarat, raja Butung menyampaikan kepada La Tenritatta bersama pengikutnya untuk bersembunyi disebuah sumur besar dan tidak berair tidak jauh dari istana raja Butung.

Kepada La Tenritatta, Raja Butung berkata: “Saya akan bersumpah nanti kalau utusan Karaenge ri Gowa naik untuk menanyakan keberadaanmu, bahwa kamu dengan seluruh pengikutmu tidak berada di atas Tanah Uliyo”.

Karena pernyataan raja Butung bahwa La Tenritatta bersama seluruh pengikutnya tidak berada di atas Tanah Uliyo dan utusan Karaenge ri Gowa memang tidak melihat adanya tanda-tanda bahwa orang yang dicarinya ada di tempat itu, maka utusan itupun pamit dan kembali ke Gowa.

Karaenge ri Gowa rupanya tidak kehabisan akal, maka disusunlah strategi baru dengan memperbanyak pasukan yang diperlengkapi dengan persenjatan untuk menyerang Butung sampai ke Ternate.

Dipanggilah Datu Luwu La Setiaraja bersama Karaeng Bonto Marannu untuk memimpin pasukan ke Butung Tanah Uliyo. Menurut rencananya setelah Butung kalah, serangan akan dilanjutkan ke Ternate untuk menangkap raja Ternate.

Berita tentang rencana Karaenge ri Gowa yang akan menyerang Butung dan Ternate telah sampai kepada Kompeni Belanda di Jakarta. Oleh karena itu Kompeni Belanda mempersiapkan sejumlah kapal dan perlengkapan perang untuk melawan Gowa.

Kepada La Tenritatta yang sementara berada di Butung dipesankan untuk memperlengkapi pasukannya dengan persenjataan. Begitu pula kepada raja Butung agar bersiap-siap menunggu kedatangan Kompeni Belanda.

Atas perintah Karaenge ri Gowa, Datu Luwu bersama Karaeng Bonto Marannu berlayar ke Butung membawa pasukan untuk menyerang Butung dan selanjutnya Ternate.

Sementara itu, berita tentang keberangkatan pasukan Kompeni Belanda bersama La Tenritatta ke Butung telah sampai pula pada Karaenge ri Gowa. Oleh karena itu, Karaenge ri Gowa segera mengembalikan La Maddaremmeng ke Bone dan Datu Soppeng yang bernama La Tenribali dikembalikan ke Soppeng.

Didudukkanlah Bone sebagai Palili (daerah bawahan) dari Gowa yang berarti Bone telah lepas dari penjajahan Gowa.

Adapun maksud Karaenge ri Gowa mengembalikan La Maddaremmeng untuk menduduki kembali Mangkau’ Bone, agar orang Bone tidak lagi melihat Gowa sebagai lawan yang sedang bermusuhan dengan Kompeni Belanda.

Sementara La Tenribali Datu Soppeng yang tadinya ditempatkan di Sanrangeng bersama La Maddaremmeng sebagai tawanan, dikembalikan pula ke Soppeng. Selanjutnya Soppeng didudukkan pula sebagai Palili dari Gowa sebagaimana halnya Bone. Sejak itu Soppeng bukan lagi sebagai jajahan Gowa melainkan sebagai daerah bawahan saja.

Kapal-kapal Kompeni Belanda yang memuat pasukan tempur yang dipimpin oleh Cornelis Speelman tiba di Butung. Di atas kapal itu ada La Tenritatta bersama dengan seluruh pengikutnya.

La Tenrtatta memperoleh informasi bahwa yang memimpin pasukan Gowa adalah Datu Luwu La Setiaraja dan Karaeng Bonto Marannu.
Oleh karena itu La Tenritatta berkata kepada Cornelis Speelman agar jangan melepaskan tembakan.

La Tenritatta memberi penjelasan kepada Cornelis Speelman bahwa Bone dengan Luwu sama-sama jajahan Gowa dan tidak pernah bermusuhan. Begitu pula Karaeng Bonto Marannu tidak pernah terjadi perselisihan paham dengannya. Keduanya hanya disuruh oleh Karaenge ri Gowa unuk menyerang orang Bone.

Lalu kemudian La Tenritatta mengajak kepada Cornelis Speelman untuk mengirim utusan ke darat guna menemui Datu Luwu dan Karaeng Bonto Marannu. Siapa tahu ada jalan yang bisa ditempuh dan tidak saling bermusuhan sesama saudara.

