No menu items!
24.7 C
Watampone
Minggu, 7 Juni 20

Raja Bone ke-16 La Patau Matanna Tikka, 1696-1714

Artikel Terbaru

Lirik Lagu Beu Puppu

BEU PUPPU Beu puppunaro kasi Tengindokku tengambokku Monrona ale-aleku Rilino makkasi-asi Pura makkoni totoku Pura makkoni jello'ku Tenginang tesselessureng Detona paccarinnae Guttuni marellung rellung Billa'ni tassiseng-siseng Ucapu campa aroku Upakkuru'na sungekku Rekko ritu wengngerangngi Indo'ku na ambo'ku Nakutudang ri...

Pappaseng Kearifan Lokal Manusia Bugis

Kearifan lokal dalam bahasa asing dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom) atau kecerdasan setempat (local genius). Istilah local genius dilontarkan pertama kali oleh Quatritch...

Belanja di Warung Tetangga Wujud Kearifan Lokal Bugis

Agar pelaku usaha warung klontong dan kios tetap eksis dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya di tengah pandemi covid-19. Ajakan tersebut berdasarkan Imbauan Gubernur Sulawesi Selatan...

Amarah Manusia Bugis

Kami manusia Bugis adalah keturunan yang diajarkan menjaga harga diri dan martabat orang lain. Kami manusia Bugis adalah keturunan berabad-abad ditempa dengan gelombang dahsyat. Kami manusia...

Tetaplah semangat nikmati hidup tanpa kemurungan

Akhir-akhir ini kita hanya disibukkan dengan kata corona, negatif, dan positif. Kata-kata itu bagaikan ratnamutumanikam yang menghiasi langit. Bahkan kita dan dunia bagai terhipnotis...

Corona mengajak kita hidup sederhana

Dampak wabah virus Corona tidak hanya merugikan sisi kesehatan, bahkan turut mempengaruhi perekonomian negara-negara di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Ekonomi dunia dipastikan melambat, menyusul...

Luas Kabupaten di Sulawesi Selatan Tahun 2015

Luas Sulawesi Selatan pada 2015 mencapai 45.765 km². Adapun kabupaten terluas yaitu kabupaten Luwu Utara yaitu 7.503 km² Sementara wilayah terluas kedua adalah Luwu Timur,...

Jumlah Penduduk Sulawesi Selatan Tahun 2019

Jumlah penduduk Sulawesi Selatan pada 2019 mencapai 8.815.197 (8,8 juta) jiwa. Adapun penduduk terbanyak berada di Kota Makassar, yakni 1,5 juta jiwa. Sementara wilayah dengan...

Ungkapan Bugis Selamat Memasuki Bulan Ramadan

Limang tessiratte, watakkale tessiolong, rupa tessitangnga, ada tessilele, masseddiati sipaccingi, sipakatau, sipakalebbi, sipakainge', padatta rupatau. Ucuku' mariawa, kuaddampeng kitanreang, engka ammo melle' sisakka tessikua lao ri idi', baeccu' kiarega maraja. Passelle watakkale, assisompung teppettu, iya mua werekkada, salama' tapada salama' madduppa Uleng...

Kemenhan dan BNPT Larang Penggunaan Aplikasi Zoom

Kementerian Pertahanan (kemenhan) menerbitkan surat edaran berisi larangan untuk menggunakan aplikasi Zoom dalam video konferensi. Surat bernomor SE/57/IV/2020 itu ditandatangani Sekjen Kemhan, Laksamana Madya...

LA PATAU MATANNA TIKKA, 1696-1714, Nama lengkapnya adalah La Patau Matanna Tikka WalinonoE To Tenribali MalaE Sanrang MatinroE ri Nagauleng. Dialah yang menjadi raja setelah pamannya La Tenritatta Arung Palakka meninggal dunia.

Sebelum Arung Palakka meninggal dunia, kemanakannya yang bernama La Patau Matanna Tikka inilah yang dipesankan untuk menggantikan kedudukannya sebagai raja Bone selanjutnya. Pesan yang dipersaksikan kepada seluruh orang Bone segenap Lili Passiajingeng Tana Bone didukung oleh anggota Adat Tujuh Bone.

