No menu items!
24.7 C
Watampone
Minggu, 7 Juni 20

Raja Bone Ke-5 La Tenrisukki, 1510-1535

Artikel Terbaru

Lirik Lagu Beu Puppu

BEU PUPPU Beu puppunaro kasi Tengindokku tengambokku Monrona ale-aleku Rilino makkasi-asi Pura makkoni totoku Pura makkoni jello'ku Tenginang tesselessureng Detona paccarinnae Guttuni marellung rellung Billa'ni tassiseng-siseng Ucapu campa aroku Upakkuru'na sungekku Rekko ritu wengngerangngi Indo'ku na ambo'ku Nakutudang ri...

Pappaseng Kearifan Lokal Manusia Bugis

Kearifan lokal dalam bahasa asing dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom) atau kecerdasan setempat (local genius). Istilah local genius dilontarkan pertama kali oleh Quatritch...

Belanja di Warung Tetangga Wujud Kearifan Lokal Bugis

Agar pelaku usaha warung klontong dan kios tetap eksis dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya di tengah pandemi covid-19. Ajakan tersebut berdasarkan Imbauan Gubernur Sulawesi Selatan...

Amarah Manusia Bugis

Kami manusia Bugis adalah keturunan yang diajarkan menjaga harga diri dan martabat orang lain. Kami manusia Bugis adalah keturunan berabad-abad ditempa dengan gelombang dahsyat. Kami manusia...

Tetaplah semangat nikmati hidup tanpa kemurungan

Akhir-akhir ini kita hanya disibukkan dengan kata corona, negatif, dan positif. Kata-kata itu bagaikan ratnamutumanikam yang menghiasi langit. Bahkan kita dan dunia bagai terhipnotis...

Corona mengajak kita hidup sederhana

Dampak wabah virus Corona tidak hanya merugikan sisi kesehatan, bahkan turut mempengaruhi perekonomian negara-negara di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Ekonomi dunia dipastikan melambat, menyusul...

Luas Kabupaten di Sulawesi Selatan Tahun 2015

Luas Sulawesi Selatan pada 2015 mencapai 45.765 km². Adapun kabupaten terluas yaitu kabupaten Luwu Utara yaitu 7.503 km² Sementara wilayah terluas kedua adalah Luwu Timur,...

Jumlah Penduduk Sulawesi Selatan Tahun 2019

Jumlah penduduk Sulawesi Selatan pada 2019 mencapai 8.815.197 (8,8 juta) jiwa. Adapun penduduk terbanyak berada di Kota Makassar, yakni 1,5 juta jiwa. Sementara wilayah dengan...

Ungkapan Bugis Selamat Memasuki Bulan Ramadan

Limang tessiratte, watakkale tessiolong, rupa tessitangnga, ada tessilele, masseddiati sipaccingi, sipakatau, sipakalebbi, sipakainge', padatta rupatau. Ucuku' mariawa, kuaddampeng kitanreang, engka ammo melle' sisakka tessikua lao ri idi', baeccu' kiarega maraja. Passelle watakkale, assisompung teppettu, iya mua werekkada, salama' tapada salama' madduppa Uleng...

Kemenhan dan BNPT Larang Penggunaan Aplikasi Zoom

Kementerian Pertahanan (kemenhan) menerbitkan surat edaran berisi larangan untuk menggunakan aplikasi Zoom dalam video konferensi. Surat bernomor SE/57/IV/2020 itu ditandatangani Sekjen Kemhan, Laksamana Madya...

LA TENRISUKKI, 1510-1535, Inilah Mangkau’ di Bone yang diserang oleh Datu Luwu yang bernama Dewa Raja yang digelar Batara Lattu.
Mula-mula orang Luwu mendarat di Cellu dan disitulah membuat pertahanan. Sementara orang Bone berkedudukan di Biru-biru.

Adapun taktik yang dilakukan oleh orang Bone adalah memancing orang Luwu dengan beberapa perempuan. Pancingan ini berhasil mengelabui orang Luwu sehingga pada saat perang berlangsung orang Luwu yang pada mulanya menyangka tidak ada laki-laki, bersemangat menghadapi perempuan-perempuan tersebut.

Namun dari belakang muncul laki-laki dengan jumlah yang amat banyak, sehingga orang Luwu berlarian ke pantai untuk naik ke perahunya. Dalam perang itu orang Bone berhasil merampas bendera orang Luwu.