Ajakan itu disetujui oleh Speelman dan diutuslah beberapa orang naik menemui Datu Luwu dan Karaeng Bonto Marannu.

Sesampainya di tempat Datu Luwu dan Karaeng Bonto Marannu, utusan itu menyampaikan bahwa La Tenritatta Arung Palakka bersama Cornelis Speelman mengharapkan Datu Luwu bersama Karaeng Bonto Marannu turun ke kapal dengan mengibarkan bendera putih untuk berbicara secara baik-baik.

Mendengar apa yang disampaikan oleh utusan itu, Datu Luwu La Setiaraja dan Karaeng Bonto Marannu sependapat bahwa lebih banyak buruknya dari pada baiknya jika kita saling bermusuhan sesama saudara.

Kalau kita berdamai, hanyalah senjata kita yang diambil. Tetapi kalau kita bertahan untuk berperang, maka senjata beserta seluruh pasukan kita ikut diambil.

Setelah saling bertukar pendapat antara Datu Luwu dengan Karaeng Bonto Marannu yang mendapat persetujuan dari seluruh pasukannya, maka turunlah ke kapal Kompeni Belanda menemui La Tenritatta Arung Palakka dan Cornelis Speelman sebagai pimpinan pasukan Kompeni Belanda.

Dari atas kapal nampak Arung Belo, Arung Pattojo, Arung Ampana, serta Arung Bila menjemput kedatangan Datu Luwu dan Karaeng Bonto Marannu beserta beberapa pengikutnya.

Apa yang terjadi, Datu Luwu La Setiaraja dan Karaeng Bonto Marannu menyatakan bergabung dengan La Tenritatta Arung Palakka, makanya keduanya minta perlindungan Kompeni Belanda.

Untuk mengamankan keduanya dari Karaenge ri Gowa, ia dibawa ke sebuah pulau oleh Cornelis Speelman. Nanti setelah perang selesai, barulah kembali ke negerinya. Sedangkan pasukannya dinaikkan ke kapal untuk dibawa pulang ke kampungnya setelah dilucuti seluruh senjatanya.

Sementara itu, berita tentang dikembalikannya La Maddaremmeng ke Bone dan La Tenribali ke Soppeng oleh Karaenge ri Gowa di mana Bone dan Soppeng didudukkan sebagai Palili (daerah bawahan), telah sampai kepada La Tenri Tatta Arung Palakka.

Lalu Arung Palakka mengirim utusan ke Bone dan Soppeng agar Arumpone La Maddaremmeng dan Datu Soppeng tetap mengangkat senjata untuk melawan Karaenge ri Gowa Sultan Hasanuddin.

Kemudian La Tenritatta Arung Palakka bersama Cornelis Speelman dengan persenjatan yang lengkap meninggalkan Butung menyusuri daerah-daerah pesisir yang termasuk kekuasan Karaenge ri Gowa.

Banyak daerah pesisir yang tadinya berpihak kepada Gowa, berbalik dan menyatakan berpihak kepada La Tenritatta Arung Palakka. Sementara melalui darat, Arung Bila, Arung pattojo, Arung Belo, dan Arung Ampana terus membangkitkan semangat orang Bone dan orang Soppeng untuk berperang melawan Gowa.

Beberapa daerah di Tanah Pabbiring Barat berbalik pula melawan Karaenge ri Gowa.
Dengan demikian keadaan Karaengr ri Gowa Sultan Hasanuddin sudah terkepung. Kompeni Belanda di bawah komando Cornelis Speelman menghantam dari laut, sementara La Tenritatta Arung Palakka dengan seluruh pasukannya menghantam dari darat. Semua arung yang tadinya membantu Gowa kembali berbalik menjadi lawan, kecuali Wajo tetap membantu Gowa.

Karena merasa sudah sangat terdesak dan pertempuran telah banyak memakan korban dipihak Sultan Hasanuddin, maka pada hari Jumat tanggal 21 November 1667 M. Karaenge ri Gowa I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin bersedia mengakhiri perang.

Kesediaannya itu ditandai dengan suatu perjanjian yang bernama Perjanjian Bungaya. Perjanjian itu ditanda tangani oleh Sultan Hasanuddin dengan Cornelis Speelman Admiral Kompeni Belanda. Sementara perjanjian Sultan Hasanuddin dengan La Tenritatta Arung Palakka adalah melepaskan Bone dan Soppeng sebagai jajahan Gowa.