La Patau Matanna Tikka adalah anak dari adik perempuan Arung Palakka yang bernama We Mappolo Bombange Da Ompo We Tenri Wale Maddanreng Palakka Matinroe ri Ajappasareng. Anak ini lahir dari perkawinannya dengan La Pakokoe Toangkone Tadampalie Arung Timurung Maccommenge. La Patau Matanna Tikka Malae Sanrang, dia juga sebagai Ranreng Towa Wajo pusaka dari ayahnya. Selain itu ia pula sebagai Arung di Ugi.

La Patau merasa belum kuat kedudukannya sebagai raja di Bone berhubung masih ada putra mahkota yang lain yang berpeluang untuk diangkat menjadi raja. Putra mahkota tersebut,yakni La Pasompereng Petta I Teko, anak dari La Poledatu ri Jeppe’ dari perkawinannya dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Tenri Sengngeng.

La Poledatu ri Jeppe’ bersaudara dengan La Tenribali Datu Soppeng Matinroe ri Datunna. Anak dari La Maddussila Arung Mampu Mammesampatue yang juga sebagai Arung Sijelling. La Maddussila Arung Mampu adalah anak dari We Tenri Patuppu ratu Bone ke-10 Matinroe ri Sidenreng Rappang.

Sedangkan We Tenri Sengngeng adalah anak dari We Tenri Tana Massao Lebbae ri Mampu, adalah saudara La Maddussila Arung Mampu Mammesampatue.

We Tenri Tana kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Tenri Peppang Lebbi Walie Arung Kaju. Dari perkawinannya itu lahirlah We Tenri Sengngeng. La Tenri Peppang Lebbi Walie adalah anak dari We Tenri Patea saudara We Tenri Patuppu ratu Bone ke-10.

We Tenri Patuppu bersaudara dengan We Tenri Patea dan We Tenri Parola adalah anak dari La Pattawe Arung Palenna Arumpone Matinroe ri Bettung Bulukumba dari hasil perkawinannya dengan We Balole I Dapalippu Arung Mampu.

Sementara itu We Balole I Dapalippu Arung Mampu adalah anak dari La Uliyo Bote’e raja Bone ke-6 Matinroe ri Itterung dengan isterinya yang bernama We Tenri Gau Arung Mampu. Raja Bone La Uliyo Bote’e inilah yang merupakan nenek dari La Pasompereng Arung Teko dan juga merupakan nenek dari La Patau Matanna Tikka.

Hanya saja ketika Arung Palakka menjadi raja Bone sampai meninggal dunia, La Pasompereng kebetulan tidak berada di Tana Ugi. Dia ke Timor Kupang karena disuruh oleh Arung Palakka sendiri membantu Kompeni Belanda dalam memerangi orang Timor. Setelah Arung Palakka meninggal dunia, barulah La Pasompereng kembali ke Bone dan bermaksud merebut kedudukan La Patau Matanna Tikka sebagai raja Bone (mangkau).

Awalnya La Patau tidak mengetahui kalau La Pasompereng dianggap cacat oleh Kompeni Belanda. Nanti setelah adanya surat dari Kompeni Belanda yang menjelaskan tentang perbuatan La Pasompereng, barulah La Patau merasa bahwa kedudukannya sebagai raja di Bone telah aman.

Karena jelas bahwa La Pasompereng tidak mungkin didukung oleh Kompeni Belanda untuk menduduki Mangkau (raja) di Bone dengan adanya kesalahannya itu. Apalagi La Tenribali Datu Soppeng Matinroe ri Datunna yang bisa mendukungnya juga telah meninggal dunia.

Ketika La Tenribali MatinroE meninggal dunia, ia tidak lagi digantikan oleh anaknya. Tetapi orang Soppeng pergi ke Bone untuk minta kepada La Patau Matanna Tikka agar selain sebagai Mangkau’ di Bone, dapat juga menjadi Datu di Soppeng.

La Patau Matanna Tikka tidak mengiyakan permintaan orang Soppeng tersebut, karena ia berpikir bahwa kalau permintan orang Soppeng itu diterima, maka ia harus menghadapi dua musuh besar yaitu La Pasompereng Arung Teko dan Daeng Mabbani Sule Datue ri Soppeng.

Sebagai Ranreng Towa di Wajo, La Patau Matanna Tikka sekali sebulan harus ke Ujung Pandang untuk melihat orang Wajo yang ada di Ujung Pandang. Sehingga untuk membantunya, diangkatlah Amanna Gappa sebagai Matowa Wajo yang menggantikan dirinya bila kembali ke Bone.

