LA TENRIAJI, TOSENRIMA, MATIROE RI SIANG, 1644-1672, menggantikan saudaranya La Maddaremmeng MatinroE ri Bukaka menjadi raja di Bone. Dialah yang melanjutkan perlawanan Bone terhadap Gowa, namun kenyataannya Bone kembali mengalami kekalahan.

Karena pada perang ini, Gowa ternyata dibantu oleh Luwu dan Wajo. Pertahanan terakhir raja Bone La Tenriaji Tosenrima adalah Pasempe, sehingga dikatakan Beta ri Pasempe (Kekalahan di Pasempe).

Sejak kekalahan di Pasempe, Bone menjadi milik Gowa, Luwu dan Wajo. Wilayahnya dibagi tiga, sebagian diambil oleh Gowa, sebagian diambil Luwu dan sebahagian pula diambil oleh Wajo. Ditawanlah semua anak bangsawan Bone, termasuk La Pottobune’ bersama isteri dan anak-anaknya. Selebihnya diberikan kepada Luwu dan Wajo.

Adapun yang menjadi milik Wajo tetap berada di Bone, sebab Wajo masih ingat perjanjian yang telah disepakati oleh Arung terdahulu, yaitu Rebba Sipatokkong Mali Siparappe artinya Yang rebah akan ditopang, yang hanyut akan diraih atau didamparkan. Hal itu sebagaimana isi perjanjian Tellumpoccoe ri Timurung antara Bone, Wajo, dan Soppeng.

Arung Matowa Wajo yang bernama La Makkaraka mengatakan:

“Bagian Wajo yang pergi ke Gowa, adalah milik Gowa, bahagian Luwu yang pergi ke Wajo, tetap milik Luwu. Kemudian bahagian Wajo yang masih tinggal di Bone, tetap milik Bone. Kecuali dia sendiri yang datang ke Wajo, barulah milik Wajo” Permintaan ini akhirnya disetujui oleh Karaenge ri Gowa dan Datu Luwu.

Ketika La Tenriaji Tosenrima ditangkap dan dibawa ke Gowa, diikutkanlah semua anak bangsawan Bone lainnya. Setelah itu Bone dibakar oleh orang Gowa, menjadilah Bone sebagai wilayah jajahan Gowa dan seluruh rakyatnya dijadikan hamba.

Sementara La Tenriaji Tosenrima di tempatkan di Siang, sedangkan anak bangsawan lainnya dibagi-bagi kepada anggota Adat Gowa (Bate Salapange) untuk dijadikan hamba dan sebagainya.

Di antara anak bangsawan yang ditawan oleh Gowa, terdapat juga La Pottobune’ Arung Tanatengnga bersama isteri dan anak-anaknya. Sebab yang tidak tertawan oleh Gowa hanyalah anak kecil, orang tua lanjut umur, kecuali atas permintaan orang tuanya.

La Pottobune’ Arung Tanatengnga, isteri dan anak-anaknya tinggal di rumah Karaenge. Ketika itu La Tenritatta baru berusia 11 tahun. Karena dia seorang anak yang cerdas, sehingga banyak yang menyukainya. Oleh karena itu, semua anggota Bate Salapange pernah ditempatinya.

Karena La Tenriaji Tosenrima diasingkan ke Siang, maka Karaenge ri Gowa menyuruh kepada orang Bone untuk mencari Arung (Mangkau’). Tetapi orang Bone tidak berani lagi menunjuk seorang Mangkau’, sehingga orang Bone menyerahkan sepenuhnya kepada Karaenge ri Gowa. Oleh karena itu, Karaenge ri Gowa menunjuk Karaeng Summana untuk melaksanakan pemerintahan di Bone.

Tetapi karena Karaeng Summana tidak bisa menghadapi orang Bone yang kelihatannya tetap berusaha menghalang-halangi segala langkahnya, maka kembalilah Karaeng Summana ke Gowa. Kepada Karaenge ri Gowa, Karaeng Summana melaporkan ketidakmampuannya menghadapi orang Bone. Oleh karena itu terjadilah kevakuman pemerintahan di Bone saat itu.

La Tenriaji Tosenrima meninggal dunia di Siang, sehingga dinamakan Matinroe ri Siang. Menurut catatan lontara’ dia hanya mempunyai seorang anak yang bernama La Pabbele Matinroe ri Batubatu. Inilah yang melahirkan Daeng Manessa Arung Kading.

Selama beberapa waktu tidak ada pengganti La Tenriaji Tosenrima Matinroe ri Siang sebagai raja Bone. Orang Bone dan segenap anggota adat pun sudah tidak mau menunjuk seorang Mangkau’. Sementara Karaenge ri Gowa juga ragu untuk mengangkat seorang Arung kalau bukan yang diinginkan oleh orang Bone.

Oleh karena itu, Karaenge ri Gowa hanya menunjuk seorang jennang (pelaksana) yang memiliki wewenang sebagai pengganti Mangkau’ di Bone.

BAGIKAN