Setelah perang berakhir, barulah La Tenritatta bersama pengikutnya masuk ke Bone. Sesampainya di Bone, dijemput oleh raja La Maddaremmeng. Keduanya saling mengucapkan selamat atas kemenangannya melawan Gowa.

Berkatalah La Maddaremmeng kepada kemenakannya La Tenritatta:

”Saya sekarang sudah tua dan semakin lemah, walaupun saya telah dikembalikan oleh Karaenge ri Gowa untuk menduduki Mangkau’ di Bone, namun hanyalah sebagai simbol. Sebab Bone hanya ditempatkan sebagai daerah palili yang berarti harus tetap mengabdi kepada Gowa.

Oleh karena itu saya berpendapat sebaiknya engkaulah yang memangku Mangkau’ di Bone. Sebab memang warisanmu dari La Tenriruwa Matinroe ri Bantaeng. Hanya karena orang Bone pada mulanya tidak mau menerima Islam, sehingga ia meninggalkan Bone”.

La Tenritatta menjawab;

“Saya menjunjung tinggi keinginan Puatta, tetapi saya tetap berpendapat bahwa nantilah api itu padam baru dicarikan penggantinya, artinya nantilah Arumpone benar-benar sudah tidak ada baru diganti”.

Oleh karena itu La Maddaremmeng tetap memangku Mangkau’ di Bone sampai ia meninggal dunia. Akan tetapi hanyalah simbol belaka, sebab yang melaksanakan pemerintahan adalah kemenakannya yang bernama La Tenritatta.

Bagi Kompeni Belanda hubungannya dengan arung-arung di Tanah Ugi harus melalui La Tenritatta Arung Palakka. Cornelis Speelman meminta kepada Gubernur Jenderal di Betawi agar Arung Palakka diangkat menjadi Arumpone.

Selain itu ia juga diangkat menjadi pimpinan bagi arung-arung di Tanah Ugi, karena itu La Tenritatta digelarlah Petta To Risompae.

Dalam tahun 1672 Masehi Arumpone La Maddaremmeng meninggal dunia, barulah Arung Palakka resmi menjadi Arumpone.

Diseranglah Wajo pada bulan Agustus 1670, karena Arung Matowa Wajo yang bernama La Tenrilai belum mau mengalah pada saat diadakannya Perjanjian Bungaya. La Tenrilai menyatakan kepada Karaenge ri Gowa Sultan Hasanuddin bahwa perang antara Karaenge dengan Kompeni Belanda telah berakhir, tetapi perang Wajo dengan La Tenritatta Arung Palakka belum selesai.

Oleh karena itu Sultan Hasanuddin menganjurkan kepada La Tenrilai untuk kembali ke Wajo bersama seribu pengikutnya.

Sesampainya di Wajo, disusul kemudian oleh Arung Palakka bersama seluruh pengikutnya dan berperanglah selama empat bulan. Korban berguguran baik dari Bone, Soppeng maupun Wajo. Batal sudah Perjanjian Tellumpoccoe, akhirnya Wajo kalah. Tosora terbakar, bobol sudah pertahanan Wajo.

Dalam peperangan yang dahsyat itu, Arung Matowa Wajo La Tenrilai To Sengngeng gugur terbakar, maka digelarlah Matinroe ri Salokona.

Dengan demikian datanglah utusan Pillae Patolae minta untuk diadakan gencatan senjata atau menghentikan perang kepada Bone dan Soppeng.

Permintaan itu dijawab oleh Arung Palakka bahwa hanya diberi kesempatan selama tiga hari untuk mengurus jenazah Arung Matowae ri Wajo.

Setelah itu, sepakatlah orang Wajo untuk mengangkat La Palili To Malu menggantikan La Tenrilai To Sengngeng sebagai Arung Matowa Wajo yang baru.

Arung Matowa Wajo La Palili inilah yang menyatakan diri kalah dengan Bone dan Soppeng. Pada tanggal 23 Sepetember 1670 M. La Palili To Malu naik ke Ujung Pandang untuk menanda tangani perjanjian dalam Benteng Rotterdam.