Setiap datang dari Bone, La Patau selalu mengadakan “Duppa Sawungeng”(penyabungan ayam) secara besar-besaran di Malimongeng. Semua arung-arung yang ada di Celebes Selatan yang datang ke Ujung Pandang untuk menemui Pembesar Kompeni Belanda, mereka datang apabila La Patau ada.

La Patau Matanna Tikka menolak permintaan orang Soppeng untuk menjadi Datu di Soppeng, karena menurutnya masih ada pilihan yang paling tepat yaitu We Yadda saudara Datu Soppeng Matinroe ri Salassana. Oleh karena itu, We Yadda ditunjuk untuk menjadi Datu di Soppeng. Apalagi semasa hidupnya Arung Palakka pernah kawin dengan sepupunya yang bernama We Yadda itu.

Kembali kepada Arung Teko yang bernama La Pasompereng, kawin dengan saudara perempuan Karaenge ri Gowa Mallawakka Daeng Matanre Karaeng Kanjilo Tu Mammenanga ri Passirinna. Dari perkawinannya itu melahirkan anak perempuan yang bernama Karaeng Pabbineya. Inilah yang kawin dengan To Marilaleng Pawelaiye ri Kariwisi, anak Opu Tabacina Karaeng Kariwisi dengan isterinya yang bernama Arung Ujung.

Sekembalinya dari Timor, La Pasompereng Arung Teko langsung masuk ke Bone untuk menyampaikan kepada Arumpone La Patau Matanna Tikka bahwa dirinya telah kembali dari Timor. Sebagai Arumpone, La patau menerima kedatangannya, karena dianggap telah melaksanakan tugas dari Petta To Risompae Arung Palakka dalam membantu Kompeni Belanda memerangi Timor.

Namun dalam hati La Patau tetap berpikir siapa tahu La Pasompereng akan menuntut akkarungeng (Kedudukan sebagai Mangkau’)di Bone, karena dia juga sebagai putra mahkota.

Pada saat La Pasompereng berkunjung ke Saoraja menemui La Patau, ia langsung menerima berita tidak baik tentang isterinya yang berselingkuh dengan Sulle Datue di Soppeng yang bernama Daeng Mabbani.

Isteri La Pasompereng yang bernama Karaeng Balakkaerie adalah sudara dari Karaenge ri Gowa, sehingga pertemuannya dengan Sulle Datu Soppeng Daeng Mabbani selalu dilakukannya di Salassae ri Gowa.

Berkatalah La Patau Matanna Tikka kepada La Pasompereng:

“Kalau kita tidak dapat mengamankan dalam rumah tangga sendiri, maka lebih tidak bisa lagi mengamankan satu wanuwa (negeri)”

Mendengar pernyataan Arumpone La Patau yang menyengat itu, La Pasompereng terkejut dan bertanya: Mengapa adik berkata begitu ? Apa adik mengetahui kalau dalam rumah tanggaku terjadi sesuatu yang memalukan ?”

Setelah Arung Teko mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, barulah raja Bone La Patau Matanna Tikka menjawab:

“Nantilah kakanda kembali ke Gowa baru mengetahui. Sebab hal itu bukan lagi rahasia umum di Gowa”

Selanjutnya La Patau menjelaskan tentang perbuatan isterinya itu yang berselingkuh dengan Sulle Datue ri Soppeng yang bernama Daeng Mabbani.

Arung Teko kemudian pamit untuk kembali ke Gowa. Sesampainya di rumahnya, benar ia tidak menemukan isterinya. Arung Teko menanyakan kepada seisi rumahnya dan jawabannya adalah Karaeng Balakkaerie pergi ke Salassae. Oleh karena itu Arung Teko menyuruh orang untuk memanggil isterinya agar kembali ke rumahnya. Namun penggilan itu tidak diindahkan oleh isterinya dan sudah tidak mau lagi bertemu dengan suaminya.

Dengan demikian maka kepercayaan Arung Teko kepada apa yang disampaikan oleh Arumpone semakin jelas. Ia pun berpikir untuk melakukan perhitungan terhadap Sulle Datue di Soppeng.

Tidak berapa lama, datanglah La Patau Matanna Tikka untuk mengadakan penyabungan ayam di Ujung Pandang. Menurut kebiasaannya, bila ada penyabungan ayam yang diadakan oleh Arumpone di Ujung Pandang, semua arung-arung datang di tempat itu.

