LA TENRISUKKI, 1510-1535, Inilah Mangkau’ di Bone yang diserang oleh Datu Luwu yang bernama Dewa Raja yang digelar Batara Lattu.
Mula-mula orang Luwu mendarat di Cellu dan disitulah membuat pertahanan. Sementara orang Bone berkedudukan di Biru-biru.

Adapun taktik yang dilakukan oleh orang Bone adalah memancing orang Luwu dengan beberapa perempuan. Pancingan ini berhasil mengelabui orang Luwu sehingga pada saat perang berlangsung orang Luwu yang pada mulanya menyangka tidak ada laki-laki, bersemangat menghadapi perempuan-perempuan tersebut.

Namun dari belakang muncul laki-laki dengan jumlah yang amat banyak, sehingga orang Luwu berlarian ke pantai untuk naik ke perahunya. Dalam perang itu orang Bone berhasil merampas bendera orang Luwu.

Setelah perang selesai, La Tenrisukki dan Datu Luwu mengadakan pertemuan. Kemudian La Tenrisukki mengembalikan payung warna merah itu kepada Datu Luwu, tetapi Datu Luwu mengatakan:

“Ambillah itu payung sebab memang engkaulah yang dikehendaki oleh DewataE (Tuhan) untuk bernaung di bawahnya. Walaupun bukan karena perang engkau ambil, saya akan tetap berikan. Apalagi saya memang memiliki dua payung”

Mulai dari peristiwa itu , La Tenrisukki digelar Mappajunge (memakai payung).

Selanjutnya La Tenrisukki mengadakan lagi pertemuan dengan Datu Luwu To Serangeng Dewa Raja dan lahirlah suatu perjanjian yang bernama “Polo MalelaE ri Unyi” (gencatan senjata di Unyi).

Dalam perjanjian ini raja Bone La Tenri Sukki berkata kepada Datu Luwu:

“Alangkah baiknya kalau kita saling menghubungkan Tana Bone dengan Tanah Luwu”

Dijawab oleh Datu Luwu:

“Baik sekali pendapatmu itu Arumpone”

Merasa ajakannya disambut baik, Arumpone La Tenrisukki berkata:

“Kalau ada yang keliru, mari kita saling mengingatkan;

kalau ada yang rebah mari kita saling menopang;

dua hamba satu Arung;

tindakan Luwu adalah tindakan Bone;

tindakan Bone adalah tindakan Luwu;

baik dan buruk kita bersama;

tidak saling membunuh;

saling mencari kebaikan;

tidak saling mencurigai;

tidak saling mencari kesalahan;

walaupun baru satu malam orang Luwu berada di Bone, maka menjadilah orang Bone;

walaupun baru satu malam orang Bone berada di Luwu, maka menjadilah orang Luwu;

bicaranya Luwu, bicaranya Bone;

bicaranya Bone, bicaranya Luwu;

adatnya Luwu, adatnya juga Bone, begitu pula sebaliknya;

kita tidak saling menginginkan emas murni dan harta benda;

barang siapa yang tidak mengingat perjanjiannya, maka dialah yang dikutuk oleh Dewata SeuwaE sampai kepada anak cucunya;

dialah yang hancur bagaikan telur yang jatuh ke batu”

Kalimat tersebut diiyakan oleh Datu Luwu To Serangeng Dewa Raja. Selanjutnya Perjanjian tersebut bernama “Polo Malelae ri Unyi” karena terjadi di Kampung Unyi (Kelurahan Unyi Kecamatan Dua Boccoe sekarang ini). Kemudian keduanya kembali ke negerinya.

Di masa pemerintahan La Tenrisukki, pernah pula terjadi permusuhan antara orang Bone dengan orang Mampu. Pertempuran terjadi di sebelah selatan Itterung, diburu sampai di kampungnya. Arung Mampu yang bernama La Pariwusi kalah dan menyerahkan persembahan kepada La Tenrisukki.

Arung Mampu berkata:

“Saya serahkan sepenuhnya kepada Arumpone, asalkan tidak menurunkan saya dari pemerintahanku”

Arumpone La Tenrisukki menjawab:

“Saya akan mengembalikan persembahanmu dan saya akan mendudukkanmu sebagai Palili (wilayah bawahan) di Bone. Akan tetapi engkau harus berjanji untuk tidak berpikir jelek dan jujur sebagai pewaris harta benda”

Sesudah itu, dilantiklah Arung Mampu memimpin kampungnya dan kembalilah La Tenrisukki ke Bone.

La Tenri Sukki menjadi raja/mangkau di Bone selama 20 tahun, akhirnya menderita sakit.
Dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan:

“Saya sekarang dalam keadaan sakit, apabila saya wafat maka yang menggantikan saya adalah anakku yang bernama La Uliyo”. Setelah pesan itu disampaikan, ia pun mengembuskan nafasnya yang terakhir.

Anak La Tenrisukki dari isterinya We Tenrisongke, adalah ; La Uliyo Bote-e kawin dengan sepupunya yang bernama We Tenriwewang Denrae, anak saudara kandung La Tenrisukki yang bernama We Tenrisumange’ dengan suaminya yang bernama La Tenrigiling Arung Pattiro Maggadinge. Dari perkawinan ini lahirlah La Tenrirawe Bongkange, La Inca, We Lempe, We Tenripakkuwa.

Selain La Uliyo, ialah: We Denra Datu, We Sida (tidak disebutkan dalam lontara’ yang digulung).

We Sida Manasa kawin dengan La Burungeng Daeng Patompo, anak dari La Panaongi To Pawawoi Arung Palenna dari isterinya yang bernama We Mappasunggu. Dari perkawinan ini lahirlah anak laki-laki yang bernama La Paunru Daeng Kelli.

BAGIKAN