Arung Palakka Malampee Gemme’na, Arunge ri Bantaeng, Datu Soppeng, Arung Tanete serta beberapa petinggi lainnya yang mengantar Arung Matowa Wajo La Palili To Malu masuk ke Benteng Rotterdam.

Arung Matowa Wajo bersama dengan Pillae yang bernama La Pakkitabaja, Patolae yang bernama La Pangabo, Cakkuridie yang bernama La Pedapi, inilh yang dinamakan Tellue Bate Lompo ri Wajo.

Setelah selesai berperang dengan Wajo tahun 1671 M. dikawinkanlah adik perempuannya yang bernama We Mappolo Bombange yang juga diangkat menjadi Maddanreng di Palakka.

We Mappolo Bombange dikawinkan dengan La Pakokoe Toangkone Arung Timurung yang juga Arung Ugi anak dari La Maddaremmeng Matinroe ri Bukaka dengan isterinya yang bernama We Hadijah I Dasaleng Arung Ugi.

Lima bulan setelah perkawinan adik perempuannya We Mappolo Bombange Maddanreng Palakka, dalam tahun 1671 Arung Palakka Malampee Gemme’na mengadakan keramaian untuk melepaskan nazarnya ketika hendak meninggalkan Tanah Ugi.

Nazar Arung Palakka itu adalah:

“Kalau nantinya saya selamat kembali ke Tanah Ugi menegakkan kembali kebesaran Bone dan Soppeng, saya akan membuat sokko (nasi ketang) tujuh macam setinggi gunung Cempalagi”

“Akan kusembelih seratus kerbau camara (belang) bertanduk emas, sebagai tebusan anak bangsawan Gowa-maddara takku- (berdarah biru) dan sebagai ganti kepala Karaeng Mangkasara (bangsawan tinggi) di Gowa.

Pada saat itulah La Tenritatta Arung Palakka menyampaikan kepada pengikutnya bahwa ia memanjangkan rambutnya selama dalam perantauan dan nanti akan dipotong setelah kembali menegakkan kebesaran Bone.

Maka setelah melepaskan nazarnya di Cempalagi, iapun memotong rambutnya, kemudian mangosong (bernyanyi), sebagai berikut:

”Muaseggi belo-belo, weluwa sampo genoae mattipi nattowa wewe. Muaseggi cule-cule weluwa sampo palippaling ri accinaongi awana”.

Ketika acara potong rambutnya yang diikuti oleh seluruh pengikutnya selesai, La Tenritatta Arung Palakka melepaskan nazarnya dengan memotong 400 ekor kerbau di lereng gunung Cempalagi.

Seratus ekor kerbau camara (Bulu hitam dengan belang dibagian ekor dan kepala) bertanduk emas (ditaruh emas pada tanduknya). Tiga ratus ekor sebagai pengganti kepala bangsawan Gowa dan bangsawan Mangkasar.

Adapun potongan rambut La Tenritatta Arung Pallakka itu masih tersimpan sampai sekarang di Museum Arajangnge Kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone. Potongan rambut La Tenritatta Arung Palakka tersebut telah berusia sekitar 348 tahun sejak dipotong tahun 1671.

Setelah itu, diseranglah seluruh negeri yang belum menyatakan diri takluk kepada Bone. Negeri-negeri itu antara lain, Mandar, Palilina Tanah Luwu yang masih mengikut kepada Gowa.

Selanjutnya serangannya ditujukan kepada Pasuruan Jawa Timur, Galingkang dan Sangalla. Semua negeri tersebut dikalahkan dan terakhir adalah Letta.

Pada tanggal 3 November 1672 We Mappolo Bombang Maddanreng Palakka melahirkan anak laki-laki yang bernama La Patau Matanna Tikka Walinonoe La Tenribali Malae Sanrang.

Anak ini lahir dari perkawinannya denga La Pakokoe Toangkone Arung Timurung.
Atas kelahiran La Patau Matanna Tikka membuat La Tenritatta Arung Palakka Petta To Risompae sangat gembira.

Karena menurut pikirannya, sudah ada putra mahkota yang bisa melanjutkan akkarungeng di Tanah Bone. La Tenritatta Arung Palakka yang tidak memiliki anak, menganggap bahwa anak dari adik perempuannya itulah yang menjadi anak pattola (putra mahkota).