Sebelum La Patau memberikan tanda-tanda kepada Arung Teko bahwa dia mengirim seekor ayam, berarti Sulle Datue di Soppeng yang bernama Daeng Mabbani telah datang dan pasti ia berada di Salassae untuk melakukan pertemuan dengan Karaeng Balakkaerie.

Arung Teko lalu mempersiapkan pengawalnya untuk menghadang Daeng Mabbani pada jalan setapak menuju ke Salassae di Gowa. Sebab dia pikir setelah penyabungan ayam bubar, pasti Daeng Mabbani melewati jalan itu menuju ke Salassae untuk bertemu dengan isterinya.

Sementara itu, raja Bone La Patau Matanna Tikka melaporkan kepada Kompeni Belanda bahwa pada sore hari ini bakal terjadi perkelahian antara Arung Teko serombongan dengan Sulle Datue. Siapa nanti yang membunuh, dialah yang dimasukkan dalam kurungan.

Sore harinya bubarlah penyabungan ayam. Sulle Datue juga bersiap-siap untuk menuju ke Salassae bersama pengawalnya. Serdadu-serdadu Kompeni Belanda juga telah berjaga-jaga pada tempat yang telah ditunjukkan oleh La Patau Matanna Tikka.

Tepat matahari terbenam, pertumpahan darahpun terjadi. Duel antara Arung Teko dengan Daeng Mabbani berlangsung sangat seru yang berakhir dengan meninggalnya Daeng Mabbani. Arung Teko langsung ditangkap dan dimasukkan dalam kurungan dan tidak akan dikeluarkan.

Pada saat itu terjadi perebutan kekuasaan antara Inggeris dengan Kompeni Belanda. Gubernur Inggeris yang ada di Kalimantan, mengirim surat kepada Arung Teko yang sementara di penjara melalui utusan khususnya agar Arung Teko bersama seluruh pengikutnya melawan Belanda. Gubernur Inggeris bersedia memberinya bantuan persenjataan, kalau Arung Teko bersedia melawan Kompeni Belanda.

Arung Teko juga dijanji oleh Inggeris bahwa kalau kalah dalam melawan Kompeni Belanda, maka Inggeris siap untuk berhadapan dengan Kompeni Belanda di Celebes Selatan.

Ketika Arumpone mengetahui hal itu, maka dia minta kepada Gubernur Kompeni Belanda agar Arung Teko bersama seluruh pengikutnya dibuang (diasingkan) ke tempat yang diperkirakan tidak bisa kembali ke Tanah Ugi hingga akhir hayatnya.

Dipilihlah tempat oleh Kompeni Belanda yaitu Seilon ujung Afrika Selatan. Tempat itulah yang merupakan tempat pembuangan bagi Kompeni Belanda bagi orang yang bersalah atau dianggap membahayakan. Di sanalah Arung Teko bersama seluruh pengikutnya meninggal dunia.

Setelah Arung Teko diasingkan ke Afrika Selatan, barulah pemerintahan La Patau Matanna Tikka di Bone dirasa aman. Ketika itu datang pula orang Soppeng untuk meminta kepada La Patau agar dapat juga memegang Bone dan Soppeng. Permintaan orang Soppeng itu diterimanya dan jadilah La Patau Matanna Tikka sebagai raja Bone dan juga sebagai Datu di Soppeng. Hal ini sesuai keinginan Matinroe ri Madello semasa hidupnya agar Enci Camummu yang diambil sebagai Sulle Datu anak dari La Majuna Matinroe ri Salassana.

La Patau Matanna Tikka Walinonoe To Tenribali Malae Sanrang Matinroe ri Nagauleng lahir pada tanggal 3 November 1672. Diangkat menjadi raja di Bone pada tahun 1698 dan digelar dengan nama Sultan Muhammad Idris Adimuddin.

Oleh pamannya Arung Palakka, La Patau Matanna Tikka dikawinkan dengan We Ummung Datu Larompong anak dari Pajunge ri Luwu Matinroe ri Tompo’tikka. Dari perkawinannya itu, lahirlah We Bataritoja Daeng Talaga. Inilah yang menjadi Arung Timurung juga sebagai Datu di Citta. Anak berikutnya adalah We Patimana Ware, inilah yang menjadi Datu Larompong. Oleh karena itu dinamakanlah Opu Datu Larompong Matinroe ri Bola Ukina (rumah berukirnya).