Setelah perang selesai, La Tenrisukki dan Datu Luwu mengadakan pertemuan. Kemudian La Tenrisukki mengembalikan payung warna merah itu kepada Datu Luwu, tetapi Datu Luwu mengatakan:

“Ambillah itu payung sebab memang engkaulah yang dikehendaki oleh DewataE (Tuhan) untuk bernaung di bawahnya. Walaupun bukan karena perang engkau ambil, saya akan tetap berikan. Apalagi saya memang memiliki dua payung”

Mulai dari peristiwa itu , La Tenrisukki digelar Mappajunge (memakai payung).

Selanjutnya La Tenrisukki mengadakan lagi pertemuan dengan Datu Luwu To Serangeng Dewa Raja dan lahirlah suatu perjanjian yang bernama “Polo MalelaE ri Unyi” (gencatan senjata di Unyi).

Dalam perjanjian ini raja Bone La Tenri Sukki berkata kepada Datu Luwu:

“Alangkah baiknya kalau kita saling menghubungkan Tana Bone dengan Tanah Luwu”

Dijawab oleh Datu Luwu:

“Baik sekali pendapatmu itu Arumpone”

Merasa ajakannya disambut baik, Arumpone La Tenrisukki berkata:

“Kalau ada yang keliru, mari kita saling mengingatkan;

kalau ada yang rebah mari kita saling menopang;

dua hamba satu Arung;

tindakan Luwu adalah tindakan Bone;

tindakan Bone adalah tindakan Luwu;

baik dan buruk kita bersama;

tidak saling membunuh;

saling mencari kebaikan;

tidak saling mencurigai;

tidak saling mencari kesalahan;

walaupun baru satu malam orang Luwu berada di Bone, maka menjadilah orang Bone;

walaupun baru satu malam orang Bone berada di Luwu, maka menjadilah orang Luwu;

bicaranya Luwu, bicaranya Bone;

bicaranya Bone, bicaranya Luwu;

adatnya Luwu, adatnya juga Bone, begitu pula sebaliknya;

kita tidak saling menginginkan emas murni dan harta benda;

barang siapa yang tidak mengingat perjanjiannya, maka dialah yang dikutuk oleh Dewata SeuwaE sampai kepada anak cucunya;

dialah yang hancur bagaikan telur yang jatuh ke batu”

Kalimat tersebut diiyakan oleh Datu Luwu To Serangeng Dewa Raja. Selanjutnya Perjanjian tersebut bernama “Polo Malelae ri Unyi” karena terjadi di Kampung Unyi (Kelurahan Unyi Kecamatan Dua Boccoe sekarang ini). Kemudian keduanya kembali ke negerinya.

Di masa pemerintahan La Tenrisukki, pernah pula terjadi permusuhan antara orang Bone dengan orang Mampu. Pertempuran terjadi di sebelah selatan Itterung, diburu sampai di kampungnya. Arung Mampu yang bernama La Pariwusi kalah dan menyerahkan persembahan kepada La Tenrisukki.

Arung Mampu berkata:

“Saya serahkan sepenuhnya kepada Arumpone, asalkan tidak menurunkan saya dari pemerintahanku”

Arumpone La Tenrisukki menjawab:

“Saya akan mengembalikan persembahanmu dan saya akan mendudukkanmu sebagai Palili (wilayah bawahan) di Bone. Akan tetapi engkau harus berjanji untuk tidak berpikir jelek dan jujur sebagai pewaris harta benda”

Sesudah itu, dilantiklah Arung Mampu memimpin kampungnya dan kembalilah La Tenrisukki ke Bone.

La Tenri Sukki menjadi raja/mangkau di Bone selama 20 tahun, akhirnya menderita sakit.
Dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan:

“Saya sekarang dalam keadaan sakit, apabila saya wafat maka yang menggantikan saya adalah anakku yang bernama La Uliyo”. Setelah pesan itu disampaikan, ia pun mengembuskan nafasnya yang terakhir.

Anak La Tenrisukki dari isterinya We Tenrisongke, adalah ; La Uliyo Bote-e kawin dengan sepupunya yang bernama We Tenriwewang Denrae, anak saudara kandung La Tenrisukki yang bernama We Tenrisumange’ dengan suaminya yang bernama La Tenrigiling Arung Pattiro Maggadinge. Dari perkawinan ini lahirlah La Tenrirawe Bongkange, La Inca, We Lempe, We Tenripakkuwa.

Selain La Uliyo, ialah: We Denra Datu, We Sida (tidak disebutkan dalam lontara’ yang digulung).

We Sida Manasa kawin dengan La Burungeng Daeng Patompo, anak dari La Panaongi To Pawawoi Arung Palenna dari isterinya yang bernama We Mappasunggu. Dari perkawinan ini lahirlah anak laki-laki yang bernama La Paunru Daeng Kelli.

Artikel Berikutnya

Baca Juga

Tulisan Populer

Filosofi huruf lontara’

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...