Setelah Arumpone La Maddaremmeng meninggal dunia dalam tahun 1672. sepakatlah anggota Ade Pitu yang didukung oleh seluruh orang Bone serta Pembesar Kompeni Belanda untuk mengangkat La Tenritatta Arung Palakka menjadi Arumpone menggantikan pamannya yaitu La Maddaremmeng.

Agar dapat memperoleh keturunan La Tenritatta Arung Palakka kawin dengan We Yadda Datu Watu anak dari La Tenribali Datu Soppeng Matinror ri Datunna dengan isterinya yang bernama We Bubungeng I Dasajo. Namun dari perkawinannya itu, tetap tidak memperoleh keturunan (tomanang).

Adapun saudara perempuan La Tenritatta yang bernama We Kacimpureng yang kawin dengan To Dani juga tidak memiliki keturunan. Saudara perempuaannya yang tua yang bernama We Tenriabang, dialah yang diberikan Mario Riwawo. Dia pula yang diikutkan sewaktu La Tenritatta pergi ke Jakarta di masa berperang dengan Gowa.

We Tenriabang kawin dengan La Mappajanci atau biasa juga dinamakan La Sulo Daeng Matasa. Dari perkawinannya itu lahir seorang anak perempuan yang bernama We Pattekke Tana Daeng Risanga.

Melihat bahwa tidak ada lagi musuh yang berarti, maka La Tenritatta To Unru Arung Palakka mengumpulkan seluruh Bocco (Akkarungeng Tetangga) di Baruga Tellue Coppo’na di Cenrana.

Diadakanlah suatu pesta untuk disaksikan oleh arung-arung yang pernah ditaklukkannya, termasuk pembesar-pembesar Kompeni Belanda. Dalam kesempatan itu, Arumpone La Tenritatta Arung Palakka menyampaikan kepada semua yang hadir bahwa dirinya telah melepaskan nazar dan telah meletakkan “samaja” (sesaji) dan juga telah memotong rambutnya.

Seluruh yang hadir pada pesta tersebut mendengarkan dengan baik tentang apa yang disampaikan oleh La Tenritatta Petta To Risompae:

“Dengarkanlah wahai seluruh orang Bone dan juga seluruh daerah passeyajingeng Tanah Bone, termasuk passeyajingeng keturunan Mappajunge Luwu”

“Besok atau lusa datang panggilan Allah kepadaku, hanyalah kemanakan saya yang dua bisa mewarisi milikku. Yang saya tidak berikan adalah harta yang masih dimiliki oleh isteriku I Mangkawani Daeng Talele. Sebab saya dengan isteriku I Mangkawani Daeng Talele tidak memiliki keturunan”

“Adapun kemanakanku yang bernama La Patau Matanna Tikka, anak dari Maddanreng Palakka saya berikan akkarungeng ri Bone. Sedangkan kemanakanku yang satu anak Datu Mario Riwawo, saya wariskan harta bendaku, kecuali yang masih ada pada isteriku I Mangkawani Daeng Talele”.

La Patau Matanna Tikka berkata:

“Saya telah mendengarkan pesan pamanku Petta To Risompae bahwa saya diharapkan untuk menggantikannya kelak sebagai Mangkau’ di Bone. Namun saya sampaikan kepada orang banyak bahwa sebelum saya menggantikan Puatta selaku Arumpone, apakah merupakan kesepakatan orang banyak dan bersedia berjanji denganku?”

Seluruh anggota Hadat dan orang banyak berkata:

“Katakanlah untuk didengarkan oleh orang banyak”

Berkata lagi La Patau Matanna Tikka:

“Saya akan menerima kesepakatan orang banyak dari apa yang dikatakan oleh Puatta To Risompae, apabila orang banyak mengakui dan mengetahui bahwa:
1. Tidak akan ada lagi Mangkau’ di Bone kalau bukan keturunanku.
2. Ketahui pula bahwa keturunanku adalah anak cucu Mappajunge tidak akan dipilih dan didudukkan oleh keturunan Lilie.

“Begitulah yang saya sampaikan kepada orang banyak”

Seluruh orang banyak berkata:

”Angikko Puang kiraukkaju Riyao miri riyakeng mutappalireng, muwawa ri peri nyameng”

Artinya : Baginda angin dan kami semua daun kayu, di mana Baginda berembus, di sanalah kami terbawa menempuh kesulitan dan kesenangan.