Karena We Bataritoja Daeng Talaga menjadi Mangkau’ di Bone, Datu Luwu dan Soppeng, maka Akkarungeng Timurung diserahkan kepada adiknya We Patimana Ware. Oleh karena itu We Patimana Ware lagi yang menjadi Arung Timurung.

We Patimana Ware kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Rumanga Daeng Soreang. Melahirkan tiga orang anak We Wale Daeng Matajang, We Manneng Daeng Masiang, dan We Amira.

Dalam tahun 1687 La Patau Matanna Tikka dinikahkan lagi oleh pamannya Arung Palakka di Tanah Mangkasara, yaitu We Mariama Karaeng Patukangan anak Karaenge ri Gowa yang bernama I Mappadulung Daeng Mattimung Tumenanga ri Lakiung.

Dari perkawinannya itu La Patau melahirkan empat anak, satu perempuan dan tiga laki-laki. Anaknya yang perempuan bernama We Yanebana I Dapattola meninggal sebelum menikah. Adapun anaknya yang laki-laki yaitu La Pareppa To Sappewali, La Padassajati To Appaware dan La Panaongi To Pawawoi.

Anak La Patau Matanna Tikka dari isterinya yang keempat yaitu Datu Baringeng dianggap juga sebagai putra mahkota yaitu La Temmassonge’ atau La Mappasossong To Appaweling. Tetapi karena lahir setelah Arung Palakka meninggal, sehingga oleh saudara-saudaranya hanya dianggap sebagai anak cera’. Artinya nanti bisa menduduki akkarungeng (Mangkau’ atau Datu) setelah putra mahkota yang lainnya sudah tidak ada.

Mulai dari Manurunge ri Matajang sampai kepada La Patau Matanna Tikka berlaku suatu tradisi bahwa TENRIPAKKARUNG CERA-E– TENRIATTOLANG RAJENGNGE.

La Patau Matanna Tikka nikah lagi dengan We Rakiyah di Bantaeng. Dari perkawinannya itu melahirkan dua anak perempuan dan empat anak laki-laki. Yang perempuan bernama We Tabacina meninggal dimasa kecil begitu juga berikutnya. Sedangkan yang laki-laki masing-masing bernama: La Pauseri To Malimongeng, La Massettuang To Ape, La Massangirang To Patawari, La Makkarumpa meninggal diwaktu kecil.

Selanjutnya La Patau nikah lagi dengan We Biba To UnynyiE. Melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama La Tangkilang, meninggal diwaktu kecil. Kemudian kawin dengan We Maisa To Lemoape’e, melahirkan dua anak yaitu La Madditudang To Parellei, yang satunya meninggal setelah lahir. Selanjutnya kawin dengan We Lette To Baloe, melahirkan seorang anak perempuan bernama We Celai.

Isteri-isteri La Patau Matanna Tikka yang dinikahi tidak secara langsung, artinya hanya diwakili oleh orang lain, atau tombaknya, kerisnya, cere’nya, tempat sirih dan sebagainya. Mereka itu adalah We Sanging To Buki’e melahirkan seorang anak perempuan bernama We Cikondo, meninggal diwaktu kecil. Selanjutnya We Sisa melahirkan We Maragellu I Damalaka .

Kemudian nikah lagi dengan We Sitti di Palakka melahirkan La Pawakkari To Appasalle, meninggal diwaktu kecil. Isteri selanjutnya bernama We Naja To Sogae melahirkan seorang anak bernama La Wangie. Kemudian isterinya yang keenam bernama We Saiyo, tidak melahirkan anak.

Isteri yang berikutnya bernama We Cimpau melahirkan seorang anak bernama La Mappaconga, meninggal diwaktu kecil. Selanjutnya bernama We Baya To Bukakae melahirkan anak laki-laki bernama La Tongeng Datu Laisu. Inilah yang menggantikan saudara ayahnya menjadi Datu Soppeng. Ini pula yang kawin dengan Datu Mario Riawa dan melahirkan anak laki-laki bernama La Mappaiyyo.

La Mappaiyyo kawin di Pammana dengan perempuan yang bernama We Tenri Dio anak dari La Gau Arung Maiwa Datu Pammana yang juga sebagai Pilla di Wajo dengan isterinya yang bernama We Tenri Yabang Datu Watu Arung Pattojo MatinroE ri Pangkajenne.

La Mappaiyyo inilah yang dibunuh oleh iparnya yang bernama La Dolo (La Tenri Dolo), karena sifatnya tidak akan menuruti perintah iparnya. Pembunuhan terhadap La Mappaiyyo membuat La Temmassonge Matinroe ri Malimongeng marah besar dan mencari La Tenri Dolo untuk melakukan pembalasan.

Oleh karena itu La Tenri Dolo melarikan diri ke Kamboja dan akhirnya kawin dengan anak Raja Kamboja di sana. Dari perkawinannya dengan anak raja Kamboja, lahirlah seorang anak laki-laki bernama AMBARALANA. Selanjutnya Ambaralana melahirkan RAJA SITTI yang kawin di India. Inilah yang melahirkan Nonci, orang kayanya Islam di Singapura.

Isteri selanjutnya bernama We Sitti melahirkan seorang anak perempuan yang bernama We Benni. Inilah yang kawin dengan La Mattugengkeng Daeng Mamaro Ponggawa Bone. Dari perkawinan ini lahirlah We Tenriawaru Arung Lempang yang kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Temmassonge’.

Isteri berikutnya E Saira Karobba satu anaknya bernama E-Jalling. Selanjutnya isteri kesebelas bernama E-Sanrang orang Soppeng melahirkan satu anak perempuan meninggal diwaktu kecil.

Isteri La Patau Matanna Tikka yang berikut adalah E-Yati, satu anaknya perempuan bernama E-Kima. Selanjutnya yang bernama E-Rupi, satu anaknya tapi meninggal setelah lahir.

La Patau Matanna Tikka Matinroe ri Nagauleng memiliki anak pattola (putra mahkota) dua di Luwu dari isterinya bernama We Ummung Datu Larompong yakni : Batari Toja Daeng Talaga dan We Patimana Ware.
Sedangkan dari isterinya di Gowa yang bernama We Mariama Karaeng Pattukkangang memiliki lima anak. Tetapi hanya tiga yang dianggap mattola, yakni ; La Pareppa To Sappewali, La Padassajati To Appaware, dan La Panaongi To Pawawoi.

La Temmassonge’ anak Datu Baringeng adalah ana’ sengngeng mallinrungngi ri ana’ mattolae (putra mahkota yang terselubung) karena dia dilahirkan setelah La Tenritatta Petta To Risompae meninggal dunia. Oleh karena itu, La Temmassonge’ dikatakan – cera’i rimannessae, sengngengngi ri mallinrunge. Artinya yang diketahui oleh orang banyak dia hanyalah anak cera’ (bukan putra mahkota), tetapi sesungguhnya dia adalah anak sengngeng (putra mahkota).

Tidak satupun saudaranya yang mengetahui kalau La Temmassonge’ itu adalah juga putra mahkota, kecuali Bataritoja Daeng Talaga Matinroe ri Tippulunna.

Selain itu, La Patau Matanna Tikka memiliki 29 anak cera’ dan anak rajeng. Tetapi kesemua itu tidak memiliki hak untuk mewarisi kedudukan ayahnya sebagai raja Bone.

Raja Bone La Patau Matanna Tikka dikenal sebagai seorang Mangkau’ yang sangat menghargai adat istiadat. Ia sangat tidak senang kalau kebiasaan-kebiasan yang berlaku dalam masyarakat diubah. Dia sangat membenci orang yang suka mengisap madat (candu) dan perbuatan-perbuatan yang mengganggu keamanan masyarakat. Dua anaknya yang disuruh dibunuh karena memiliki kesenangan mengisap madat.

Dengan demikian pada masa pemerintahannya di Bone, semua adat istiadat berjalan dengan baik. Tidak seorangpun yang berani melanggar, sebab sedangkan anak sendirinya disuruh bunuh apabila melakukan pelanggaran. Dia tidak memandang bulu, siapa saja yang melanggar pasti dihukum termasuk keluarganya sendiri.

Dimasa pemerintahannya, dua kali nyaris terjadi peperangan antara Bone dengan Gowa yang berarti melawan mertuanya sendiri yaitu Karaenge ri Gowa yang bernama I Mappadulung Daeng Mattimung Sultan Abdul Jalil, ayah dari isterinya yang bernama We Mariama Karaeng Patukangang.

Pertama, yaitu pada tahun 1700 Masehi ketika Sule Datue ri Soppeng yang bernama Daeng Mabbani dibunuh oleh La Pasompereng Arung Teko. Karaenge ri Gowa menyangka kalau La Pasompereng didukung oleh La Patau untuk membunuh Daeng Mabbani yang kejadiannya di Salassae ri Gowa. Untung saja sebelum perang berkobar, Kompeni Belanda cepat-cepat turun tangan dengan menenangkan kedua belah pihak.