La Tenritatta memangku Mangkau’ di Bone menggantikan Lamaddaremmeng Matinroe ri Bukaka. Sesudah perjanjian Bungaya 18 November 1667 dia menegakkan kembali kebesaran Bone, melepaskan dari jajahan Gowa. Begitu pula Soppeng, Luwu dan Wajo, semuanya dilepaskan dari jajahan Gowa.

Datu Luwu Matinroe ri Tompo’tikka yang menguasai Tanah Toraja sampai di pegunungan Latimojong yang ikut membantu Bone, diangkat sebagai daerah passeyajingeng (daerah sahabat).

La Tenritatta Arung Palakka lalu membuat payung emas dan payung perak di samping Bendera Samparajae. Oleh Kompeni Belanda diberinya selempang emas dan kalung emas sebagai tanda kenang-kenangan Kompeni Belanda. Selempang emas itu masih tersimpan dengan baik di Museum Arajangnge Watampone sekarang.

Selaku Mangkau’ dari seluruh raja di Celebes Selatan, La Tenritatta Arung Palakka Petta To Risompae belum merasa puas jika TELLU CAPPA’ GALA yaitu Kerajaan Besar Bone, Gowa, dan Luwu tidak bersatu.

Oleh karena itu, ia mengawali dengan mengawinkan bakal penggantinya sebagai Arumpone kelak, yaitu La Patau Matanna Tikka WalinonoEle dengan anak Pajunge ri Luwu La Setiaraja Matinroe ri Tompo’tikka dari isterinya yang bernama We Diyo Opu Daeng Massiseng Petta I Takalara.

Anak Datu Luwu tersebut bernama We Ummung Datu Larompong. We Ummung Datu Larompong kemudian diangkat menjadi Maddanreng Tellumpoccoe (Bone, Soppeng dan Wajo) dan seluruh daerah sahabat Bone dalam tahun 1686.

Untuk Wajo diangkat dua orang berpakaian kebesaran, begitu pula Soppeng, Ajatappareng, Massenrempulu, Mandar Pitue Babanna Minanga tiga orang, Kaili, Butung, Tolitoli masing-masing tiga orang. Sedangkan Ajangale’ dan Alau Ale’ masing-masing dua orang.

Adapun bunyi perjanjian La Tenritatta Petta To Risompae dengan Datu Luwu La Setiaraja Matinroe ri Tompo’tikka, adalah sebagai berikut:

”Apabila La Patau bersama We Ummung Datu Larompong melahirkan anak, maka anaknya itulah yang akan menjadi Datu di Luwu”.

Selanjutnya La Patau Matanna Tikka dikawinkan lagi di Tanah Mangkasara dengan perempuan yang bernama We Mariama (Siti Maryam) Karaeng Patukangang. Anak dari La Mappadulung Daeng Mattimung Karaenge ri Gowa yang juga dinamakan Sultan Abdul Jalil dengan isterinya Karaeng Lakiung. Dalam acara perkawinannya itu, datang semua daerah sahabat Bone menyaksikannya.

Adapun bunyi perjanjian La Tenritatta Arung Palakka Petta To Risompae dengan Karaenge ri Gowa, pada saat dikawinkannya La Patau Matanna Tikka dengan We Mariama adalah sebagai berikut :

”Kalau nantinya La Patau dengan We Mariama melahirkan anak laki-laki, maka anaknya itulah yang diangkat menjadi Karaeng di Gowa”.

Oleh karena itu maka hanyalah anak We Ummung dari Luwu dan anak We Mariama dari Gowa yang bisa diangkat menjadi Mangkau’ di Bone. Sementara yang lain, walaupun berasal dari keturunan bangsawan tinggi, tetapi dia hanya ditempatkan sebagai cera’ biasa (tidak berhak menjadi Mangkau’). Kecuali kalau anak We Ummung dan We Mariama yang menunjuknya.

Aturan yang berlaku di Tellumpoccoe dan Tellue Cappa’ Gala adalah:

“Tenri pakkarung cera’e – tenri attolang rajenge (cera’ tidak bisa menjadi Arung dan rajeng tidak bisa menggantikan Arung). Kecuali semua putra mahkota telah habis dan tidak ada lagi pilihan lain”.

Ketika kemanakan La Tenritatta yang bernama We Pattekke Tana Daeng Tanisanga Petta Majjappae Datu TelluE Salassana- digeso’ (tradisi orang Bugis menggosok gigi dengan batu pada saat anak mulai dewasa).