Kedua, yaitu pada tahun 1709 ketika La Padassajati melakukan kesalahan besar di Bone. Karena takut dihukum oleh ayahandanya sendiri yang dikenal tidak memandang bulu, maka La Padassajati To Appaware melarikan diri ke Gowa untuk minta perlindungan kepada neneknya.

Karena permintaan La Patau bersama Adat Tujuh Bone agar La Padassajati dikembalikan ke Bone untuk dihukum tidak dipenuhi oleh Karaenge ri Gowa, maka Bone menyatakan perang dengan Gowa. Sementara KaraengE ri Gowa juga menyatakan dengan tegas bahwa lebih baik berperang dari pada menyerahkan cucunya kepada Bone untuk dihukum.

Sementara rencana perang antara Bone dengan Gowa menunggu saat yang tepat untuk dimulai, tiba-tiba Karaenge ri Gowa meninggal dunia. Maka La Pareppai To Sappewali saudara La Padassajati sendiri yang tidak lain adalah juga anak dari La Patau Matanna Tikka menggantikan neneknya sebagai Somba ri Gowa. La Pareppa To Sappewali juga tetap menolak untuk menyerahkan saudaranya ke Bone.
Hal inipun langsung ditengahi oleh Kompeni Belanda, sehingga perang antara Bone dengan Gowa yang berarti perang antara anak dengan ayah dapat dihindari.

La Patau Matanna Tikka pulalah yang pertama mengangkat Matowa bagi orang-orang Wajo yang tinggal di Ujung Pandang. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang Wajo yang tinggal di Ujung Pandang ada yang memimpinnya dan melihat keadaan sehari-harinya.

Pada waktu itu La Patau Matanna Tikka disamping sebagai Mangkau’ di Bone, juga sebagai Ranreng Towa di Wajo. Orang yang diangkat sebagai Matowa adalah La Patelleng Amanna Gappa. Makanya La Patelleng Amanna Gappa dinamakan Matowa Wajo.

Dalam tahun 1714 Masehi raja Bone La Patau Matanna Tikka membuka arena penyabungan ayam dan mengundang seluruh TellumpoccoE (Bone,Wajo,Soppeng). Datanglah Arung Matowa Wajo yang bernama La Salewangeng To Tenriruwa yang mengikutkan kemanakannya yang bernama La Maddukkelleng Daeng Simpuang Puanna La Tobo Arung Peneki. Arung Matowa Wajo yang bertaruh ayam dengan orang Bone dan ayam Arung Matowa Wajo sempat membunuh ayam orang Bone.

Karena pengawal Arumpone merasa malu, tiba-tiba seorang anak bangsawan Bone mengambil bangkai ayam tersebut dan melemparkan ke tengah kelompok orang Wajo. Bangkai ayam tersebut kebetulan mengenai Arung Matowa Wajo yang berada ditengah-tengah orang Wajo. Hal ini membuat La Maddukkelleng marah dan mengamuk.

Dengan mata gelap, ia memburu dan menikam orang yang melemparkan bangkai ayam tersebut sampai meninggal di tempat. Setelah itu, La Maddukkelleng melarikan diri kembali ke Wajo.

Beberapa hari kemudian, pergilah utusan Bone untuk meminta kepada Arung Matowa Wajo agar La Maddukkelleng diserahkan ke Bone. Kepada utusan Bone, Arung Matowa Wajo mengatakan bahwa La Maddukkelleng telah menyeberang ke Kalimantan.

Sejak itulah La Maddukkelleng menetap di Kalimantan dan menjadi Arung di Pasir. Untuk kembali ke Wajo, memang sangat sulit. Sebab selalu ditunggu oleh Tellumpoccoe (Bone,Wajo,Soppeng) untuk dihukum.

Dalam tahun 1714 Masehi itu pula La Patau Matanna Tikka meninggal dunia di Nagauleng Cenrana. Oleh karena itu dinamakanlah Matinroe ri Nagauleng. Karena banyak kali nikah sehingga keturunan La Patau Matanna Tikka menyebar dimana-mana seperti Malaysia, Sinagapore, Vietnam, Kamboja, India, dan daerah lainnya di dunia ini.

Artikel Berikutnya

Baca Juga

Tulisan Populer

Filosofi huruf lontara’

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...