Bertempat di Pattiro, maka diundanglah seluruh Bocco dan seluruh Lili Passeyajingeng Bone. Pada saat itulah Arung Palakka Petta To Risompae memberikan kepada kemanakannya harta benda yang pernah dipersaksikan kepada orang banyak sesudah memotong rambutnya.

Selanjutnya We Pattekke Tana diberikan oleh ibunya Mario Riwawo beserta isinya, dan ayahnya memberikan Tanete beserta isinya.

Pada acara maggeso’nya We Pattekke Tana, hadir semua Lili Passeyajingeng Bone, seperti Tellumpoccoe, Limae Ajattappareng, Pitue Babanna Minanga, Limae Massenreng Pulu, Tellue Batupapeng, Butung, Toirate, Bukie, Gowa, Cappa’galae dan petinggi-petinggi Kompeni Belanda.

Pada saat itu juga datang utusan Pajunge ri Luwu untuk melamarkan putranya yang bernama La Onro To Palaguna kepada We Pattekke Tana.

Arung Palakka Petta To Risompae mengatakan kepada utusan Datu Luwu sebagai berikut :

”Saya bisa menerima lamaranmu wahai orang Ware, tetapi dengan perjanjian We Tekke (Pattekke Tana) engkau angkat menjadi datu di Luwu. Walaupun dia nantinya tidak memiliki anak dengan suaminya (La Onro To Palaguna), apalagi kalau dia berdua melahirkan anak, maka harus mewarisi secara turun temurun tahta sebagai Datu Luwu”.

Permintaan tersebut diakui oleh orang Ware, berjanjilah Arung Palakka dengan Matinroe ri Tompo’tikka untuk mengangkat We Pattekke Tana sebagai Datu Luwu sampai kepada anak cucunya. Kesepakatan ini disetujui oleh orang Ware yang disaksikan oleh Tellumpoccoe.

Dari perkawinan We Pattekke Tana dengan La Onro To Palaguna lahirlah Batara Tungke Sitti Fatimah. Kemudian Sitti Fatimah kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Rumpang Megga To Sappaile Cenning ri Luwu.

Anak dari We Yasiya Opu Pelai Lemolemo dengan suaminya yang bernama La Ummareng Opu To Mallinrung.

We Fatimah melahirkan tiga orang anak, yaitu We Tenri Leleang, inilah yang menjadi pewaris Datu Luwu. Yang kedua La Tenri Oddang atau La Oddang Riwu Daeng Mattinring, dialah yang menjadi pewaris Arung Tanete. Sedangkan yang ketiga La Tenri Angke Datu Walie, dialah Datu Mario Riwawo.

Merasa usianya semakin renta, La Tenritatta Arung Palakka Petta To Risompae memilih untuk menetap di Tanah Makassar. Tahun 1696 ia meninggal dunia di rumahnya di Bontoala, maka dinamakanlah Matinroe ri Bontoala.

La Tenritatta Arung Palakka yang juga bernama Sultan Saaduddin dikuburkan di Bonto Biraeng berdampingan dengan makam Sultan Hasanuddin Matinroe ri Bontoala.

Konon La Tenritatta Arung Palakka sewaktu memotong rambutnya sangat sulit dan tidak bisa terpotong, pisau yang dipakai menjadi tumpul lantaran memiliki ilmu kebal yang diturunkan oleh ayahnya La Pottobune. Namun setelah beliau berdoa kepada Allah SWT untuk melepas ilmunya itu barulah bisa terpotong rambutnya.

Potongan rambut Arung Palakka tersebut masih bisa kita saksikan bila mengunjungi Museum Arajangnge yang terletak di Jalan Petta Ponggawae Watampone. Rambut penuh misteri tersebut dibersihkan sekali setahun saat merayakan hari jadi Bone.

Apabila Anda ke sana jangan pernah mencoba mengambil barang sehelaipun rambut itu lalu dibawa pergi, karena bisa hati menjadi gelisah dan rambut itu akan kembali ke tempatnya. Bahkan bukan cerita rambut misteri tersebut bertambah panjang setiap tahunnya. Karenanya pada saat dibersihkan juga dipotong sedikit kemudian disimpan kembali di tempatnya.

BAGIKAN